PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 97


__ADS_3

Hubungan kedua orang tua Faza dan Fadly kembali membaik. Meskipun tidak ada ritual minta maaf yang biasanya menjadi pintu perdamaian setelah pertikaian. Sinta dan Akbar kembali akur dan bersikap seperti biasanya seolah tidak terjadi apa apa.


Fadly yang melihat itu merasa lega. Meskipun memang Sinta masih sedikit jutek padanya juga papahnya. Tapi bagi Fadly itu tidak masalah yang terpenting adalah mamahnya sudah kembali pulang kerumah.


Fadly sedang fokus dengan laptopnya saat mendengar pintu kamarnya digedor dengan begitu kuat. Fadly yang penasaran dengan sosok yang berada dibalik pintu yang dia kunci itu langsung bangkit dan mengesampingkan sejenak pekerjaan-nya.


Fadly melangkah menuju pintunya dan segera membukanya. Begitu pintu dia buka satu tamparan keras langsung mendarat di pipinya.


Fadly kaget dan sangat terkejut. Entah dimana letak kesalahan-nya sampai tiba tiba sang mamah melayangkan tamparan keras padanya.


“Mamah..” Fadly menatap tidak percaya pada mamahnya. Tangan-nya menyentuh pipinya yang memerah, terasa panas, juga sakit secara bersamaan. Ini kali pertama mamahnya berlaku kasar padanya.


“Beraninya kamu mengancam Loly Fadly..” Geram Sinta menatap marah pada Fadly.


Fadly menggelengkan kepalanya. Jadi kemarahan mamahnya karna Loly.


“Asal kamu tau Fadly. Bagi mamah perempuan yang pantas mendampingi Faza hanya Loly. Bukan perempuan tidak jelas itu. Loly itu jelas asal usulnya. Jelas keluarganya.”


Fadly menelan ludahnya. Entah kenapa mamahnya begitu menginginkan Loly yang menjadi istri Faza. Padahal jika dipikir secara logika kalau memang Sinta menginginkan Loly menjadi menantunya, Sinta bisa menikahkan Fadly yang jelas masih sendiri dengan Loly. Bukan Faza yang sudah beristri.


“Mamah nampar aku cuma gara gara Loly?” Tanya Fadly lirih.


“Itu karna kamu sudah berani kurang ajar sama perempuan. Mamah tidak pernah mengajarkan kamu berbuat seperti itu Fadly.” Sinta menjawab dengan kedua mata menatap tajam pada Fadly. Dadanya kembang kempis pertanda amarahnya benar benar sedang memuncak.


“Memang apa yang salah mah.. Aku mengatakan yang sebenarnya. Kak Faza sudah menikah dan tidak seharusnya Loly terus merecoki hubungan kak Faza dengan Zahra.” Balas Fadly berani.


“Tapi bukan berarti kamu melakukan perbuatan bejat seperti itu Fadly. Kamu mencoba menyentuh Loly dan itu sangat membuat Loly ketakutan. Bagaimana kalau sampai kedua orang tua Loly tau hah?!” Bentak Sinta di akhir kalimatnya.


Fadly mengeryit tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh mamahnya. Fadly memang hampir saja membuat Loly celaka dan Fadly juga memperingatinya. Tapi Fadly sama sekali tidak menyentuh Loly. Fadly bahkan enggan terlalu dekat dengan Loly yang menurutnya sangat tidak pantas untuk menjadi pendamping kakaknya itu.


“Maksud mamah apa?” Tanyanya bingung.

__ADS_1


“Kamu Fadly.. Kamu mencoba memperkosa Loly kan? Kamu pikir mamah nggak tau hah?! Loly sudah menceritakan semuanya sama mamah !!”


Mulut Fadly terbuka. Fadly tidak menyangka Loly akan mengadukan sesuatu yang sama sekali tidak Fadly lakukan padanya ke Sinta.


“Mah aku...”


“Diam kamu Fadly !!” Sentak Sinta menyela apa yang ingin Fadly katakan.


“Jangan berani berani kamu membela diri setelah apa yang kamu lakukan.” Katanya tajam.


Fadly menggelengkan kepalanya. Fadly tidak menyangka Sinta bahkan lebih mempercayai Loly ketimbang dirinya yang jelas jelas adalah anaknya sendiri.


“Mamah selalu mengajarkan kamu untuk menghormati perempuan.”


Fadly mengepalkan tangan-nya. Loly benar benar sangat keterlaluan. Loly mencoba mengadu domba antara dirinya dan Sinta, mamahnya.


Akbar yang mendengar suara teriakan Sinta beberapa kali dari lantai dua bergegas keluar dari ruang kerjanya. Pria itu menaiki anak tangga satu persatu dengan berlari.


“Ada apa ini?!” Tanya nya saat melihat Sinta dan Fadly sedang berhadapan.


Sedangkan Sinta, dengan mata berkaca kaca wanita itu menatap suaminya. Sinta sangat terpukul sebenarnya dengan apa yang Loly ceritakan sambil menangis lewat sambungan telepon tadi. Sinta tidak menyangka putranya bisa berbuat seperti itu pada seorang perempuan bahkan sampai mencoba memperkosa Loly.


“Mah.. Kenapa kamu teriak teriak? Ini sudah malam..”


Air mata Sinta jatuh menetes namun dengan cepat Sinta langsung menyekanya.


“Kamu tanya sendiri sama anak kamu pah.” Katanya dengan suara bergetar kemudian berlalu dari depan kamar Fadly.


Akbar yang tidak tau menau tentang apa yang terjadi sebenarnya perlahan mendekat pada Fadly. Akbar menatap putra keduanya yang hanya diam saja.


Akbar mengeryit ketika mendapati pipi sebelah kanan Fadly memerah. Dari situ Akbar langsung bisa menebak bahwa pipi memerah Fadly pasti karna perbuatan istrinya.

__ADS_1


Akbar menghela napas. Akbar tidak bisa menyalahkan perbuatan istrinya begitu saja karna Akbar tidak tau masalah apa yang membuat istrinya sampai berbuat kasar pada putranya sendiri.


“Papah juga mau nyalahin aku? Papah juga nggak percaya sama aku?”


Akbar tersenyum. Pria itu kemudian menepuk pelan pundak Fadly sebagai kode kebanggaan-nya pada putra bungsunya itu.


“Papah percaya sama anak papah. Papah tau kamu adalah laki laki yang baik.” Katanya.


Fadly menghela napas. Saat ini Sinta sedang sangat marah. Menjelaskan apapun juga tidak akan ada gunanya. Sinta akan tetap marah dan menganggapnya salah.


“Lebih baik sekarang kamu kompres pipi kamu. Biar papah yang ngomong pelan pelan sama mamah.”


“Ya pah..” Angguk Fadly.


Akbar menepuk pelan bahu Fadly kemudian berlalu menyusul Sinta menuju kamar mereka.


Ketika masuk kedalam kamar, Akbar mendapati Sinta yang sedang menangis terisak sambil menatap tangan-nya sendiri. Tangisan Sinta terdengar begitu pilu seperti sedang menyesali sesuatu.


Akbar menghela napas pelan kemudian mendekat dengan pelan pada istrinya itu.


“Mah...” Panggil Akbar pelan.


Sinta enggan menoleh karena terus menangis terisak. Sinta ingin tidak percaya sebenarnya. Tapi mendengar isakan Loly lewat sambungan telepon membuat Sinta akhirnya percaya. Ditambah Sinta yang sudah begitu yakin dan mempercayai Loly.


“Mamah bisa cerita sama papah kalau ada masalah. Apa lagi kalau masalah itu disebabkan oleh anak kita...” Ujar Akbar mendudukkan dirinya disamping Sinta.


Sinta menggelengkan kepalanya. Wanita itu menoleh kemudian langsung berhambur memeluk Akbar. Sinta sudah berusaha sebaik mungkin mendidik kedua putranya. Sinta tidak menyangka jika Fadly yang begitu manis dan penurut sampai berani melakukan perbuatan tidak terpuji pada Loly.


“Mamah cerita pelan pelan sama papah yah..” Bisik Akbar sambil mengusap lembut punggung bergetar Sinta.


Pelan pelan Sinta menceritakan semuanya. Meskipun dengan terisak namun Sinta mampu menceritakan semua yang Loly adukan padanya tadi lewat sambungan telepon.

__ADS_1


Akbar yang mendengar itu berdecak pelan dan menggelengkan kepalanya. Akbar tidak menyangka jika Loly akan mengadukan sesuatu yang sangat tidak mungkin Fadly lakukan padanya.


“Papah tau bagaimana Fadly mah.. Papah yakin ini semua hanya sebuah kesalah pahaman..” Ujar Akbar pelan. Akbar percaya pada putranya sendiri. Akbar tau bagaimana lembut dan menghargainya Fadly pada wanita.


__ADS_2