PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 78


__ADS_3

“Jadi sekarang ini rumah kamu dan suami kamu?” Tanya Tina saat Zahra datang mendekat padanya dengan membawa segelas minuman dingin ditangan-nya untuk Tina.


Tina mengedarkan pandangan-nya menatap setiap sudut rumah mewah berlantai dua itu.


“Ya begitulah Tin.” Senyum Zahra sambil menaruh segelas minuman yang dibawanya diatas meja didepan Tina yang sedang duduk disofa ruang tamu.


Zahra mendudukkan dirinya disamping Tina.


“Kamu gimana kabarnya? Udah dapat kerjaan?”


Tina menghela napas. Tina sudah beberapa kali bekerja ditempat lain namun tidak merasa nyaman hingga akhirnya memutuskan untuk berhenti.


“Kabar aku seperti yang kamu lihat sekarang. Dan aku udah beberapa kali keluar masuk pekerjaan ditempat lain.”


“Kok bisa? Memangnya kenapa dengan pekerjaan itu?”


Tina tertawa pelan.


“Mungkin karna nggak ada kamu Ra..” Jawab Tina.


Zahra ikut tertawa. Mereka memang sudah terbiasa bersama saat bekerja direstoran Santoso. Tapi Zahra tidak menyangka jika Tina benar benar akan ikut berhenti bekerja seperti dirinya direstoran Santoso.


“Terus sekarang kamu ngapain? Lagi cari kerja lagi?” Tanya Zahra kemudian.


Tina menghela napas. Tina sendiri tidak tau harus bagaimana dirinya sekarang. Beberapa kali bekerja tidak nyaman membuatnya merasa ragu. Tina bahkan sudah seminggu tidak pulang ke kosan-nya dan menginap ditempat bundanya.


“Aku nggak tau Ra. Mungkin aku akan coba bekerja ditempat papahku.”


“Hah?!” Zahra tampak bingung menatap Tina.


“Maksudnya gimana?” Tanya Zahra tidak mengerti.


Tina menghela napas lagi. Sudah cukup menurutnya Tina menyembunyikan jati dirinya yang sebenarnya dari Zahra.


“Jadi begini Ra.. Sebenarnya aku adalah anak dari Renaldi. Aku juga adalah adik dari kak Rasya, tunangan kak Anita. Aku yakin kamu kenal kak Anita.”


Kedua mata Zahra membulat sempurna. Zahra tidak menyangka bahwa sahabat yang selama ini sangat dekat dengan-nya adalah anak seorang pengusaha yang sudah tidak asing lagi namanya ditelinga masyarakat luas.

__ADS_1


“Sorry banget ya Ra, kalau selama ini aku bohongin kamu. Tapi beneran, aku nggak ada niat lain. Aku hanya pengin punya temen yang enggak memandang aku dari segi materi. Dan aku menemukan itu di kamu.”


Zahra menggelengkan kepalanya. Selama ini Zahra pikir Tina adalah gadis biasa. Tapi nyatanya Tina adalah putri dari Renaldi. Pengusaha yang sudah banyak dikenal masyarakat.


“Kamu jangan marah ya Ra.. Aku lakuin itu bukan tanpa alasan. Aku cuma nggak mau terus terusan dimanfaatin oleh orang orang yang aku anggap teman.”


Zahra memejamkan sesaat kedua matanya. Zahra teringat kembali saat dirinya tidak di izinkan pulang cepat oleh Susanto namun begitu Tina yang bicara Susanto langsung memberinya izin.


“Jadi saat aku mau datang ke pesta pernikahan Anita juga kamu yang...” Zahra tidak bisa melanjutkan ucapan-nya.


“Ya Ra.. Dan tunangan kak Anita itu kakak aku, Rasya Renaldi.” Sela Tina tenang.


Zahra menutup mulutnya. Semua yang Tina katakan benar benar sangat mengejutkan-nya.


“Tapi kenapa kamu malah bekerja sebagai waitrees Tin? Kamu kan bisa bekerja diperusahaan orang tua kamu...”


Tina menghela napas kemudian mulai menceritakan awal mula dirinya menyamar sebagai gadis biasa. Dan semua itu tidak jauh juga akibat dari perpisahan kedua orang tuanya. Keduanya memang masih kompak demi kebahagiaan anak anaknya, tapi menurut Tina semua itu tetap saja terasa berbeda karna kedua orang tuanya yang sudah tidak bisa lagi bersama setiap hari. Keduanya memutuskan untuk berjalan sendiri sendiri dan sibuk dengan perusahaan mereka masing masing.


“Aku ikut perihatin ya Tin atas apa yang menimpa kamu.. Tapi Tin.. kamu harus percaya bahwa setiap apa yang Tuhan takdirkan pada kita itu emang yang terbaik. Mungkin kedua orang tua kamu memang lebih baik sendiri sendiri dari pada bersama tapi tidak bahagia.”


Tina mengangguk pelan. Setelah sekian lama bergulat antara hati dan pikiran-nya kini Tina tau bahwa mungkin kedua orang tuanya memang tidak ditakdirkan untuk bisa selalu bersama sama.


Zahra tersenyum. Zahra senang karna akhirnya Tina bisa menyikapi semuanya dengan sangat bijak.


“Enggak dong. Sampai kapanpun juga kamu tetap teman, sahabat yang terbaik buat aku.”


Mendengar itu Tina langsung berhambur memeluk Zahra erat. Tina merasa sangat beruntung karna bisa memiliki Zahra sebagai sahabatnya.


-----------


Diperusahaan tempat Faza bekerja.


Faza beberapa kali berdecak saat memeriksa laporan yang diberikan oleh Anita. Pria itu benar benar tidak menyangka Anita yang begitu pintar dan cerdas tidak bisa mengoreksi laporan dengan teliti.


Faza menghela napas. Faza kemudian menatap pada Anita yang terus saja diam dan tampak melamun.


“Anita...” Panggil Faza pelan.

__ADS_1


Anita terus saja melamun dan tidak mendengar panggilan pelan Faza. Sekali lagi Faza mencoba memanggil namun Anita tetap saja khusuk melamun.


Merasa tidak sabar, Faza pun bangkit dari duduknya kemudian mendekat pada meja Anita. Faza menaruh map biru berisi beberapa berkas laporan yang diberikan Anita padanya dengan sedikit kasar sehingga itu berhasil menyadarkan Anita dari segala apa yang sedang menguasai pikiran-nya.


“Eh pak...”


Anita buru buru bangkit begitu menyadari Faza yang berdiri didepan meja kerjanya dengan wajah serius.


“Kamu kalau sakit nggak usah kerja Anita.” Kata Faza tegas.


Anita menundukan kepalanya. Anita tidak tau apa kesalahan-nya sehingga Faza berbicara begitu tegas padanya.


“Maaf pak Faza.. Ada yang bisa saya bantu?”


Anita kembali mengangkat kepalanya memberanikan diri menatap Faza yang tampak marah padanya.


“Kamu baca semua laporan itu. Saya tidak habis pikir dengan kamu Anita. Kalau kamu ada masalah tolong jangan bawa masalah kamu pada kerjaan.”


Anita mengeryit.


“Apa maksud pak Faza?” Anita merasa tersinggung dengan apa yang Faza katakan.


“Baca laporan itu lagi dan berikan pada saya begitu selesai jam makan siang.”


Faza kembali melangkah menuju mejanya kemudian langsung fokus pada laptopnya.


Anita yang merasa kesal dengan gertakan Faza meraih map biru yang dengan kasar Faza letakan diatas mejanya kemudian membukanya mengecek isi dari berkas laporan tersebut.


Anita meringis. Anita lupa membaca ulang laporan itu sebelum memberikan-nya pada Faza. Pantas saja Faza marah padanya tadi.


Anita kembali duduk dikursinya. Anita melirik Faza yang memang sedikit aneh hari ini. Tidak biasanya Faza marah hanya karna berkas laporan yang tidak sesuai. Biasanya meskipun ada kesalahan Faza selalu mendiskusikan-nya dengan tenang pada Anita.


“Apa dia juga sedang ada masalah?” Anita bertanya tanya dalam hati.


Anita tau bagaimana dan seperti apa seorang Faza Akbar. Mereka sudah menjadi partner kerja sejak lama.


“Sudahlah jangan ikut campur urusan orang lain. Hubunganku dengan Rasya saja tidak jelas.” Anita kembali membatin.

__ADS_1


Anita menggelengkan kepalanya kemudian mulai mengoreksi laporan yang dikembalikan oleh Faza padanya tadi.


__ADS_2