
Pagi ini Sinta kembali datang bersama Loly kerumah Faza bahkan sebelum Zahra dan Faza turun untuk sarapan.
Mbak Lasmi yang merasa bingung dengan tingkah keduanya yang begitu seenaknya hanya bisa diam saja. Meskipun sesekali mbak Lasmi menggelengkan kepalanya melihat tingkah ibu dari majikan-nya itu.
“Lasmi !!”
Mbak Lasmi tersentak saat suara Sinta membahana memanggilnya. Tidak ingin mendapat umpatan pedas wanita itu, mbak Lasmi buru buru mendekat. Tidak lupa mbak Lasmi mematikan kompor lebih dulu sebelum menghampiri Sinta dan Loly yang sedang berada dimeja makan.
“Saya nyonya..” Mbak Lasmi menghadap Sinta dan Loly dengan menundukan kepalanya sopan.
“Kamu tolong buatkan telor dadar ya.. Bawangnya banyakin.” Perintah Sinta.
Sedang Loly, dia tersenyum menatap hidangan diatas meja makan. Loly membawa nasi goreng yang kemudian disiapkan sendiri dengan bantuan Sinta. Dan seperti biasanya, Loly selalu mengatakan apa yang dibawanya adalah hasil masakan-nya sendiri.
“Sama tolong irisin mentimun ya mbak. Saya lupa membawanya tadi.” Tambah Loly.
“Baik nyonya.” Mbak Lasmi menurut saja dari pada kena amarah dari keduanya. Mbak Lasmi kemudian kembali kedapur untuk membuatkan telor dadar serta mengiris mentimun seperti apa yang di inginkan oleh Sinta dan Loly.
“Faza pasti bakalan seneng banget sayang.. Faza itu sangat suka dengan nasi goreng dari kecil.” Ujar Sinta tersenyum menatap Loly.
“Semoga saja ya tante mas Faza juga suka dengan nasi goreng buatan aku.” Loly tersenyum malu malu sambil menata kembali hidangan yang dibawanya yang belum semuanya selesai dia tata diatas meja makan.
“Itu udah pasti Loly. Masakan kamu itu enak banget. Bahkan sepertinya masakan tante kalah rasanya. Kamu itu multitalent, apa aja bisa.”
Loly tertawa mendengar pujian Sinta. Berlebihan sebenarnya tapi Loly senang.
“Itu kamu masaknya semua sendiri apa dibantuin juga sama mamah kamu Loly?” Tanya Sinta menatap Loly yang masih sedang menata ayam goreng diatas piring.
“Aku masak semua ini sendiri tante. Nggak enak masa aku repotin mamah. Pembantu dirumah juga kan sudah punya pekerjaan sendiri. Masa perkara masak saja aku harus heboh tante.”
Sinta mengangguk anggukan kepalanya dengan senyuman dibibirnya. Sinta merasa semakin yakin bahwa Loly jauh lebih baik dari Zahra. Dan Loly yang paling pantas mendampingi putra sulungnya, Faza.
“Tante bener bener salut sama kamu sayang. Kamu punya segalanya, pintar, tapi tidak manja. Kamu mau mengerjakan pekerjaan rumah bahkan sampai memasak sendiri.”
“Tante udah dong jangan muji aku terus. Aku jadi nggak enak sendiri.. Tante itu terlalu muji aku...”
__ADS_1
Sinta tertawa melihat ekspresi merengut Loly. Wanita itu benar benar menganggap Loly adalah wanita dengan segala kelebihan tanpa pernah ingin tau bagaimana kekurangan-nya.
Berbeda dengan penilaian-nya pada Zahra yang meskipun sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membuatnya senang namun selalu saja salah dimatanya.
“Kamu memang calon istri dan menantu idaman Loly. Tante sangat berharap Faza segera menyadari itu sebelum terlambat.” Katanya.
“Ya udah Loly, tante keatas dulu deh buat panggil Faza biar kita bisa sarapan sama sama.”
“Oke tante.” Senyum Loly menganggukan kepalanya setuju.
-----------
Pagi ini Zahra bangun sedikit telat karna ulah suaminya yang lagi lagi menguasainya. Faza bahkan seperti tidak mengizinkan-nya untuk memejamkan kedua matanya semalam. Meskipun Zahra juga menikmatinya karna sentuhan Faza yang begitu lembut dan penuh kasih sayang serta cinta padanya.
“Mas kamu mau teh apa kopi?” Tanya Zahra saat sedang membantu Faza mengenakan dasi hitamnya.
“Emm.. Aku mau kamu aja deh sayang. Aku udah benar benar kecanduan kayanya sama kamu..” Goda Faza meraih pinggang Zahra dan mengusapnya lembut.
“Iihhh.. Apaan sih kamu mas pagi pagi pikiran-nya udah kemana mana. Sekarang itu kita harus turun buat sarapan. Kamu juga kan harus kerja.” Sungut Zahra.
“Iya deh iya.. Tapi sayang kamu itu..”
“Stop. Nggak usah diterusin. Aku tau aku cantik dan kamu candu sama aku.”
Zahra menyela dengan menutup mulut Faza agar Faza tidak melanjutkan lagi ucapan-nya yang pasti akan mengarah pada menggodanya.
Faza meraih tangan Zahra yang menutup mulutnya. Faza mencium tangan Zahra kemudian menatap dalam Zahra yang terdiam karna apa yang dilakukan-nya.
“Ya.. Kamu memang cantik. Kamu bahkan adalah perempuan paling cantik dimata aku.” Lirih Faza sambil mendekatkan wajahnya pada Zahra.
Mengerti dengan apa yang akan dilakukan suaminya, Zahra pun menutup kedua matanya bersamaan dengan menempelnya bibir tipis Faza pada bibirnya.
Suara ketukan pintu berhasil merusak moment romantis itu. Faza melepaskan pagutan bibirnya pada bibir Zahra.
Faza menghela napas kasar. Tidak biasanya mbak Lasmi mengetuk pintu dipagi buta seperti itu.
__ADS_1
“Eemm.. Aku buka pintu dulu mas.” Senyum Zahra.
“Oke..”
Faza melepaskan Zahra dan membiarkan wanitanya itu menjauh untuk membuka pintu. Kesal sebenarnya karna moment romantisnya dengan Zahra terganggu karna ketukan pintu tersebut.
Zahra memutar kunci dan membuka pelan pintu kamarnya. Zahra terkejut melihat siapa yang berdiri didepan-nya sekarang. Padahal Zahra pikir yang mengetuk pintu kamarnya adalah mbak Lasmi.
“Mamah...” Gumam Zahra.
“Mana Faza?” Tanya Sinta dengan begitu angkuh.
Zahra menghela napas pelan kemudian mengukir senyuman dibibirnya untuk Sinta.
“Mas Faza lagi siap siap mau berangkat kerja mah..” Jawab Zahra berusaha untuk bersikap ramah pada mamah mertuanya itu.
Sinta melipat kedua tangan-nya dibawah dada. Wanita itu menatap dari atas sampai bawah penampilan sederhana Zahra. Saat itu Zahra masih mengenakan piyama maroon pendeknya.
“Mamah heran sama kamu Zahra. Kayanya sejak pindah kesini kamu mulai males malesan yah.. Harusnya kan Faza siap siap kamu juga siap siap dibawah membuat sarapan untuk Faza. Bukan malah santai dengan penampilan kucel seperti ini..”
Zahra menundukan kepalanya sebentar, menatap penampilan-nya yang memang masih sedikit berantakan. Zahra sudah mandi sebenarnya, hanya belum mengganti piyamanya saja.
“Ah ini mah tadi aku bantuin..”
“Mamah nggak butuh penjelasan nggak berguna kamu Zahra. Lebih baik sekarang kamu ajak Faza turun untuk sarapan.”
Faza yang juga mendengar langsung apa yang dikatakan mamahnya pada Zahra hanya bisa menggelengkan kepalanya. Faza kemudian melangkah mendekat dan berdiri tepat disamping Zahra.
“Zahra dikamar juga bantuin aku mah.. Zahra nggak males malesan seperti apa yang mamah pikirkan.” Ujar Faza membela Zahra didepan Sinta.
“Sudahlah Faza, kamu nggak perlu belain dia didepan mamah. Lebih baik sekarang kamu turun. Kita sarapan sama sama.”
Sinta berlalu setelah itu. Wanita dengan dress toska selutut itu melangkah begitu angkuh seolah dirinya adalah nyonya pemilik rumah itu.
Faza berdecak menatap punggung mamahnya. Faza pikir pindah kerumah itu akan membuatnya dan Zahra nyaman tanpa perkataan pedas Sinta pada istrinya. Tapi nyatanya Sinta tetap saja keluar masuk seenaknya tanpa sedikitpun merasa tidak enak hati pada Zahra yang berstatus sebagai menantunya.
__ADS_1