
Hari ini Zahra sama sekali tidak bisa memejamkan kedua matanya. Zahra terus teringat akan ucapan Santoso yang mengatakan bahwa Faza dan Siska mempunyai hubungan. Zahra ingin tidak mempercayai itu. Tapi hati dan pikiran-nya tidak bisa bohong. Zahra tidak bisa berhenti memikirkan apa yang dikatakan hubungan oleh Santoso antara Faza dan Siska, mantan sekretaris Faza.
“Papah pulang...”
Suara lembut Faza membuat Zahra yang sedang merenung didepan jendela kaca kamarnya langsung menoleh. Zahra tidak langsung mendekat. Zahra menatap pada Faza yang tersenyum dan berdiri didepan pintu kamar yang sudah dibukanya.
Melihat tatapan istrinya, Faza pun mengartikan lain. Faza menganggap tatapan itu mengartikan bahwa Zahra menyuruhnya untuk lebih dulu membersihkan dirinya sebelum mendekat padanya juga Fahri, putra mereka.
“Oke oke.. Aku akan bersih bersih dulu.” Ujar Faza kemudian masuk kedalam kamar mandi.
Namun baru beberapa detik masuk kedalam kamar mandi, Faza kembali keluar dari kamar mandi dan Zahra masih tetap menatapnya dengan posisi yang sama.
“Hehe.. Handuknya ketinggalan sayang..” Tawa Faza kemudian masuk kembali kedalam kamar mandi setelah meraih handuk yang di maksud.
Didalam kamar mandi Faza dengan semangat membersihkan dirinya. Sedikitpun Faza tidak punya pikiran negatif dengan tatapan Zahra padanya tadi.
Berbeda dengan Zahra yang justru semakin tidak tenang setelah melihat suaminya. Ucapan Santoso seperti racun baginya.
“Apa mungkin mas Faza memang ada hubungan dengan Siska?” Gumam Zahra lirih.
Zahra tau siapa Faza. Teman wanita Faza memang banyak dan itu sudah dari dulu. Namun sekalipun Faza tidak pernah membagi cintanya. Tapi sekarang hanya karna ucapan Santoso padanya yang belum tentu benar Zahra langsung merasa resah juga gelisah sendiri.
Keasikan melamun Zahra sampai tidak menyadari Faza yang sudah selesai membersihkan dirinya. Faza bahkan sudah rapi dengan celana piyama warna coklat gelap serta kaos oblong hitam polos yang begitu pas membalut tubuh kekarnya.
“Sayang...”
Sentuhan lembut tangan Faza dipundaknya membuat Zahra tersentak kaget. Zahra menoleh dan kembali menatap pada Faza dengan ekspresi yang Faza sendiri tidak tau apa artinya.
Melihat tatapan istrinya yang masih sama seperti saat dirinya baru masuk kedalam kamar mereka Faza pun mengeryit. Faza baru menyadari tatapan istrinya lain kali ini.
“Eemm.. Kamu kenapa?” Tanya Faza pelan dan hati hati.
__ADS_1
Zahra menelan ludah kemudian menyalimi Faza. Zahra tidak ingin berburuk sangka pada suaminya sendiri. Tapi apa yang Santoso katakan padanya tentang Faza dan Siska benar benar sangat sensitif.
Zahra menghela napas pelan.
“Ada yang pengin aku omongin sama kamu mas.. Ini sangat sensitif dan penting buat aku..” Ujar Zahra.
Faza mulai penasaran. Jantungnya mulai berdetak sangat cepat. Entah kenapa Faza merasa was was dengan apa yang Zahra katakan.
“Sebentar mas, aku tidurin Fahri dulu.”
“Oh ya.. Oke..” Angguk Faza tersenyum manis.
Zahra kemudian melangkah pelan menuju ranjang. Dengan sangat hati hati Zahra meletakan tubuh kecil Fahri ditengah ranjang.
Berulang kali Faza menghela napas mencoba menghilangkan rasa was was yang merayapi hatinya. Faza tidak tau apa yang ingin Zahra bicarakan. Tapi Faza benar benar merasa tidak tenang sekarang.
Zahra kembali menghampiri Faza dan berdiri tepat didepan suaminya. Zahra menatap tepat pada kedua mata Faza sesaat kemudian melengos. Rasanya Zahra tidak kuat jika memang apa yang Santoso katakan tentang Faza dan Siska itu benar.
“Tadi siang pak Santo kembali datang. Tapi aku mengusirnya dengan tegas. Tapi ada sesuatu yang dia katakan tentang kamu dan mantan sekretaris kamu mas.. Siska.”
Saat itu juga Faza merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak. Santoso benar benar mengatakan tentang dirinya dan Siska. Padahal Faza tidak pernah menunjukan gelagat apapun pada Siska saat didepan orang lain apa lagi Santoso yang jelas mereka tidak pernah saling bertatap muka bertiga.
“Aku tidak ingin berprasangka buruk sama kamu mas. Tapi entah kenapa aku merasa aku membutuhkan penjelasan dari kamu tentang Siska mas... Bisa kamu jelaskan itu?”
Faza terdiam. Faza memang sudah mempunyai niat untuk menjelaskan semuanya pada Zahra. Tapi tidak untuk saat ini. Tidak juga dengan perantara orang lain.
Faza mengerjapkan beberapa kali kedua matanya kemudian menunduk sebentar. Faza juga dengan jelas memperlihatkan kegugupan-nya didepan Zahra.
“Mas...”
Sebenarnya Zahra takut sekarang. Zahra takut apa yang Santoso katakan itu memang benar. Faza mendua dibelakangnya.
__ADS_1
“Zahra.. Aku dan Siska tidak pernah punya hubungan apa apa. Aku berani bersumpah demi Tuhan..” Ujar Faza mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Siska.
“Apa yang Santoso katakan tentang aku dan Siska tidak benar. Hubungan kami berdua murni hanya sebatas atasan dan bawahan saja dalam pekerjaan.”
Faza berhenti sejenak. Mungkin memang lebih baik dirinya mengatakan semuanya sekarang. Toh dirinya dan Siska memang tidak memiliki hubungan apapun selain hubungan kerja.
“Tapi memang aku pernah melakukan kesalahan sayang.. Aku minta maaf..”
Kedua mata Zahra sedikit melebar. Hatinya langsung berdenyut ngilu mendengar permintaan maaf yang terucap begitu lirih dan penuh sesal dari mulut suaminya.
“Apa maksud kamu mas?” Tanya Zahra dengan suara bergetar.
Faza menatap Zahra dan menggeleng pelan. Faza tau tatapan istrinya itu menyimpan luka yang begitu perih. Luka yang pasti akan semakin menganga jika Faza berterus terang akan kesalahan yang hampir saja Faza lakukan dalam hubungan mereka.
“Mas.. Katakan dengan jujur... Katakan semua yang selama ini tidak aku tau tentang kamu dan Siska..”
Suara Zahra mulai bergetar. Kedua matanya berkaca kaca menatap Faza yang masih diam dan terus menatapnya.
“Aku... Aku pernah mengagumi Siska diam diam. Aku bahkan pernah berpikir untuk mendua sayang.. Tapi kemudian aku sadar. Tuhan begitu sayang padaku.. Tuhan mencoba kesetiaanku namun langsung menegurku bahwa apa yang aku rasakan itu salah.. Tuhan menyadarkan bahwa yang aku cintai itu hanya kamu sayang.. Aku...”
“Sudah mas.. Sudah cukup.. Aku nggak mau dengar lagi..”
Zahra menggeleng dan menutup kedua telinganya tidak ingin mendengar lagi apa yang Faza katakan. Air mata sudah menganak sungai di kedua pipi chuby nya.
Sakit, itu yang Zahra rasakan sekarang. Tidak pernah sedikitpun terbesit dalam pikiran Zahra suaminya akan menyukai wanita lain bahkan sampai berpikir untuk menduakan-nya.
Melihat air mata membasahi wajah istrinya Faza pun ikut menangis. Faza juga tidak pernah menyangka kesetiaan yang selama bertahun tahun dia jaga bisa goyah hanya karena seorang Siska.
“Sayang aku minta maaf.. Aku tau aku salah.. Aku minta maaf.. Tolong jangan menangis..” Lirih Faza dengan suara bergetar.
Ketika Faza ingin meraih wajah Zahra dengan kedua tangan-nya Zahra langsung melangkah mundur menjauh dari Faza.
__ADS_1
“Zahra...”
“Aku kecewa sama kamu mas..” Lirihnya dengan suara bergetar.