
“Tadi pagi juga mamah kamu kesini..”
Fadly yang hendak menyeruput teh dicangkir yang dipegangnya mengeryit saat tiba tiba Aries menyinggung tentang mamahnya ditengah obrolan mereka.
“Mamahku?” Tanya Fadly kembali meletakan secangkir teh tersebut diatas tatakan-nya. Perasaan-nya mulai tidak enak. Mamahnya tidak mungkin tidak berulah saat bertemu dengan Aries.
“Ya.. Dia marah marah bahkan sempat mengusir kami.” Jawab Aries santai.
Fadly sesaat terdiam. Aries terlhat begitu santai saat mengatakan-nya.
“Aku yakin kamu juga tau tentang kebohongan Faza saat menikahi adikku Zahra. Dia bilang kedua orang tua kalian akan datang setelah ijab kobul.”
Fadly menghela napas. Faza tidak pernah mengatakan apapun saat itu. Fadly juga terkejut begitu Faza pulang membawa Zahra dan mengatakan bahwa mereka sudah menikah.
“Aku benar benar minta maaf atas nama mamah kak... Aku juga nggak tau kenapa mamahku bisa begitu tidak suka pada Zahra.” Sesal Fadly.
Aries tertawa pelan.
“Jujur aku sangat marah. Tapi aku sadar, Zahra adalah istri Faza. Zahra tidak mungkin aku ajak pergi tanpa izin dari Faza.”
Fadly menghela napas pelan. Beruntung Aries bisa bijak bersikap sehingga hubungan Faza dan Zahra bisa tetap baik baik saja.
“Tapi aku tidak bisa menjamin semuanya akan terus baik baik saja. Aku punya batas kesabaran.”
Fadly mengangguk. Fadly juga memahami hal tersebut. Tidak berbeda dengan dirinya yang merasa sangat kesal karna sikap Loly padanya saat itu.
Deringan ponsel dalam saku celana jins Fadly membuat obrolan mereka terjeda. Fadly segera merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda pipih itu.
Fadly mengetatkan rahangnya saat mendapati nama Loly tertera dilayar ponselnya.
“Eemm.. Kak sebentar yah.. Aku permisi angkat telepon dulu.” Ujar Fadly.
“Oh ya silahkan..” Senyum Aries menganggukan kepala mempersilahkan.
Fadly bangkit dari duduknya kemudian berlalu keluar dari ruang tamu meninggalkan Aries sendiri untuk mengangkat telepon dari Loly.
“Halo...”
“Fadly kamu dimana?” Loly langsung menyerang Fadly dengan pertanyaan begitu Fadly mengangkat telepon darinya.
“Aku telepon kamu dari tadi tapi kamu nggak angkat. Aku wa kamu nggak bales. Kamu dimana sih?”
“Aku dimana sekarang itu bukan urusan kamu Loly. Memangnya kamu siapa sampe kamu harus tau kemana dan dimana aku hah?!”
__ADS_1
Saking emosinya Fadly sampai melupakan rencananya pada Loly. Fadly bahkan langsung emosi saat Loly menodongnya dengan pertanyaan tentang dimana dirinya.
“Maaf.. Aku nggak bermaksud..” Suara Loly mendadak melirih. Hal itu membuat Fadly kembali sadar akan rencananya pada Loly.
Fadly mendesis pelan dengan kedua mata terpejam. Hampir saja Fadly melupakan niatnya.
“Eemm.. Aku yang minta maaf Loly. Aku ada dirumah kakak ku sekarang.” Ujar Fadly.
“Begitu ya? Ya udah deh kalau begitu...”
“Eemmm.. Loly tunggu.”
“Ya....”
“Eemm.. Aku minta maaf. Nanti aku kerumah kamu.”
“Benarkah? Ya sudah aku tunggu yah..”
Fadly tersenyum. Suara Loly terdengar sangat antusias diseberang telepon setelah Fadly mengatakan akan datang untuk menemuinya nanti.
“Ya sudah kamu hati hati ya Fadly kesininya. Aku tunggu.”
“Hemm.. Oke.”
Sambungan telepon ditutup oleh Loly. Fadly menghela napas sembari menurunkan benda pipih itu. Fadly hampir saja tidak bisa mengontrol emosinya karna pertanyaan Loly. Fadly memang merasa sangat terganggu sebenarnya dengan telepon dan pesan pesan yang dikirim Loly.
“Eemm.. Kak, kayanya aku harus pulang sekarang deh..” Senyum Fadly menatap bergantian pada Zahra, Aries, juga Nadia.
“Baru ngobrol sebentar..” Kata Aries.
Fadly tersenyum. Hubungan-nya dengan Aries memang sudah baik dari dulu. Fadly bahkan sudah sangat lama mengenal Aries. Tepatnya saat dirinya dan Zahra masih kelas sepuluh di SMA.
“Ya kak.. Aku ada urusan mendadak.”
“Ya sudah kalau begitu.” Angguk Aries mengerti.
“Ya.. Kalau begitu aku pamit pulang ya kak..” Fadly menyalimi Aries dan Nadia bergantian.
“Biar aku antar sampai depan.” Kata Zahra bangkit dari duduknya.
Fadly hanya menganggukan kepalanya kemudian mempersilahkan untuk Zahra melangkah lebih dulu darinya. Mereka berdua keluar dari rumah Faza dengan langkah pelan.
“Ra...” Panggil Fadly membuat Zahra berhenti melangkah kemudian menoleh menatapnya. Saat itu mereka sudah sampai diteras rumah.
__ADS_1
“Ya Ly.. Kenapa?” Tanya Zahra tersenyum.
“Tentang sikap mamah.. Aku minta maaf yah..”
Zahra tertawa mendengarnya. Dari dulu sikap Sinta padanya memang seperti itu. Sinta tidak pernah menyukainya dan selalu mengatakan segala sesuatu semaunya sendiri pada Zahra.
“Enggak papa kok. Kamu santai aja. Kan dari dulu juga mamah begitu sama aku..”
Fadly menatap Zahra penuh sesal. Dirinya saja sebagai adik Faza merasa sangat tidak tega pada Zahra atas tingkah Sinta. Fadly tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi Faza. Sulit, itu tebakan akan posisi Faza dipikiran Fadly sekarang.
“Kakak dari dulu sangat mencintai kamu Ra.. Aku tau itu.”
“Ya.. Aku percaya Fadly.” Angguk Zahra dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya.
Fadly ikut menganggukan kepalanya. Fadly sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu membantu kesulitan kakaknya jika menyangkut hubungan-nya dengan Zahra.
“Ya sudah aku pulang yah.. Kalau kamu butuh apa apa kamu telepon aku aja. Besok kalau nggak sibuk aku kesini lagi.”
“Oke..”
Fadly tersenyum kemudian menatap perut besar Zahra. Disana bersemayam dengan tenang calon keponakan-nya yang sebentar lagi akan lahir kedunia.
“Aku pulang..” Katanya lagi tersenyum pada Zahra.
“Ya.. Hati hati...” Balas Zahra dengan ceria.
Fadly melangkah mendekat pada mobilnya kemudian masuk dan berlalu dengan kecepatan sedang keluar dari pekarangan luas kediaman Faza dan Zahra.
Zahra menghela napas. Beruntung sekali Zahra mempunyai Fadly sebagai adik iparnya. Selain baik Fadly juga sangat pengertian dan memahami akan dirinya.
Setelah mobil Fadly tidak terlihat lagi, Zahra pun kembali masuk kedalam rumah.
--------
Fadly mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Fadly hendak menuju kediaman Loly karna tadi sudah mengatakan akan datang. Namun Fadly mendadak galau karna tidak tau mau ngapain disana nantinya. Sedang Fadly merasa tidak perlu mengatakan apapun pada Loly.
Tiba tiba Fadly berpikir tentang buah tangan. Fadly mulai merasa tidak enak jika datang dengan tangan kosong. Sedang Fadly sendiri tidak tau apa yang Loly suka.
Fadly menghentikan mobilnya ketika melewati toko bunga. Fadly berpikir bunga adalah satu satunya buah tangan yang selalu dimana seorang pria ketika datang ketempat wanita yang dicintanya.
“Tapi kan aku nggak ada rasa sama dia..” Gumam Fadly kembali merasa ragu.
Fadly menatap toko bunga itu dengan tatapan bingung. Namun begitu mengingat kembali akan rencananya pada Loly, tiba tiba Fadly tersenyum.
__ADS_1
“Mungkin ini bisa menjadi awal dari rencanaku membuat Loly terbang..” Fadly kembali bergumam dengan senyuman sinisnya.
Setelah yakin, Fadly pun turun dari mobilnya kemudian masuk kedalam toko bunga tersebut.