
Tidak bisa tidur semalaman bukan hanya dirasakan oleh Loly. Tapi juga si tersangka Fadly yang membuat pria yang sedang mendekati Loly langsung mundur.
Pria itu benar benar tidak habis pikir dengan apa yang sudah dia lakukan. Fadly merasa bodoh, merasa konyol. Tapi Fadly juga merasa puas karena berhasil menjauhkan Loly dari pria yang entah kenapa Fadly anggap sebagai pria brengsek itu. Padahal pada kenyataan-nya Fadly sama sekali tidak tau menahu siapa pria yang sedang mencoba mendekati Loly itu.
Fadly menutup mulutnya dengan punggung tangan-nya ketika menguap. Di pagi menjelang siang ini sudah berkali kali Fadly menguap. Dan itu karna semalaman dirinya tidak bisa tidur.
“Ya Tuhan... Ngantuk sekali..” Gumam Fadly menghela napas.
Fadly kemudian menutup map dimana didalam map tersebut terdapat berkas yang harus Fadly baca. Tapi karena mengantuk dan tidak bisa berkonsentrasi Fadly pun memilih untuk menunda membaca berkas didalam map itu.
Fadly meraih secangkir kopi yang sudah tidak lagi mengepulkan asap diatasnya. Kopi tersebut dibuat sudah dari setengah jam yang lalu dan sesekali Fadly seruput sedikit namun tidak juga berhasil menghilangkan rasa kantuk akibat begadang semalaman-nya.
Fadly berdecak kemudian menaruh kembali secangkir kopi itu diatas mejanya. Fadly benar benar masih tidak menyangka dengan apa yang dilakukan-nya semalam. Fadly membuat pria yang sedang bersama Loly pergi dengan tenang karena akuan Fadly pada Loly sebagai kekasih. Ajaibnya setelah melakukan itu hati Fadly merasa menang. Fadly juga merasa senang karna berhasil menjauhkan Loly dari pria itu.
“Sudahlah Fadly.. Tidak perlu dipikirkan lagi.. Apa yang kamu lakukan sudah benar. Pria brengsek itu tidak pantas untuk Loly..” Gumam Fadly sembari memijat pelan pangkal hidung mancungnya.
Merasa sedikit rileks setelah berkata demikian pada dirinya sendiri, Fadly pun perlahan menutup kedua matanya. Pelan pelan Fadly pun mulai nyenyak dengan kedua mata terpejam rapat serta punggung yang bersender pada senderan sofa panjang tempat dirinya sekarang duduk.
Namun belum 10 menit Fadly berada dalam mimpi indahnya suara pintu yang dibuka dengan sangat keras membuatnya tersentak dan kaget. Fadly menoleh kearah pintu dengan menguap. Disana sudah ada Loly dengan kaca mata hitamnya yang berdiri menghadapnya dengan kedua tangan mengepal seperti orang yang sedang menahan amarah.
“Sshh.. Ngapain dia kesini pagi pagi..” Gumam Fadly menahan kesal.
Fadly memejamkan lagi kedua matanya enggan meladeni Loly. Fadly benar benar sedang ingin mengistirahatkan tubuh juga pikiran-nya sekarang. Dan Fadly, dia sama sekali tidak ingin diganggu oleh siapapun termasuk Loly.
Loly yang melihat Fadly dengan santai memejamkan kedua matanya semakin terbakar emosi. Kali ini Loly benar benar tidak bisa lagi menahan diri. Fadly sudah membuat hubungan pekerjaan-nya dengan Indra putus. Ya, karena apa yang Fadly lakukan semalam, Indra tiba tiba memutuskan ikatan pekerjaan-nya dengan Loly begitu saja. Loly memang tidak rugi, tapi Loly merasa sangat tidak enak hati pada pria itu. Apa lagi Indra juga sudah sangat baik dengan-nya.
Dengan langkah lebar Loly mendekat pada Fadly. Emosinya semakin memuncak karna melihat Fadly yang tampak tidak merespon kedatangan-nya.
Loly melirik cangkir berisi kopi hitam yang ada dimeja didepan sofa yang sedang diduduki Fadly. Sekarang Loly tau kenapa para bawahan Fadly tidak mengizinkan-nya masuk. Tentu saja karna Fadly yang ingin bersantai ria dan tidur diwaktu kerjanya.
Karena tidak bisa menahan kekesalan-nya, Loly pun meraih kopi tersebut dan dengan meraih bibir Fadly membukanya dengan paksa kemudian menuang setengah cangkir kopi tersebut dengan paksa kedalam mulut Fadly.
__ADS_1
Dan apa yang Loly lakukan berhasil membuat Fadly bangun. Kesadaran-nya bahkan langsung terkumpul begitu saja karena apa yang dengan paksa Loly lakukan padanya.
“Bangun kamu brengsek !!” Amuk Loly melepas begitu saja cangkir yang dipegangnya sehingga jatuh dan tepat mengenai bagian sensitif tubuh Fadly.
Fadly sedikit meringis. Cangkir itu cukup berat dan cukup membuat miliknya terasa nyeri karena timpaan benda yang terbuat dari keramik itu.
“Apa apaan kamu Loly?!” Fadly mendelik kesal. Pria itu langsung menegakkan tubuhnya namun masih dengan posisi duduk diatas sofa.
“Kamu yang apa apaan Fadly. Jangan kamu pikir aku diam karena aku tidak berani ya sama kamu. Kamu tau apa yang kamu lakukan semalam itu sudah sangat keterlaluan. Kamu membuat Indra menjauhiku. Bahkan sekarang Indra memutuskan kerja sama dengan perusahaanku !!”
Fadly tertawa sinis kemudian bangkit dari duduknya. Fadly berdiri menjulang tepat didepan Loly yang terus saja mengangkat dagu dengan berani menantangnya.
“Jadi namanya Indra?” Tanya Fadly santai.
Fadly kemudian menghela napas. Fadly bukan pria bodoh. Fadly tau jelas apa yang Indra mau dari Loly. Dan menjalin kerja sama antar perusahaan hanya jembatan yang Indra bangun untuk bisa terus dekat dengan Loly.
“Baguslah kalau memang kerja sama antar perusahaan kalian terputus. Aku sangat senang.”
Rahang Fadly mengeras. Bukan karena keberanian Loly Fadly marah. Tapi karena alasan Loly datang padanya untuk Indra. Dan itu benar benar membuat emosi Fadly langsung memuncak.
“Dengar Loly.. Aku nggak akan biarin kamu bahagia dengan laki laki manapun.” Tekan Fadly menarik tangan Loly hingga wajah mereka semakin dekat.
Loly menggeleng tidak percaya. Loly sudah menduga, Fadly melakukan-nya pasti karna Fadly membencinya.
“Kamu memang brengsek Fadly.” Geram Loly dengan napas memburu.
Tidak terima dengan apa yang Loly katakan Fadly pun menghempaskan tangan Loly sehingga tubuh Loly terbanting ke sofa. Dan ketika Loly hendak bangkit, Fadly langsung mengurung tubuh Loly dengan melingkupinya.
Loly menelan ludahnya. Mendadak keberanian-nya menghilang. Tatapan Fadly sangat tajam padanya.
“Jangan macam macam kamu Fadly..” Lirih Loly berusaha untuk tetap terlihat berani dibawah tubuh Fadly.
__ADS_1
Fadly tersenyum sinis. Fadly tau Loly sedang ketakutan sekarang. Dan Fadly merasa sangat terhibur dengan ekspresi ketakutan Loly saat ini.
“Kenapa? kamu takut? Bukankah dengan Indra kamu sudah biasa melakukan-nya?”
Kedua mata Loly membulat mendengarnya. Loly merasa sangat direndahkan sekarang.
“Kamu nempel sana sini Loly. Aku yakin kamu sudah biasa keluar masuk kamar dengan laki laki bukan?”
Fadly semakin gencar merendahkan Loly. Meskipun sebenarnya Fadly sendiri merasa emosi dengan apa yang dikatakan-nya pada Loly. Tentu saja, melihat Loly jalan bersama pria lain saja Fadly merasa panas, apa lagi jika harus membayangkan Loly bersama pria lain didalam kamar.
Karena hinaan itu Loly menangis. Loly benar benar tidak berdaya sekarang. Fadly mengurung tubuhnya disofa dan Fadly juga merendahkan martabatnya sebagai wanita yang selalu menjunjung tinggi kehormatan-nya.
Loly memang pernah berpikir ingin melakukan itu dulu dengan Faza, bahkan Loly sampai membubuhkan obat perangsang pada minuman Faza dulu. Tapi semua itu tidak sampai terjadi karena mungkin Tuhan memang masih menyayangi Loly sehingga Loly terhindar dari perbuatan tidak pantas itu. Tapi selain itu, Loly tidak pernah melakukan sesuatu yang lebih dengan pria lain.
Fadly terkejut melihat Loly yang menangis. Loly bahkan tidak berani lagi membalas tatapan-nya.
“Memangnya seburuk itu aku dimata kamu Fadly?” Tanya Loly dengan isak tangisnya.
Fadly tidak bisa menjawab.
Ya, Fadly merasa bersalah sekarang.
“Aku akui aku memang dulu sangat jahat. Tapi aku bukan perempuan seperti itu Fadly. Aku tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Aku minta maaf kalau aku banyak salah sama aku.. Tapi tolong jangan menghinaku, jangan merendahkan harkat dan martabatku sebagai perempuan. Aku sekalipun tidak pernah melakukan seperti apa yang kamu tuduhkan itu. Aku selalu berusaha menjaga kehormatanku Fadly.. Tolong hargai itu.” Ucap Loly panjang lebar yang tentu saja dilontarkan dengan suara sesekali tersendat karena isak tangisnya.
Fadly menelan ludahnya. Hati Fadly mendadak melunak, emosinya langsung padam seketika mendengar apa yang Loly katakan dalam tangisnya. Fadly sadar, apa yang dikatakan-nya memang sangat keterlaluan.
Fadly menggerakkan tangan-nya mendaratkan-nya dengan lembut di pipi tirus Loly. Fadly mengusap air mata Loly dengan sangat lembut.
Fadly tidak bisa berkata apa apa sekarang. Melihat Loly menangis membuatnya merasa sangat bersalah.
Fadly kemudian memeluk Loly yang terus menangis dengan posisi Loly yang terus berada dibawah tubuhnya. Fadly menyesal karna melontarkan kata tidak pantas pada Loly.
__ADS_1