
Karna tidak mau diadukan yang tidak tidak oleh Loly pada Sinta, Fadly pun dengan sangat terpaksa mengiyakan kemauan Loly untuk bersama sama menjenguk Faza yang sedang sakit.
“Fadly..” Panggil Loly menatap Fadly yang sedang fokus dengan kemudinya.
Fadly tetap diam dan enggan menyauti Loly. Pria itu benar benar merasa sangat kesal pada dirinya sendiri karna pada akhirnya menyerah dan menuruti kemauan Loly. Dan semua itu tentu saja karna ancaman Loly yang mengatakan akan mengadukan pada Sinta jika Fadly tidak mau menjenguk Faza bersama dengan Loly.
“Aku kurangnya dimana sih sampai kayaknya laki laki yang aku mau itu tidak pernah mau sama aku.. Kakak kamu contohnya. Dia lebih pilih Zahra dari pada aku. Padahal aku sama Zahra kan cantikan aku...”
Fadly memutar jengah kedua bola matanya. Menurutnya Zahra bukan tidak cantik. Tapi menurutnya setiap wanita memiliki kadar cantik yang berbeda beda.
“Kamu tau nggak kenapa kakak kamu nggak mau sama aku?”
“Tentu saja aku tau. Aku bahkan sangat mengerti dan bisa memaklumi kenapa kak Faza sampai tidak mau bahkan anti sama kamu.”
Loly mengeryit. Loly selalu merasa dirinya sudah sempurna dari bentuk fisik. Tapi heran-nya dari Faza sampai Fadly keduanya sama sekali tidak pernah sedikitpun tertarik padanya.
“Memangnya kenapa?” Tanya Loly.
“Tentu saja karna kamu bukan perempuan yang baik. Kamu jahat, egois, dan selalu merasa paling sempurna.” Jawab Fadly dengan lantangnya.
Loly terdiam. Semua yang Fadly katakan memang benar. Tapi selama ini Loly selalu menganggap usahanya bukanlah sebuah ke egoisan.
“Kamu pikir cantik saja cukup untuk membuat laki laki jatuh hati Loly? Kamu salah kalau berpikir seperti itu. Ketulusan hati itu adalah segalanya asal kamu tau. Kecuali kalau kamu sedang menjajakan diri dipinggir jalan, fisik kamu sudah sempurna.”
Ekspresi Loly langsung berubah. Loly merasa sangat tersinggung dengan kalimat terakhir yang diucapkan oleh Fadly. Karna ucapan itu jelas sekali merendahkan-nya sebagai seorang wanita baik baik.
Loly mengepalkan kedua tangan-nya. Loly ingin sekali marah tapi Loly berusaha untuk menahan-nya. Loly tidak ingin gegabah. Fadly hanya sedang memancing emosinya.
Loly menarik napas panjang kemudian menghembuskan-nya dengan sangat pelan lewat mulut.
“Oke Loly.. Tenang.. Yang penting kamu tidak seperti apa yang Fadly katakan tadi.” Batin Loly mencoba menenangkan dirinya.
Fadly tersenyum sinis. Puas sekali rasanya bisa mengatakan pandangan-nya pada Loly selama ini.
Fadly melirik diam diam pada Loly yang hanya diam. Fadly mengeryit melihat Loly yang tampak tenang meskipun Fadly sudah mengatakan ucapan yang tidak pantas padanya.
__ADS_1
“Kamu memang paling hebat dalam berakting Loly..” Batin Fadly menggelengkan pelan kepalanya.
Tidak lama mobil Fadly sampai tepat didepan gerbang kediaman Faza dan Zahra. Fadly segera membunyikan klakson membuat pak satpam dengan sigap membukakan pintu gerbang untuknya.
Begitu pintu gerbang dibuka, Fadly dengan pelan melajukan mobilnya masuk kedalam pekarangan rumah kakaknya dan berhenti tepat dihalaman rumah berlantai dua itu.
“Tunggu apa lagi? Ayo turun..” Ujar Fadly dengan nada sinis pada Loly.
“Eemm.. Ada yang ingin aku tanyakan sama kamu Fadly.”
Fadly berdecak. Tidak perduli dengan apa yang ingin Loly tanyakan, Fadly pun melepas seatbelt berniat untuk turun lebih dulu dari mobilnya.
“Ly tunggu.”
Karna tidak mau Fadly turun dari mobil lebih dulu, Loly pun menahan Fadly dengan mencekal lengan kekar pria itu.
“Apa apaan kamu Loly?!” Sentak Fadly menghempaskan kasar cekalan tangan Loly sampai terlepas.
“Kalau aku berubah menjadi baik. Apa kamu mau sama aku?” Tanya Loly tidak memperdulikan tatapan tajam Fadly padanya.
“Aku bahkan berani langsung menikahi kamu jika kamu benar benar menjadi orang baik Loly. Tapi sepertinya itu tidak mungkin.” Jawab Fadly kemudian turun dari mobilnya.
Seulas senyum perlahan terukir dibibir pink Loly mendengar apa yang Fadly katakan. Meskipun Fadly begitu sinis padanya tapi Loly yakin Fadly adalah pria yang bisa dipegang ucapan-nya.
“Aku akan tuntut kamu sampai kamu benar benar menikahiku Fadly...” Gumam Loly tersenyum penuh arti.
Loly kemudian turun dari mobil Fadly dan menyusul Fadly yang sudah lebih dulu masuk kedalam rumah Faza.
Begitu sampai didalam rumah, Loly tidak menemukan Fadly diruang tamu bahkan sampai dimeja makan. Loly berdecak. Fadly pasti sengaja menghindar darinya.
“Loly.. Kamu cari Fadly ya?”
Loly menoleh ketika mendengar suara Zahra. Loly menghela napas kemudian tersenyum tipis. Rasanya kikuk sekali jika ingin bersikap baik pada Zahra.
“Fadly ada diruang keluarga sama mas Faza.” Ujar Zahra memberitahu pada Loly.
__ADS_1
“Oh..”
Loly hanya mengangguk pelan kemudian menaruh bingkisan yang dibawanya diatas meja makan.
“Itu apa?” Tanya Zahra penasaran.
“Eemm.. Ini tadi Fadly yang membeli di jalan. Aku bawain karna ketinggalan dimobilnya.” Jawab Loly.
Zahra menganggukan kepalanya mengerti. Zahra merasa sejak kembali dari luar negeri Loly benar benar berubah derastis. Loly sudah tidak lagi sinis padanya. Loly juga tidak mencari gara gara padanya lagi.
“Kamu mau minum apa? Biar aku suruh mbak Lasmi buatin minuman buat kamu.” Kata Zahra mencoba ramah agar Loly merasa terbiasa dengan-nya.
“Oh.. Nggak. Nggak perlu. Aku langsung pulang aja.”
“Kok pulang? Kan baru dateng.”
Loly gelagapan sendiri. Loly tidak tau harus melakukan apa dirumah itu. Jika dulu mungkin Loly ingin berlama lama disana karna Loly mengincar Faza. Tapi sekarang Loly merasa enggan berada dirumah Faza lama lama. Ditambah Fadly yang malah menjauh dan sedang bersama Fadly sekarang.
“Eemm.. Aku...”
“Setahu aku Fadly itu sangat suka sekali dengan es cappucino. Kebetulan kemarin mbak Lasmi baru beli. Bagaimana kalau kamu ambilin buat Fadly. Soalnya aku mau mandi, gerah banget. Mbak Lasmi juga lagi sibuk masak didapur buat nanti makan malam.”
”Fadly suka es cappucino?” Tanya Loly menatap Zahra.
Zahra tersenyum dan menganggukan kepalanya. Entah kenapa Zahra seperti melihat sisi lain dari seorang Loly sekarang. Loly terlihat polos dan kikuk jika berhadapan dengan-nya sekarang. Meskipun memang terkadang masih sinis padanya.
“Iya.. Kamu kedapur aja tanyain ke mbak Lasmi.”
“Oh.. Ya sudah kalau begitu. Aku kedapur yah..”
Loly meletakan tas jinjing kecilnya diatas meja makan kemudian berlalu menuju dapur untuk mengambil es cappucino yang dimaksud oleh Zahra.
Zahra yang melihat itu tersenyum. Zahra benar benar merasa baru mengenal sosok lain Loly. Sosok polos yang selama ini tidak pernah terlihat karna tertutup oleh sikap sinis Loly.
“Semoga aja Loly benar benar serius menyukai Fadly..” Gumam Zahra menghela napas.
__ADS_1