PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 107


__ADS_3

Akibat dari ucapan Sinta yang mengharuskan cucu pertamanya laki laki berhasil membuat kondisi Zahra tiba tiba drop. Zahra bahkan sampai dilarikan kerumah sakit karna keadaan-nya yang tiba tiba memburuk.


“Dok bagaimana keadaan istri saya?” Tanya Faza ketika dokter Cindy keluar dari ruangan tempat Zahra berada.


Dokter Cindy menghela napas sembari melepas kaca mata yang dikenakan-nya. Dokter Cindy menatap Faza sendu.


“Kondisi pasien benar benar sangat lemah sekarang. Mungkin itu karna pengaruh dari pola pikirnya dan kurang istirahat.” Jawab dokter Cindy.


Faza menelan ludahnya. Dua hari ini Zahra memang sering terlihat melamun bahkan juga irit bicara. Zahra hanya akan mengatakan apa yang perlu dibicarakan saja. Makan-nya pun sedikit dan jarang dihabiskan. Padahal biasanya porsi makan Zahra banyak.


“Mungkin akan lebih baik kalau nyonya Zahra dirawat untuk beberapa hari kedepan disini.”


Faza menghela napas. Sikap Zahra mendadak berubah setelah apa yang diucapkan oleh mamahnya, Sinta.


“Dok, tolong usahakan yang terbaik untuk istri saya..” Ujar Faza dengan nada memohon.


Dokter Cindy tersenyum. Tanpa diminta pun Cindy pasti akan melakukan yang terbaik untuk semua pasien-nya termasuk Zahra. Apa lagi Zahra adalah menantu dari teman-nya Sinta.


“Itu pasti. Saya akan mengusahakan yang terbaik untuk pasien. Kalau begitu saya permisi.”


“Ya dok, terimakasih.”


“Ya, sama sama.” Senyum dokter Cindy.


Setelah dokter Cindy berlalu, Sinta muncul dengan Akbar yang melangkah dibelakangnya. Wajah keduanya tampak sangat khawatir namun dengan perasaan yang tentunya berbeda.


“Bagaimana cucu mamah?” Todong Sinta pada Faza.


Faza menatap mamahnya dengan pandangan yang Sinta tidak bisa mengartikan.


“Faza, jawab mamah. Bagaimana keadaan cucu mamah?!” Nada pertanyaan Sinta langsung meninggi karna Faza hanya diam saja saat dirinya bertanya.


Faza tersenyum miring. Faza berpikir apa yang terjadi pada istrinya sekarang adalah karna ucapan yang dilontarkan mamahnya dua hari lalu.


“Mamah sadar nggak? Apa yang terjadi sama Zahra sekarang itu karna apa yang mamah katakan kemarin.”


Kedua mata Sinta membulat. Faza menyalahkan-nya.


“Apa maksud kamu Faza? Kamu menyalahkan mamah?”


“Ya.. Karna setelah mamah mengatakan itu Zahra menjadi pendiam bahkan tidak mau makan.” Jawab Faza berani.


Sinta menggeleng tidak menyangka dengan apa yang Faza katakan.

__ADS_1


“Ada apa ini? Faza, kenapa kamu menyalahkan mamah kamu?”


Akbar yang tidak tau apa apa pun bertanya dengan rasa penasaran yang tinggi. Faza tidak menceritakan apapun padanya sejak kemarin. Tapi dipertengahan dirinya meeting tiba tiba Sinta menelpon dan memberitahu bahwa Zahra masuk rumah sakit. Karna khawatir Akbar pun segera bergegas pergi tanpa memperdulikan meeting nya lagi.


Faza menundukan kepalanya sebentar sebelum kembali menatap Sinta dan Akbar.


“Jadi mamah menekan Zahra untuk melahirkan bayi laki laki pah. Mamah mengharuskan cucu pertamanya laki laki. Dan itu berhasil membuat Zahra merasa sangat khawatir. Dia khawatir yang akan dilahirkan-nya anak perempuan dan mamah tidak akan mengakuinya sebagai cucu.” Jawab Faza.


Akbar mendesis dengan kedua mata terpejam. Istrinya kembali berulah. Padahal Akbar pikir Sinta sudah benar benar bisa menerima Zahra sebagai menantunya.


“Aku nggak nyangka mamah bisa mengatakan hal seperti itu. Aku kecewa sama mamah..” Lanjut Faza kemudian masuk kedalam ruangan tempat Zahra berada.


Sinta mendelik kesal. Maksudnya baik. Menurutnya cucu pertama laki laki itu bisa membanggakan dan bisa menjadi pemimpin yang baik untuk adik adiknya kelak.


“Faza kamu..”


“Mah..” Sela Akbar menahan lengan Sinta yang hendak menyusul Faza masuk kedalam ruangan tempat Zahra berada sekarang.


“Kita perlu bicara.” Katanya kemudian.


“Enggak. Faza sudah sangat berani sama mamah. Dia nggak tau bagaimana caranya berterimakasih pada orang tua pah.. Dan semua itu lagi lagi karna Zahra.”


Sinta mulai ngotot karna amarah yang menguasainya. Ucapan Faza membuatnya sangat marah dan tidak terima karna disalahkan atas apa yang saat ini menimpa Zahra.


“Mah.. Tolong tenang.. Ini rumah sakit..” Tekan papah Faza mulai ikut emosi.


“Kamu juga mau nyalahin aku? Kamu juga mau bilang semua ini terjadi gara gara aku pah?” Tanya nya.


“Sudah.. Papah nggak mau kita debat disini. Ayo ikut papah.” Tegas Akbar kemudian menarik tangan Sinta dan mengajaknya berlalu dari depan ruang rawat Zahra.


Akbar menyuruh Sinta untuk kembali masuk kedalam mobil. Pria itu kemudian menghidupkan mesin mobilnya berlalu dari parkiran rumah sakit.


“Papah, apa apaan ini? Mamah mau tau bagaimana keadaan calon cucu mamah.” Sinta mulai marah marah lagi.


“Kondisi janin dalam kandungan seorang ibu hamil itu tergantung pada keadaan ibunya. Papah yakin kamu tau itu mah..” Balas Akbar dengan menahan rasa kesal.


“Apa maksud papah?” Tanya Sinta menyipit menatap Akbar yang sedang fokus mengemudikan mobilnya.


“Faza tidak mungkin berbohong. Dan apa yang kamu lakukan itu sudah sangat fatal mah. Kamu menuntut Zahra melahirkan anak laki laki. Sedangkan Zahra sendiri tidak bisa memilih akan laki laki atau perempuan anak yang dia lahirkan.” Jawab Akbar.


“Papah nyalahin mamah?”


“Karna kamu memang salah. Kamu selalu memaksakan kehendak kamu pada siapapun mah.”

__ADS_1


Sinta tertawa miris. Wanita itu merasa disudutkan sekarang.


“Kalian semua memang orang orang yang susah dimengerti.”


“Terserah apa kata mamah. Tapi papah minta mulai sekarang jangan lagi memaksakan kehendak kamu pada Zahra. Dia bukan boneka. Zahra berhak melakukan apapun apa yang dia suka.”


Sinta melengos merasa sangat kesal. Lagi lagi semua orang menyalahkan-nya karena Zahra.


--------


“Mas...” Zahra tersenyum menatap Faza yang masuk kedalam ruangan tempatnya dirawat. Padahal seingat Zahra Faza sudah berangkat bekerja sebelum kesadaran-nya tiba tiba menghilang.


Faza tersenyum dengan kedua mata memerah dan sisa air mata yang masih membekas dikelopak matanya. Pria itu mendekat pada Zahra, menarik pelan kursi dan mendudukan dirinya tepat disamping brankar tempat Zahra berbaring.


“Apa kata dokter Cindy mas? Anak kita enggak papa kan mas?” Tanya Zahra menatap Faza dengan tatapan sendunya.


Faza meraih tangan Zahra, menggenggam dan mencium punggung tangan istrinya itu penuh rasa syukur. Faza bersyukur karna sesuatu yang buruk tidak menimpa anaknya yang sedang dikandung Zahra. Meskipun memang kondisi Zahra sangat lemah namun itu pasti dapat ditangani dengan perawatan yang benar dari dokter juga suster dirumah sakit itu.


“Tentu saja anak kita baik baik saja. Dia anak yang kuat. Sama seperti kamu sayang..” Jawab Faza.


Zahra tersenyum mendengarnya. Zahra merasa lega karna anak dalam kandungan-nya baik baik saja.


“Sayang...” Panggil Faza pelan.


“Ya mas..” Saut Zahra menatap Faza.


“Mulai sekarang kamu tidak perlu memikirkan apapun lagi tentang mamah. Aku mau kamu menjadi diri kamu sendiri. Lakukan apapun yang menurut kamu baik. Aku percaya kamu bisa menjaga dengan baik anak kita ini..” Ujar Faza sambil mengusap dengan lembut perut Zahra yang masih terlihat rata.


“Tapi mas...”


“Mau anak kita laki laki ataupun perempuan itu nggak masalah buat aku sayang.. Jangan dengarkan yang lain karna kita yang akan merawatnya. Kita yang akan menjaganya dengan penuh cinta dan kasih.” Sela Faza.


Zahra diam. Zahra merasa sangat bodoh sekarang karna selama dua hari bahkan Zahra terus memikirkan ucapan Sinta yang mengharuskan anak yang di lahirkan-nya nanti harus laki laki. Zahra seakan melupakan prinsipnya sendiri sejak awal mereka memutuskan untuk menikah.


“Mas...”


Suara pintu yang terbuka membuat Zahra dan Faza menoleh kearah pintu. Dari balik pintu itu muncul Aries dan Nadia dengan wajah penuh ke khawatiran.


Faza yang melihat keduanya buru buru mengusap air matanya. Faza tidak mau Aries sampai mengetahui penyebab Zahra masuk rumah sakit karna itu pasti akan membuat Aries murka.


“Kak..” Sapa Faza bangkit dari duduknya menyambut kedatangan Nadia dan Aries.


“Zahra.. Apa yang terjadi? kenapa kamu sampai berada disini?”

__ADS_1


Aries tidak mengindahkan sapaan Faza. Pria itu justru langsung menubruk Zahra dan menanyakan penyebab keberadaan Zahra dirumah sakit.


Faza hanya bisa tersenyum. Faza tau Aries pasti menganggap apa yang terjadi pada Zahra karna dirinya.


__ADS_2