
Fadly terus memikirkan apa yang diucapkan oleh mamahnya. Pemikiran pria itu bahkan semakin panjang tentang perbedaan kasih sayang yang diberikan oleh Sinta untuknya dan Faza. Fadly merasa mamahnya terlalu berat pada Faza.
“Kenapa mamah jadi beda kasih sekarang...” Gumam Fadly terus memikirkan sikap Sinta padanya akhir akhir ini.
Fadly menghela napas kemudian memejamkan kedua matanya. Fadly tidak ingin berprasangka buruk pada mamahnya sendiri. Tapi sikap Sinta begitu kentara. Sinta selalu saja mengutamakan Faza.
Deringan ponsel dalam saku celananya membuat Fadly berdecak. Fadly merogoh saku celananya meraih ponsel miliknya.
Fadly mengeryit melihat nomor baru yang tertera dilayar benda pipih menyala itu. Sesaat Fadly diam tampak berpikir sebelum akhirnya memutuskan untuk mengangkat telepon tersebut.
“Halo...”
“Ya halo... Ini aku Fadly, Loly.”
Rahang Fadly mengeras. Semua prasangka buruk mamahnya karna Loly. Dan Fadly benar benar tidak bisa menerima itu.
“Untuk apa kamu meneleponku? Memang tidak cukup setiap hari kamu menggangguku? Sekarang waktu istirahatku juga mau kamu ganggu?”
Loly menghela napas diseberang telepon.
“Jangan selalu menilai buruk padaku Fadly. Aku hanya ingin tau kamu sedang apa sekarang.” Katanya.
Fadly tertawa sinis.
“Aku sedang memikirkan cara bagaimana menghancurkan kamu Loly.” Tekan Fadly dengan emosi meluap luap.
Ucapan Fadly membuat Loly tertawa. Loly tidak bisa percaya begitu saja apa yang Fadly katakan. Loly bahkan menganggap apa yang Fadly katakan hanya luapan emosi semata.
“Kamu lucu sekali Fadly. Kamu benar benar membuat aku semakin mantap memilih kamu.”
“Omong kosong apa lagi ini Loly? Jangan menganggap aku ini orang baik hanya karna aku tidak jadi merenggut kehormatanmu.”
Loly tertawa lagi.
“Kamu pikir menyentuh dadaku, meraba tubuh dan menciumi secara paksa itu bukan pelecehan hem?”
Napas Fadly mulai memburu. Fadly memang melakukan semua itu meski tidak benar benar sampai ke inti saat itu.
“Aku bisa menuntutmu Fadly. Tapi karna aku menyukai kamu aku tidak akan melakukan itu. Aku hanya ingin laki laki yang sudah menyentuh tubuhku bertanggung jawab. Itu saja.”
“Aku berani taruhan kamu bahkan sudah tidak suci lagi Loly.” Hina Fadly.
Diseberang telepon Loly mengepalkan kedua tangan-nya. Bibir tipis Fadly memang sangat tajam. Fadly bahkan tidak segan menghina seorang wanita jika sudah marah. Seperti hinaan yang dilontarkan pada Loly sekarang.
“Bagaimana kalau kita lakukan itu untuk membuktikan-nya Fadly?” Tantang Loly dengan menahan emosinya.
“Maaf.. Aku tidak suka barang bekas.” Jawab Fadly dengan entengnya.
“Kamu boleh mengatakan apapun nanti setelah mencobanya. Aku jamin kamu akan langsung menarik ucapanmu itu.”
__ADS_1
Fadly tertawa. Bagaimanapun indahnya tubuh Loly, Fadly berpikir dirinya tidak akan tergiur. Apa lagi Fadly sendiri tau bagaimana sosok Loly yang sebenarnya.
“Sebaiknya kamu menjauh dariku Loly. Atau kamu akan hancur.”
“Aku tidak pernah takut dengan ancaman siapapun Fadly. Apa lagi aku tau apa yang aku lakukan benar.”
Fadly menggeleng tidak menyangka. Bagaimana mungkin mengganggu kenyamanan orang lain bisa dibenarkan.
“Kamu melarangku mendekati mas Faza karna dia sudah memiliki Zahra sebagai istrinya. Sekarang aku mendekat padamu yang jelas jelas masih lajang. Lalu dimana salahnya?”
“Kamu memang perempuan tidak tau malu Loly. Kamu hanya memikirkan perasaanmu sendiri.”
“Ya.. Aku memang tidak tau malu. Maka dari itu aku berani mendekatimu.”
Malas terlalu panjang lebar berbicara dengan Loly, Fadly pun menutup sambungan telepon begitu saja. Fadly bahkan langsung menonaktifkan ponselnya agar Loly tidak bisa lagi menghubunginya.
“Perempuan gila.” Umpatnya kesal.
Fadly menarik napas panjang kemudian menghembuskan-nya pelan. Fadly tidak ingin setres hanya karna ulah Loly yang selalu saja mengganggunya.
“Kamu belum tidur Fadly?”
Fadly menolehkan kepalanya. Diambang pintu balkon-nya sudah berdiri sang papah dengan kaca mata baca yang masih bertengger dipangkal hidungnya. Fadly menebak papahnya baru saja selesai mengerjakan pekerjaan yang sengaja dia bawa pulang kerumah malam ini.
“Papah...”
“Apa ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran kamu?” Tanya Akbar sambil menepuk pelan bahu Fadly.
Fadly tersenyum dan menggeleng pelan. Fadly tidak mungkin menceritakan semua yang sedang dia alami pada Akbar. Fadly tidak ingin kedua orang tuanya berantem hanya karna dirinya.
“Hanya sedang tidak bisa tidur saja pah..” Jawabnya pelan.
“Oh ya? Kenapa?” Tanya Akbar lagi.
Fadly mengedikkan kedua bahunya tidak tau harus menjawab apa lagi. Fadly tidak ingin melontarkan kebohongan pada sang papah terlalu jauh.
“Ya sudah kalau memang kamu belum siap cerita sama papah. Tapi sekarang sudah hampir larut. Sebaiknya kamu tidur. Besok mau keluar kota lagi kan?”
“Ya pah...” Angguk Fadly.
“Papah bangga sama kamu nak. Kamu bisa berdiri dengan kaki kamu sendiri tanpa bantuan dari papah. Teruskan yah.. Papah yakin kamu bisa lebih dari yang papah banggakan saat ini.”
Fadly tertawa pelan. Dirinya juga sang kakak Faza memang selalu berusaha mengejar impian dengan usahanya sendiri. Keduanya tidak pernah meminta bantuan dari Akbar meski sedang mengalami kesulitan dengan pekerjaan-nya.
“Sudah.. Tidur ya..”
“Oke pah...” Angguk Fadly menurut.
Akbar menepuk pelan beberapa kali bahu Fadly. Pria itu tersenyum merasa sangat bangga pada kedua putranya sebelum benar benar berlalu meninggalkan Fadly dibalkon kamarnya seorang diri.
__ADS_1
Fadly tersenyum setelah sang papah berlalu. Fadly memang sering sekali pergi keluar kota. Pekerjaan-nya mengharuskan Fadly harus selalu profesional setiap saat.
----------
Pagi ini Loly menyempatkan waktunya untuk datang kerumah keluarga Akbar. Wanita itu juga membawa rantang berisi makanan yang sengaja dia masak sendiri untuk disantap pagi ini bersama Fadly, Sinta, juga Akbar. Memang tidak mewah karna hanya nasi goreng dan telor ceplok. Tapi Loly selalu berharap apa yang dilakukan dengan setulus hatinya perlahan bisa melunakkan hati Fadly.
“Pagi tante...”
Saat turun dari mobilnya, Loly langsung menyapa Sinta yang memang sudah tau perihal kedatangan Loly.
Sinta sengaja berdiri didepan pintu utama rumahnya untuk menyambut kedatangan Loly pagi ini.
“Pagi juga sayang.. Ayo masuk yuk..”
Loly menganggukan kepala dengan senyuman manis yang terukir dibibirnya. Mereka berdua kemudian melangkah masuk kedalam rumah dan langsung menuju meja makan.
Begitu sampai dimeja makan Loly mengeryit karna hanya ada Akbar yang sedang memainkan ponselnya disana dan tidak ada Fadly.
“Mungkin Fadly masih diatas.” Gumam Loly membatin.
Loly kemudian meletakan rantang yang dibawanya diatas meja makan.
“Sebentar, tante ambil piring dulu yah..” Ujar Sinta di angguki oleh Loly.
Ketika Sinta kembali dengan membawa tiga piring ditangan-nya Loly kembali mengeryit. Jika menghitung Fadly juga harusnya Sinta mengambil empat piring, bukan tiga.
“Biar tante bantu buka...”
Loly hanya tersenyum tipis dan kembali menganggukan kepalanya.
“Makasih banget lo Ly kamu sudah mau masak repot repot buat om sama tante.” Ujar Sinta sambil membuka satu persatu rantang makanan berisi nasi goreng yang dibawa Loly.
“Sama sama tante. Aku seneng kok bisa masakin buat tante, om, sama Fadly juga.” Senyum Loly.
“Kamu memang calon istri idaman. Iya kan pah?”
Sinta meminta pendapat Akbar yang terus memainkan ponselnya.
“Ah ya.. Tentu saja.” Jawab Akbar.
Loly meringis. Fadly belum juga muncul dimeja makan.
“Eemm.. Tante, Fadly nya nggak dipanggil buat sarapan sama sama?” Tanya Loly memberanikan diri bertanya tentang Fadly pada Sinta.
Sinta tersenyum sambil mengunyah nasi goreng dalam mulutnya.
“Fadly baru aja pergi. Dia keluar kota hari ini.” Jawab Sinta.
“Apa?”
__ADS_1