PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 220


__ADS_3

Karena apa yang dilihatnya itu, Fadly merasa hari yang dilaluinya sangat kacau. Bahkan target menyelesaikan pekerjaan-nya hari ini tidak bisa Fadly lakukan.


“Dasar perempuan nggak tau malu. Gara gara dia hariku benar benar kacau sekarang.”


Sehari ini Fadly banyak sekali mengumpat tentang Loly. Padahal pada kenyataan-nya Loly sama sekali tidak salah apa apa. Loly bahkan tidak tau bahwa Fadly juga sedang ada disana saat itu karena yang memilih tempat tersebut untuk bertemu adalah client-nya, bukan Loly sendiri.


Saking kesalnya Fadly sampai tidak fokus menyetir dan hampir saja menabrak seorang wanita yang sedang menyeberang jalan malam itu. Beruntung Fadly bisa dengan cepat menginjak rem sehingga wanita tersebut tidak sampai tersentuh oleh bagian depan mobilnya.


Penasaran dengan sosok wanita tersebut, Fadly pun turun dari mobilnya untuk melihat wanita tersebut.


Namun begitu menghampiri wanita itu Fadly sangat terkejut karna ternyata wanita yang hampir saja di tabraknya adalah Loly.


“Kamu lagi...” Geram Fadly.


Loly yang memejamkan kedua matanya perlahan membukanya. Sama seperti Fadly, Loly juga terkejut karna ternyata yang hampir saja menabraknya adalah Fadly.


“Fadly?”


Sebelah alis Loly terangkat. Seketika rasa takutnya hilang saat itu juga begitu tatapan-nya bertemu dengan Fadly.


Konyolnya lagi Loly menganggap Fadly adalah penyelamatnya padahal pada kenyataan-nya Fadly adalah orang yang hampir saja membuat tubuhnya terpental dari tempatnya berdiri.


“Kamu sengaja mengikutiku hah?! Kamu sengaja mengacaukan hariku? Begitu?!”


Bentakan Fadly membuat Loly kaget. Ekspresi Loly seketika berubah kebingungan.


Loly menggeleng pelan. Loly benar benar tidak mengerti dengan apa yang Fadly tuduhkan padanya sekarang.


“Aku nggak ngerti maksud kamu.. Aku nggak ngikutin kamu.. Aku juga..”


“Kamu pikir aku bakal percaya dengan apa yang kamu katakan hah?! Dasar perempuan gampangan..”

__ADS_1


Kedua mata Loly membulat mendengar apa yang Fadly katakan diakhir kalimatnya. Emosi mulai menguasai Loly. Kedua tangan yang berada dikedua sisi tubuhnya mengepal merasa tidak terima dengan sebutan perempuan gampangan yang terlontar dari mulut Fadly.


“Jaga mulut kamu Fadly..” Tekan Loly tidak terima.


Melihat ekspresi Loly Fadly tersenyum sinis. Pria itu dengan sangat angkuh melipat kedua tangan-nya didepan dada menatap remeh pada Loly yang berada didepan-nya.


“Kenapa? Tidak terima dengan apa yang aku katakan?” Tantang Fadly pada Loly.


Karena kesal Loly pun langsung melayangkan tamparan kerasnya pada pipi kanan Fadly. Loly benar benar tidak bisa diam saja jika Fadly menyebutnya sebagai wanita gampangan. Karena Loly merasa dirinya bukan wanita seperti itu. Loly punya harga diri yang selalu Loly junjung dengan tinggi.


“Jangan kamu pikir aku nggak bisa marah sama kamu Fadly. Kamu pikir kamu ini siapa sampai berani mengataiku seperti itu hah?! Memangnya kamu merasa kamu sehebat apa hah?!”


Rahang Fadly mengeras mendengar teriakan Loly yang berhasil membuat hampir semua orang yang berada disekitar mereka mengarahkan pandangan-nya pada keduanya.


“Asal kamu tau Fadly. Aku mungkin memang bodoh karena mencintai laki laki seperti kamu. Tapi kata bodoh setidaknya lebih baik dari pada jahat. Sementara kamu.. Kamu memanfaatkan aku dan perasaanku untuk membalas sesuatu yang aku sendiri bahkan tidak tau apa.. Kamu laki laki jahat Fadly. Kamu brengsek, kamu pengecut. Kamu tidak lebih dari seorang pecundang.” Marah Loly kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Fadly yang berdiri diam didepan mobilnya.


Fadly tidak bergeming ditengah banyaknya pejalan kaki yang menatapnya. Apa lagi posisinya yang berada tepat didepan indomaret tempat Loly tadi muncul dan hampir saja tertabrak oleh mobilnya.


“Kasihan sekali perempuan itu..”


“Bukan-nya tadi dia yang hampir nabrak ya?”


Berbagai cibiran dengan jelas Fadly dengar dari para orang orang yang mengerubunginya. Muak dengan semua yang didengarnya, Fadly pun bergegas masuk kembali kedalam mobilnya.


Mobil Fadly berlalu dengan kecepatan diatas rata rata. Hari ini dirinya kembali di timpa sial dan lagi lagi tersangkanya adalah Loly.


Selain mendapat tamparan keras di pipi kanan-nya dari Loly, Fadly juga harus mendapat cibiran tajam dari para pengguna jalan yang melihat pertengkaran-nya dengan Loly malam ini.


Sesampainya dirumah Fadly sudah ditunggu oleh Sinta yang duduk dengan santai diruang tamu sambil membaca majalah di pangkuan-nya.


“Kamu baru pulang nak?” Tanya Sinta menyingkirkan majalah di pangkuan-nya kemudian bangkit dari duduknya dan menghampiri Fadly yang baru beberapa langkah dari pintu utama rumahnya.

__ADS_1


“Eemm.. Ya mah.. Hari ini aku cukup sibuk.” Jawab Fadly berbohong.


Sinta tersenyum saat Fadly menyaliminya. Namun senyuman dibibirnya langsung memudar begitu melihat pipi kanan putra bungsunya yang memerah seperti baru saja mendapat pukulan.


“Fadly ada apa dengan pipimu?” Tanya Sinta dengan nada khawatir.


Fadly diam. Fadly merasa sikap Fadly kembali seperti saat dirinya kecil dulu. Begitu lembut dan penuh dengan kecemasan saat menyambut kepulangan-nya.


“Eemm.. Ini.. Aku...”


“Ini seperti bekas tamparan. Katakan sama mamah siapa yang berani beraninya menampar kamu?”


Sinta menyela dengan nada suara ngotot. Wanita itu sepertinya memang sangat tidak terima jika putranya disakiti oleh orang lain.


Fadly tidak langsung menjawab. Pria itu terdiam sebentar memikirkan jawaban yang bisa dengan mudah diterima oleh sang mamah. Namun sebelum menjawab, seulas senyum terukir di bibir Fadly.


Sebuah ide hinggap diotak cerdas pria itu. Ya, Fadly akan menjawab dengan jujur bahwa Loly yang menamparnya. Dengan begitu Fadly yakin mamahnya pasti tidak akan lagi menanyakan tentang hubungan dekatnya dengan Loly. Bahkan tidak menutup kemungkinan mamahnya akan sangat marah pada Loly kemudian membencinya karena sudah berani memukul putranya.


“Loly yang nampar aku mah..” Jawab Fadly dengan wajah memelas. Fadly ber akting seolah dirinya sangat tersakiti dengan lebam di pipinya tersebut.


Mendengar jawaban dari putra bungsunya Sinta pun langsung terdiam. Sinta menatap tidak percaya dengan apa yang Fadly katakan. Apa lagi melihat ekspresi memelas tidak biasa yang sedang diperlihatkan oleh putranya itu.


“Loly yang nampar kamu? Iya kah?” Tanya nya tidak percaya.


Fadly mengangguk dengan ekspresi yang semakin dibuat buat. Pria itu benar benar sangat berharap mendapat pembelaan dari mamahnya sekarang.


“Apa kalian sedang bertengkar? Kamu membuat Loly menangis Fadly? Atau kamu jalan dengan wanita lain dibelakang Loly sehingga Loly marah, terus merasa kecewa dan akhirnya menampar kamu?”


Fadly langsung menghentikan ke pura puraan-nya begitu mendengar serentet pertanyaan yang dilontarkan oleh sang mamah. Kesal sekali rasanya karna ternyata mamahnya bahkan menyalahkan-nya.


“Mamah tuh.. Ah sudahlah Fadly capek.”

__ADS_1


Dengan perasaan dongkol Fadly berlalu dari ruang tamu meninggalkan Sinta yang malah tertawa melihat tingkahnya.


Dan hari ini adalah hari sial kedua bagi seorang Fadly dengan tersangka utama yang tidak lain dan tidak bukan adalah Loly.


__ADS_2