PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 190


__ADS_3

Sinta sedang membaca majalah diteras samping rumah saat tiba tiba ponselnya berdering. Sinta menutup majalah yang sedang dibacanya kemudian meraih ponselnya yang berada diatas meja didepan-nya.


Sinta berdecak ketika mendapati kontak suaminya. Dari semalam suaminya memang pergi tanpa mengatakan apapun padanya. Akbar bahkan pergi saat malam sudah larut dan sama sekali tidak mengganti piyamanya. Akbar hanya mengenakan jaket saja. Itu pun Sinta tau dari bibi dan pak Umar.


“Ada apa pah?” Tanya Sinta malas.


“Kamu dimana mah?” Tanya balik Akbar dari seberang telepon.


Sinta tertawa mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh suaminya.


“Harusnya mamah yang nanya papah dimana sekarang.” Kesal Sinta dengan tangan mengepal erat.


Helaan napas terdengar dari seberang telepon.


“Papah dirumah sakit sekarang mah.. Cucu kita sudah lahir.”


Sinta mengeryit.


“Cucu kita? Apa maksudnya?” Tanya Sinta bingung.


Akbar tertawa.


“Mamah ini masa nggak ngerti maksud papah sih? Cucu kita sudah lahir. Zahra sudah melahirkan mah.. Baru dua jam. Cucu kita sangat tampan. Sama persis seperti Faza dulu. Dia gendut dan sangat menggemaskan.”


Sinta memejamkan kedua matanya. Suaminya terdengar sangat bersemangat saat menceritakan tentang kelahiran cucu pertamanya. Jika saja yang menjadi ibu dari cucunya adalah Loly mungkin Sinta akan sangat bahagia menyambut kelahiran cucu pertamanya itu. Tapi karena Zahra yang menjadi ibu dari cucunya itu membuat Sinta bahkan merasa enggan.


“Mamah kesini ya sekarang. Papah akan kirim alamatnya ke mamah.” Lanjut Akbar masih dengan riangnya.


Sinta memutar jengah kedua bola matanya. Malas sebenarnya jika harus keluar rumah. Tapi bagaimanapun juga yang Zahra lahirkan adalah anak dari putra sulungnya, Faza.


“Hemm..” Saut Sinta tidak semangat.


“Ya udah mamah hati hati ya dijalan. Papah tunggu didepan rumah sakit.”

__ADS_1


Sinta enggan menjawab dan lebih memilih untuk mengakhiri sambungan telepon dengan suaminya. Sinta senang sebenarnya karna kini dirinya sudah menjadi seorang oma. Dirinya sudah memiliki cucu dari putra pertamanya Faza.


Sinta menghela napas. Setidak suka apapun dirinya pada Zahra, anak yang Zahra lahirkan tetaplah cucunya. Dan Sinta tidak bisa membuang cucunya itu.


Sinta kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah masuk kedalam rumah untuk bersiap siap pergi kerumah sakit. Sinta mungkin tidak akan bisa menerima Zahra sampai kapanpun. Tapi cucunya adalah bagian dari keluarganya. Cucunya adalah darah daging dari putranya sendiri.


“Nyonya..”


“Eemm.. bi, saya mau kerumah sakit. Zahra melahirkan.” Ujar Sinta saat berpapasan dengan bibi yang berniat menanyakan Sinta ingin memakan apa siang ini.


“Ya Tuhan.. Nona Zahra sudah melahirkan nyonya? Syukurlah kalau begitu. Kalau boleh saya tau laki laki atau perempuan nyonya bayinya.”


Sinta menatap kesal pada bibi yang merasa ikut bahagia dengan kabar Zahra yang melahirkan putra pertamanya.


“Laki laki.” Jawab Sinta kemudian berlalu meninggalkan bibi yang tersenyum dan memanjatkan rasa syukur penuh rasa bahagia atas lahirnya putra pertama Zahra dan Faza.


Sinta melangkah menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai dua dimana kamarnya berada. Sinta tidak ingin suaminya marah karna menganggap Sinta tidak mementingkan kelahiran cucu pertamanya.


Sinta memilih memesan taksi dari pada harus mengendarai mobil sendiri. Sinta benar benar sedang bad mood sekarang.


 -------------


“Mas... Aku ragu mamah mau datang kesini..” Ujar Zahra sambil menatap putranya yang sedang begitu kuat menyusu padanya sambil memejamkan kedua matanya.


Faza menghela napas. Faza sendiri tidak bisa memastikan apakah mamahnya mau datang atau tidak kerumah sakit. Tapi Faza sangat berharap mamahnya mau datang untuk melihat putranya yang sudah lahir.


“Mamah pasti dateng kok sayang.. Apa lagi putra kita adalah cucu pertamanya. Perlu kamu tau, mamah sangat menyukai anak kecil.” Senyum Faza menatap Zahra yang juga sedang menatapnya.


Zahra menelan ludah. Zahra sendiri tau bagaimana tidak sukanya Sinta pada dirinya. Tapi jauh dalam lubuk hatinya Zahra tidak pernah berhenti berharap suatu saat nanti Sinta bisa menerima dan menyayanginya layaknya menantu pada umumnya.


“Ya mas...” Angguk Zahra tersenyum tipis.


Zahra kembali menatap putranya. Zahra masih bisa memaklumi jika Sinta tidak menyukainya. Tapi jika sampai Sinta juga tidak bisa menerima keberadaan putranya Zahra benar benar tidak bisa menerimanya.

__ADS_1


Suara pintu yang dibuka oleh Akbar membuat Faza dan Zahra meluruskan pandangan-nya. Dan tepat dibelakang Faza berdiri Sinta yang datang dengan tangan kosong serta ekspresi yang begitu datar.


“Mamah...” Faza perlahan tersenyum begitu mendapati sosok Sinta yang datang dengan Akbar yang memimpin didepan-nya.


Sinta hanya diam saja. Wanita itu kemudian melangkah mendekat pada Zahra dan Faza yang duduk diatas brankar Zahra.


“Mah...” Faza langsung menyalimi mamahnya dengan senyuman bahagia dan bangganya.


“Anak aku sudah lahir mah.. Dia begitu sehat dan lucu..”


Sinta tersenyum samar samar. Dengan lembut Sinta membelai pipi tirus putra sulungnya itu.


“Selamat ya nak... Semoga kamu bisa menjadi orang tua yang baik..” Kata Sinta lembut.


“Ya mah.. Faza akan sangat berusaha untuk menjadi orang tua yang baik untuk anak Faza dan Zahra.”


Zahra tersenyum melihat kedekatan antara suami dan mamah mertuanya. Zahra mulai ber andai andai. Andai saja dirinya adalah Loly mungkin sekarang Sinta sedang memeluknya dengan erat. Sinta juga sekarang pasti sedang membangga banggakan-nya karna berhasil melahirkan cucu pertama Sinta dan Akbar dalam kondisi yang tidak kurang satu apapun.


Sinta beralih memusatkan perhatian-nya pada Zahra. Senyumnya yang tadi terlihat begitu tulus dan penuh perhatian pada Faza kini sirna begitu pandangan-nya bertemu dengan Zahra. Sinta menatap Zahra dengan tatapan datar.


“Boleh mamah gendong cucu mamah?” Tanya nya pada Zahra.


“Ya mah.. Tentu saja..” Senyum Zahra menganggukan kepalanya.


Zahra kemudian memberikan putranya pada Sinta yang langsung tersenyum begitu menatap wajah tampan cucu pertamanya. Sinta tidak bisa bohong. Sinta bahagia karna sudah memiliki cucu. Meskipun semuanya memang tidak sesuai dengan harapan Sinta, namun anak Faza tetaplah cucunya. Cucu yang akan sangat Sinta sayangi, tidak perduli siapa ibunya.


“Papah benar. Dia sangat mirip dengan kamu waktu kecil Faza.. Bahkan jika dijajarkan dengan photo kamu waktu baru lahir dulu pasti kelihatan seperti kembar.” Senyum Sinta berkata pada Faza.


Faza tertawa renyah. Hampir keseluruhan rupa wajah tampan putranya memang persis seperti dirinya.


“Tapi ada sedikit perbedaan.. Bibirnya tidak sama seperti bibir kamu..” Lanjut Sinta.


Zahra hanya bisa tersenyum dan menghela napas. Bahkan setelah perjuangan-nya melahirkan cucu pertama untuk Sinta, Sinta tetap saja tidak mau menganggapnya sebagai bagian dari keluarga. Sinta bahkan mengabaikan-nya sekarang. Parahnya lagi Faza bahkan tidak menyadari hal tersebut.

__ADS_1


__ADS_2