
Loly menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai dua rumah Faza menyusul Sinta yang sudah lebih dulu naik untuk menemui Zahra.
Begitu sampai dianak tangga terakhir Loly mengeryit melihat Sinta dan Zahra yang sedang berdiri berhadapan. Loly diam ditempatnya memperhatikan keduanya yang tampak diam saling menatap.
“Jangan kamu pikir mamah tidak tau apa yang berada dipikiran kamu Zahra.” Tekan Sinta.
Loly tetap diam memperhatikan keduanya dari ujung tangga. Loly tidak berniat mendekat sama sekali.
“Zahra nggak ngerti apa maksud mamah..” Balas Zahra.
“Kamu mengajak kakak kamu kesini sementara Faza pergi ke Amerika. Sudah jelas bukan? Kamu berniat menguasai rumah ini dengan kakak kamu.”
Zahra menggeleng tidak menyangka dengan apa yang dipikirkan oleh Sinta tentang dirinya.
“Dari awal mamah sudah nggak setuju dengan pernikahan kalian. Tapi Faza begitu bodoh karna tidak mau mendengar apa yang mamah katakan. Dan sampai detik ini mamah masih yakin Faza nekat menikahi kamu diam diam pasti karna pengaruh keluarga kamu.”
“Mah Zahra nggak pernah sedikitpun mempengaruhi mas Faza.. Kami memutuskan menikah karna keputusan kami berdua. Tidak ada unsur paksaan apapun.” Zahra terus membela dirinya sendiri. Zahra tidak mau jika Sinta terus saja menganggapnya mempengaruhi Faza. Karna pada dasarnya yang mengajak menikah lebih dulu juga adalah Faza.
“Berani kamu membela diri didepan mamah hah?!”
Napas Zahra mulai memburu. Sakit juga kesal sekarang Zahra rasakan. Zahra juga tidak bisa menerima begitu saja apa yang Sinta katakan tentang dirinya.
“Kamu berani melawan mamah karna tidak ada Faza?”
Zahra menelan ludahnya. Siapapun yang melihatnya sekarang pasti juga menganggap Zahra berani melawan Sinta, mamah mertuanya.
“Zahra nggak bermaksud ngelawan mamah. Tapi Zahra juga tidak bisa membiarkan mamah terus terusan berpikiran buruk pada Zahra.”
Sinta menyipitkan kedua matanya.
“Kalau saja kamu sedang tidak mengandung cucu mamah, mamah sudah suruh Faza untuk menceraikan kamu Zahra.”
Loly menghela napas melihat perdebatan keduanya. Untuk sekarang Loly berpihak pada Zahra, bukan Sinta. Loly mulai merasa Sinta memang sangat keterlaluan menyikapi Zahra yang adalah menantunya sendiri.
__ADS_1
“Tante...” Panggil Loly bermaksud menghentikan perdebatan keduanya.
Sinta menoleh pada Loly kemudian tersenyum. Namun tidak dengan Zahra yang terus menatap Sinta yang ada didepan-nya.
“Kamu lihat Loly Zahra? Dia jauh lebih baik dari kamu. Dia pintar, dia juga punya segalanya. Dan juga dia tidak mungkin seperti kamu yang hanya memanfaatkan Faza saja. Dan perlu kamu tau, satu satunya perempuan yang pantas mendampingi Faza hanyalah Loly. Bukan kamu atau perempuan manapun. Ngerti kamu.”
Zahra tersenyum mendengarnya. Zahra menoleh dan menatap sebentar pada Loly yang berdiri diam diujung tangga kemudian tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“Tapi pada kenyataan-nya yang mas Faza pilih Zahra mah.. Bukan Loly. Yang mas Faza percaya untuk menjaga hati dan cintanya Zahra. Bukan Loly atau perempuan manapun.” Balas Zahra dengan berani.
Tidak bisa menahan emosinya lagi, Sinta pun mengangkat tangan-nya hendak melayangkan tamparan pada Zahra. Namun begitu tangan Sinta mendarat, bukan Zahra yang terkena tamparan-nya, tapi Loly.
Sinta sangat terkejut begitu juga dengan Zahra.
“Awwhh...” Loly meringis memegangi pipi kanan-nya yang terkena tamparan Sinta.
“Ya Tuhan.. Loly sayang.. Apa yang kamu lakukan?”
Sinta langsung panik. Wanita itu meraih pipi Loly yang terkena tamparan-nya.
Sementara Zahra benar benar tidak percaya dengan apa yang Loly lakukan. Loly melindunginya bahkan sampai rela terkena tamparan keras tangan Sinta.
“Ya Tuhan.. Loly maafin tante ya sayang.. Tante nggak bermaksud menampar kamu.. Ayo ayo tante obatin yah...”
Zahra menatap iri pada Loly yang bisa sangat beruntung mendapat perhatian penuh dari Sinta. Padahal Loly bukanlah siapa siapa. Sedangkan Zahra yang jelas berstatus sebagai menantu justru mendapat perlakuan tidak baik dari Sinta.
“Ini semua gara gara kamu Zahra.” Marah Sinta mendelik kesal pada Zahra.
“Tante.. Udah..” Lerai Loly pelan.
“Ayo tante obatin dibawah..”
Loly hanya menurut saat Sinta memapahnya menjauh dari Zahra. Begitu hendak menuruni anak tangga Loly diam diam menatap Zahra dan tersenyum tulus dengan menganggukan pelan kepalanya.
__ADS_1
Zahra yang mendapat senyuman tulus dari Loly hanya diam mematung ditempatnya. Akhir akhir ini Loly memang tidak lagi sinis padanya. Tapi Zahra tidak menyangka jika Loly bahkan sampai melindunginya dari Sinta.
“Dia rela mendapat tamparan keras dari mamah dan itu untuk melindungiku?” Gumam Zahra lirih.
“Nyonya.. Apa nyonya baik baik saja?”
Zahra tersentak saat mendengar pertanyaan dari mbak Lasmi yang entah sejak kapan sudah berada disampingnya.
“Mbak...” Lirih Zahra masih dikuasai keterkejutan-nya atas apa yang Loly lakukan untuknya.
“Ya nyonya.. Dari bawah saya mendengar nyonya Sinta marah marah pada nyonya. Apa nyonya baik baik saja?”
Air mata Zahra tiba tiba menetes dan langsung mengucur dengan deras. Bohong jika dirinya baik baik saja sekarang. Ucapan Sinta benar benar sudah sangat menghinanya dan keluarganya. Sinta bahkan berniat menamparnya jika saja Loly tidak menghalangi hingga rela mendapatkan tamparan keras itu dipipi kanan-nya.
“Ya Tuhan nyonya...”
Zahra langsung berhambur memeluk mbak Lasmi. Zahra menangis sejadi jadinya. Sinta memang biasa bersikap sinis padanya. Tapi kali ini Sinta bahkan begitu kasar sampai bermain fisik.
“Sabar ya nyonya..” Lirih mbak Lasmi mengusap lembut punggung bergetar Zahra.
Zahra terus menangis terisak sambil memeluk mbak Lasmi. Padahal Zahra pikir dulu jika dirinya hamil Sinta akan berubah baik padanya. Bahkan bayi laki laki yang sedang dikandungnya sama sekali tidak bisa meluluhkan hati Sinta.
------------
“Kenapa kamu menghalangi tante menamparnya Loly? Zahra itu pantas tante tampar. Dia berani melawan tante.”
Sinta mengomel sambil mengobati pipi Loly diruang keluarga yang ada dilantai satu rumah Faza.
Loly menggigit bibir bawahnya ketika Sinta mengoleskan sale pada pipi yang terkena tamparan Sinta. Pipi Loly bahkan sampai memerah menandakan tamparan Sinta begitu keras saat mendarat dikulit halus wajahnya.
“Aku cuma nggak mau tante menyesal nantinya. Zahra kan sedang hamil. Kalau sampai tante menamparnya dan dia tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya bagaimana? Bukankah itu juga akan berakibat buruk pada calon cucu tante?”
Katakanlah Loly pengecut karna tidak berani berkata dengan jujur tentang apa yang dia lakukan. Loly tidak belum berani jujur pada Sinta tentang perasaan-nya pada Fadly. Dan sekarang Loly juga tidak jujur niatnya menghalangi tamparan Sinta pada Zahra adalah untuk melindungi Zahra dari kekerasan fisik yang hendak dilakukan Sinta pada Zahra.
__ADS_1
“Ya Tuhan.. Tante bahkan tidak berpikir sampai kesitu sayang.. Kamu yang terbaik.” Senyum Sinta menatap Loly kemudian memeluknya lembut.
Loly hanya tersenyum saja dibalik punggung Sinta. Sampai saat ini Loly terus menebak nebak bagaimana ekspresi dan respon Sinta jika Loly mengatakan dengan jujur tentang perasaan-nya pada Faza dan Fadly.