
Sejak menghadiri pesta pernikahan Rosa dan Cio bukan-nya menyerah, Loly justru semakin gencar mengejar Faza. Loly bahkan tidak perduli meskipun berkali kali Fadly mengancamnya. Loly justru semakin mendekat pada mamah Faza dan menyogoknya dengan berbagai barang barang mahal yang dibelinya.
Namun bukan Zahra namanya jika tidak bisa mengatasi Loly dengan kecerdikan-nya. Zahra selalu bisa membuat Loly tidak berhasil mendekati suaminya.
“Faza...”
Faza yang hendak masuk kedalam kamarnya menoleh mendengar panggilan dari sang papah.
“Papah..” Lirih Faza kemudian membalikan tubuhnya dan mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar. Faza melangkah mendekat pada papahnya.
“Ada apa pah?” Tanya Faza penasaran. Malam sudah hampir larut dan papahnya belum tidur.
“Kita bicara diruangan papah saja.” Katanya.
Faza diam sesaat sebelum akhirnya menganggukan kepala setuju kemudian melangkah mengikuti papahnya dari belakang menuju lantai satu dimana ruang kerja papahnya berada.
Faza dan papahnya sudah sampai diruang kerja papahnya. Mereka duduk berhadapan dan hanya terhalang oleh meja kerja papah Faza.
“Ada apa sebenarnya pah?” Tanya Faza semakin penasaran.
Papah Faza menghela napas pelan kemudian tersenyum. Pria itu pelan pelan mulai menceritakan semua masa lalunya bersama mamah Faza sebelum lahir Faza kedunia.
Faza sempat terkejut dengan apa yang diceritakan oleh papahnya. Faza bahkan sempat tidak percaya dan mendebat papahnya tapi dengan sabar papahnya menjelaskan semuanya.
“Apa apaan ini?” Lirih Faza marah namun juga sedih mendengar cerita dari papahnya.
“Ya Faza.. Kami berdua hanya manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Tolong mengerti.”
Faza menghela napas pelan. Faza tidak habis pikir dengan apa yang sudah dilakukan kedua orang tuanya.
“Ah ya Faza, papah ada sesuatu untuk kamu juga Zahra. Anggap saja ini sebagai kado tertunda pernikahan kalian.”
Faza mengeryit menatap bingung sebuah map yang disodorkan oleh papahnya.
“Apa ini pah?” Tanyanya bingung.
“Kamu bisa buka sekarang.”
Faza menurut saja dan langsung membuka map tersebut. Sekali lagi Faza terkejut melihat isi dari berkas yang berada didalamnya.
__ADS_1
“Pah ini...”
“Membiarkan mamah kamu dan juga istri kamu tinggal dalam satu atap itu bukan hal yang baik Faza. Mamah kamu selalu bersikap tidak baik pada istri kamu. Papah khawatir itu akan berpengaruh juga pada hubungan kamu dan istri kamu. Apa lagi Loly juga selalu bolak balik kesini dan mengganggu kamu.”
Faza diam. Dari awal Faza juga tidak setuju dengan apa yang di inginkan oleh istrinya. Karna meskipun Zahra selalu bisa menghadapi Sinta dengan tenang, Faza yakin Zahra juga pasti akan merasa capek lama kelamaan menghadapi sikap buruk Sinta juga Loly padanya.
“Pah tapi ini...”
“Faza.. Apa yang papah perjuangkan selama ini adalah untuk kamu dan Fadly. Tolong jangan menolak apapun yang papah berikan.” Sela papah Faza.
Faza diam lagi. Papahnya memberikan surat kepemilikan rumah atas nama dirinya sebagai kado pernikahan-nya dengan Zahra. Sesuatu yang bahkan tidak pernah sedikitpun terlintas dipikiran Faza.
“Sebaiknya segera kamu bawa istri kamu kesana besok Faza. Kalau ada sesuatu yang menurut kamu kurang kamu bisa langsung bilang sama papah.” Senyum papah Faza.
Faza tersenyum. Setelah mendengar cerita panjang lebar sang papah tentang masa lalu dan tentang mamahnya yang tau hubungan gelap papahnya dan bella Faza semakin menyadari bahwa tidak akan ada asap jika tidak ada api. Faza juga semakin yakin bahwa sekecil apapun perbuatan entah itu perbuatan baik maupun buruk Tuhan pasti selalu menyiapkan balasan-nya.
“Kalau begitu papah istirahat duluan. Jangan lupa besok bawa istri kamu untuk melihat lihat rumahnya.”
Papah Faza bangkit dari duduknya. Dengan pelan papah Faza menepuk pelan bahu Faza sebelum akhirnya papah Faza berlalu keluar lebih dulu dari ruangan kerjanya meninggalkan Faza yang masih duduk dengan anteng ditempatnya.
Sepeninggal papahnya Faza kembali membaca selembar kertas berisi keterangan tentang hak miliknya pada rumah baru yang entah seperti apa bentuknya itu. Faza tersenyum lagi. Papahnya selalu menjadi yang terbaik untuknya.
-----------
“Sebenarnya kita mau kemana sih mas?”
Zahra bertanya dengan nada sedikit lantang karna mereka sekarang berada diatas motor Faza dengan kecepatan diatas rata rata.
Ya, Faza memang tidak mengatakan langsung pada Zahra tentang rumah yang diberikan oleh papahnya.
“Nanti juga kamu tau sayang.. Peluk yang erat ya.. Aku mau ngebut.” Senyum Faza.
Zahra berdecak namun tetap menurut dengan semakin mengeratkan pelukan-nya pada pinggang Faza. Saat itu juga Faza menambah kecepatan laju motornya agar cepat sampai ketempat tujuan mereka.
Motor Faza berhenti tepat didepan sebuah gerbang tinggi menjulang bercat hitam. Zahra yang kebingungan tetap duduk di boncengan Faza meski hatinya bertanya tanya kenapa Faza berhenti didepan sebuah rumah mewah bergaya modern klasik itu.
“Yuk turun..” Ajak Faza.
Zahra mengeryit bingung.
__ADS_1
“Mau ngapain? terus ini dimana?”
Faza tersenyum dan segera melepas helmnya. Pria dengan jaket warna coklat gelap itu menoleh menatap Zahra yang terus saja menatap bangunan mewah didepan-nya.
“Turun dulu makan-nya sayang. Nanti aku kasih tau.” Senyum Faza.
Zahra berdecak pelan kemudian turun dari boncengan Faza. Tiba tiba Zahra berpikir mungkin suaminya sedang mengajaknya untuk mampir kerumah teman-nya.
“Aku nggak mau masuk. Pasti teman kamu perempuan.” Katanya.
“Hah?!”
Faza kebingungan sesaat tapi akhirnya mengerti. Istrinya pasti sudah berpikiran buruk lebih dulu.
Faza menaruh helmnya dan turun dari motor gedenya kemudian mendekat pada Zahra yang suasana hatinya mulai buruk karna pemikiran-nya sendiri.
“Ini rumah kita sayang..” Bisiknya.
Kedua mata Zahra sontak membulat. Zahra menoleh pada Faza yang begitu dekat dengan-nya.
“Sekarang lebih baik kita masuk dan lihat lihat dulu kedalam. Aku sudah bawa kuncinya.”
Faza tersenyum sambil menunjukan banyak kunci yang menjadi satu ditangan-nya.
“Mas tapi..”
Cup
Faza menyela apa yang ingin di ucapkan Zahra dengan ciuman kilat dibibir Zahra. Dan hasilnya tentu saja seperti apa yang Faza inginkan. Zahra diam dan terus menatapnya.
“Jangan bawel kaya beo.” Katanya.
Zahra tersenyum dan menundukan kepalanya. Ciuman Faza selalu berhasil membuatnya diam dan tidak bisa berbuat apa apa.
Faza membuka pintu gerbang kemudian menuntun Zahra mengajaknya untuk masuk kedalam.
Mereka berdua melihat lihat setiap sudut rumah yang ber atas nama Faza. Mereka menyusuri setiap permukaan lantai marmer hingga akhirnya mereka sampai ditaman belakang rumah itu. Taman yang sangat sejuk dengan pemandangan hijau yang begitu terawat dan sedap dipandang oleh mata.
“Gimana? Kamu suka dengan rumah ini?” Tanya Faza merangkul mesra bahu Zahra.
__ADS_1
Zahra menoleh dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya.
“Ya mas. Rumahnya bagus dan nyaman.” Jawabnya.