PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 77


__ADS_3

Siang ini Zahra bingung harus melakukan apa lagi. Merasa jenuh dan bosan hanya duduk saja, Zahra pun berinisiatif ikut pada mbak Lasmi yang memang berniat pergi kepasar untuk membeli bahan bahan makanan yang belum tersedia dirumah.


“Nyonya beneran tidak papa ikut saya ke pasar? Nanti tuan marah loh nyonya..”


Zahra tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh mbak Lasmi. Zahra memang tidak meminta izin lebih dulu pada suaminya tadi. Tapi Zahra yakin suaminya tidak akan marah apa lagi sampai berpikiran negatif padanya.


“Mbak tenang aja.. Mas Faza itu orangnya nggak begitu kok. Dia percaya sama saya..”


Mbak Lasmi menganggukan kepalanya dengan senyum malu malu. Meskipun Zahra jauh lebih muda darinya, tapi mbak Lasmi merasa harus tetap hormat pada majikan-nya itu.


“Kita naik apa mbak?” Tanya Zahra begitu mereka sudah berjalan sampai didepan kompleks.


“Naik angkot saja nggak papa kan nyonya?”


“Nggak papa kok.” Senyum Zahra menjawab.


Tidak lama menunggu angkot yang mengarah ke pasar muncul. Zahra dan mbak Lasmi segera menghentikan mobil merah tersebut dan ikut masuk kedalamnya berdesak desakan dengan penumpang lain yang sudah lebih dulu berada didalam angkot tersebut.


Sekitar 20 Menit mereka sampai dipasar. Tidak mau mengulur waktu, Mbak Lasmi segera mengajak Zahra untuk membeli semua bahan makanan yang diperlukan.


“Mbak udah makan belum?” Tanya Zahra pada mbak Lasmi setelah selesai berbelanja.


“Belum nyonya.” Jawab mbak Lasmi.


“Saya laper mbak. Kita makan dulu yah..”


“Iya nyonya..”


Zahra kemudian mengajak mbak Lasmi untuk mampir ke warung bakso yang ada dipinggir jalan. Mereka berdua duduk berdampingan sambil mulai menyantap bakso panas yang baru saja dihidangkan oleh sipenjual.


“Mbak udah punya anak?” Tanya Zahra pada mbak Lasmi.


Pertanyaan Zahra berhasil membuat mbak Lasmi tertegun. Wanita berkaos oren lengan panjang itu menarik napas panjang kemudian menghembuskan-nya dengan sangat perlahan.


“Saya pernah punya anak nyonya. Tapi hanya 7 tahun. Tuhan lebih menyayangi anak saya sehingga dalam waktu singkat Tuhan kembali mengambilnya dari saya.”

__ADS_1


Zahra terkejut. Bukan maksudnya mengorek luka lama yang dirasakan oleh mbak Lasmi.


“Sejak saat itu tepatnya dua bulan setelahnya, suami saya memutuskan untuk menuruti kemauan kedua orang tuanya untuk meninggalkan saya dan menikah lagi dengan perempuan yang dijodohkan dengan suami saya sejak dulu.”


Zahra menelan ludahnya. Nasib mbak Lasmi jauh lebih mengibakan dari nasibnya yang sampai saat ini belum mendapatkan restu dari Sinta, mamah mertuanya.


“Maaf ya mbak.. Saya nggak maksud buat membuka luka lama mbak..”


Zahra menyesal karna menanyakan hal tersebut. Zahra pikir hanya dirinya saja yang tidak disukai oleh mamah mertuanya.


“Enggak papa nyonya. Saya sudah mengikhlaskan semuanya.” Balas mbak Lasmi tersenyum namun tidak dengan pandangan-nya yang terlihat kosong dan berkaca kaca.


Merasa tidak tega Zahra pun mengusap usap bahu mbak Lasmi. Zahra tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang bernasib lebih buruk dari nasibnya. Di tinggal suami setelah kehilangan anak pasti rasanya sangat sakit. Zahra bahkan tidak berani membayangkan bagaimana sakitnya.


“Mbak yang sabar ya.. Tuhan pasti punya rencana lain yang jauh lebih indah buat mbak..” Ujar Zahra yang tidak tau harus berkata apa pada mbak Lasmi.


“Iya nyonya. Saya sudah ikhlas. Saya pasrah pada Tuhan bagaimana baiknya buat saya.”


Mbak Lasmi mengucek kedua matanya tidak ingin jika sampai air matanya jatuh menetes membasahi kedua pipinya.


Zahra mengeryit.


“Papah nolong mbak?” Tanya Zahra bingung.


“Iya nyonya. Saat itu saya baru datang dari kampung kesini tapi dijambret. Beruntung ada tuan Akbar yang menolong saya. Saya sangat berhutang budi pada beliau nyonya.”


Zahra diam sesaat. Jika sampai mamah mertuanya tau, mamah mertuanya pasti akan memanfaatkan mbak Lasmi.


“Eemm.. Mbak tentang papah yang nolong mbak biar aja jadi rahasia yah.. Jangan sampai mamah tau.”


Mbak Lasmi menatap pada Zahra sesaat kemudian mengangguk mengerti.


“Baik nyonya.”


Zahra tersenyum.

__ADS_1


“Ya sudah kita lanjutin makan lagi mbak. Sudah mbak jangan mikirin yang sudah sudah. Mungkin itu cara Tuhan mengangkat derajat mbak. Sabar dan selalu semangat ya mbak..”


“Ya nyonya, terimakasih..”


“Enggak perlu berterimakasih mbak. Sudah ayo makan lagi setelah ini kita pulang.”


Mbak Lasmi menganggukan kepalanya. Wanita itu kembali mengucek kedua matanya yang ber air sebelum menyantap lagi bakso panas didepan-nya.


Setelah selesai mengisi perutnya, Zahra dan mbak Lasmi berlalu dari warung bakso tersebut untuk mencari angkot. Cukup lama mereka berdua menunggu namun angkot yang mengarah kejalan kompleksnya belum juga terlihat.


---------


“Sudahi semuanya sayang.. Kamu tidak perlu lagi ngekos dan mencari pekerjaan yang tidak sesuai dengan apa yang kamu mau. Kamu bisa bekerja di perusahaan papah atau mungkin diperusahaan bunda kamu..”


Tina memutar jengah kedua bola matanya mendengar apa yang hampir setiap bertemu selalu saja terlontar dari bibir papahnya. Kedua orang tuanya memang memiliki apa yang setiap orang pasti ingin miliki. Tapi keduanya juga tidak memiliki apa yang dimiliki orang lain dan ingin Tina miliki. Yaitu keluarga yang lengkap dan bahagia.


“Kakak kamu sebentar lagi akan menikah dengan Anita. Papah mau setelah itu kamu juga menikah nak.”


Tina melengos. Sampai saat ini Tina belum lagi bertemu dengan pria yang berhasil menggetarkan hatinya saat itu. Pria yang tidak sengaja menolongnya saat Tina hampir celaka karna rem sepeda motornya yang blong.


Tina menatap keramaian diluar sana. Panas teriknya matahari tidak membuat mereka putus asa dalam mencari nafkah entah itu untuk keluarga atau untuk dirinya sendiri.


“Jujur pah.. Aku kurang suka dengan kak Anita. Aku pikir keluarganya bukan keluarga baik baik. Mamahnya selalu memandang segala sesuatu dengan uang.”


Tina menghela napas. Sejenak Tina diam. Tina tidak bisa menyembunyikan rasa tidak sukanya pada calon kakak iparnya itu.


“Tapi papah lihat Rasya sudah merasa nyaman dengan Anita nak.”


Tina berdecak. Apa yang dikatakan papahnya memang benar. Rasya dan Anita semakin hari semakin dekat. Rasya bahkan hampir setiap hari menjemput Anita yang pulang kerja bahkan pernah beberapa kali mengajaknya.


Pandangan Tina terhenti pada sosok yang sangat dikenalnya. Sosok yang beberapa hampir dua bulan ini tidak Tina temui.


“Zahra..” Gumam Tina.


Tina segera meminta pada papahnya agar memberhentikan mobilnya. Setelah mobil papahnya berhenti ditepi jalan, Tina segera turun. Namun sebelum turun Tina mengatakan agar papahnya pulang lebih dulu saja karna Tina yang akan menemui Zahra.

__ADS_1


__ADS_2