PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 11


__ADS_3

Zahra sampai 20 menit kemudian. Zahra segera turun dari boncengan Tina dan mendekat pada Fadly yang sedang asik memainkan ponselnya. Fadly adalah teman sekelasnya dulu yang kini menjadi adik iparnya.


“Dia adiknya mas Faza?” Tanya Tina yang masih duduk diatas motornya.


Zahra tersenyum dan menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan Tina.


“Ya udah kalau gitu aku pulang yah..”


“Ya.. Terimakasih sudah mau nganterin. Kamu hati hati..”


“Oke..”


Tina kembali memutar gas dan berlalu meninggalkan Zahra yang melambaikan tangan padanya.


Setelah motor metik Tina sudah menghilang ditikungan, Zahra pun mendekat pada Fadly yang terlalu fokus dengan ponselnya sampai tidak menyadari kehadiran Zahra disana.


“Fadly..”


Mendengar namanya disebut Fadly pun menoleh. Pria dengan kemeja putih tulangnya itu segera berdiri dari duduknya dikursi diteras rumah sederhana Zahra. Fadly memasukan ponselnya kedalam saku celana bahan warna hitamnya.


“Maaf udah nunggu lama.” Senyum Zahra.


“Ya, kamu emang lama banget. Sampe bosen aku nungguin disini. Ah ya.. Aku bawain semua barang barang kak Faza. Mamah yang nyuruh.”


Zahra mengangguk pelan. Zahra tidak mengharapkan apapun dari keluarga suaminya. Tapi apa yang dilakukan mamah mertuanya cukup keterlaluan menurutnya.


“Sebentar, aku ambil dulu dibagasi.” Ujar Fadly kemudian melangkah menuju mobilnya.


Zahra hanya diam saja. Entah bagaimana penilaian kedua orang tua suaminya sekarang padanya. Apa lagi mereka berdua juga belum memberi restu pernikahan-nya dengan Faza.


“Mau aku bawain kedalem sekalian?” Tanya Fadly pada Zahra.


“Boleh..” Angguk Zahra tersenyum.


Zahra segera merogoh kunci didalam tas selempangnya kemudian membuka pintu memberi jalan pada Fadly masuk membawa dua koper besar dimana didalamnya terdapat barang barang milik Faza.


“Aku langsung pergi ya..”


“Loh, memangnya kamu nggak nungguin mas Faza pulang? Ngeteh dulu..”


Fadly tersenyum.

__ADS_1


“Nggak usah Ra. Aku ada janji sama Client sore ini. Aku pergi ya..”


“Ya sudah kalau begitu. Makasih banyak ya Fadly. Hati hati dijalan.”


Fadly tersenyum manis. Senyum yang sama dengan senyuman Faza. Fadly kemudian berlalu keluar dari dalam rumah Zahra. Pria itu melangkah santai menuju mobilnya kemudian melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan pekarangan rumah sederhana Zahra.


Zahra menatap dua koper besar yang berada didepan-nya. Zahra tidak menyangka jika Sinta sampai menyuruh Fadly untuk mengantar semua barang barang Faza kerumah. Suatu garis keras yang menegaskan bahwa Faza tidak lagi dibolehkan pulang kerumah mewah berlantai dua itu.


Zahra berdecak. Dulu sempat terbesit dibenak Zahra untuk pergi jauh dari Faza dan membiarkan Faza bersama wanita yang menjadi pilihan mamahnya. Tapi baru sehari menghindar Zahra merasa tidak kuat menahan rindu pada Faza hingga akhirnya Zahra menyerah dan bertekad untuk terus bertahan selama Faza masih mencintainya.


“Ya Tuhan... Kuatkan cinta kami..” Gumam Zahra.


Zahra menutup pintu rumahnya dan kembali menguncinya. Setelah itu Zahra bergegas untuk membersihkan dirinya. Sore ini Zahra berniat untuk memasak makan malam spesial untuk Faza.


-----


“Permisi pak, ini kotak makan-nya sudah saya cuci.”


Anita berhenti melangkah mendengar ucapan seorang office boy pada Faza yang berada tidak jauh dari lift tempat dirinya baru keluar.


Anita tersenyum.


“Semoga saja rasa sandwich itu cocok dilidah Faza..” Gumamnya.


“Terimakasih ya pak, sandwichnya sangat enak.”


Senyuman dibibir Anita langsung memudar ketika office boy itu memuji rasa sandwich buatan-nya pada Faza.


“Apa maksudnya?” Gumam Anita bingung.


Penasaran, Anita pun mendekat pada Faza dan office boy tersebut.


“Kebetulan ini ada bu Anita. Sandwich ini buatan bu Anita. Jadi tidak heran kalau rasanya juga enak.” Ujar Faza begitu Anita berada di antaranya dan office boy itu.


“Ohh.. Begitu ya pak. Bu Anita terimakasih sandwichnya.”


“Eemm.. Ya..” Angguk Anita tersenyum paksa.


“Kalau begitu saya permisi pak, bu..”


Faza menganggukan kepalanya dengan senyuman manis dibibirnya. Pria itu kemudian menyodorkan kotak makan warna pink yang sudah dicuci oleh office boy tadi pada Anita.

__ADS_1


“Aku udah tebak dari tampilan-nya, Sandwich buatan kamu pasti enak. Ini..”


Anita menerima kotak makan yang disodorkan Faza dengan hati kecewa.


“Aku minta maaf banget yah aku nggak makan sandwich buatan kamu. Jujur aku nggak terlalu suka kacang. Jadi dari pada aku buang aku kasih ke OB aja.”


Anita menelan ludah. Anita tidak pernah tau apa yang disuka atau tidak disuka oleh Faza. Meskipun mereka sudah lama kenal dan kerja dalam satu ruangan, tapi Faza adalah sosok yang lumayan tertutup. Mungkin ketertutupan Faza pula yang membuat Anita merasa penasaran yang berujung rasa ingin tau hingga akhirnya tumbuh rasa suka dihatinya pada Faza.


“Ya udah kalau begitu aku duluan yah.. Bye..”


Tanpa mendengar jawaban Anita, Faza berlalu begitu saja. Faza melangkah menuju motor gedenya kemudian menaikinya dan berlalu dengan kecepatan maximal dari parkiran.


Anita menghela napas pelan. Mencintai pria yang sudah beristri adalah suatu kesalahan terbesar dalam hidupnya. Tapi Anita juga tidak bisa mencegah hatinya memilih Faza sebagai pria yang berhasil menguasainya.


Dihari yang mulai gelap itu Faza memacu kendaraan roda duanya dengan kecepatan diatas rata rata. Dalam pikiran-nya sekarang hanya ada Zahra, wanita yang sangat dicintainya dan sudah menunggunya dirumah. Zahra memang menelpon-nya sebelum pulang bersama Tina tadi.


Dalam waktu singkat Faza sampai dihalaman rumah sederhana peninggalan kedua orang tua Zahra. Faza melepas helm yang menutupi kepala sampai wajah tampan-nya kemudian turun dari motor gedenya.


Faza melangkah menuju pintu mengetuknya dengan pelan. Faza yakin Zahra pasti mengunci pintu rumahnya.


Tidak lama kemudian pintu terbuka memunculkan Zahra yang mengenakan celana pendek sepaha dengan kaos oblong kebesaran yang membuatnya terlihat menggoda dimata Faza. Apa lagi sore itu Zahra menggerai rambut panjang sepunggungnya yang masih basah.


“Mas..” Zahra menyalimi Faza kemudian berhambur memeluk tubuh kekar pria itu.


Faza tersenyum. Rasa lelahnya sirna begitu saja saat aroma mawar dari tubuh Zahra tercium. Begitu lembut dan segar.


Zahra melepaskan pelukan-nya dan mendongak menatap Faza.


“Aku sudah masakin makan malam untuk kita. Kamu langsung bersih bersih yah, abis itu kita makan.” Katanya.


“Oke..” Angguk Faza.


Faza merangkul bahu Zahra kemudian mengajak istrinya untuk masuk kedalam rumah.


“Loh inikan koper aku?” Faza mengeryit bingung melihat dua koper besar miliknya berada disamping sofa ruang tamu.


“Tadi ada Fadly kesini. Dia bilang mamah kamu yang menyuruh dia untuk mengantar barang barang kamu kesini.”


“Apa?!”


Faza sangat terkejut mendengarnya. Mamahnya tidak menelepon lebih dulu saat akan membereskan barang barang miliknya. Apa lagi mamahnya juga sampai menyuruh Fadly adiknya untuk mengantar dua koper besar miliknya.

__ADS_1


“Apa itu artinya mamah melarang aku membawa Zahra untuk tinggal dirumah?” Batin Faza bertanya tanya.


__ADS_2