
Faza menghela napas mencoba menahan emosinya didepan anak juga istrinya ketika mendapati banyak barang barang yang dikirim Santoso untuk Zahra juga Fahri. Apa lagi barang barang tertata menumpuk diatas meja di ruang tamu. Faza ingin sekali marah pada mbak Lasmi. Tapi kemudian Faza sadar, mbak Lasmi tidak tau apa apa.
“Mas...”
Zahra yang mulai mengerti dengan tatapan suaminya dengan sangat lembut meraih tangan besar pria itu. Zahra tidak tau kenapa Santoso masih saja mengganggunya padahal sudah jelas Zahra memperlihat ketidak sukaan-nya pada duda itu.
“Kamu bawa Fahri ke kamar ya sayang..”
Faza menoleh dan tersenyum menatap Zahra yang hanya bisa menganggukan kepala menuruti apa yang Faza katakan.
“Mbak, tolong bantu bawain barang barang nya Fahri yah..” Ujar Faza pada mbak Lasmi yang berdiri tidak jauh dari meja ruang tamu didepan-nya.
“Oh iya Tuan. Baik..” Angguk mbak Lasmi kemudian mengambil tas milik Fahri yang dibawa Faza.
“Mari nyonya..”
Zahra mengangguk pelan kemudian melangkah lebih dulu dari mbak Lasmi. Mereka berdua melangkah pelan meninggalkan Faza yang terus menatap barang barang yang ditata mbak Lasmi diatas meja diruang tamu.
Faza menghela napas. Santoso memang tidak bisa di diamkan.
Faza kemudian merogoh saku dalam jasnya menghubungi pak satpam yang tidak lama kemudian masuk kedalam rumah menghampiri Faza.
“Saya Tuan..” Ujar pak satpam mengangguk pelan.
“Ya.. Pak, tolong bawakan semua barang barang ini dan masukan kedalam bagasi mobil saya. Sekarang yah.” Pinta Faza pelan.
“Oh siap tuan..”
Pak satpam dengan semangat mulai mengambil barang barang tersebut dan membawanya keluar dari rumah memasukan-nya kedalam bagasi mobil Faza sampai barang barang itu tidak tersisa satupun diruang tamu.
Setelah semua barang pemberian Santoso untuk Zahra dan Fahri masuk kedalam mobilnya, Faza pun segera masuk kedalam mobil dan melajukan-nya dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
Mobil Faza melaju keluar dari pekarangan luas rumahnya. Pria itu benar benar sangat geram pada Santoso yang terus saja mengganggu istrinya. Faza merasa sangat tidak dihargai sebagai suami Zahra. Selain itu Faza juga tau bahwa istrinya merasa tidak nyaman dengan segala apa yang Santoso kirimkan.
Dalam perjalanan menuju restoran Santoso Faza terus memupuk amarahnya. Kedua tangan-nya terasa sangat gatal ingin melayangkan bogeman kerasnya pada wajah memuakkan Santoso.
Sekitar 30 menit perjalanan akhirnya mobil Faza sampai tepat didepan restoran Santoso. Faza segera turun dari mobilnya. Dengan langkah lebar Faza melangkah masuk kedalam restoran tersebut.
Faza menanyakan keberadaan Santoso pada salah satu waitrees di restoran tersebut, dan waitrees itu memberitahu bahwa Santoso sedang pulang kerumahnya pada Faza.
Tanpa membuang waktu, Faza pun segera keluar dari restoran itu dan langsung menuju kediaman Santoso dengan mobil mewahnya. Hal itu seperti sebuah keberuntungan tersendiri bagi Faza. Karena dengan dirinya menghajar Santoso dirumahnya maka tidak akan ada satu orang pun yang tau tentang apa yang Faza lakukan pada Santoso.
Faza membunyikan klakson mobilnya begitu sampai didepan gerbang kediaman Santoso. Tidak lama seorang asisten rumah tangga datang dan segera membukakan pintu gerbang untuknya tanpa lebih dulu bertanya. Faza menebak sepertinya Santoso sudah tau akan kedatangan-nya sore ini.
Setelah mobilnya berada di dalam pekarangan rumah Santoso yang tidak seluas pekarangan rumahnya, Faza pun turun dari mobilnya. Faza juga meminta tolong pada asisten rumah tangga Santoso agar menurunkan semua barang barang yang ada di bagasi mobilnya.
“Terserah ayah saja !! Aku muak dengan semua ini. Pokonya sampai kapanpun aku tidak akan mau menuruti apapun yang ayah katakan. Aku akan tetap bersama bunda. Aku akan menjaga bunda dengan sepenuh hati aku. Karna aku bukan laki laki seperti ayah yang bisanya hanya menyakiti hati perempuan.”
Faza mengeryit ketika mendengar suara lantang dari dalam rumah Santoso. Itu suara seorang pria.
Faza tersenyum sinis. Faza yakin Santoso pasti sedang berdebat dengan putranya.
Tidak lama berselang seorang remaja laki laki berseragam putih abu abu keluar dari kediaman Santoso. Dia adalah Nanda, anak pertama dari hasil pernikahan Santoso dan mantan istrinya.
Nanda menatap sebentar pada Faza yang hanya diam berdiri didepan mobilnya kemudian melengos dan berlalu begitu saja dengan motor gedenya.
Faza tersenyum geli. Melihat penampilan Nanda dengan motor gedenya entah kenapa Faza tiba tiba teringat akan masa masa putih abu abunya dulu saat mulai mengincar Zahra.
“Kakak tunggu Deo !!”
Suara lantang anak kecil tidak membuat remaja itu menghentikan laju motornya. Faza tau Nanda sedang dikuasai oleh amarahnya.
Faza kemudian menatap Nadeo. Faza tau siapa bocah itu. Dia adalah putra bungsu Santoso yang dulu sering bersama Zahra. Nadeo bahkan sangat lengket pada Zahra.
__ADS_1
Melihat sosok Faza kedua mata Nadeo sedikit melebar. Nadeo juga sangat mengenal Faza. Tentu saja karna Zahra yang mengenalkan.
“Kak Faza...” Gumamnya.
Faza tersenyum kemudian mengangguk. Pelan pelan Faza melangkah mendekat pada Nadeo. Bocah kecil itu juga kakaknya Nanda adalah korban dari ke egoisan Santoso yang hanya memikirkan perasaan-nya sendiri tanpa perduli dengan perasaan kedua putranya yang sebenarnya sedang sangat membutuhkan perhatian ekstra darinya juga mantan istrinya.
“Kamu masih mengenalku?” Tanya Faza setelah berdiri didepan Nadeo.
Nadeo mendongak kemudian tersenyum tipis. Senyuman yang sedikitpun tidak mirip dengan Santoso. Mungkin karna Nadeo lebih cenderung mirip dengan ibunya.
“Tentu saja. Aku juga masih ingat sama kak Zahra.”
Faza mengusap lembut puncak kepala Nadeo. Faza sangat miris sebenarnya melihat bocah itu yang harus tumbuh tambah perhatian penuh dari kedua orang tuanya yang memilih untuk berpisah.
“Apa pak Santoso ada didalam?” Tanya Faza kemudian.
“Ayah ada.. Ayo aku antar ke ayah..”
Nadeo meraih tangan besar Faza menuntun-nya masuk ke dalam rumah Santoso.
“Ayahku ada diruang tengah kak.. Kakak bisa langsung kesana. Aku mau ngejar kak Nanda dulu..” Ujar Nadeo kemudian melepaskan tangan Faza berniat untuk berlari.
Namun sebelum Nadeo benar benar melesat lepas dari genggaman-nya, Faza mencegahnya. Faza memang membenci Santoso. Tapi membiarkan anak yang polos dan tidak berdosa seperti Nadeo berada dalam bahaya itu bukanlah hal yang baik.
“Tunggu aku di mobil. Setelah urusanku dengan ayahmu selesai aku akan menemanimu mengejar kakakmu.”
Nadeo menatap Faza seperti sedang menilai nilai.
“Aku janji..” Imbuh Faza yang berhasil membuat Nadeo percaya padanya kemudian menganggukan kepalanya setuju.
Dengan tenang bocah laki laki itu melangkah keluar dari rumah Santoso meninggalkan Faza yang tersenyum menatap punggung kecilnya.
__ADS_1
“Bahkan dimata kedua anakmu saja kamu sudah bukan lagi orang yang baik Santoso..” Batin Faza miris.