PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 128


__ADS_3

Pagi pagi sekali Faza sudah menelepon Siska dan mengatakan dirinya tidak bisa berangkat karna sedang tidak enak badan. Siska yang memang tau sejak kemarin pun menyanggupi semua tugas yang Faza amanahkan kepadanya selama Faza tidak bisa hadir diperusahaan untuk bekerja.


“Mas, sarapan dulu yuk.. Aku udah buatin sup jagung loh buat kamu..”


Faza meletakan ponselnya diatas nakas begitu Zahra masuk kedalam kamar mereka. Faza menghela napas. Zahra belum menjawab pertanyaan-nya tentang siapa yang lebih ganteng antara dirinya dan dokter Gino. Itu membuat Faza galau semalaman sampai tidak bisa tidur dengan tenang.


Faza menatap Zahra yang sedang menaruh nampan dimana semangkuk sup jagung yang masih mengepulkan asap diatasnya itu berada. Tidak lupa Zahra juga membawa segelas air putih untuk Faza minum.


Melihat ekspresi sendu Faza, Zahra pun mengeryit bingung.


“Mas kenapa?” Tanya Zahra mendekat pada Faza yang duduk ditepi ranjang.


Faza menghela napas sekali lagi. Sampai sekarang Faza masih menunggu jawaban dari Zahra tentang pertanyaan siapa yang lebih tampan. Dirinya atau dokter Gino menurut Zahra.


“Sayang...” Faza memanggil Zahra dengan nada rengekan yang samar samar.


“Ya...” Saut Zahra menatap Faza dengan penuh perhatian.


Faza ingin membuka mulut untuk menanyakan lagi. Tapi Faza merasa malu jika harus mengatakan-nya lagi. Zahra pasti akan menertawakan-nya dan menganggapnya bersikap seperti anak kecil.


“Tidak jadi...” Lirih Faza urung menanyakan kembali apa yang belum sempat dia dapat jawaban-nya dari Zahra.


Zahra diam memperhatikan dengan seksama ekspresi suaminya. Wajah Faza masih terlihat pucat. Tapi Zahra sudah sedikit merasa lega karna demam yang diderita suaminya sudah turun.


“Eemmm.. Ya sudah kalau begitu. Sekarang mending mas sarapan terus minum obat.” Senyum Zahra.


Faza mengangguk pelan kemudian mulai menerima suapan dari Zahra. Pria itu mengunyah makanan dalam mulutnya ogah ogahan karna masih memikirkan jawaban Zahra yang belum dia ketahui.


“Tadi dokter Gino telepon aku mas..” Ujar Zahra sambil menyuapkan kembali makanan kedalam mulut Faza.


Kedua mata Faza sedikit melebar.


“Apa? Tapi untuk apa dia telepon pagi pagi begini?”


Respon Faza membuat Zahra mengeryit. Ekspresi suaminya terlalu berlebihan menurut Zahra.


“Ngapain pagi pagi dia telepon kamu? Terus dari mana dia dapat nomor kamu?”

__ADS_1


Zahra tidak langsung menjawab pertanyaan suaminya. Zahra merasa ada yang tidak biasa dengan sekap suaminya pagi ini.


“Ya... Kan dia nanyain keadaan kamu mas. Dokter Gino bilang dia akan mampir lagi nanti siang untuk mengecek kondisi kamu.”


“Tidak tidak. Itu tidak perlu. Aku sudah baik baik saja sekarang. Dokter Gino tidak perlu kesini.”


Zahra menghela napas kemudian meletakan sepiring makanan yang dipegangnya diatas nakas. Zahra bangkit dari duduknya dan berdiri tepat didepan Faza yang mendongak menatapnya dengan ekspresi jengkel.


“Aku nggak mau dokter Gino kesini lagi.” Kata Faza lagi.


Zahra tersenyum kemudian menangkup dengan lembut kedua pipi suaminya. Zahra membelainya lembut dan penuh kasih sayang.


“Mas.. Maksud kedatangan dokter Gino itu baik. Dokter Gino mau mengecek keadaan kamu sekarang.”


“Tapi...”


“Mas.. Aku nggak mau kamu sakit terus.. Nggak papa yah dokter Gino kesini. Kan untuk memeriksa kamu juga.” Sela Zahra lembut.


“Sayang...”


“Kamu tau nggak, kamu sama dokter Gino itu lebih ganteng kamu... Apa lagi kamu adalah suami aku. Pokonya kamu yang paling ganteng paling baik dimata aku. Terus paling aku cintai juga.” Ujar Zahra menyela apa yang ingin Faza katakan. Zahra berharap dengan rayuan transparan-nya itu Faza mau diperiksa lagi oleh dokter Gino.


“Ya Tuhan sayang... Dia enggak mau aku cium.” Kejut Faza geleng geleng kepala.


“Dia bahkan menendang aku tepat dibibir loh..”


Zahra tertawa pelan mendengarnya.


“Dia bukan nggak mau dicium mas. Mungkin dia sudah tidak sabar ingin digendong sama papahnya.”


“Benarkah?”


“Tentu saja.” Jawab Zahra tersenyum.


“Sudah lebih baik sekarang kamu habiskan supnya terus minum obat.”


“Oke...”

__ADS_1


Zahra melepaskan pelukan Faza kemudian melanjutkan menyuapi Faza sampai sup buatan-nya habis kemudian membantu Faza meminum obatnya.


Pukul 10 pagi dokter Gino datang. Pria tampan berjas putih itu menyapa dengan ramah Faza dan Zahra. Namun Faza terlihat tidak terlalu welcome dengan kedatangan kedatangan dokter Gino. Faza bahkan terus menempel pada Zahra saat dokter Gino memeriksa keadaan-nya.


“Bagaimana dokter?” Tanya Zahra setelah dokter Gino selesai memeriksa keadaan Faza.


“Sudah tidak apa apa nyonya. Suhu badan tuan juga sudah stabil.” Senyum dokter Gino.


“Syukurlah kalau begitu.” Senyum Zahra merasa sangat lega.


Mereka berbincang sebentar namun Faza terus saja bersikap dingin pada dokter Gino. Beberapa menit mengobrol dokter Gino akhirnya pamit untuk pulang dengan diantar oleh mbak Lasmi. Tentu saja karna Faza melarang Zahra untuk mengantar dokter tampan itu.


-------------


“Tante bilang kakak kamu lagi sakit ya Ly?” Tanya Loly pada Fadly yang sedang fokus dengan laptopnya.


Fadly berdecak. Tidak heran jika Sinta mengatakan pada Loly. Sinta memang tidak pernah tidak menceritakan semuanya pada Loly apa lagi jika tentang Faza.


“Hari ini aku sengaja menyelesaikan semua pekerjaanku dengan cepat.” Ujar Loly dengan senyuman dibibirnya.


“Aku tidak perduli.” Balas Faza acuh dan sama sekali tidak menoleh pada Loly yang ada disampingnya.


Loly menghela napas. Fadly jauh lebih dingin dari Faza menurutnya. Fadly sangat keras kepala dan sangat susah untuk diluluhkan.


“Bagaimana kalau kita kesana sama sama?”


Fadly menelan ludahnya. Tanganya mengepal erat karna Loly terus saja mengganggunya. Loly bahkan hampir setiap hari selalu datang ketempatnya bekerja. Parahnya lagi Loly sepertinya sama sekali tidak merasa takut dengan ancaman Fadly. Bahkan Loly dengan senang hati menyerahkan diri padanya jika Fadly hendak meneruskan niatnya saat digubug ditengah hutan.


“Apa mau kamu sebenarnya Loly?” Tanya Fadly menatap tajam pada Loly.


Loly terdiam. Tatapan Fadly benar benar sangat menyeramkan. Rasanya Loly seperti sedang dikuliti hanya dengan tatapan tajam pria yang sudah berhasil menguasai hati dan pikiran-nya itu.


Loly menarik napas kemudian menghelanya perlahan. Loly mencoba untuk mengusir rasa gentarnya karna tatapan tajam Fadly padanya. Loly mencoba untuk tetap terlihat tenang dan santai.


“Yang aku mau itu.. Kamu..” Jawab Loly dengan penuh keberanian membalas tatapan tajam Fadly.


Fadly tersenyum sinis mendengarnya.

__ADS_1


“Aku bukan laki laki bodoh Loly. Kamu mungkin bisa mengelabuhi mamahku dengan kepura pura baikanmu itu. Tapi aku.. Jangan harap kamu bisa memanfaatkanku.”


Loly tersenyum dan mengangguk paham. Loly tau apa yang dilakukan-nya memang salah. Tapi Loly sudah menyadari itu dan Loly berniat meluruskan semuanya. Tapi disisi lain Loly juga ingin memperjuangkan rasanya pada Fadly. Laki laki yang sudah berani menyentuhnya dengan lancang.


__ADS_2