
Sepanjang perjalanan Fadly benar benar merasa tidak biasa dengan Loly. Sejak tadi Loly terus saja diam seperti patung. Loly bahkan tidak protes saat Fadly merapikan rambutnya yang berantakan.
Suasana itu membuat Fadly merasa canggung sendiri. Fadly benar benar merasa sangat aneh dengan Loly yang bahkan sama sekali tidak bersuara dan tetap pada posisinya duduk disampingnya.
“Eemm.. Loly, kamu mau makan apa?” Tanya Fadly hendak meraih tangan Anton, namun dengan cepat Anton menghindar.
“Ya Tuhan.. Hamba melakukan ini demi ibu hamba Tuhan... Tolong hamba..”
Fadly tersenyum tipis. Loly menghindar tanpa mengatakan apapun padanya.
“Atau mungkin kita ke dokter saja dulu untuk memeriksakan keadaan kamu bagaimana?”
Anton memejamkan kedua matanya erat. Jika dirinya bersuara pasti penyamaran-nya akan terbongkar. Fadly akan mengetahui siapa dirinya sebenarnya dan mungkin Fadly akan sangat marah.
“Hey...”
Tidak kunjung mendapat jawaban dari Loly atas ajakan untuk ke dokternya, Fadly pun mengusap usap puncak kepala Loly dan saat itulah Fadly merasakan satu lagi ke anehan.
Rambut Loly tidak selembut biasanya.
“Loly.. Rambut kamu...”
“Pak Fadly..”
Fadly terkejut bukan main begitu mendengar suara bariton yang terdengar saat Loly menyaut. Pria itu langsung menghentikan mobilnya kemudian dengan kasar melepaskan masker yang dikenakan oleh Anton.
“Kamu...”
Rahang Fadly mengeras. Yang berada disampingnya ternyata bukan Loly.
“Maaf pak Fadly.. Saya hanya disuruh oleh nona Loly. Saya hanya melaksanakan perintahnya dengan iming iming upah supaya saya bisa membayar administrasi rumah sakit tempat ibu saya dirawat.”
“Dibayar berapa kamu hah? Berani sekali kamu menipu saya?”
Fadly menatap tajam pada Anton yang hanya bisa menunduk takut padanya. Jika saja sekarang Fadly sedang tidak marah, mungkin Fadly akan tertawa melihat Anton yang berkumis tipis itu memakai make up yang persis sama dengan Loly.
“Saya tidak tau pak. Tapi nona Mona mengatakan uang itu akan sangat cukup bahkan lebih jika hanya untuk membayar biaya administrasi rumah sakit tempat ibu saya dirawat.”
__ADS_1
Tangan Fadly mengepal erat. Kali ini Loly benar benar sukses mengerjainya. Dan apa yang Loly lakukan sudah sangat keterlaluan. Beruntung Fadly tidak mencium Loly palsu yang saat ini terus menundukan kepala tidak berani menatapnya.
“Keluar dari mobil saya sekarang juga.” Ucap Fadly dengan gigi mengetat saking emosinya.
“Pak saya benar benar minta maaf. Saya hanya..”
“Keluar atau saya tendang kamu.” Sela Fadly.
Anton yang tidak ingin mendapat perlakuan kasar dari Fadly segera melepas seatbelt dan turun dari mobil Fadly.
Setelah itu Anton langsung melepas hills dan wig yang dikenakan-nya kemudian berlari menjauh dari mobil Fadly. Anton tidak perduli meskipun nanti Loly tidak membayarnya karena gagal mengerjai Fadly sampai akhir. Anton lebih sayang pada nyawanya sendiri. Anton yakin dirinya bisa mengusahakan yang lain untuk mendapatkan uang. Anton juga tidak perduli dengan tatapan para pejalan kaki yang menatapnya kebingungan. Mungkin juga mereka berpikir Anton adalah waria yang kabur dari tangan seorang yang sudah membayarnya.
Sementara Fadly, pria itu tidak tau siapa pria yang menyamar sebagai Loly. Tentu saja karena make-up yang menutupi wajah aslinya.
Fadly menghela napas. Pantas saja Fadly merasakan sesuatu yang aneh sejak pertama melihat Loly yang dituntun keluar oleh Mona. Dan sekarang Fadly tau kenapa Loly hampir jatuh saat melangkah dengan Mona. Tentu saja karena pria yang berperan sebagai Loly untuk mengerjainya itu tidak bisa menggunakan hills.
“Jadi kamu mau main main sama aku Loly?”
Fadly tersenyum miring. Kali ini Loly sukses mengelabuhinya.
Fadly memejamkan kedua matanya sebentar. Hampir saja Fadly melakukan kesalahan fatal. Meskipun dari awal dirinya memang sudah salah karena membopong seorang pria.
“Baiklah sayangku.. Tunggu pembalasanku besok.” Ujar Fadly kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata rata.
Fadly sampai didepan rumah dalam waktu yang lumayan singkat. Pria itu turun dari mobilnya.
Fadly menggeleng pelan. Bisa bisanya Fadly begitu bodoh dan mudah sekali tertipu. Padahal sudah sangat jelas postur dan bentuk tubuh pria yang menyamar sebagai Loly sangat jauh berbeda dengan tubuh Loly yang sebenarnya. Lebih bodohnya lagi Fadly tidak memperdulikan keanehan yang sangat mencolok itu dan menganggap bahwa itu semua karena Fadly yang mungkin kurang memperhatikan Loly.
Ketika Fadly selangkah lagi masuk kedalam rumah, Deru suara mobil Akbar membuatnya menoleh.
Fadly tersenyum melihat sang papah yang kali ini pulang lebih awal dari biasanya.
“Papah...” Gumam Fadly saat melihat Akbar turun dari mobilnya.
Pria yang sudah memiliki cucu itu sudah tidak lagi mengenakan jas hitamnya. Akbar hanya mengenakan kemeja biru muda yang lengan-nya dilipat sampai siku. Sedang jas hitamnya Akbar tenteng dengan tangan kanan-nya.
Akbar tersenyum melihat Fadly yang berdiri didepan pintu utama kediaman-nya.
__ADS_1
“Nak.. Kamu baru pulang juga?” Tanya Akbar pada Fadly.
“Hem ya pah.. Papah tumben pulang cepat.”
Akbar tertawa pelan kemudian melangkah lebih dulu masuk kedalam rumah yang kemudian di ikuti oleh Fadly dari belakang.
“Sebenarnya papah pulang cuma sebentar. Ada yang harus papah ambil untuk meeting malam ini.”
Fadly mengangguk pelan. Saat ini usaha sang papah memang sedang sangat naik pesat. Tidak heran jika Akbar begitu sangat sibuk.
“Jadi papah nggak bisa makan malam dirumah?” Tanya Fadly yang terus mengikuti Akbar dari belakang.
“Ya, sepertinya begitu.” Jawab Akbar mengedikkan bahunya.
Fadly mengangguk lagi. Jika mamahnya tau pasti akan protes. Mamahnya juga pasti akan marah karena Akbar tidak bisa makan malam bersama malam ini.
Fadly berhenti mengikuti papahnya saat sang papah masuk kedalam ruang kerjanya. Dan ketika Fadly memutar tubuhnya, Fadly mendapati sang mamah yang sedang melangkah menuju kearahnya dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
“Mamah...” Senyum Fadly.
“Sebentar sayang.. Mamah ke papah dulu.” Ujar Sinta dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya.
Fadly hanya bisa mengangguk. Mamahnya memang selalu semangat jika papahnya pulang lebih awal dari biasanya. Tapi itu berlaku jika keduanya sedang tidak bertengkar saja. Seperti sekarang.
Fadly terdiam sesaat kemudian berlalu dari depan ruang kerja papahnya. Fadly melangkah menuju tangga dan menaikinya satu persatu menuju lantai dua rumah itu.
“Papah..”
Akbar sedang mencari berkas pentingnya saat Sinta masuk kedalam ruang kerjanya.
“Eh mah..” Senyum tipis Akbar dan kembali fokus mencari berkas yang dimaksudnya diantara tumpukan berkas yang lain-nya.
“Mamah sudah masak banyak pah. Kita makan yuk?”
Akbar terdiam sesaat dan menghela napas. Pria itu menarik map warna biru dari tumpukan map yang ada di lemari dibelakang kursi kerjanya.
Ya, berkas penting itu sudah ketemu.
__ADS_1
“Maaf mah.. Papah nggak bisa makan dirumah kali ini. Papah harus pergi sekarang. Ada meeting yang nggak bisa ditunda. Papah kekantor lagi ya..”
Akbar tersenyum dan melangkah melewati Sinta begitu saja. Pria itu benar benar sangat buru buru sekarang.