
Faza mengajak Zahra untuk mencari beberapa keperluan yang pasti akan dibutuhkan nantinya. Faza juga membelikan beberapa potong baju baru untuk Zahra mengingat baju baju istrinya sudah banyak yang tidak muat karna badan Zahra yang mengembang dua kali lipat dari badan-nya dulu.
Setelah dirasa semua yang dibelinya cukup, Faza pun mengajak Zahra untuk pulang.
Sekitar pukul 2 siang mereka sampai dirumah. Faza tidak bisa berlama lama dirumah apa lagi untuk menemani istrinya istirahat siang karna ada pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini.
“Istirahat ya sayang.. Aku balik ke kantor dulu.” Senyum Faza sambil membelai lembut pipi chuby Zahra.
“Ya mas.. Terimakasih untuk hari ini. Aku mencintaimu.” Balas Zahra sambil mengungkapkan cinta pada Faza.
“Haha.. Oke oke.. Aku juga sangat mencintaimu sayang.”
“Ya sudah aku pergi ya..”
Zahra memeluk Faza sebentar kemudian menganggukan kepalanya.
“Hati hati mas...”
“Eemm.. Ya..” Senyum Faza kemudian berlalu menjauh dari Zahra dan masuk kembali kedalam mobilnya.
Zahra tersenyum dan melambaikan tangan-nya ketika Faza menurunkan kaca mobilnya dan perlahan melaju dengan pelan keluar dari pekarangan luas rumah mereka.
Zahra menghela napas. Pikiran-nya masih tertuju pada Santoso. Pria itu memang dulu sangat baik padanya. Tapi Zahra benar benar tidak menyangka dia memiliki rasa terpendam padanya. Untungnya Zahra sudah tidak lagi bekerja dengan pria itu sehingga tidak terlalu memperpanjang masalah.
“Sudahlah, mungkin tadi hanya kebetulan saja. Tidak perlu dipikirkan Zahra.” Gumam Zahra pelan.
Zahra kemudian memanggil pak satpam untuk membawakan barang barang yang baru saja dibelinya dan meminta tolong untuk dibawakan masuk.
“Taruh diatas langsung aja ya pak, dikamar saya.” Ujar Zahra tersenyum.
“Siap nyonya..” Balas pak satpam kemudian melangkah memasuki rumah sambil menenteng semua barang barang Zahra.
Zahra ikut melangkah masuk kedalam rumah dan berhenti ketika sampai tepat didepan tangga. Zahra menarik napas panjang kemudian menghembuskan-nya perlahan.
Entah kenapa Zahra merasa sangat lelah. Mungkin karna tadi keasikan memilih milih barang barang yang akan dibelinya dengan Faza.
“Nyonya kenapa?” Tanya mbak Lasmi yang muncul dari arah dapur.
Zahra menoleh.
__ADS_1
“Saya mau naik keatas mbak. Tapi nggak tau kenapa kok rasanya capek banget yah, lemes gitu.. Mbak bisa bantuin saya nggak? Tolong gandeng tangan saya naik ke tangga yah mbak...”
“Oh iya nyonya.. Mari saya bantu nyonya..”
“Makasih ya mbak...” Senyum Zahra tulus.
“Ya nyonya, sama sama..”
Zahra menaiki satu persatu anak tangga dengan mbak Lasmi yang menggandeng tangan-nya. Mereka berdua melangkah pelan menapaki satu persatu anak tangga menuju lantai dua dimana kamar Faza dan Zahra berada.
Mbak Lasmi menuntun Zahra sampai Zahra masuk kedalam kamarnya bahkan sampai Zahra duduk ditepi ranjang dikamarnya.
“Nyonya mau saya ambilkan sesuatu?” Tanya mbak Lasmi penuh perhatian.
Zahra menggelengkan kepalanya dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya.
“Nggak usah mbak terimakasih. Saya mau langsung istirahat saja. Capek banget.” Katanya.
“Ya sudah nyonya, kalau begitu saya permisi kebawah lagi.”
“Ya mbak. Sekali lagi terimakasih yah..”
Zahra menghela napas dan memejamkan kedua matanya. Lelah sekali rasanya setelah melangkah keliling mall bersama suaminya.
Zahra pelan pelan naik keatas ranjang dan membaringkan tubuhnya disana. Tidak sampai 10 menit Zahra memejamkan kedua matanya terlelap dengan damai melepas rasa penatnya.
----------
Faza sedang membaca laporan yang diberikan oleh Siska saat tiba tiba suara ketukan pintu terdengar dari luar. Faza menghela napas. Hari sudah mulai petang namun pekerjaan-nya masih menumpuk. Padahal Faza sudah berjanji pada Zahra untuk tidak pulang terlambat hari ini.
“Masuk.” Tegas Faza berseru.
Sedetik setelah Faza berseru, pintu dibuka oleh sipengetuk. Dan ternyata yang mengetuk pintu ruangan-nya bukan Siska, melainkan Mahendra. Pemilik perusahaan yang dipimpin oleh Faza.
Melihat Mahendra muncul dari balik pintu, Faza langsung berdiri dari duduknya. Pria itu tersenyum ramah begitu Mahendra melangkah mendekat padanya.
“Apa saya menggangggu pak Faza?” Tanya Mahendra begitu sampai tepat didepan meja kerja Faza.
“Oh tidak terlalu pak. Silahkan duduk.” Senyum Faza mempersilahkan Mahendra duduk.
__ADS_1
“Ya, terimakasih.”
Mahendra duduk dikursi didepan meja Faza. Pria paruh baya itu tersenyum menatap Faza yang juga kembali duduk dikursinya.
“Begini pak Faza.. Sebenarnya saya ingin meminta tolong pada anda untuk menemui client saya yang dari luar negeri.” Ujar Mahendra mengutarakan niatnya menemui Faza.
“Apa anda bisa pak Faza? Kebetulan saya ada urusan lain yang lebih penting dan tidak bisa saya abaikan.”
Faza terdiam sesaat. Permintaan Mahendra sebenarnya tidak terlalu susah untuknya.
“Maaf kalau boleh saya tau memangnya kapan client anda akan datang pak?” Tanya Faza hati hati.
Mahendra tertawa membuat Faza mengeryit bingung.
“Bukan dia yang akan datang kesini pak Faza. Tapi anda yang harus datang menemuinya di Amerika. Apa anda bersedia?”
Faza terkejut. Faza pikir Mahendra menyuruhnya untuk menemui client nya yang akan datang dari luar negeri. Tapi ternyata justru Faza yang disuruh untuk pergi keluar negeri untuk menemui client tersebut.
“Saya tidak tau harus meminta tolong pada siapa lagi selain pada anda pak Faza. Soalnya ini juga bersangkutan dengan kerja sama dikantor pusat pak Faza.”
Faza menelan ludahnya. Jika menyetujui permintaan Mahendra itu artinya Faza harus pergi untuk waktu yang tidak bisa ditentukan ke Amerika. Faza juga harus meninggalkan Zahra yang sedang hamil besar dirumah hanya dengan pak satpam dan mbak Lasmi.
“Sebelumnya saya minta maaf pak, bukan saya tidak mau. Tapi sekarang istri saya sedang hamil besar dan saya tidak mungkin pergi jauh dalam waktu yang lama.”
“Ayolah pak Faza.. Saya sangat sangat minta tolong pada anda. Saya hanya percaya pada anda. Dan saya juga yakin anda bisa membuat kerja sama kita semakin erat dengan client kita yang ada di Amerika.”
Faza menghela napas. Faza benar benar bingung sekarang. Pekerjaan-nya memang penting. Tapi istri dan anaknya jauh lebih penting.
“Saya jamin tidak akan lama pak Faza. Paling cuma semingguan. Dan anda juga tidak sendiri kesana. Anda akan ditemani oleh Siska.” Lanjut Mahendra yang begitu besar menaruh harapan-nya pada Faza.
Faza diam lagi. Jika meminta tolong pada mamahnya untuk tinggal sementara dirumahnya itu pasti akan membuat istrinya merasa tertekan. Tapi meninggalkan Zahra hanya dengan satpam dan asisten rumah tangga dirumah juga Faza tidak akan bisa merasa tenang.
Sedangkan Fadly sekarang ada diluar kota dan belum tau kapan akan pulang.
“Memangnya kapan saya harus berangkat pak?” Tanya Faza menatap Mahendra.
“Sekitar dua hari lagi pak Faza. Itu juga kalau tidak ada perubahan janji temunya.” Senyum Mahendra menjawab.
Faza mengangguk pelan.
__ADS_1
“Biar saya coba pikirkan dulu pak.”