
Dirumahnya Zahra terus saja memikirkan apa yang akan dilakukan Faza pada Santoso sore ini. Zahra benar benar takut jika sampai suaminya melakukan sesuatu yang tidak di inginkan. Santoso pasti akan sangat membesar besarkan masalah nantinya. Apa lagi sekarang sudah hampir menjelang malam dan Faza belum juga pulang.
“Mbak..” Panggil Zahra mendekat pada mbak Lasmi yang sedang membereskan baju baju Fahri yang baru saja selesai disetrika.
“Oh iya nyonya.. Ada yang bisa saya bantu?”
Mbak Lasmi langsung membalikan tubuhnya menatap Zahra dengan kepala sedikit menunduk.
Zahra tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.
“Ini tentang barang barang pemberian pak Santo mbak..”
Mbak Lasmi hanya diam saja. Wanita itu menunggu apa yang akan dikatakan oleh Zahra lagi.
“Nanti kalau setelah ini dia datang lagi dan membawa apapun tolong langsung ditolak aja ya mbak.. Bilang juga sama pak satpam. Biar nggak jadi masalah..” Ujar Zahra pelan.
“Baik nyonya. Saya akan memberitahu pak satpam nanti.” Angguk mbak Lasmi menurut.
Zahra tersenyum lagi. Dengan pelan Zahra mengusap usap lengan mbak Lasmi.
“Makasih ya mbak..” Katanya tulus.
“Nyonya tidak perlu berterimakasih.. Saya hanya melakukan apa yang memang harus saya lakukan.”
Zahra tertawa mendengarnya. Mbak Lasmi memang orang yang selalu melakukan sesuatu dengan tulus tanpa pamrih sedikitpun.
“Seharusnya saya yang meminta maaf pada nyonya juga tuan karena saya yang sudah menata barang barang itu diatas meja. Tapi saya tidak ada niat mencari masalah nyonya. Maksud saya supaya begitu nyonya dan tuan pulang, nyonya dan tuan bisa melihat sendiri semua barang barang itu. Dan tentang yang menerima barang barang itu bukan saya ataupun pak satpam. Tapi pak Santo menaruhnya begitu saja didepan gerbang. Dan karena saya dan pak satpam takut tuan marah karena jalan masuk kerumah terhalang barang barang itu makanya saya dan pak satpam berinisiatif membawanya masuk. Sekali lagi saya minta maaf nyonya.” Jelas mbak Lasmi panjang lebar dengan kedua mata berkaca kaca karena takut mendapat amukan dari Faza.
Zahra mengangguk paham. Zahra percaya bahwa mbak Lasmi adalah orang yang baik. Dan Zahra juga percaya bahwa mbak Lasmi tidak mungkin berniat buruk padanya dan Faza.
“Iya mbak.. Saya paham dan saya mengerti. Saya nggak menyalahkan mbak ataupun pak satpam. Cuma lain kali kalau pak Santo pake cara seperti itu pinggirin aja apa yang dia taruh itu diluar disamping gerbang. Nggak perlu dibawa masuk.” Senyum Zahra.
__ADS_1
“Iya nyonya.. Saya benar benar minta maaf...” Sesal mbak Lasmi.
“Udah nggak papa mbak..”
Mbak Lasmi menyeka air mata yang tanpa dia sadari menetes saat mendengar apa yang Zahra katakan. Mbak Lasmi benar benar terharu karna mendapat majikan baik seperti Zahra.
“Ya sudah nyonya, Saya sudah selesai membereskan baju Fahri. Saya permisi mau menyiapkan makan malam..”
“Oh iya mbak.. Buatin sambal matah juga ya mbak tolong..”
“Siap nyonya.. Permisi..”
Zahra menghela napas melihat mbak Lasmi yang berlalu keluar dari kamarnya dengan keranjang baju yang dibawanya. Seulas senyum kemudian menghiasi bibir Zahra.
Zahra selalu berharap semoga Tuhan selalu melindungi keutuhan keluarga kecilnya dari apapun diluar sana.
----------------
Esoknya.
Melihat pria penguasa hatinya Loly tersenyum. Loly ingin sekali mendekat namun kemudian Loly berpikir ulang. Fadly pasti akan menolak keberadaan-nya. Bahkan bisa saja Fadly marah padanya.
“Nona Loly?”
Loly tersentak saat client-nya memanggil.
“Ah iya pak.. Maaf.. Bagaimana tadi?”
Pria tampan bersetelan jas hitam itu tertawa pelan karena reaksi Loly.
Loly meringis. Karena terlalu asik menatap Fadly yang duduk sendiri dipojok ruangan membuat Loly sampai mengabaikan penjelasan dari client yang akan menjalin kerja sama dengan perusahaan yang di pimpin oleh Loly.
__ADS_1
“Maaf tadi saya sedikit kurang fokus pak.. Bisa tolong anda ulangi lagi pak Indra?”
Loly merasa sangat tidak enak hati sekarang. Tapi Loly juga merasa harus mendengarkan secara detail bagaimana rencana client-nya itu dalam menjalin kerja sama dengan perusahaan-nya.
“Oke oke.. Itu tidak masalah nona..” Angguk pria tampan bernama Indra itu setelah tawanya mereda.
Loly menghela napas setelah Indra mulai kembali menjelaskan rencana kerja samanya. Loly sempat melirik Fadly namun Loly tidak ingin bertindak bodoh dengan mempertaruhkan perusahaan-nya dengan hanya memandangi Fadly yang berada disekitarnya. Itu tentu saja tidak akan menjamin apapun untuknya.
Saat Loly mulai fokus mendiskusikan tentang kerja sama dengan client, Kini giliran Fadly yang tidak sengaja melihat Loly disekitarnya.
Mendadak nafsu makan Fadly menghilang. Fadly meraih segelas air putih kemudian menenggaknya sampai habis. Ketika Fadly hendak bangkit dari duduknya entah kenapa tiba tiba Fadly merasa sangat penasaran dengan obrolan yang sedang Loly dan seorang pria yang tidak jauh darinya itu berada.
Fadly menyipitkan kedua matanya. Tiba tiba Fadly ingin sekali tau apa yang sedang mereka berdua bicarakan.
“Apa laki laki itu adalah pacar Loly?”
Hati Fadly mulai bertanya tanya. Dan karna pertanyaan itu tiba tiba Fadly merasakan ada sesuatu yang lain dihatinya.
“Hhh.. Sudahlah mau laki laki itu pacarnya atau tunangan bahkan calon suaminya pun aku nggak perduli.” Ujar Fadly sewot sendiri.
Tapi bukan-nya berlalu Fadly justru tetap anteng duduk ditempatnya. Pandangan-nya terus tertuju pada Loly dan Indra yang sedang membicarakan tentang rencana kerja sama mereka.
Fadly semakin merasa penasaran saat Loly tertawa karena apa yang dikatakan pria didepan-nya. Loly bahkan terlihat tidak mempunyai beban apapun saat tertawa bersama dengan pria tersebut menurut Indra.
“Dasar perempuan tidak jelas. Sana sini mau. Cih !! Nggak pantes banget di jadiin pendamping.” Dumel Fadly terus saja berkomentar pedas tentang Loly.
Fadly terus duduk ditempatnya memperhatikan Loly yang benar benar fokus dengan obrolan-nya tanpa sedikitpun melirik lagi pada Fadly.
Hal itu membuat Fadly semakin merasa geram dan muak. Entah karena apa Fadly sendiri tidak tau. Tidak mau lagi menatap kebersamaan Loly dengan pria lain, Fadly pun berlalu keluar dari Restoran tersebut setelah sebelumnya membayar apa yang sudah dia makan.
“Dia pikir dia siapa? Memangnya cuma dia yang bisa dapetin pasangan? Aku juga bisa. Bahkan yang lebih segalanya dari dia. Dasar perempuan nggak jelas. Nggak tau diri. Gampangan.”
__ADS_1
Fadly terus saja mengumpat bahkan saat sudah ada didalam mobilnya. Entah kenapa melihat Loly bersama pria lain Fadly merasa sangat terhina. Padahal jelas jelas Loly dan pria itu saja tidak menyadari keberadaan-nya menurut Fadly.
Fadly menghela napas. Pikiran-nya mendadak kacau sekarang. Fadly kemudian menambah kecepatan laju mobilnya agar cepat sampai ditempatnya bekerja.