
“Ra..”
Zahra mengalihkan perhatian-nya pada Tina yang baru saja selesai mengganti seragamnya dengan baju biasa.
“Ya Tin, kenapa?” Tanya Zahra menatap Tina yang tampak sendu tidak seceria pagi tadi saat menyapa Zahra.
Tina menghela napas dan berdecak pelan membuat Zahra yang melihatnya mulai bertanya tanya.
“Dulu kamu sama mas Faza kamu siapa dulu yang jatuh cinta?”
“Hah?!” Zahra terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Tina.
“Maksudnya siapa yang ngejar duluan. Kamu atau dia?”
Zahra menyipitkan kedua matanya menatap Tina. Antara curiga, bingung, juga penasaran.
“Kamu nggak lagi jatuh cinta kan Tina?”
Tina tergagap mendapat pertanyaan balik dari Zahra.
“Emm.. Enggak.. cuma aku..”
Zahra tertawa melihat ekspresi bingung Tina. Zahra tau bagaimana seorang Tina. Tina tidak pernah begitu ceria saat pagi hari yang kemudian langsung tidak semangat begitu waktu pulang kerja.
“Tina.. Aku paham kok. Aku cuma pernah ngerasain apa yang sekarang sedang kamu rasain. Jatuh cinta itu tidak harus silaki laki atau perempuan yang duluan. Jadi kamu tetap semangat dan optimis ya.. Kalau dia jodoh kamu Tuhan pasti akan memberi jalan lewat berbagai cara. Percaya deh sama aku..”
Tina menarik napas panjang kemudian menghembuskan-nya lewat mulut. Jatuh cinta adalah hal yang sangat asing baginya. Rasa bahagia Tina rasakan pagi tadi saat tidak sengaja melihat pria yang berhasil mengalihkan perhatian-nya. Namun setelah Tina berpikir lagi tentang kegagalan kedua orang tuanya Tina menjadi ragu. Tina takut merasa kecewa seperti saat mengetahui kedua orang tuanya tidak bisa lagi bersama.
“Tapi aku takut Ra.. Aku takut kecewa lagi..”
Zahra tersenyum. Zahra tau bagaimana rasa sakitnya patah hati karna tidak bisa lagi kumpul bersama kedua orang tuanya. Kedua orang tua Zahra memang tidak berpisah. Tapi Zahra harus berpisah selamanya dengan keduanya karna kecelakaan saat Zahra masih duduk dibangku sekolah dasar. Sampai sekarang patah hati itu tidak ada obatnya. Rasa rindu itu tidak pernah mempunyai penawar bahkan meski keduanya hadir dalam mimpi Zahra.
“Tin.. Dalam hidup kita tidak akan pernah lepas dari rasa sakit dan kecewa. Tapi Tuhan selalu punya rencana indah dibalik rasa sakit dan kecewa yang kita rasakan. Kuncinya hanya satu. Kita sabar dan percaya bahwa Tuhan menyayangi kita. Aku yakin kok kamu bisa menghadapinya dengan santai.”
Tina menatap Zahra ragu. Selama ini Tina menghindari kata jatuh cinta karna tidak ingin kecewa dan patah hati seperti yang dulu pernah Tina rasakan karna perpisahan kedua orang tuanya.
__ADS_1
“Aku juga pernah merasakan patah hati, kecewa, dan sakit. Aku pernah berpikir Tuhan tidak adil karna mengambil kedua orang tuaku, memisahkan aku dengan keduanya. Tapi kemudian aku sadar, Tuhan memberiku ujian agar aku bisa berdiri tegak dengan kedua kakiku sendiri. Agar aku mandiri dan bisa menghadapi kenyataan dengan tenang. Tuhan tidak pernah memberi cobaan pada hambanya tanpa jalan keluar. Dan aku percaya itu sampai sekarang dan akan selamanya percaya.”
Tina mengeryit.
“Apa mas Faza kamu laki laki yang sempurna?”
“Kenapa jadi bertanya seperti itu?”
Tina tersenyum miris.
“Kedua orang tuaku berpisah karna saling menuntut kesempurnaan Ra.. Aku pikir mungkin kalian berdua bisa saling mengerti, saling sempurna sehingga kalian berdua memutuskan untuk bersama dan menikah.”
Zahra tertawa mendengarnya. Zahra menepuk pelan bahu Tina.
“Semuanya tergantung bagaimana kita menyikapinya Tin. Intinya tidak ada yang sempurna di dunia ini. Bahkan sesuatu yang dikatakan indah sekalipun.”
“Maksudnya Cinta?”
“Itu kamu tau..”
“Sudahlah tidak usah dipikirkan. Nanti juga kamu akan merasakan-nya. Pokonya kamu tetap semangat. Percaya bahwa Tuhan itu menyayangi semua hambanya. Mending sekarang kita pulang. Udah sore nih.”
Tina berdecak pelan. Tina masih membutuhkan penjelasan dari Zahra.
“Udah ayoo.. Anterin aku ya.. Mas Faza nggak bisa jemput soalnya.” Cengir Zahra sambil merangkul Tina dan mengajaknya untuk keluar dari ruang ganti.
Tina mengantar Zahra pulang sebelum dirinya sendiri pulang kerumah dengan motor metik kesayangan-nya. Ucapan Zahra terus berputar dan terngiang diotaknya. Tina benar benar tidak paham dan merasa memerlukan penjelasan yang lebih detail lagi.
“Makasih ya Tin. Kamu mau mampir dulu?”
Tina menatap Zahra sendu.
“Tentang Cinta..” Ucap Tina menggantung.
Zahra memutar jengah kedua bola matanya. Zahra bukan seorang yang begitu paham tentang Cinta. Karna Zahra sendiri masih belajar untuk mengerti dan sering kali ego menguasai hati dan pikiran-nya sehingga sering menuntut Faza untuk menjadi apa yang Zahra inginkan.
__ADS_1
“Memangnya siapa sih laki laki yang berhasil membuat hati kamu terpaut hem? Aku jadi penasaran.”
Tina mengerucutkan bibirnya. Bukan-nya memberi pemahaman padanya Zahra malah meledeknya.
“Sudahlah. Aku pulang saja. Nyebelin banget sih.” Sungut Tina kemudian kembali memutar gas berlalu dari hadapan Zahra yang malah tertawa merasa lucu dengan tingkah sahabat seperjuangan-nya itu.
“Semangat Tina !!” Seru Zahra tersenyum merasa ikut bahagia karna akhirnya Tina mulai menemukan cinta yang selama ini Tina harapkan.
“Semoga aja laki laki itu memang jodoh yang ditakdirkan Tuhan untuk kamu Na.. Sebagai sahabat aku hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk kamu. Aku juga akan selalu berusaha ada untuk mendengar semua keluh kesah kamu..” Gumam Zahra tersenyum.
Deringan ponsel dalam tas slempangnya membuat Zahra tersentak. Zahra langsung merogoh tasnya mengeluarkan benda pipih itu dari tasnya.
Senyum Zahra mengembang ketika mendapati kontak suaminya terpampang di layar menyala ponselnya. Zahra segera mengangkat telpon dari suaminya itu.
“Halo mas..”
“Ya sayang, kamu dimana? Udah pulang?”
“Udah. Ini aku baru nyampe, dianterin Tina.”
“Hemm.. Sepertinya aku harus sangat berterimakasih pada Tina karna sudah mengantar dan memastikan permaisuriku pulang sampai istana dengan selamat.”
Zahra tertawa mendengar apa yang dikatakan Faza. Faza memang terkadang suka melontarkan ucapan yang manis meski menurut Zahra ucapan itu sedikit lebay.
“Apa sih kamu mas. Lebay banget.” Tawa Zahra dengan kedua pipi merona.
“Hahaha.. Ya udah gih kamu bersih bersih terus istirahat. Ah ya sayang, pulang nanti kamu mau dibawain apa?”
“Eemm.. Aku mau burger king dong. Kayanya enak tuh. Beef nya yang ekstra tebal ya mas. Kejunya juga.”
“Oke.. Ya udah berarti kamu nggak usah masak yah. Istirahat aja. Tunggu masmu ini pulang. I love you Aulia Zahra.”
“Hahaha... I lovo you to mas..”
Telepon ditutup oleh Zahra. Dengan bibir melengkung membentuk senyuman manis penuh kebahagiaan Zahra pun melangkah menuju pintu dan membukanya kemudian menutup dan menguncinya lagi dari dalam. Seperti apa yang Faza katakan, Zahra langsung membersihkan dirinya kemudian duduk santai didepan TV sambil memakan cemilan ringan menunggu Faza pulang.
__ADS_1