
Hari besar itu tiba. Hari dimana Tina dan Reyhan akan benar benar menjadi pasangan yang sah menurut agama juga negara.
Kediaman Renaldi sudah disulap sedemikian meriahnya dengan dekorasi yang didominasi oleh warna putih.
“Kamu dimana? Acara akan segera dimulai. Tina bahkan sudah selesai didandani.”
Tina menghela napas menatap papahnya yang sedang berbicara dengan bundanya lewat sambungan telepon. Acara pernikahan-nya akan segera dimulai. Tamu undangan sudah berkumpul. Dan Reyhan, pria itu sudah duduk berhadapan dengan penghulu dengan Faza dan anggota keluarganya yang mendampingi. Tapi sang bunda justru belum datang sampai acara harus ditunda untuk menunggu kedatangan-nya.
“Ayolah Tara.. ini bukan waktunya bercanda. Semua tamu undangan sudah datang. Reyhan bahkan sudah duduk didepan penghulu..”
Tina memejamkan kedua matanya. Setahunya Tara juga menyetujui keputusan-nya menikah dengan Reyhan. Tapi sekarang bahkan bundanya itu belum juga datang. Padahal seharusnya Tara menemaninya sejak semalam.
“Baik, aku tunggu kamu 15 menit. Kalau sampai kamu tidak juga datang aku akan memulai semuanya bahkan meski tanpa kamu..”
Dengan nada kesal Renaldi membalas ucapan Tara diseberang telepon. Pria itu kemudian menyudahi telepon-nya dan berbalik menatap putri bungsunya yang hanya diam dengan ekspresi sendunya.
Renaldi mendekat pada Tina kemudian duduk disamping putrinya.
“Semuanya akan baik baik saja sayang. Bunda terjebak macet.” Ujar Renaldi berusaha menenangkan putrinya.
Tina menghela napas. Dirinya sudah rapi dengan riasan yang membuat pangling. Kebaya putih dengan taburan kristal begitu pas melekat di tubuh rampingnya dengan rambut yang disanggul. Dan satu satunya orang dalam keluarganya yang belum melihat penampilan-nya sekarang adalah bundanya sendiri.
Ya, wanita itu bahkan tidak menemaninya sejak Tina dipingit. Bundanya terus saja sibuk dengan bisnisnya dan seperti tidak perduli dengan apa yang akan diselenggarakan oleh Renaldi dikediaman-nya.
“Pah.. Apa bisnis memang begitu penting buat bunda? Kenapa bunda bahkan seperti tidak perduli pada Tina?” Tanya Tina dengan suara lirih.
Tina ingin sekali menangis sekarang. Tapi Tina juga tidak ingin merusak riasan di wajahnya.
“Sshhtt.. Kamu nggak boleh ngomong begitu sayang.. Kamu sangat penting untuk bunda.. Bunda hanya sedang tidak bisa meninggalkan pekerjaan-nya. Percaya sama papah, kamu adalah kebanggaan bunda.”
Renaldi menarik Tina kedalam pelukan-nya. Pria itu tidak ingin putri kesayangan-nya menangis dihari pernikahan-nya hanya karena ketidak perdulian Tara pada putri mereka.
Renaldi sendiri tau Tara memang sangat tidak bisa diam. Tara bahkan tidak bisa percaya pada orang lain selain dirinya sendiri. Tara juga selalu menuntut orang lain sempurna seperti dirinya sendiri. Hal itu juga yang membuat Renaldi akhirnya menyerah dan memutuskan untuk berpisah.
Suara pintu kamar yang terbuka membuat Tina juga Renaldi sang papah menoleh.
Renaldi menghela napas ketika melihat Rasya yang masuk kedalam kamar Tina.
__ADS_1
“Pah.. Semua tamu undangan sudah berkumpul. Reyhan dan orang orangnya juga. Lalu bagaimana dengan bunda pah?”
Pertanyaan Rasya semakin menyayat hati Tina. Tina merasa bundanya memang lebih mementingkan urusan-nya sendiri dari pada dirinya.
“Kita tunggu saja dulu. Jika sampai 15 menit bunda tidak datang juga kita mulai saja acaranya.” Jawab Renaldi.
“Kata siapa bunda tidak akan datang?”
Itu adalah suara Tara.
Renaldi, Rasya juga Tina langsung mengarahkan pandangan-nya ke sumber suara tepatnya dibelakang Rasya diambang pintu kamar Tina yang terbuka.
“Bunda...”
Tina melepaskan pelukan Renaldi kemudian berlari kedalam pelukan Tara. Meskipun sempat merasa Tara tidak memperdulikan-nya, Tapi Tina tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Tina sangat bahagia dengan kehadiran bundanya itu sekarang.
“Pengantin nggak boleh nangis. Nanti cantiknya ilang loh sayang..” Ujar Tara lembut.
Wanita dengan kebaya putih yang modelnya hampir sama dengan kebaya yang dikenakan Tina itu tersenyum sambil memeluk lembut putri bungsunya. Tara memang masih tidak bisa yakin sepenuhnya pada Reyhan. Tapi Tara tidak mungkin tidak merestui keduanya. Kebahagiaan anaknya adalah segalanya bagi Tara.
Rasya dan Renaldi tersenyum melihatnya. Keduanya merasa lega juga bahagia karena sekarang Tara sudah ada disana.
“Tentu saja. Ayo kita turun. Biarkan Tina bersama bunda disini.” Senyum Renaldi.
Rasya menganggukan kepalanya setuju. Mereka berdua kemudian keluar dari kamar Tina untuk menuju ke lantai satu tempat akan diadakan-nya acara pernikahan juga pesta.
“Sudah sudah sayang.. Kamu harus bahagia hari ini. Kamu harus tersenyum.” Ujar Tara pada Tina.
“Ya bunda..” Angguk Tina terus memeluk erat bundanya.
Sementara dilantai satu Reyhan sudah mulai tidak tenang. Sejak tadi tuan Renaldi dan putra pertamanya yang tidak lain adalah kakak dari Tina calon istrinya selalu mengulur ngulur waktu. Dan itu sukses membuat Reyhan tidak karuan sendiri. Pikiran pikiran buruk bahkan mulai menguasai benak Reyhan.
“Kamu harus tenang Reyhan.. Saya yang akan memastikan sendiri semuanya akan baik baik saja..” Bisik Faza yang memang duduk tepat disamping Reyhan sebagai saksi pernikahan itu.
“Saya berusaha untuk tenang pak.” Jawab Reyhan dengan anggukan pelan kepalanya.
Reyhan menghela napas. Faza sudah beberapa kali berbisik untuk menenangkan-nya. Tapi itu tidak juga bisa membuat Reyhan merasa tenang sedikitpun.
__ADS_1
Tidak lama Renaldi dan Rasya datang menghampiri. Mereka berdua duduk disamping penghulu.
Renaldi kemudian membisikan sesuatu pada penghulu yang membuat penghulu tersebut menganggukkan kepalanya mengerti.
“Saudara Reyhan bisa kita mulai sekarang?”
Pertanyaan itu membuat Reyhan merasa lega seketika. Pikiran pikiran buruk yang hampir membuatnya kalap lenyap begitu saja.
Reyhan tersenyum lebar kemudian menganggukan kepalanya dengan mantap.
“Iya pak.” Jawabnya semangat.
Seketika suasana riuh dikediaman Renaldi langsung tenang saat penghulu mulai mengucapkan ijab yang kemudian langsung dikobulkan oleh Reyhan dalam satu kali tarikan napas.
Zahra yang juga menjadi saksi resminya hubungan Tina dan Reyhan ikut merasa bahagia.
“Mempelai perempuan-nya dimana nyonya? Kok nggak turun?” Tanya mbak Lasmi yang memang juga diajak oleh Zahra dan Faza menghadiri acara tersebut.
“Sebentar lagi juga turun mbak..” Jawab Zahra pelan.
Setelah acara ijab kobul selesai, Tina pun diajak turun oleh sang bunda. Dan saat Tina menuruni satu persatu anak tangga dirumahnya semua pandangan langsung tertuju padanya.
Tina tersenyum. Tamu undangan yang hadir sangatlah banyak. Dan itu membuat Tina merasa malu juga sangat gugup.
“Sayang.. Hari ini kamu adalah ratunya. Jangan menundukan kepala. Tebar senyuman penuh kebahagiaan kamu pada semua yang hadir disini.” Bisik Tara yang menuntun Tina.
“Tapi aku malu bunda..” Balas Tina menatap Tara.
“Lihat, Reyhan begitu gagah disamping pak Faza. Dia sedang menunggu kamu sayang. Tersenyumlah. Ini adalah hari paling bahagia untuk kalian berdua. Restu bunda selalu menyertai kalian.” Ujar Tara dengan mata berkaca kaca.
“Terimakasih bunda..” Lirih Tina dengan suara serak.
“Jangan menangis sayang.. Tersenyum. Tersenyum untuk suami kamu, untuk bunda, untuk papah, juga untuk kakak kamu.. Oke?”
Tina menganggukan kepalanya. Mereka berdua kemudian kembali melanjutkan langkahnya dengan sangat pelan menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai satu.
Saat Tina dan Tara sampai di anak tangga terakhir, Renaldi dengan sigap menyambutnya. Pria itu memberi selamat dan pelukan pada Tina sebelum sama sama mengantar Tina mendekat pada Reyhan yang sudah menunggunya.
__ADS_1
Tina tersenyum malu malu pada Reyhan begitu mereka sudah saling berhadapan. Dengan ragu Tina mengulurkan tanganya yang langsung disambut oleh Reyhan. Dan satu kecupan Tina dipunggung tangan Reyhan menjadi awal dari segalanya untuk kehidupan mereka kedepan-nya.