PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 248


__ADS_3

Sore ini Zahra mengajak putranya untuk menikmati udara sejuk diteras samping rumah. Zahra juga begitu telaten mengajak putranya yang baru bangun dari tidur lelapnya itu berbicara. Tidak lupa Zahra juga mengirimkan video dan photo menggemaskan putranya pada Faza yang sedang bekerja.


“Permisi nyonya, ini orange jusnya.”


Zahra menoleh pada mbak Lasmi yang baru saja meletakan orange jus permintaan Zahra diatas meja disamping kursi yang didudukinya.


“Makasih ya mbak..” Senyum Zahra tulus.


“Sama sama nyonya..” Balas mbak Lasmi sambil memeluk nampan yang menjadi alas saat dirinya membawa segelas jus untuk Zahra.


Mbak Lasmi menghela napas. Seharian ini dirinya terus mengikuti berita kecelakaan yang menimpa Santoso. Dan baru beberapa menit tadi kabar mengejutkan disiarkan di TV. Kabar tersebut adalah kabar tentang meninggalnya Santoso.


Mbak Lasmi ingin memberitahu Zahra namun bingung harus memulai darimana mengatakan-nya.


Zahra yang merasa bingung melihat ekspresi mbak Lasmi pun mengeryit kemudian bertanya.


“Mbak kenapa? Kok ngelamun begitu?” Tanya Zahra sambil menyusui Fahri.


Mbak Lasmi menatap Zahra.


“Ini masih tentang berita kecelakaan pak Santoso nyonya. Saya mengikutinya dari pagi sampai sekarang.”


“Ooh..” Zahra mengangguk pelan. Bukan tidak perduli. Hanya saja Zahra merasa apapun yang terjadi pada Santoso bukanlah urusan-nya.


“Nyonya..” Panggil mbak Lasmi pelan.


“Ya mbak..” Saut Zahra pelan.


“Pak Santoso meninggal nyonya.”


Zahra sangat terkejut mendengarnya. Kedua matanya langsung membulat sempurna mendengar apa yang mbak Lasmi katakan. Zahra tidak menyangka Santoso akan pergi secepat itu dengan cara yang sangat tragis.


Zahra diam. Zahra tidak tau harus berkata apa. Zahra merasa sedih karena pernah mendapatkan kebaikan dari pria itu. Namun yang membuat Zahra jauh lebih sedih lagi adalah kedua putra Santoso yang masih sangat membutuhkan-nya. Bagaimanapun juga Zahra pun tau dan merasakan sendiri bagaimana rasanya patah hati karena kehilangan orang tua. Patah hati itu tidak bisa disembuhkan dan akan terus terasa menyayat hati jika mengingatnya.


“Sayang..!!”


Panggilan keras Faza dari dalam rumah membuat Zahra tersentak. Begitu juga dengan mbak Lasmi.


Zahra buru buru bangkit dari duduknya kemudian masuk dengan membawa Fahri di gendongan-nya menghampiri Faza yang sedang mencari keberadaan-nya.


“Mas..” Panggil Zahra begitu sampai didepan suaminya.


Faza menghela napas. Faza juga sudah mendengar berita tentang kematian Santoso. Faza juga sudah menyuruh Reyhan untuk mengirimkan karangan bunga kerumah duka.

__ADS_1


“Santoso meninggal.” Ujar Faza pelan.


Zahra tersenyum tipis kemudian menganggukan kepalanya.


“Ya mas.. Mbak Lasmi baru aja ngasih tau ke aku..”


Faza menelan ludah. Faza tidak tau jika semuanya akan menjadi seperti ini pada akhirnya. Faza pikir keadaan Santoso tidak begitu parah sehingga pagi tadi meremehkan-nya begitu saja.


“Aku akan kesana.. Kamu tetap dirumah ya sayang..”


Faza memang membenci Santoso karena pria itu terus saja mengganggu istrinya. Tapi apa yang saat ini terjadi membuat Faza juga merasakan duka itu.


“Ya mas.. Hati hati..” Balas Faza.


“Ya sayang.. Aku akan segera pulang.”


Faza mencium kening Zahra sebelum berlalu dari hadapan Zahra. Pria itu melangkah cepat keluar dari kediaman-nya untuk melayat kerumah duka, yaitu kediaman mantan istri Santoso.


Tanpa sadar Zahra meneteskan air matanya. Zahra bukan menangisi Santoso. Tapi Zahra menangisi Nadeo, bocah tampan yang dulu sangat dekat dengan-nya. Zahra tau Nadeo sangat menyayangi dan membanggakan Santoso sebagai sosok ayah yang hebat. Zahra juga tau bagaimana Nadeo yang begitu dekat dengan Santoso.


Zahra kemudian menunduk menatap putranya yang begitu kuat menyusu padanya. Zahra tidak berani membayangkan jika apa yang saat ini menimpa Nadeo menimpa juga pada putranya.


Zahra kemudian mencium lama kening Fahri. Zahra selalu berdo'a pada Tuhan agar dirinya juga Faza bisa terus bersama sampai tua untuk mengantarkan anak anaknya kelak menuju kebahagiaan mereka masing masing.


“Aku minta maaf untuk segala dosa dan kesalahan yang aku perbuat ke kamu.. Aku sadar aku salah. Aku tidak seharusnya mencintai perempuan lain. Sampaikan maafku pada Nanda juga Nadeo.. Katakan pada mereka aku sangat menyayangi mereka. Katakan juga pada mereka untuk jangan menangis jika aku pergi nanti.. Aku ayah yang gagal. Dan aku tidak pantas untuk ditangisi. Dan untuk kamu.. Jangan membenci Zahra.. Dia tidak tau apa apa. Aku yang mengejarnya. Aku yang salah disini.. Maaf..”


Mantan istri Santoso terus menangis terisak saat mengingat kata kata terakhir Santoso sebelum menghembuskan napas terakhirnya. Pria itu sempat koma ber jam jam setelah kecelakaan itu terjadi. Dan menjelang akhir kehidupan-nya Santoso sempat siuman untuk mengucapkan kata maaf padanya juga pada kedua putra mereka, Nanda dan Nadeo.


“Ayah.. Hiks hiks.. Deo sayang ayah...”


Hancur sehancur hancurnya hati wanita itu mendengar isak tangis putra bungsunya yang harus benar benar kehilangan sosok ayah dalam hidupnya.


Santoso memang bersalah karena diam diam mencintai wanita lain bahkan berniat mendua. Tapi bagaimanapun buruknya perbuatan Santoso, dia tetaplah ayah bagi kedua putranya. Dan mantan istri Santoso sudah ikhlas memaafkan segala kesalahan yang diperbuat oleh Santoso padanya.


Berbeda dengan Nadeo yang terus menangis disamping pusara Santoso, Nanda hanya diam saja. Remaja itu berdiri dibelakang sang bunda dengan setelan serba putih. Aura dingin begitu kental menyelimuti sosoknya dengan kaca mata hitam yang bertengger dipangkal hidungnya.


Faza yang ikut melayat sampai ke peristirahatan terakhir mantan bos dari istrinya itu sedikit penasaran dengan sosok Nanda, putra sulung Santoso.


Faza juga merasakan aura dingin remaja yang Faza tebak baru berusia 16 tahun itu. Faza pernah merasakan kecewa pada papahnya karena mengetahui sang papah menjalin hubungan dengan wanita lain dibelakang mamahnya. Tapi kemudian Faza bisa berpikir jernih dan memaafkan perbuatan sang papah, tentunya setelah sang papah mengakui kesalahan serta mengakhiri hubungan-nya dengan wanita gelapnya itu.


Tapi Nanda, remaja itu belum bisa berpikir dengan jernih. Perasaan-nya masih labil dan gampang dikuasai emosi juga benci. Dan mungkin kebencian itulah yang membuat Nanda bisa begitu tegak berdiri meskipun sang ayah telah pergi meninggalkan-nya untuk selamanya. Begitu pemikiran Faza sekarang.


Setelah pemakaman Santoso selesai, mantan istri Santoso mengajak kedua putranya untuk pulang. Namun si sulung Nanda menolak dan beralasan ingin lebih lama berada di makam sang ayah. Tidak ingin memaksa, akhirnya wanita itu mengiyakan dan hanya membawa Nadeo yang terus menangis untuk pulang.

__ADS_1


Kesendirian Nanda disamping makam Santoso langsung dimanfaatkan oleh Faza. Pria itu mendekat pada Nanda dan berdiri di seberangnya disamping kanan gundukan tanah tempat Santoso disemayamkan didalamnya.


Menyadari kehadiran Faza, Nanda pun menurunkan kaca mata hitam yang dikenakan-nya. Sepasang mata elangnya menatap sesaat pada Faza.


“Kenapa kamu tidak menangis?” Tanya Faza pelan.


Nanda tersenyum miring.


“Bukankah seorang yang meninggal tidak ingin ditangisi? Seorang yang meninggal ingin orang orang yang menyayanginya sabar dan tegar serta melanjutkan hidup dengan ikhlas.” Jawab Nanda tenang sambil terus menatap makam sang ayah.


“Kamu suaminya kak Zahra bukan?” Tanya Nanda kemudian.


Faza tersenyum. Remaja itu mengenalinya.


“Ya...” Jawab Faza tenang.


Nanda menunduk menatap nisan sang ayah kemudian menatap lagi pada Faza.


“Aku tau semua yang ayah lakukan. Aku juga tau ayah sering berusaha mendekati kak Zahra. Maka dari itu, atas nama ayah aku meminta maaf.” Katanya.


Faza tersenyum. Dugaan-nya salah. Nanda bukan seperti remaja pada umumnya.


“Saya memaklumi semua itu sekarang. Dan saya sudah memaafkan semua yang ayah kamu lakukan.”


Nanda tersenyum tipis.


“Aku sudah tau dari awal tentang perasaan terlarang ayah pada kak Zahra. Itu sebabnya aku tidak bisa lagi dekat dengan ayah seperti Deo yang selalu membuntuti ayah kemanapun ayah pergi.”


Faza sebenarnya terkejut. Tapi Faza mencoba untuk tetap tenang dan terlihat biasa saja didepan Nanda.


Obrolan seputar Santoso terus berlanjut. Nanda membuka semua kesalahan sang ayah pada Faza yang baru dua kali ini ditemuinya. Sampai akhirnya Faza menawarkan untuk mengantar Nanda pulang dan Nanda pun menyetujuinya.


“Terimakasih atas tumpangan-nya.” Ujar Nanda ketika mobil Faza sampai tepat didepan pintu gerbang kediaman bundanya.


“Sama sama..” Angguk Faza.


“Aku turun. Selamat malam.”


Faza hanya mengangguk dengan senyuman tipisnya. Setelahnya Nanda pun turun dari mobil Faza dan masuk kedalam pekarangan rumah bundanya tanpa lagi menoleh pada Faza yang terus menatapnya dalam diam.


Faza menghela napas. Hari ini Faza berkali kali terkejut. Pertama karena kabar kecelakaan Santoso, kedua kabar kematian Santoso dan terakhir sikap tidak terduga Nanda.


Faza juga tidak menyangka remaja seperti Nanda bisa mempunyai sikap yang tidak semua remaja bisa memilikinya. Nanda bisa berpikir begitu bijak dan dewasa ditengah duka yang sedang dialaminya.

__ADS_1


__ADS_2