PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 150


__ADS_3

Setelah mendengar cerita dari Nadia, Zahra kemudian berpikir bahwa tidak hanya dirinya yang mengalami masa sulit. Nadia bahkan merasakan lebih dari apa yang Zahra rasakan.


Hari ini adalah hari kedua Zahra tanpa Faza. Meskipun sebenarnya Zahra sangat merindukan Faza namun Zahra sebisa mungkin untuk bersikap biasa saja didepan Aries dan Nadia. Zahra tidak ingin keduanya mengetahui bagaimana perasaan-nya sekarang.


“Nyonya...”


Suara mbak Lasmi membuat Zahra menoleh. Zahra yang sedang asik memainkan ponselnya pun berdiri dari duduknya begitu melihat sosok mbak Lasmi yang berdiri disamping sofa yang didudukinya.


“Ya mbak.. Ada apa?” Tanya Zahra dengan senyuman dibibirnya.


“Didepan ada nyonya Sinta nyonya.”


Kedua mata Zahra sontak membulat. Sekarang Aries sedang libur kerja dan tidak mengantar Arka kesekolah. Jika sampai Aries mendengar lontaran kata yang diucapkan oleh Sinta pasti akan membuatnya marah.


“Ayo mbak...” Angguk Zahra kemudian melangkah lebih dulu dan meninggalkan begitu saja ponsel miliknya diatas meja didepan sofa ruang keluarga.


Zahra bermaksud menemui Sinta yang sudah berada didepan, diruang tamu.


“Mamah..”


Zahra berusaha untuk tersenyum meski rasa takut menguasainya sekarang. Bukan takut akan kemarahan Sinta padanya, tapi takut pada Aries yang bisa saja akan emosi jika mendengar ucapan menyakitkan yang dilontarkan Sinta untuknya nanti.


“Mana kakak kakak kamu hah?!” Tanya Sinta dengan gaya angkuhnya.


“Eemm.. Kak Aries sama kak Nadia lagi istirahat mah..” Jawab Zahra apa adanya.


“Wow, hebat banget ya kakak kamu itu. Apa mereka pikir rumah ini adalah rumah kamu Zahra?”


Zahra menghela napas berusaha untuk menahan emosinya. Zahra tidak ingin terlalu berani melawan Sinta meskipun pada dasarnya apa yang Sinta tuduhkan kepadanya selalu tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.


“Mamah salah paham.. Zahra nggak pernah..”


“Nggak usah pura pura polos kamu Zahra. Mamah tidak bodoh seperti Faza. Mamah tau apa isi kepala kamu itu.”


Sekali lagi Zahra menghela napas.


“Terserah mamah saja lah.”

__ADS_1


Zahra kemudian berlalu malas jika harus meladeni Sinta yang selalu saja memandangnya seperti orang jahat.


“Zahra, mamah belum selesai bicara!!” Seru Sinta kesal.


Karena Zahra yang terus saja melangkah menjauh darinya, Sinta pun semakin merasa geram. Dengan kekesalan yang memuncak Sinta mengejar Zahra dan mencekal erat lengan Zahra.


“Berhenti kamu Zahra. Mamah belum selesai bicara.”


Zahra diam. Dia menoleh pada Sinta yang terlihat sangat kesal padanya. Zahra tidak tau lagi harus bagaimana menghadapi Sinta. Upaya sikap baiknya selalu saja salah dimata Sinta.


“Mah.. Zahra nggak mau berantem terus sama mamah.. Apa yang mamah tuduhkan sama Zahra itu nggak bener. Zahra nggak pernah berniat menguasai mas Faza.. Mas Faza tetap anak mamah..” Ujar Zahra pelan.


Sinta melepaskan cekalan tangan-nya.


“Kalau begitu mamah mau kamu tinggalkan Faza. Biarkan Faza bersama dengan Loly.” Tekan Sinta.


Zahra menggelengkan pelan kepalanya. Loly tetap saja menjadi alasan untuk Sinta menyuruh Zahra meninggalkan Faza. Padahal sudah jelas bahkan dengan terang terangan Faza menolak perjodohan-nya dengan Loly sejak dulu.


“Zahra nggak bisa mah.. Zahra mencintai mas Faza, anak mamah.” Ujar Zahra pelan.


“Cukup tante !!”


Suara lantang Aries membuat Zahra dan Sinta kompak menoleh. Zahra terkejut melihat kakaknya yang sudah berdiri tidak jauh dari tempatnya dan Sinta berdiri.


“Kak ini..”


“Kakak udah dengar semuanya Zahra. Kamu tidak perlu menjelaskan apa apa.” Sela Aries sambil melangkah mendekat.


Sedangkan Sinta, wanita itu menghela napas kemudian melipat kedua tangan-nya didepan dada dengan sangat angkuh.


“Tante.” Aries beralih menatap pada Sinta yang melengos enggan menatapnya.


“Saya tidak pernah meminta untuk Faza menikahi Zahra. Faza sendiri yang datang pada saya melamar Zahra kemudian meminta izin pada saya untuk menikahi Zahra. Kami tidak pernah menuntut pada Faza untuk segera menikahi Zahra.”


“Hhh... Mana ada maling ngaku. Faza itu anak yang baik. Tapi sejak kenal dengan adik kamu ini anak saya menjadi suka berbohong dan tidak nurut sama saya. Saya yakin itu karna pengaruh buruk keluarga kalian.”


Aries mengepalkan erat kedua tangan-nya. Aries benar benar tidak bisa menerima tuduhan tidak mendasar Sinta pada adiknya juga dirinya.

__ADS_1


“Kalian itu pengaruh buruk untuk anak saya. Kalian membuat anak saya menjadi anak yang pembangkang. Kalian membuat saya dan anak saya mempunyai jarak.”


“Tante.. Harusnya tante introspeksi diri tante sendiri dengan apa yang Faza lakukan. Harusnya tante sadar, apakah sikap tante selama ini sudah cukup baik atau belum dalam mendidik anak.”


Sinta mendelik mendengar apa yang Aries katakan.


“Kamu tidak usah menggurui saya.” Bentaknya.


“Sekarang saya mau kalian keluar dari rumah anak saya.”


Zahra menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang Sinta lakukan. Sinta mengusirnya.


“Kami tidak akan pergi dari sini. Ini bukan rumah tante. Ini rumah Faza dan Zahra.” Tegas Aries.


“Kamu...”


“Saya disini bukan atas kemauan saya sendiri tante. Faza yang datang dan meminta saya dan istri saya untuk tinggal sementara disini menemani Zahra selama Faza berada di Amerika. Bukankah itu sudah cukup membuktikan bahwa Faza jauh lebih percaya pada saya dan istri saya dari pada sama tante.”


Tangan Sinta mengepal. Sinta tidak menyangka jika Aries akan begitu berani padanya. Padahal Sinta pikir dengan tidak adanya Faza, dirinya bisa membuat masalah yang menyudutkan Zahra untuk kemudian dia adukan pada Faza.


“Kamu...”


“Jangan tante pikir saya orang bodoh tante. Saya menghormati tante sebagai mertua adik saya, sebagai orang tua dari Faza, adik ipar saya. Tapi saya tidak akan membiarkan siapapun termasuk tante menginjak injak harga diri kelurga saya.” Sela Aries dengan tatapan tajam pada Sinta.


“Kak udah...” Zahra meraih tangan besar Aries, menggenggamnya erat mencoba untuk menenangkan kakaknya yang sedang dikuasai oleh emosi itu.


“Awas ya kalian.” Geram Sinta kemudian berlalu keluar dari kediaman Faza dan Zahra.


Sementara Aries, pria itu menggelengkan kepalanya tidak menyangka dengan sikap angkuh Sinta. Aries menoleh pada Zahra yang berdiri disampingnya. Aries yakin bukan hanya kali ini saja Zahra mendapat perlakuan seperti itu dari Sinta. Tapi selama bertahan itu artinya Faza bisa bijak menyikapi orang tuanya. Begitu pikir Aries.


“Maafin aku ya kak...”


Aries tersenyum kemudian mengangkat tangan Zahra yang terus menggenggam erat tangan besarnya.


“Nggak perlu minta maaf.. Kalau kamu sudah merasa lelah dan tidak tau harus bagaimana lagi datanglah pada kakak..” Balasnya.


Zahra tersenyum kemudian menyenderkan kepalanya dibahu tegap Aries. Zahra pikir Aries akan marah dan mengajaknya pergi tadi.

__ADS_1


__ADS_2