PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 57


__ADS_3

Zahra dengan semangat mengemasi baju bajunya dan memasukan-nya kedalam koper. Ucapan Aris saat dirinya datang untuk meminta pendapat ikut Faza tinggal dirumah kedua orang tuanya membuat Zahra semakin yakin bahwa dirinya bisa menghadapi semua permasalahan dengan tenang.


Sedangkan Faza, pria itu semakin merasa tidak tenang. Membiarkan Zahra satu atap dengan mamahnya sama saja menjerumuskan Zahra kedalam jurang kesengsaraan.


Selesai mengemasi barang barangnya juga barang barang milik Faza, Zahra pun mendekat pada Faza yang duduk ditepi ranjang dalam diam.


“Mas...”


“Aku masih nggak yakin Ra...” Lirih Faza merasa bimbang.


Zahra tertawa pelan. Zahra menangkup kedua pipi tirus suaminya dengan sangat gemas.


“Demi restu mamah sama papah mas.. Kita harus berusaha.”


“Tapi masih banyak cara lain Ra... Aku nggak mau kamu sampai sakit hati karna mamah. Begitu juga sebaliknya.”


Zahra tersenyum.


“Mungkin ini adalah awal perjuangan cinta kita yang sesungguhnya mas. Senjata kita hanya ada dua. Yaitu keyakinan dan kepercayaan.”


Faza menghela napas dan berdecak pelan. Zahra memang sangat keras kepala.


”Mas ayolah.. Kak Aris saja setuju kok. Masa kamu masih enggak mau. Harusnya kamu senang dong bisa kembali tinggal bareng mamah papah kamu. Sama Fadly juga.”


Faza menatap wajah Zahra yang sejajar dengan wajahnya karna posisi Zahra yang berdiri sedang dirinya duduk ditepi ranjang.


“Aku takut kamu kenapa napa Zahra. Aku juga yakin kamu tidak akan betah disana. Mamah belum bisa menerima kamu.. Mamah pasti akan terus menekan kamu..”


“Itu kamu sudah tau bagaimana mamah kamu. Jadi kalau misalnya mamah kamu nuduh aku yang enggak enggak kamu jangan percaya. Kamu harus percaya sama aku.”


Faza berdecak merasa sangat frustasi. Istrinya benar benar sangat keras kepala sekarang. Zahra tidak mau mendengarkan-nya.


“Mas... Kita berjuang sama sama yah.. Terima segala apapun yang ada pada diri kita. Baik itu kekurangan ataupun kelebihan kita.”


Zahra mengusap lembut pipi tirus Faza membuat Faza memejamkan kedua matanya merasakan lembut sentuhan tangan Zahra.


“Sekarang lebih baik kamu telpon mamah. Kasih tau mamah kita setuju untuk tinggal disana.”


Faza tidak bisa lagi menolak ataupun beralasan sekarang. Zahra sudah benar benar bertekad dan Faza tidak bisa mengubah cara pikirnya.


“Tapi kamu harus janji ya.. Kalau kamu nggak betah disana kamu harus kasih tau aku. Oke?”


“Oke oke.. Aku mengerti mas Fazaku..”


Faza kemudian merogoh saku celana pendek selututnya dan mulai menghubungi sang mamah yang tidak lama kemudian langsung mendapat respon.

__ADS_1


“Halo mah...”


Faza melirik Zahra yang terus tersenyum didepan-nya ketika Faza mulai berbicara dengan Sinta lewat sambungan telepon.


“Ayo bicara.. Ayo sayangku...” Bisik Zahra menyemangati suaminya yang tampak malas untuk berbicara.


Faza memutar jengah kedua bola matanya karna tingkah berlebihan istrinya itu.


“Bagaimana Faza? Kamu sudah berubah pikiran?” Tanya Sinta dengan santai.


“Tinggal kembali bersama mamah papah dengan membawa serta istri kamu bukankah itu sebuah penghormatan untuk kamu? Papah sama mamah belum bisa menerima istri kamu tapi kami berdua mengalah dan mengizinkan kamu untuk membawa istri kamu tinggal disini.”


Faza menelan ludahnya mendengar apa yang mamahnya katakan.


“Ya Tuhan... andai saja tabunganku sudah cukup, aku akan membeli sendiri rumah untuk tempat tinggal kami berdua.” Batin Faza merasa sangat miris dengan nasibnya kali ini.


Sentuhan tangan Zahra membuat Faza kembali menatap padanya. Faza menghela napas pelan sebelum menjawab mamahnya.


“Aku sudah membicarakan-nya dengan Zahra mah..”


“Lalu?”


Faza menghela napas sekali lagi. lidahnya terasa kelu saat hendak menjawab pertanyaan mamahnya.


“Kami berdua setuju. Dan besok kami akan datang.” Jawab Faza.


“Tidak perlu berlebihan mah..” Kata Faza pelan.


“Sama sekali tidak berlebihan sayang. Mamah tunggu kedatangan kalian.”


Mamah Faza menutup telpon setelah berkata. Wanita itu kentara sekali sangat bahagia mendengar keputusan Faza dan Zahra yang setuju untuk tinggal bersamanya.


“Jadi kita akan pindah besok pagi?” Tanya Zahra antusias.


Faza menganggukan kepalanya dengan senyuman tipis dibibirnya. Faza berharap keputusan Zahra kali ini tidak salah. Faza juga berharap masalah apapun yang akan mereka hadapi kedepan-nya tidak akan mengganggu keharmonisan hubungan mereka.


“Kita sama sama berusaha ya mas...” Senyum Zahra yang mendapat sekali lagi anggukan dari Faza.


Zahra masuk kedalam pelukan Faza. Zahra tau semuanya memang tidak akan mudah. Apa lagi setelah melihat sendiri bagaimana judesnya Sinta padanya.


“Tuhan... Permudahkan niat baik kami untuk mendapat restu mamah dan papahnya mas Faza..” Batin Zahra memejamkan kedua matanya dalam pelukan Faza.


-------


Paginya.

__ADS_1


Setelah sarapan Faza segera menelpon Fadly yang dengan senang hati mau menjemputnya. Awalnya Fadly tidak tau menahu tentang keputusan Faza dan Zahra yang akan tinggal bersama kedua orang tuanya mulai hari ini.


“Kakak yakin dengan keputusan kakak kali ini?” Tanya Fadly sambil mengemudikan mobilnya.


Zahra yang berada dikursi belakang hanya diam saja. Zahra yakin seyakin yakin-nya bahwa dirinya bisa menghadapi apapun rintangan hubungan-nya dengan Faza.


“Yakin nggak yakin sih sebenarnya. Tapi kalau memang dengan cara begini mamah bisa lebih baik mengenal Zahra tidak ada salahnya kan dicoba?”


Fadly menganggukan kepalanya setuju dengan apa yang kakaknya katakan.


“Kakak nggak perlu khawatir. Disana ada bibi yang bisa membantu menjaga Zahra dari mamah ataupun Loly.”


Faza tertawa mendengarnya.


“Jangan konyol. Bibi pasti tidak mau kehilangan pekerjaan-nya.”


“Tapi kan paling tidak ada yang bisa menemani Zahra nantinya kak. Aku yakin kok bibi nggak keberatan buat bantu jagain Zahra.”


Faza tersenyum. Faza juga berharap demikian.


“Ya, semoga saja ya..”


Tidak lama kemudian mobil Fadly sampai tepat didepan gerbang yang sudah dibuka oleh pak Umar yang begitu sigap membukakan pintu gerbang padahal Fadly belum membunyikan klakson.


Kedatangan Faza dan Zahra disambut dengan sumringah oleh Sinta dan Loly yang entah datang sejak kapan. Padahal saat Fadly hendak menjemput kakaknya itu Loly belum ada disana.


“Huh.. Dia lagi.” Gumam Faza kesal.


Faza, Zahra, juga Fadly turun dari mobil dan melangkah mendekat pada Sinta dan Loly yang berdiri didepan pintu utama.


“Mah...” Faza menyalimi Sinta yang diikuti oleh Zahra.


“Hai mas... Hai Zahra.. Selamat datang kembali dirumah ini..”


Loly berkata dengan sangat sumringah. Wanita cantik dengan dress mini itu tersenyum begitu manis pada Faza juga Zahra yang hanya tersenyum tipis menanggapinya.


Sedang Fadly, pria itu merasa sangat jengah dengan sikap Loly yang selalu saja cari muka didepan mamahnya.


“Faza, Zahra, ayo masuk. Mamah dan Loly sudah siapkan kejutan untuk kalian.” Ujar Sinta.


Faza dan Zahra saling menatap kemudian saling melempar senyum dan menganggukan kepalanya dengan kompak.


“Iya mah...”


Faza meraih tangan Zahra menggandengnya dan masuk kedalam rumah mengikuti Sinta dan Loly yang terlihat sangat kompak itu.

__ADS_1


“Oke Zahra.. Semuanya sudah dimulai. Kamu pasti bisa.” Batin Zahra sembari melangkah disamping Faza.


__ADS_2