
Setelah berziarah ke makam kedua orang tua Zahra, Faza mengajak Zahra untuk mengecek rumah peninggalan kedua orang tua Zahra. Kebetulan hari itu juga adalah waktunya si pengurus rumah menerima gajinya dari Faza.
Ya, setelah menjadi direktur diperusahaan tempat nya bekerja, Faza memang menyuruh orang untuk mengurus rumah peninggalan kedua orang tua Zahra agar rumah tersebut tetap terawat dengan baik.
“Mbak, nanti tolong bawain tasnya Fahri kedalam yah..” Senyum Zahra pada mbak Lasmi yang duduk dikursi belakang.
“Baik nyonya...” Angguk mbak Lasmi dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
Faza menghentikan mobilnya tepat didepan halaman rumah tersebut. Pria itu mematikan mesin mobilnya kemudian bergegas turun untuk membukakan pintu mobil untuk Zahra yang sedang menggendong Fahri.
“Silahkan nyonya Faza..” Canda Faza saat membukakan pintu mobil untuk Zahra.
Zahra tertawa geli mendengarnya. Rasanya aneh sekali jika Faza yang memanggilnya dengan sebutan nyonya.
“Apaan sih kamu mas..”
Faza terkekeh dan membantu Zahra turun dari mobil dengan merangkul bahu Zahra mesra. Pria itu benar benar memperlakukan Zahra dengan sangat lembut dan penuh cinta. Tidak perduli meskipun disekitar mereka ada orang lain.
Mbak Lasmi yang melihat itu ikut merasa bahagia. Mbak Lasmi juga merasa bersyukur karena memiliki tuan dan nyonya yang begitu baik padanya. Keduanya bahkan selalu tampak harmonis meskipun mbak Lasmi sendiri juga tau Sinta tidak merestui hubungan keduanya.
“Ayo mbak..” Ajak Zahra tidak lupa mengajak mbak Lasmi.
“Oh iya nyonya..”
Mbak Lasmi melangkah dibelakang Zahra dan Faza. Kedatangan mereka disambut hangat oleh pekerja yang Faza amanahkan untuk mengurus rumah itu.
Sebelumnya Faza memang sudah memberitahu si pengurus rumah bahwa dirinya dan Zahra akan datang mengecek rumah.
“Selamat datang tuan, nyonya, dan tuan muda..”
Faza dan Zahra tertawa mendengar pekerjanya memanggil Fahri dengan sebutan tuan muda.
“Namanya Fahri mang..” Ujar Zahra memberitahu dengan senyuman di bibirnya.
Mang Dadang biasa pria paruh baya itu disapa. Mang Dadang menganggukan pelan kepalanya sambil menatap takjub bayi tampan berusia dua bulan itu.
“Silahkan masuk nyonya, tuan..”
__ADS_1
Zahra dan Faza tersenyum kemudian melangkah masuk dengan Faza yang terus merangkul mesra bahu Zahra. Keduanya langsung mengedarkan pandangan-nya kesetiap sudut rumah peninggalan kedua orang tua Zahra itu.
Rumah itu begitu bersih dan terawat. Bahkan sepertinya mang Dadang sudah mengecat ulang rumah itu dengan cat yang sama. Itu menandakan mang Dadang dan istrinya mengurus dengan baik rumah itu tanpa sedikitpun ingin merubahnya tanpa izin dari Zahra juga Faza.
“Bi tatik mana mang?” Tanya Zahra sambil mendudukan dirinya disofa ruang tamu.
“Bi tatik lagi ke pasar nyonya. Dia senang sekali mendengar nyonya dan tuan akan datang. Katanya mau masak yang spesial buat nyonya dan tuan.”
Zahra menatap Faza yang tertawa. Zahra sudah bisa menebak pasti Faza yang lebih dulu memberitahu bahwa mereka akan datang.
“Kan biar mamang sama bibinya nggak kerepotan sayang..” Tawa Faza yang mengerti arti tatapan istrinya.
“Hem itu justru merepotkan mas.. Bi Tatik sampe harus repot repot ke pasar.” Geleng Zahra.
“Sebentar nyonya, tuan, saya ke belakang dulu. Sepertinya bi Tatik sudah pulang.” Ujar mang Dadang mengangguk pelan.
“Biar saya bantu. Nyonya, tuan, saya kebelakang ya..” Mbak Lasmi meletakan tas berisi perlengkapan Fahri diatas sofa.
“Oh ya.. Silahkan.” Senyum Faza mengangguk setuju.
“Mas.. Aku titip Fahri sebentar yah.. Kebelet pipis.” Ringis Zahra.
“Ya ampun.. Sini sini sayang..”
Faza dengan sigap mengambil alih Fahri dari gendongan istrinya. Setelah itu Zahra bangkit dari duduknya dan bergegas untuk ke kamar mandi yang berada didapur tempat dimana mang Dadang, bi Tatik, juga mbak Lasmi sedang membereskan semua belanjaan bi Tatik.
“Bibi belanjanya banyak banget..” Ujar mbak Lasmi sambil membantu membereskan belanjaan tersebut.
“Iya mbak.. Saya sengaja belanja banyak soalnya saya teh mau masak yang spesial buat tuan sama nyonya..” Jawab bi Tatik dengan logat sundanya.
Zahra yang tidak sengaja mendengar itu tersenyum. Namun Zahra tidak ingin menimbrung pembicaraan keduanya. Zahra hanya melintas saja karena dirinya juga sedang buru buru hendak pipis.
Obrolan bi Tatik dan mbak Lasmi terus berlanjut. Mereka begitu sangat antusias membicarakan tentang kebaikan Faza dan Zahra yang dimana tanpa mereka ketahui Zahra mendengar semuanya.
Apa yang Zahra dengar secara langsung itu membuat Zahra merasa semakin bersyukur. Bahkan bi Tatik yang jarang ditemuinya saja menilainya dengan sangat positif.
Zahra menghela napas dan menggelengkan pelan kepalanya. Zahra tidak ingin membeda bedakan siapapun. Karena masing masing orang memiliki penilaian sendiri terhadap orang lain. Baik itu orang yang disuka ataupun orang yang tidak disuka.
__ADS_1
Saking asiknya mengobrol tentang Zahra dan Faza, ketiganya bahkan tidak menyadari Zahra yang melintas di belakang mereka. Itu benar benar sangat lucu sehingga Zahra tertawa sendiri.
“Kenapa sayang?” Tanya Faza yang penasaran karena melihat istrinya tertawa tawa setelah dari dapur.
Zahra menggeleng pelan kemudian kembali mendudukan dirinya disamping Faza disofa ruang tamu.
“Nggak papa mas.. Lucu aja dengerin obrolan bi Tatik, mbak Lasmi sama mang Dadang.” Jawab Zahra masih dengan sisa tawanya membuat Faza semakin merasa ingin tau tentang apa yang membuat istrinya bahkan sampai tertawa sendiri.
“Lucu? Memangnya mereka ngobrolin apa kok kamu sampe ketawa ketawa begitu.”
Zahra hanya mengedikkan bahunya kemudian mencium pipi gembul putranya.
“Kamu mah bikin aku penasaran aja..” Dumel Faza dengan wajah yang menurut Zahra justru sangat menggemaskan.
“Mas, ke kamar yuk?” Ajak Zahra menatap Faza dengan senyuman dibibirnya.
Faza menyipitkan kedua matanya.
“Ini masih siang loh sayang..” Katanya bermaksud menggoda Zahra.
“Iiihh.. Apaan sih kamu mas. Mikirnya kemana mana nih.. Maksud aku kita ke kamar biarin Fahri berbaring di kasur.. Yeee.. Ketahuan banget nih mas mah..”
Faza tertawa melihat ekspresi malu malu Zahra. Gemas sekali rasanya.
“Ya udah deh ayoo.. Susuin Fahri ya sayang biar dia bobo.. abis itu baru aku..”
Kedua mata Zahra membulat sambil menutupi bagian dadanya.
“Mas.. Masa mau nyusu juga..” Ujar Zahra dengan wajah semakin memerah tidak kuasa membayangkan suaminya sendiri yang menyusu padanya.
“Emangnya kenapa? Kan nggak papa.. Masa Fahri doang akunya enggak.” Faza semakin gencar menggoda Zahra.
Zahra menatap Faza ngeri. Jika dirinya tidak sedang menyusui mungkin Zahra bisa maklum jika memang Faza menginginkan-nya. Tapi sekarang dirinya sedang menyusui dan ASI nya sedang penuh penuhnya. Geli sekali rasanya membayangkan suaminya sendiri yang akan menyusu seperti bayinya.
“Enggak enggak. Sini Fahrinya. Mas disini aja nggak boleh ikut masuk ke kamar.”
Zahra mengambil Fahri dari Faza kemudian bangkit dari duduknya dan berlalu begitu saja meninggalkan Faza yang tertawa sampai terpingkal pingkal karena berhasil menggoda istrinya.
__ADS_1