
Cinta dan keyakinan selalu berhasil membuat Faza sabar menghadapi cobaan demi cobaan dari Tuhan. Demi bisa meyakinkan mamahnya tentang hubungan pernikahan-nya dengan Zahra yang akan terus baik baik saja Faza mati matian melawan ke egoisan-nya sendiri.
“Kak, aku titip Zahra ya.. Maaf aku harus kembali ke kantor segera.” Ucap Faza pada Aries setelah mereka selesai ziarah ke makam kedua orang tua Zahra dan Aries.
“Ya.. Kamu hati hati di jalan.” Jawab Aries tanpa sedikitpun memperlihatkan senyuman dibibirnya pada Faza.
Faza tersenyum tipis. Aries memang dingin padanya. Tapi Faza tidak mempermasalahkan-nya. Yang terpenting Aries tidak seperti mamahnya yang terus menentang hubungan-nya dengan Zahra.
“Ya kak..”
Faza mengulurkan tangan-nya berniat menyalami Aries, namun Aries hanya diam saja. Tapi Faza menebalkan mukanya dengan tetap menunggu hingga akhirnya Aries mau menjabat tangan-nya.
Faza juga menyalami Nadia dan Arka sebelum akhirnya mendekat pada Zahra, istrinya.
“Aku balik ke kantor ya sayang..” Senyum Faza berkata pelan pada Zahra.
“Ya mas.. Kamu hati hati dan jangan pulang terlalu malam.”
Faza tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya.
“Aku akan pulang sebelum gelap.” Katanya.
“Oke, Aku tunggu dirumah.” Balas Zahra kemudian meraih tangan Faza dan menyaliminya.
“Om Faza, Arka tunggu om datang kerumah yah..”
Faza menoleh pada Arka kemudian tertawa.
“Oke, minggu depan om akan datang. Kita main bola sama sama nanti.”
“Yey... Beneran ya om.. Arka tunggu loh..”
“Iya beneran...” Angguk Faza tersenyum menatap Arka yang berdiri ditengah antara Aries dan Nadia.
Tingkah Arka berhasil mencairkan suasana kaku antara Faza dan Aries. Aries tertawa melihat tingkah putra pertamanya begitu juga dengan Nadia dan Zahra.
“Ya sudah om pergi dulu ya... Titip tante Zahra ya Arka..”
“Siap om.. Arka bakal jagain tante dengan baik.”
__ADS_1
Faza tersenyum kemudian berlalu setelah sebelumnya mencium kening Zahra. Faza berjalan menuju motornya. Ketika hendak mengenakan helmnya Faza kembali menoleh dan tersenyum pada Zahra juga Arka kemudian berlalu dengan motor gedenya.
“Dada om Faza... !!” Teriak Arka sambil melambaikan tangan-nya pada Faza.
Aries tersenyum tipis. Hubungan-nya dengan Faza memang belum hangat kembali setelah beberapa bulan Zahra dan Faza menikah. Apa lagi ditambah dengan sikap Sinta padanya yang pernah menghina Zahra tepat didepan-nya.
“Ya udah yuk kak, Mampir dulu yah kerumah..”
Nadia melirik Aries. Nadia tau Aries tidak akan mungkin mau mampir apa lagi yang mereka berdua tau Zahra dan Faza masih tinggal dirumah kedua orang tua Faza.
“Kakak langsung pulang aja Ra.. Cuma bisa nganterin, nggak bisa mampir.” Kata Aries tenang.
Zahra tersenyum dan menganggukan kepalanya. Tanpa bertanya pun Zahra tau Aries tidak akan mungkin mau mampir kerumah kedua mertuanya.
“Ya udah nggak papa..”
“Ya udah yuk kita pulang mas, Ra...” Ajak Nadia.
Aries menganggukan kepalanya. Pria itu kemudian meraih tubuh kecil Arka, menggendongnya dan berjalan lebih dulu dari Zahra dan Nadia.
“Maklumin sikap kakak kamu ya Ra.. Jangan di masukin kehati.” Kata Nadia merasa kasihan juga tidak enak hati pada Zahra.
Nadia tersenyum dan mengusap pelan bahu Zahra. Meskipun Zahra hanya adik iparnya tapi Nadia sangat menyayangi Zahra layaknya adik kandungnya sendiri.
Mereka masuk kedalam mobil Aries yang kemudian melaju dengan kecepatan sedang berlalu dari depan pemakaman umum yang tidak jauh dari rumah kedua orang tua mereka.
“Kak kita lewat jalan itu aja.” Kata Zahra membuat Aries mengeryit.
“Memangnya nggak kejauhan Ra? Bukan-nya bakal muter muter ya kalau lewat jalan itu..”
“Enggak papa kak. Aku lagi pengin lama lama sama kalian.” Balas Zahra.
Aries tertawa pelan mendengarnya. Tidak biasanya Zahra manja padanya setelah menikah dengan Faza.
Mereka bercengkrama dalam perjalanan mengantar Zahra menuju rumah baru yang belum diketahui Aries juga Nadia. Begitu sampai didepan kompleks perumahan-nya Zahra meminta untuk Aries masuk.
“Mau ngapain kita kesini Ra?” Tanya Aries bingung.
Zahra tersenyum. Zahra yakin Aries akan berubah pikiran dan mau mampir jika tau Zahra dan Faza sudah memiliki rumah sendiri.
__ADS_1
“Jadi sebenarnya aku sama mas Faza sudah pindah kak.. Kami berdua sudah tidak lagi tinggal sama mamah dan papah.” Zahra berterus terang dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya. Zahra berharap setelah ini hubungan Aries dan Faza akan kembali hangat seperti dulu lagi.
“Sejak kapan?” Tanya Aries.
“Baru kemarin sih kak kita berdua pindah. Kakak mau kan mampir sebentar?”
Aries terdiam sesaat. Aries merasa lega sebenarnya karna itu berarti Zahra sudah tidak perlu lagi berhadapan setiap hari dengan Sinta yang pasti selalu saja menindasnya.
“Oke deh kalau begitu.” Angguk Aries setuju.
Zahra menoleh menatap Nadia dan tersenyum lebar merasa sangat senang. Nadia juga ikut bahagia. Wanita itu mengusap usap bahu Zahra lagi.
Tidak lama Zahra meminta Aries untuk menghentikan mobilnya ketika mobil Aries sampai tepat didepan pintu gerbang bercat hitam kediaman-nya.
Aries membunyikan klakson membuat pak satpam dengan sigap segera membukakan pintu gerbang.
Setelah pintu gerbang dibuka, Aries kembali melajukan mobilnya dan berhenti tepat dihalaman rumah baru Faza dan Zahra.
“Ayo kak kita turun.” Ajak Zahra pada Aries dan Nadia.
Mereka ber empat kemudian turun dengan Arka yang kembali digendong oleh Aries. Nadia menggeleng takjub melihat rumah mewah berlantai dua didepan-nya. Rumah itu tentu saja jauh lebih bagus dan mewah dari kediaman sederhananya bersama Aries. Tapi Nadia tidak merasa iri, Nadia menghargai apapun yang diberikan Aries tanpa merasa iri pada siapapun yang lebih beruntung darinya.
Sedangkan Aries, pria itu hanya diam saja. Aries merasa kagum dalam hati pada adik ipar yang menurutnya menyebalkan itu. Tapi Aries tidak heran mengingat pekerjaan Faza sebagai seorang manager diperusahaan ternama. Aries yakin tentang materi Zahra tidak akan merasa kekurangan bersuamikan Faza.
“Wah.. Rumahnya bagus banget tante..” Puji Arka membuat Zahra juga Nadia tertawa.
“Dede bisa aja mujinya. Ya udah yuk masuk kak..”
Nadia dan Aries menganggukan kepalanya. Mereka masuk kedalam rumah Faza dan Zahra dengan Arka yang terus bersorak riang.
“Duduk kak.. Sebentar aku buatin minum yah.. Dede sini ikut tante..”
Aries dan Nadia mendudukan dirinya disofa ruang tamu. Keduanya menatap setiap sudut rumah mewah itu.
Sedangkan Arka, bocah tampan itu ikut dengan Zahra untuk membuatkan minuman kedapur.
“Bagus ya mas rumahnya..” Ujar Nadia tersenyum.
“Ya.. Nggak heran sih kalau Faza bisa membeli rumah semewah ini. Kita tau bagaimana dan apa pekerjaan Faza.” Balas Aries menoleh pada Nadia. Aries tidak merasa iri apa lagi sampai minder dengan apa yang bisa Faza dapatkan sementara dirinya tidak bisa.
__ADS_1
Aries tau Tuhan sudah memberikan semua rezeki pada setiap manusia dengan adil dan sesuai porsinya.