
Makan malam itu berlangsung dengan hangat. Sinta begitu sangat perhatian pada Loly juga Fadly. Wanita itu benar benar melupakan masalahnya dengan suaminya malam ini karena kehadiran Loly.
“Bagaimana kalau setelah ini kita jalan jalan keliling mall.. Tante merasa ada sesuatu yang ingin tante beli..” Ujar Sinta tersenyum menatap bergantian pada Loly dan Fadly.
“Eemm.. Aku ikut saja tante..” Senyum tipis Loly.
Fadly menoleh menatap Loly. Pria itu terkekeh geli ketika melihat ujung bibir Loly terdapat noda saos. Fadly kemudian meraih tisu yang ada diatas meja.
“Loly.. Maaf ada noda..” Ujar Fadly pelan kemudian mengusap dengan lembut ujung bibir Loly membersihkan dari noda saos tersebut menggunakan tisu.
Loly terpaku dengan apa yang Fadly lakukan. Terlebih saat pandangan-nya bertemu dengan Fadly. Loly benar benar terpesona dengan ketampanan pria yang menurutnya sangat brengsek itu. Tubuh Loly bahkan terasa kaku. Padahal Loly ingin menyikut dada bidang Fadly yang begitu dekat dengan-nya sekarang. Tapi sepertinya pikiran dan tubuhnya benar benar tidak sejalan.
Sinta yang melihat itu tersenyum. Sinta benar benar sangat berharap Fadly dan Loly bisa bersama dalam ikatan sebuah keluarga.
Merasa tubuhnya tidak bisa bergerak, Loly pun mendelik pada Fadly membuat Fadly langsung tersadar dan menjauhkan tubuhnya dari Loly.
“Maaf.. Aku cuma pengin bantu kamu buat bersihin noda di sudut bibir kamu tadi.” Senyum Fadly menjelaskan.
Loly berdecak. Fadly benar benar tidak bisa dibiarkan begitu saja. Fadly selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan.
“Awas kamu Fadly..” Geram Loly dalam hati.
“Eemm.. Loly, bagaimana?” Tanya Sinta.
Loly terdiam sesaat. Sinta mengajaknya untuk keliling mall. Itu artinya Sinta mengajaknya untuk berbelanja. Dan tiba tiba Loly berpikir akan membeli segala yang bahkan tidak Loly butuhkan untuk mengerjai Fadly.
“Ke mall yah.. Boleh deh tante. Kebetulan banget aku mau beli sesuatu juga.” Senyum Loly setuju.
“Oke kalau begitu. Ya udah segera dihabiskan dulu makanan-nya.”
“Ya tante..” Angguk Loly kemudian kembali menyantap makanan-nya.
__ADS_1
Selesai makan malam, mereka bertiga kemudian pergi dari restoran tersebut. Mereka berniat untuk pergi ke mall dan membeli beberapa barang disana.
Begitu di mall, Loly benar benar menghambur hamburkan uangnya. Loly tidak perduli seberapa banyak dia menghabiskan uangnya kali ini. Loly bahkan juga membelikan beberapa barang yang Sinta mau secara cuma cuma. Tidak perduli berapa harganya.
“Kamu belanja sebanyak ini mau buat apa sayang?” Tanya Sinta yang sebenarnya merasa kasihan dan tidak tega jika putranya harus membawa segitu banyak barang yang dibeli Loly.
Sinta bahkan yakin kedua tangan besar Fadly tidak mungkin bisa meraup banyak paperbag yang ada disekelilingnya. Apa lagi tidak hanya paperbag saja yang menjadi wadah barang yang dibeli Loly, tapi juga kardus kardus berukuran besar.
“Ya tante.. Aku baru saja ingat banyak barang barang yang harus aku ganti dirumah. Tapi kalau memang Fadly nggak bisa bawa semua ini kan kita bisa minta bantuan petugas tokonya buat bawain sampai parkiran.” Senyum Loly melirik Fadly yang terlihat kebingungan dengan semua barang barang yang ada disekitar kakinya.
“Eh.. Enggak enggak. Aku bisa bawa semua ini kok. Tenang saja. Aku kuat.” Senyum Fadly menatap Loly dan mamahnya.
Fadly tidak ingin menyia nyiakan kesempatan itu. Fadly tau Loly memang sedang sengaja mengerjainya. Dan Fadly akan menunjukan bahwa dirinya bisa membawa semua barang barang itu dengan tangan-nya sendiri tanpa harus meminta bantuan pada siapapun.
“Sekarang saatnya kamu menunjukan kesungguhan kamu pada Loly Fadly.. Kamu pasti bisa.” Gumam Fadly yakin dalam hati.
”Serius? Barang barang ini banyak loh Fadly. Memangnya kamu beneran bisa bawa semua ini? Kalau memang kamu nggak kuat nggak papa bilang aja. Jangan maksain diri kamu sendiri kalau memang kamu nggak mampu.” Ujar Loly dengan senyuman sinisnya menatap Fadly.
“Oh.. Kamu nggak perlu khawatir sama aku.. Aku bisa kok bawa ini semua.” Senyum Fadly mengedipkan sebelah matanya pada Loly.
Loly mendelik kesal. Enggan membalas lagi ucapan Fadly, Loly pun melengos.
“Ya udah yuk tante, kita keliling lagi. Barang barang itu biarin aja Fadly yang bawa.” Ujar Loly meraih lengan Sinta mengajaknya pergi meninggalkan Fadly.
“Loh tapi Loly.. Fadly..”
“Tante, tadi kan Fadly sendiri yang menyanggupi bisa membawa semua barang barang kita. Fadly bahkan menolak tawaran aku buat minta bantuan petugas tokonya loh.. Itu hebat banget loh tante..” Senyum Loly pada Sinta.
Sinta meringis. Barang barang itu sangat banyak. Dan Sinta tidak yakin Fadly bisa sanggup membawa semua barang barang tersebut.
“Aku pengin ice cream tante.. Ayoo..”
__ADS_1
Loly mulai mengeluarkan jurus manjanya pada Sinta. Loly bahkan melayangkan tatapan memelasnya pada Sinta yang tidak mungkin bisa menolak kemauan-nya.
Sinta menoleh menatap Fadly tidak tega. Sejak kecil kedua putranya tidak pernah mengangkat ngangkat berat. Baik itu Faza maupun Fadly. Dan melihat Fadly yang harus mengangkat semua barang yang ada disekitarnya Sinta benar benar merasa tidak tega.
“Udah mamah anter Loly aja beli ice cream. Fadly bisa kok bawa semua barang ini.” Senyum Fadly menenangkan mamahnya.
“Ya sudah.. Kamu hati hati ya nak bawanya. Mamah sama Loly cari ice cream dulu.”
“Ya mah..” Angguk Fadly tersenyum.
Loly tersenyum merasa puas dengan apa yang sudah dilakukan-nya. Kali ini Loly benar benar bisa mengerjai Fadly bahkan didepan Sinta secara langsung.
Setelah Sinta dan Loly berlalu, Fadly menghela napas. Fadly bingung harus membawa yang mana dulu dari semua barang barang yang ada disekitarnya. Barang barang itu sangat banyak dan Fadly pasti akan bolak balik bahkan bisa lebih dari lima kali.
“Apa perlu kami bantu tuan?” Tanya seorang pria yang adalah petugas toko tempat Loly membeli barang barang tersebut.
“Oh enggak perlu. Terimakasih. Saya bisa bawa semua ini sendiri.” Tolak Fadly dengan senyuman.
“Ya sudah kalau begitu tuan.”
Pria petugas toko itu kembali masuk kedalam toko tempatnya bekerja karena tawaran bantuan-nya ditolak oleh Fadly.
Sementara Fadly, pria itu menatap satu persatu barang yang harus dia bawa ke parkiran. Sementara dirinya sekarang berada dilantai empat didalam mall tersebut. Tapi Fadly tidak putus asa. Fadly yakin dirinya bisa membawa semua barang barang itu. Fadly akan menunjukan pada Loly bahwa dirinya mampu mengangkut sendiri barang barang itu dengan tenaga yang Fadly miliki.
“Oke.. Mungkin aku akan membawa yang berat berat dulu.”
Fadly memulainya dengan membawa kardus berukuran besar yang cukup berat menurutnya. Fadly mulai melangkahkan kakinya menuju lift. Fadly enggan menggunakan tangga eskalator karena itu pasti akan menyulitkan-nya.
Sampai beberapa kali Fadly bolak balik seperti kuli panggul. Fadly bahkan sampai merasakan tenaganya benar benar terkuras habis. Kaos panjang yang dikenakan-nya pun sampai basah oleh keringat. Dan sekarang Fadly terkapar tidak berdaya dibagian depan mobilnya dengan napas tersengal juga peluh yang membasahi wajah bahkan seluruh tubuhnya.
“Ya Tuhan.. ini benar benar sangat menguras tenaga...” Keluh Fadly dengan dada kembang kempis.
__ADS_1