PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 224


__ADS_3

Sorenya Faza menuruti perintah Zahra. Pria itu juga mampir ke toko bunga sebentar untuk membeli sebuket bunga mawar kesukaan mamahnya, Sinta.


Meskipun saat terakhir bertemu mereka sempat berdebat karena Santoso, tapi Faza berharap kedatangan-nya sore ini disambut baik oleh mamahnya.


Selain membawa sebuket bunga kesukaan mamahnya Faza juga tidak lupa membelikan buah tangan yang lain seperti yang disarankan oleh istrinya semalam. Faza juga berharap mamahnya mau menerima hadiah pemberian darinya.


Faza membunyikan klakson mobilnya begitu sampai didepan gerbang kediaman kedua orang tuanya.


Faza menghela napas. Dalam hatinya Faza terus memanjatkan do'a agar sang mamah sudah tidak lagi marah padanya.


Tidak lama pak Umar pun membuka lebar lebar pintu gerbang agar mobil Faza dapat masuk kedalam pekarangan luas rumah tersebut.


Sekali lagi Faza menghela napas. Jujur Faza sangat khawatir kedatangan-nya justru akan membuat sang mamah semakin marah padanya.


Dengan pelan Faza melajukan mobilnya masuk dan berhenti tepat dihalaman depan rumah kedua orang tuanya.


Faza meraih paperbag berukuran sedang berisi tas berharga kesukaan mamahnya juga sebuket bunga mawar yang di bopongnya kemudian turun dari mobil mewahnya.


Faza tersenyum ketika melihat bibi yang sedang menyapu teras depan rumah kedua orang tuanya dan Faza pun menghampirinya.


“Bibi..” Sapa Faza tersenyum manis.


“Eh.. Aden...”


Bibi berhenti menyapu dan ikut tersenyum menatap Faza yang sudah berdiri didepan-nya.


“Eemm.. Mamah ada kan bi?” Tanya Faza pelan.


“Ada den.. Ada tuan juga dirumah..”


Faza mengangguk mengerti.


“Ya sudah kalau begitu saya langsung masuk saja ya bi..”


“Oh iya den.. Silahkan..”


Faza melangkah masuk kedalam rumah. Sedangkan bibi, wanita tua itu melanjutkan menyapunya dan sedikit mempercepatnya karna harus membuatkan minuman untuk anak dari majikan-nya itu.


Faza mencari mamahnya ke setiap sudut rumah dilantai bawah dan baru menemukan-nya di teras samping rumah yang memang menjadi tempat favorit sang mamah saat sedang membaca majalah.

__ADS_1


“Mamah...” Panggil Faza pelan.


Sinta diam sebentar. Wanita itu perlahan menoleh dan mengangkat kepalanya menatap Faza yang sudah berdiri di depan pintu kaca dengan membawa sebuket buka kesukaan-nya juga paperbag berukuran sedang yang ditentengnya.


“Faza.. Kamu datang nak..” Sinta langsung menyunggingkan senyuman dibibirnya. Sinta selalu merasa sangat bahagia jika melihat sosok tampan putra sulungnya mengunjunginya.


“Ya mah...” Angguk Faza tersenyum kemudian segera menyalimi Sinta.


Faza meletakan paperbag dan bunga yang dibawanya di kursi panjang samping Sinta kemudian berlutut didepan Sinta dan berhambur memeluk erat wanita yang sudah melahirkan-nya itu.


“Faza kangen banget sama mamah..” Ujar Faza dibalik punggung Sinta.


Sinta tersenyum dan mengangguk mendengarnya. Sinta percaya putranya merindukan-nya. Karena sesungguhnya Sinta juga sangat merindukan putra pertamanya itu.


“Iya sayang.. Mamah juga kangen banget sama kamu..”


Sinta melepaskan pelukan erat Faza kemudian dengan sangat lembut mengecup kening Faza.


“Kamu sudah makan hem?” Tanya nya menangkup kedua pipi tirus Faza dengan tatapan penuh perhatian pada putranya itu.


“Belum mah..” Geleng Faza menjawab pelan.


Faza tertawa pelan. Pria itu meraih kedua tangan sang mamah yang berada di pipinya kemudian melepaskan dengan lembut tangkupan-nya.


“Faza punya sesuatu buat mamah.. Faza harap mamah suka yah..”


Sinta mengangkat sebelah alisnya bingung.


“Oh ya? Apa itu?” Tanya Sinta penasaran.


Faza menghela napas kemudian meraih bunga yang tadi dibawanya dan menyodorkan-nya pada Sinta. Faza juga menyodorkan paperbag berukuran sedang berwarna hitam itu pada Sinta.


Sinta menutup mulut melihat itu. Sejak menikah Faza memang sudah jarang mempunyai waktu untuk memberikan kejutan untuknya. Tapi sekarang Faza melakukan-nya. Faza datang tanpa lebih dulu memberitahunya dan membawakan sebuket bunga cantik serta hadiah untuknya.


Sinta tidak bisa bohong. Sinta sangat bahagia dengan semua itu.


“Ini buat mamah?” Tanya Sinta memastikan.


“Iyalah ini buat mamah.. Masa buat pak Umar sih..” Jawab Faza disertai candaan.

__ADS_1


Sinta tertawa mendengarnya. Wanita itu menerima bunga juga paperbag yang disodorkan oleh Faza.


“Makasih ya sayang.. Mamah suka banget sama bunganya..” Senyum lebar Sinta sambil beberapa kali menciumi sebuket bunga pemberian Faza.


“Ya mah.. Sama sama..” Angguk Faza dengan senyuman dibibir tipisnya.


Faza merasa sangat lega sekarang. Mamahnya sudah tidak lagi marah padanya. Mamahnya bahkan menyambut dengan manis kedatangan-nya sore ini.


“Ya udah mending sekarang kita masuk.. Kamu makan malam disini kan?”


Faza diam sesaat. Zahra pasti menunggunya untuk makan malam bersama dirumah nanti. Tapi melihat senyuman lebar dibibir mamahnya sekarang Faza menjadi tidak tega jika harus menolak untuk makan malam bersama.


“Eemm.. Iya mah..” Angguk Faza akhirnya menjawab.


Faza yakin Zahra akan mengerti jika dirinya pulang sedikit terlambat malam ini. Toh dirinya datang juga atas saran darinya.


Sinta bangkit dari duduknya kemudian meraih lengan Faza menuntun-nya agar bangkit dari berlututnya. Sinta mengajak Faza masuk kedalam rumah dengan hati berbunga bunga.


“Bagaimana kabar cucu mamah nak? Sudah bisa apa dia?” Tanya Sinta saat sedang melangkah dengan Faza yang mengiringi disampingnya.


“Baik mah.. Sangat baik. Fahri sangat pintar. Dia nggak bisa bobo kalau nggak liat papahnya dulu..” Jawab Faza menceritakan sedikit tentang putra kesayangan-nya pada sang mamah.


“Ya ya.. Mamah sudah duga. Dia pasti akan lebih merasa nyaman sama papahnya dari pada sama mamahnya.”


Senyuman dibibir Faza seketika sirna. Ucapan Sinta sedikit menyinggungnya dan seolah menyalahkan bahwa istrinya bukanlah ibu yang baik.


Tidak ingin istrinya semakin di jelek jelekkan Faza pun akhirnya memilih untuk diam. Faza berpikir mungkin untuk saat ini pintu hati mamahnya belum terbuka untuk menerima Zahra sebagai menantunya juga ibu dari cucunya.


“Mamah sebenarnya kangen sekali dengan cucu mamah nak. Tapi ya.. Kamu tau sendirikan bagaimana istri kamu? Apa lagi setelah melihat ada laki laki lain dirumah kalian saat itu. Mamah semakin merasa nggak respect sama Zahra.” Ujar Sinta saat Mereka sampai dimeja makan dan Faza mulai mendudukan dirinya dikursi. Disana juga sudah ada secangkir teh untuk Faza yang baru saja dibuat oleh bibi.


“Mah.. Zahra nggak gitu mah.. Dan laki laki itu hanya..”


“Faza mamah nggak mau kamu terus terusan membela istri kamu itu. Apapun alasan-nya mengizinkan laki laki lain masuk kedalam rumah saat suami sedang bekerja diluar itu bukan sesuatu yang bisa dibenarkan.” Sela Sinta dengan tegas.


“Tapi kenyataan-nya memang nggak begitu mah. Faza tau siapa laki laki itu. Dia itu mantan bosnya Zahra dulu. Dan Zahra juga sudah menelepon Faza saat dia datang. Makanya saat itu Faza langsung pulang kerumah mah..”


Faza tidak ingin kalah. Dia tetap berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya pada Sinta.


Sinta diam. Wanita itu menghela napas kemudian meletakan bunga dan paperbag pemberian Faza diatas meja.

__ADS_1


“Terserah kamu saja nak. Mamah harap kamu tidak menyesal dengan pilihan kamu ini.” Ucapnya pelan.


__ADS_2