PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 158


__ADS_3

Tidak tahan dengan semua beban pikiran-nya tentang hubungan Fadly dan Loly, Sinta pun nekat mendatangi Loly diperusahaan-nya pagi ini. Sinta benar benar tidak bisa diam saja. Sinta merasa harus berbicara dengan Loly dan mencegah Loly dan Fadly bersama. Sekali lagi, Loly hanya untuk Faza.


“Tante...”


Sinta tersenyum menatap Loly yang duduk dikursi kebesaran-nya dengan berbagai berkas yang menumpuk didepan-nya. Meskipun hatinya terus bergejolak marah namun Sinta tetap berusaha untuk tenang. Sinta tidak mau Loly salah mengerti.


”Apa tante ganggu?” Tanya Sinta sambil melangkah mendekat pada Loly yang duduk didepan meja kerjanya.


“Ah tidak tidak.. Tentu tidak tante. Silahkan duduk tante..” Loly bangkit dari duduknya mempersilahkan untuk Sinta duduk dikursi yang ada didepan-nya.


“Oke...” Angguk Sinta dengan santai.


Sinta kemudian duduk dengan tenang. Sejak dulu Sinta sudah mewanti wanti Loly untuk bersama dengan Faza. Dan Sinta masih tetap berharap sampai sekarang karna Sinta merasa Loly adalah wanita yang terbaik untuk Faza, putra sulungnya.


“Tante mau minum apa?” Tanya Loly tersenyum manis menatap Sinta.


Sinta menggeleng pelan.


“Enggak.. Enggak usah repot repot. Tante hanya sebentar.” Jawab Sinta.


Loly mengangguk paham. Loly sudah tau maksud kedatangan Sinta. Tentu saja karna Fadly yang memberitahunya. Fadly bahkan juga meminta agar Loly mengakui semuanya pada Sinta.


“Jadi begini Loly.. Kedatangan tante kesini bukan tanpa alasan. Tante ingin menanyakan sesuatu sama kamu. Ini tentang kamu dan Fadly..”


Loly hanya diam saja. Mungkin memang sudah saatnya Loly jujur dengan semuanya. Tentang perasaan-nya juga hubungan-nya yang semakin hari semakin dekat dengan Fadly.


“Tante mau nanya sama kamu. Tolong kamu jawab dengan jujur.”


Sinta kembali diam sesaat. Sinta menghela napas kemudian menatap Loly dengan sangat serius.


“Ada hubungan apa kamu sebenarnya dengan Fadly Loly?”

__ADS_1


Loly tidak langsung menjawab. Loly sudah lama ingin jujur pada Sinta sebenarnya. Tapi Loly tidak pernah menemukan waktu yang tepat. Tapi sekarang Sinta menanyakan padanya dan Loly merasa sudah siap untuk terbuka tentang semuanya.


“Tante, sebenarnya sudah lama aku ingin jujur pada tante tentang perasaan aku. Sebelumnya aku minta maaf yang sebesar besarnya sama tante. Aku sudah tidak lagi tertarik dengan mas Faza. Maaf tante.. Aku juga tidak semuanya akan berubah. Dan sekarang orang yang aku suka adalah Fadly. Aku sadar mas Faza tidak mungkin bisa menatap aku. Maka dari itu aku menyerah. Aku mundur. Dan aku berhasil. Aku berhasil melupakan mas Faza. Sekarang aku mencintai Fadly, anak bungsu tante.”


Sinta terdiam mendengarnya. Sinta menelan ludahnya tidak percaya dengan ucapan panjang lebar Loly. Selama ini Sinta begitu yakin Loly adalah jodoh terbaik untuk Faza, putra sulungnya. Tapi nyatanya Loly justru berpaling pada Fadly, adik Faza, putra bungsunya.


Sinta tidak bisa menerimanya begitu saja apa yang Loly katakan. Semuanya sangat berat. Dan Sinta tetap berharap yang bersama Loly bukan Fadly, tapi Faza.


“Loly.. Kamu sudah berjanji pada tante akan tetap menunggu sampai anak Faza lahir setelah itu kita buat Zahra pergi dan kamu yang akan menggantikan posisi Zahra sebagai istri Faza.”


Loly tersenyum. Loly memang salah karna memberikan ide yang sekarang sangat bertentangan dengan akal sehatnya. Nalurinya sebagai seorang wanita sekarang sudah bekerja. Loly merasa tidak akan sanggup jika sampai menyakiti Zahra bahkan sampai memisahkan Zahra dengan anaknya nanti.


“Aku bener bener minta maaf tante. Aku nggak bisa melakukan itu.. Aku sudah menyadari semuanya. Apa yang aku katakan semuanya pada tante itu salah. Itu tidak seharusnya aku katakan.”


Sinta memejamkan kedua matanya. Harapan-nya sudah begitu besar akan kebersamaan Faza dan Loly.


“Tante...”


Loly meraih tangan Sinta dan menggenggamnya erat. Namun perlahan Sinta melepaskan-nya. Sinta menolak genggaman tangan Loly.


Sinta menggelengkan kepalanya. Sinta benar benar merasa sangat kecewa sekarang.


Sinta bangkit dari duduknya diikuti Loly kemudian melangkah pelan menjauh dari meja kerja Loly. Sinta bahkan menolak dengan mengangkat tangan-nya saat Loly hendak mencegah kepergian-nya.


“Tante aku...”


Sinta terus melangkah menjauh enggan mendengarkan apapun yang ingin dikatakan oleh Loly. Sinta keluar dari ruangan Loly dengan langkah pelan. Rasa kecewa itu benar benar menghancurkan harapan terbesarnya pada Loly dan Faza.


Loly menghela napas. Loly sudah menduganya, Sinta pasti tidak akan bisa mengerti maksudnya.


Loly kembali mendudukan dirinya dikursi. Loly terdiam. Loly sudah menuruti kemauan Fadly untuk jujur pada Sinta tentang segalanya. Meski memang hasilnya tidak sesuai dengan apa yang Fadly katakan tapi Loly terus meyakinkan dirinya sendiri. Asal dirinya dan Fadly terus berusaha, Loly yakin suatu saat Sinta akan mengerti dan mau merestui hubungan-nya dengan Fadly.

__ADS_1


Deringan ponsel diatas meja disamping laptopnya membuat Loly mengalihkan perhatian-nya. Sekali lagi Loly menghela napas. Fadly menelepon-nya pasti ingin menanyakan apa yang baru saja terjadi.


Tanpa senyuman yang menghiasi bibirnya Loly mengangkat telepon dari Fadly.


“Halo...”


“Bagaimana? Mamahku sudah datang?”


Loly menelan ludahnya. Setelah apa yang dikatakan-nya Loly yakin hubungan-nya dan Fadly pasti tidak akan mudah.


“Sudah. Dia baru saja pulang.” Jawab Loly.


“Terus?” Tanya Fadly kembali bertanya.


“Aku sudah mengatakan semuanya dengan jujur tentang perasaan aku dan tentang kedekatan kita pada tante Sinta.”


“Bagus...” Balas Fadly kemudian memutuskan begitu saja sambungan telepon-nya.


Loly mengeryit dan segera menghubungi balik Fadly namun tidak diangkat.


“Kok nggak diangkat sih?”


--------


Sementara diparkiran perusahaan Loly Fadly diam diam mengikuti Sinta. Fadly ingin memastikan sendiri apakah Loly menuruti permintaan-nya atau tidak.


Beberapa kali ponsel milik Fadly berdering. Itu adalah telepon dari Loly namun Fadly enggan mengangkatnya. Fadly justru menolaknya kemudian menonaktifkan ponselnya segera agar Loly tidak bisa lagi menghubunginya kali ini.


Tidak lama menunggu Fadly melihat Sinta yang keluar dari gedung perusahaan Loly dengan menangis. Fadly tidak tega sebenarnya. Tapi Fadly yakin dengan tau semuanya itu sudah menjadi yang terbaik. Fadly tidak ingin mamahnya terus mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin. Yaitu bersatunya Faza dan Loly. Apa lagi Fadly menganggap Loly bukanlah wanita yang baik untuk dijadikan sebagai pendamping hidup.


“Maafin aku mah.. Aku nggak bermaksud menghancurkan harapan mamah. Tapi apa yang mamah lakukan sudah sangat salah.. Fadly nggak mau mamah menyesal dikemudian hari karna ke egoisan mamah sendiri.” Gumam Fadly lirih.

__ADS_1


Fadly terus menatap mamahnya hingga akhirnya sang mamah masuk kedalam taksi yang mungkin memang sudah dipesan-nya.


Setelah taksi yang ditumpangi Sinta berlalu, Fadly pun segera bergegas kembali keperusahaan tempatnya bekerja. Fadly tidak mau jika sampai Loly menyadari kehadiran-nya disekitar perusahaan-nya.


__ADS_2