
Sampai malam Aries terus menemani Zahra. Aries hanya pulang sebentar untuk mengantar Nadia serta menjemput Arka disekolah. Itupun saat siang tadi.
“Kakak nggak pulang?” Tanya Zahra menatap kakaknya yang duduk disofa tidak jauh dari brankarnya.
Aries yang sedang memainkan ponselnya menatap Zahra yang sedang disuapi buah mangga oleh Faza.
“Kakak mau disini. Nemenin kamu.” Jawab Aries tenang.
Sedang Faza hanya diam saja. Pria itu hanya fokus dan sibuk mondar mandir memenuhi keinginan istrinya tanpa memperdulikan Aries yang terus saja diam dan enggan menyapa apa lagi mengajaknya mengobrol.
“Loh tapi bagaimana dengan kak Nadia dan dede Arka?” Tanya Zahra menatap kakaknya bingung.
“Nadia sudah aku antar pulang sama Arka juga.” Jawab Aries.
Zahra menghela napas menatap Aries yang sepertinya masih enggan akrab dengan Faza lagi seperti dulu.
“Kakak pulang aja. Aku disini sama mas Faza kok.” Ujar Zahra membuat Aries kembali menatapnya.
“Kamu mengusirku?” Tanya Aries mengangkat sebelah alisnya.
Zahra tersenyum.
“Bukan mengusir kak.. Cuma kan kasihan kalau kak Nadia cuma berdua dirumah sama Arka . Sedangkan aku kan disini ada mas Faza yang jagain..”
Aries menghela napas. Bukan tanpa alasan Aries tetap stay dirumah sakit untuk menjaga Zahra. Aries khawatir adik satu satunya itu kenapa napa apa lagi mengingat Zahra yang sedang mengandung sekarang.
“Kak.. Aku bakal baik baik saja disini sama mas Faza.. Kakak nggak perlu khawatir.” Kata Zahra lagi.
Aries menghela napas kemudian menganggukan kepalanya. Pria itu bangkit kemudian memasukan ponsel miliknya kedalam saku celana jins nya. Apa yang dikatakan adiknya memang benar. Dan Aries merasa tidak tega jika harus meninggalkan Nadia dan anaknya hanya berdua dirumah.
“Ya sudah kalau begitu, kakak pulang yah..”
Zahra menganggukan kepala dengan senyuman manis yang terukir dibibirnya.
“Faza, titip Zahra ya..” Ujar Aries beralih menatap Faza.
“Iya kak..” Angguk Faza menjawabnya dengan senyuman manis yang terukir dibibirnya.
Aries kemudian mendekat pada Zahra. Pria itu membelai penuh kasih sayang puncak kepala Zahra.
“Cepet pulih yah.. Kamu harus selalu sehat untuk anak kamu..” Lirih Aries.
Faza yang menyaksikan itu tersenyum. Faza tau Aries sangat menyayangi Zahra. Tidak heran jika Aries sangat marah padanya saat mamahnya menghina Zahra didepan Aries.
__ADS_1
“Faza, aku percayakan Zahra sama kamu. Tolong jaga dia baik baik.”
Faza mengangguk mantap. Zahra adalah tanggung jawab nomor satunya sekarang.
“Ya kak.. Aku akan berusaha semampu aku buat jagain adik kesayangan kakak..” Balas Faza.
“Bagus kalau begitu. Ya sudah kakak pulang yah..”
Zahra segera menyalimi Aries yang sudah dua kali pamit untuk pulang padanya. Setelah itu Aries terdiam dengan tatapan lurus pada Faza. Keduanya saling menatap merasa canggung hingga akhirnya Faza yang lebih dulu mengulurkan tangan-nya berniat menjabat tangan kakak iparnya itu.
Aries terdiam sesaat menatap tangan Faza yang mengudara tepat diatas perut Zahra. Tangan Faza bahkan masih bertahan menunggu balasan dari Aries hingga beberapa menit.
Aries menghela napas kemudian membalas jabatan tangan Faza dengan mantap. Hal itu membuat suasana yang sempat tegang terasa hangat.
Zahra tersenyum melihat kakaknya berjabat tangan dengan mantap dengan suaminya.
“Hati hati di jalan kak..” Senyum Faza.
“Ya..” Angguk Aries kemudian melepaskan jabatan tangan-nya.
“Kakak pulang..” Ujar Aries lagi untuk yang ketiga kalinya.
“Biar aku antar sampai depan.” Kata Faza.
Faza terdiam sebentar kemudian menganggukan kepalanya.
Aries kemudian melangkah berlalu dari hadapan Zahra dan Faza. Pria itu keluar dari ruang rawat Zahra meninggalkan Zahra dan Faza hanya berdua.
Setelah Aries tidak lagi berada diruang rawatnya, Zahra menggeser tubuhnya menjadi sedikit menepi.
“Sayang kok kamu..”
“Kamu tidurnya disamping aku ya mas.. Aku mau tidur sambil dipeluk sama kamu..” Rengek Zahra membuat Faza tertawa.
“Oke oke.. Tidak perlu merengek begitu sayang..” Balas Faza membuat Zahra langsung tersenyum lebar.
“Ya udah sebentar, aku kekamar mandi dulu ya..”
Faza kemudian meletakan ponsel miliknya diatas brankar Zahra. Faza juga melepas jas hitamnya dan menaruhnya di sofa sebelum akhirnya masuk kedalam kamar mandi.
Ketika Faza sedang berada didalam kamar mandi, ponselnya berdering. Zahra menoleh ke arah pintu kamar mandi sebelum meraih ponsel milik suaminya itu.
“Siska Wulandari..” Gumam Zahra bingung melihat nama kontak dilayar menyala benda pipih berkesing hitam milik suaminya itu.
__ADS_1
“Siska siapa?”
Zahra mulai bertanya tanya. Wanita itu mencoba mengingat ingat nama nama dikontak ponsel suaminya yang pernah dia blokir. Dan seingat Zahra diantara nama nama itu tidak ada yang nama Siska Wulandari.
Zahra menghela napas. Panggilan itu sudah berhenti namun satu notifikasi pesan masuk kedalam ponsel Faza.
Zahra mendadak dilema. Zahra ingin tau apa isi pesan yang dikirim Siska. Tapi Zahra takut Faza marah karna dirinya lancang membuka pesan yang ditujukan untuk suaminya.
Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat Zahra buru buru meletakan ponsel milik Faza ke tempatnya semula. Zahra juga kembali ke posisinya semula berbaring seolah tidak menyentuh ponsel suaminya.
“Sudah?” Tanya Zahra pada Faza.
“Sudah sayang..” Jawab Faza tersenyum manis.
Faza melepaskan dasi yang melilit kerah kemejanya yang kemudian disusul dengan melepas kemeja putih tulangnya menyisakan kaos putih polos yang begitu pas melekat ditubuh kekarnya. Faza meletakan dasi dan kemeja putih itu disofa menumpuknya dengan jas hitam miliknya.
“Mas..” Panggil Zahra pelan.
“Ya sayang.. Kamu mau aku beliin sesuatu?”
Zahra menggelengkan kepalanya dengan wajah sendu. Rasa cemburu mulai menguasainya lagi.
“Tadi ada telpon masuk di hp kamu mas. Ada pesan juga.”
Faza mengeryit kemudian segera meraih ponsel miliknya dan mengeceknya. Seulas senyum terukir dibibirnya membuat Zahra semakin merasa curiga.
“Siapa mas?” Tanya Zahra dengan dada mulai bergemuruh. Terang saja, Faza tersenyum begitu membuka ponselnya. Apa lagi Zahra tau dari siapa telepon dan pesan tersebut.
“Oh bukan siapa siapa kok sayang.. Tadi itu Siska yang nelpon. Dia itu sekretaris aku.. Dia ngirim photo photo berkas berkas yang harus aku baca karna hari ini aku nggak bisa kekantor.” Senyum Faza.
Zahra menganggukan kepalanya. Senyumnya mengembang. Hatinya tenang kembali karna ternyata Faza tidak berbohong dan tetap mengatakan dengan jujur siapa yang menelpon-nya.
“Eemm.. Kita langsung tidur nih?” Tanya Faza yang membuat pipi Zahra langsung merona.
“Kan aku lagi sakit mas.. Masa mau..”
“Oh bukan, bukan itu maksud aku sayang.. Maksud aku.. kan ini masih setengah sepuluh. Bagaimana kalau kita nonton dulu?”
Zahra tertawa. Zahra pikir Faza sedang memikirkan tentang urusan mereka diatas ranjang.
“Tapi kalau kamu mau nggak papa sih.. Cium dikit aja sayang.. Gimana?” Tanya Faza menggoda Zahra dengan menaik turunkan kedua alisnya.
Dengan malu malu Zahra menganggukan kepalanya. Wanita itu juga sebenarnya sedang menginginkan-nya.
__ADS_1
Faza yang mendapat lampu hijau dari Zahra segera naik ke brankar Zahra. Pria itu mengusap lembut pinggang Zahra sambil mendekatkan wajahnya hingga akhirnya bibir mereka menyatu. Beruntung tidak ada perawat ataupun dokter yang masuk keruang rawat Zahra sehingga aktivitas intim mereka tidak dilihat oleh siapapun. Ya.. Meskipun mereka tidak melakukan-nya sampai inti seperti biasanya.