PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 84


__ADS_3

Setelah Sinta dan Loly benar benar pergi, tawa Zahra pecah sampai membahana di seluruh sudut rumah. Faza dan mbak Lasmi bahkan ikut menertawakan apa yang terjadi pada Loly tadi.


Faza tau jatuhnya Loly adalah ulah istrinya. Tapi Faza tidak akan menyalahkan karna apa yang Loly lakukan dengan lancang masuk kedalam rumahnya adalah salah.


“Kamu jangan keterlaluan ya sayang lain kali.. Takutnya dia cidera parah nanti malah bahaya.”


“Hehee.. Mas tenang aja. Aku nggak sejahat itu kok. Aku hanya melakukan sedikit sesuatu supaya Loly nggak seenaknya dirumah kita.” Tawa Zahra.


Faza menggelengkan kepalanya. Zahra begitu berani pada Loly yang membuat Faza justru semakin khawatir. Faza khawatir Loly membalas apa yang yang Zahra lakukan padanya lebih dari yang Zahra lakukan.


Faza meraih tubuh Zahra dan memeluknya penuh sayang.


“Aku nggak tau Loly itu seperti apa sayang. Tapi kamu harus hati hati.”


Zahra tersenyum dibalik punggung suaminya. Zahra juga tidak tau seperti apa Loly sebenarnya. Tapi Zahra yakin dirinya bisa menghadapi Loly hingga akhirnya Loly mundur dan tidak lagi mengganggunya dan Faza.


“Kamu tenang aja mas.. Aku bisa kok. Aku juga akan sangat hati hati dan waspada.”


“Ya.. Aku percaya sama kamu.”


Faza kemudian melepaskan pelukan-nya. Kedua tangan-nya menangkup kedua pipi Zahra. Satu kecupan Faza berikan dikening Zahra membuat Zahra memejamkan kedua matanya.


“Ya udah kalau begitu aku berangkat kerja dulu yah.. Kamu hati hati dirumah.” Ujar Faza setelah mencium kening Zahra.


Zahra menganggukan kepalanya. Zahra kemudian mengambilkan tas kerja dan jas hitam milik suaminya dan memberikan-nya pada Faza.


“Jangan kemaleman ya mas pulangnya..” Senyum Zahra.


“Ya sayang..” Angguk Faza sambil merangkul mesra pinggang Zahra dan mengajaknya melangkah keluar dari rumah mereka.


Faza dan Zahra berhenti tepat disamping motor Faza yang sedang dipanasi. Zahra kemudian menyalimi Faza sebelum Faza mengenakan helm dan naik keatas motornya.


“Hati hati..” Kata Zahra sambil melambaikan tangan-nya mengiringi kepergian Faza dengan motor gedenya.


Zahra menghela napas menatap motor gede suaminya yang mulai keluar dari pekarangan rumahnya. Setelah motor Faza tidak lagi bisa dijangkau oleh penglihatan-nya, Zahra pun masuk kembali kedalam rumah.


Namun baru beberapa langkah masuk kedalam rumahnya, Suara klakson mobil berhasil menghentikan Zahra.


Zahra mengeryit kemudian membalikan tubuhnya dan kembali melangkah keluar untuk melihat siapa yang datang.

__ADS_1


Zahra berdecak dan menggelengkan kepalanya melihat mobil Loly yang sudah berada didepan gerbang. Suara klakson kembali terdengar beberapa kali namun pak satpam tidak juga kunjung membukakan gerbang untuk Loly.


Zahra yang penasaran kemudian mendekat pada pak satpam.


“Pak, kenapa nggak dibuka?” Tanya Zahra penasaran.


“Maaf nyonya. Tuan sudah berpesan pada saya untuk tidak membukakan gerbang pada sembarang orang termasuk nona Loly.” Jawab pak satpam.


Zahra mengeryit namun kemudian menganggukan kepalanya paham. Faza pasti bermaksud melindunginya.


Sedangkan Loly yang merasa kesal karna pak satpam tidak kunjung membukakan pintu gerbang pun keluar dari mobilnya.


“Kamu budek ya? Kenapa nggak dibuka pintu gerbangnya?!” Marah Loly pada pak satpam.


“Maaf nona, Tuan yang melarang saya membuka pintu gerbang untuk anda.” Jawab tegas pak satpam.


Zahra tersenyum mendengarnya. Zahra merasa sangat senang karna suaminya begitu tegas mengambil sikap pada Loly.


“Ini nggak mungkin. Mas Faza nggak mungkin ngelarang saya masuk.” Loly menatap tajam pada pak satpam yang sama sekali tidak merasa takut dengan amarahnya.


“Saya hanya menjalankan perintah dari tuan Nona.”


“Kamu Zahra.. Jangan merasa kamu sudah menang. Aku belum dan nggak akan pernah menyerah.” Katanya tajam.


Zahra tertawa mendengarnya. Zahra benar benar tidak habis pikir dengan Loly yang begitu gencar mengejar suaminya. Padahal Faza sudah secara terang terangan menolaknya. Faza juga sering memperlihatkan ketidak sukaan-nya pada Loly secara langsung. Baik didepan Zahra maupun didepan kedua orang tuanya.


“Pada kenyataan-nya memang aku pemenangnya Loly. Aku saranin mending kamu mundur dari pada kamu semakin merasa malu karna sikap kamu ini.” Balas Zahra dengan tenang.


Kedua mata Loly melebar.


“Kamu itu harusnya ngaca Zahra. Cantik enggak, pendek iya. Kamu bahkan tidak disuka oleh tante Sinta. Sudah jelas disini siapa yang diharapkan untuk menjadi pendamping mas Faza sama tante Sinta. Aku akan buktiin sama kamu Zahra, kalau kamu itu hanya singgahan sementara saja buat mas Faza.”


Loly tersenyum setelah berkata seperti itu karna melihat ekspresi Zahra yang mendadak berubah.


“Kita lihat nanti Zahra..” Lanjut Loly lagi kemudian kembali masuk kedalam mobilnya dan berlalu dengan kecepatan diatas rata rata.


Zahra menghela napas. Ucapan Loly tentang Sinta memang benar adanya. Sinta belum bisa menerimanya dan menganggapnya sebagai menantu. Kenyataan itu terkadang hampir mematahkan semangat Zahra. Apa lagi jika melihat Loly yang begitu dekat dengan Zahra, rasanya Zahra sangat iri.


“Eemm.. Ya sudah pak, saya masuk yah..”

__ADS_1


“Oh iya nyonya, silahkan.” Senyum pak satpam tersenyum dan sedikit mengangguk memberi hormat pada majikan-nya itu.


Zahra melangkah pelan melewati halaman rumahnya menuju rumah. Kali ini ucapan Loly benar benar mengena dihatinya.


-------------


Sementara itu diperusahaan.


“Pak Faza...”


Faza menolehkan kepalanya pada Anita yang entah sejak kapan sudah berdiri disamping meja kerjanya.


Faza mengeryit. Anita tidak membawa map atau berkas yang hendak diserahkan padanya. Tapi Anita terus saja berdiri disamping meja kerjanya seperti ingin mengatakan sesuatu.


“Ya Anita, ada apa?” Tanya Faza bingung.


Anita menghela napas pelan dan memejamkan sesaat kedua matanya.


“Saya mau minta maaf sama pak Faza tentang kemarin.” Ujar Anita pelan.


Faza diam. Faza juga sebenarnya merasa sedikit bersalah karna terlalu keras pada Anita. Faza juga memaklumi sikap Anita yang melawan saat Faza marah padanya. Faza juga sadar dirinya salah.


“Saya tidak bermaksud melawan pak Faza. Saya tau saya salah pak. Saya sudah menyadarinya. Saya minta maaf.” Ujar Anita lagi.


Faza tersenyum tipis.


“Sudahlah tidak apa apa Anita. Saya tau kenapa kamu melawan. Saya sadar saya juga salah. Dan saya juga minta maaf atas ucapan saya yang mungkin membuat kamu tersinggung.”


Mendengar itu Anita tersenyum. Kemarin pikiran-nya sedang kacau sehingga emosinya begitu gampang terpancing. Dan Anita pikir mungkin Faza juga sedang mempunyai masalah yang sama dengan-nya sehingga gampang sekali marah hanya karna hal sepele.


“Saya yang salah pak. Saya sungguh minta maaf.”


Faza tertawa pelan menanggapinya.


“Oke oke.. Kita sama sama salah.”


Anita ikut tertawa. Lega rasanya karna sudah meminta maaf pada Faza.


“Ya sudah kalau begitu saya kembali ke meja saya ya pak.. Maaf sudah mengganggu.”

__ADS_1


“Ya.. Silahkan.” Angguk Faza dengan senyuman dibibirnya.


__ADS_2