
“Apa? Kamu mau ke Amerika?”
Sinta bertanya karna terkejut dengan apa yang Faza katakan padanya.
“Ya mah.. Ada urusan kerjaan yang harus aku lakukan disana.” Jawab Faza.
Loly yang duduk disamping Sinta hanya diam saja. Pikiran-nya terus tertuju pada Fadly yang entah sedang ada sekarang. Loly benar benar sangat merindukan sosok Fadly. Loly bahkan sampai sekarang masih merasa menyesal karna tidak sempat mengangkat telepon dari Fadly.
Loly menghela napas. Loly tidak lagi bisa fokus mendengarkan obrolan antara Faza, dan kedua orang tuanya. Dipikiran-nya sekarang hanya ada Fadly dan Fadly.
Berbagai pertanyaan bersarang diotak Loly. Mulai dari dimana Fadly sekarang? Sedang apa? sudah makan atau belum? bahkan sampai pertanyaan apakah Fadly juga memikirkan-nya atau tidak.
“Ya sudah kalau begitu kamu hati hati disana ya sayang.. Mamah sama Loly bakalan nginep dirumah kamu buat ngawasin Zahra supaya dia enggak macem macem..” Ujar Sinta dengan tenang.
“Ya kan Loly?” Tanya nya pada Loly yang sibuk dengan pemikiran-nya.
Sinta mengeryit melihat Loly yang terus diam melamun. Padahal tidak pernah sekalipun Loly bersikap seperti itu jika didepan Faza.
“Loly...” Sinta mencoba memanggil namun Loly tetap asik dengan pemikiran-nya sendiri.
Melihat itu Sinta menghela napas. Sinta pun menepuk pelan bahu Loly seraya memanggil Loly kembali.
“Kenapa tante?” Tanya Loly kebingungan.
“Kamu yang kenapa? Diajak ngobrol malah ngelamun.”
“Eh...” Loly langsung salah tingkah begitu sadar dari lamunan-nya. Loly benar benar tidak tau menau tentang apa yang dibicarakan oleh Sinta, Faza juga Akbar.
“Kayanya nggak usah deh mah.. Soalnya Zahra udah ada yang memenin dirumah..” Ujar Faza pelan.
“Maksud kamu Lasmi dan pak satpam? Mereka berdua itu nggak akan berani negur Zahra kalau Zahra melakukan ini itu nak.. Kalau mamah yang disana kan mamah bisa ngawasin Zahra dengan teliti. Mamah juga bisa jagain calon cucu mamah.”
“Bukan cuma mbak Lasmi dan pak satpam kok mah.. Tapi disana juga ada kak Aries dan kak Nadia.. Aku udah minta tolong sama mereka buat temenin Zahra dirumah selama aku di Amerika.”
__ADS_1
“Apa? Aries sama Nadia? Faza, kamu lebih percaya sama mereka dari pada mamah? Nadia itu ceroboh loh.. Dia nggak sopan. Dia nggak bisa ngasih tau yang bener sama Zahra.. Kok bisa bisanya kamu begitu percaya sama dia.. kamu...”
“Mah.. Jangan berpikiran buruk pada orang lain dong...” Sela Akbar pelan.
Sinta langsung menatap pada suaminya itu.
“Mamah ngomong apa adanya pah.. Nadia itu memang bukan contoh yang baik...”
Sedangkan Faza, dia hanya bisa menghela napas menghadapi sikap mamahnya yang selalu merasa paling benar sendiri.
Enggan mendengar lebih panjang mamahnya menyalahkan keluarga istrinya, Faza pun memilih untuk segera pamit pulang. Faza bahkan menolak saat Sinta menyuruhnya untuk lebih baik makan malam bersama saja dirumah kedua orang tuanya itu.
“Tante bener bener nggak habis pikir sama Faza... Kok bisa bisanya sih dia lebih percaya pada keluarga Zahra dari pada sama tante yang adalah mamahnya.. Kesal tante jadinya..”
Loly yang melangkah disamping Sinta hanya bisa tertawa pelan. Loly tidak tau harus menjawab apa karna menurut Loly sendiri apa yang dikatakan Sinta tentang keluarga Zahra memang salah. Sinta terus menyudutkan keluarga Zahra yang Loly yakini pasti orang baik, sama seperti Zahra.
“Mungkin mas Faza nggak mau tante kelelahan kalau disana..”
Sinta berhenti melangkah. Saat ini keduanya sedang melangkah keluar rumah karna Loly yang sudah akan pulang dan Sinta hendak mengantarkan-nya sampai depan rumah.
“Eemmm.. Bukan begitu maksud aku tante.. Cuma kan mungkin mas Faza nggak mau nyusahin tante. Makanya mas Faza minta tolong sama kakak nya Zahra buat nemenin Zahra selama mas Faza di Amerika nanti.” Jawab Loly.
Sinta berdecak.
“Tetap saja. Tante nggak bisa diam saja. Keluarganya Zahra pasti punya niat terselubung pada Faza. Bisa saja mereka nanti memanfaatkan Faza. Apa lagi Faza sudah menjadi direktur sekarang.”
Loly hanya bisa menghela napas. Sinta memang sangat keras kepala. Loly menjadi semakin bingung sekarang bagaimana caranya menjelaskan pada Sinta bahwa perasaan-nya sekarang pada Faza sudah berbeda. Loly yakin Sinta pasti tidak akan mau mengerti. Apa lagi beberapa kali Sinta sudah menanyakan perihal tentang hubungan-nya dengan Fadly.
“Ya sudah tante.. Loly pulang dulu yah..” Senyum Loly pada Sinta.
“Ya sayang.. Padahal niatnya kita mau kerumah Faza ya.. Tapi karna ini sudah malam ya sudahlah enggak papa. Besok besok kan kita masih bisa kesana..” Ujar Sinta sambil mengusap usap bahu Loly pelan.
Loly hanya tersenyum. Perasaan-nya pada Faza sudah benar benar sirna sekarang.
__ADS_1
“Kamu hati hati ya sayang bawa mobilnya. Nggak usah ngebut ngebut. Bahaya..”
“Iya tante.. Ya sudah Loly pulang.”
Loly menyalimi Sinta kemudian segera masuk kedalam mobil yang dia kemudikan sendiri. Loly berharap suatu hari nanti Sinta bisa mengerti perasaan-nya, begitu juga dengan Fadly yang bisa menerimanya dengan baik.
Loly menghidupkan mesin mobilnya kemudian dengan perlahan mulai melajukan pelan mobilnya keluar dari pekarangan luas keluarga Akbar.
Sinta tersenyum menatap mobil Loly yang mulai keluar dari pekarangan rumahnya. Sinta tidak pernah berhenti berharap Loly dan Faza bisa bersatu seperti yang sejak dulu Sinta inginkan.
Setelah mobil Loly tidak terlihat lagi, Sinta pun masuk kedalam rumah. Sinta langsung menuju kamarnya yang berada dilantai dua kediaman-nya.
“Mah.. Bisa papah bicara sebentar?” Tanya Akbar saat Sinta baru saja masuk kedalam kamar mereka.
“Bicara apa pah? emang penting banget ya? sampai papah harus nanya dulu ke mamah.”
Akbar menghela napas. Pria itu menutup laptop yang berada dipangkuan-nya dan menaruhnya diatas meja didepan sofa yang sedang dia duduki.
Akbar menepuk pelan tempat disampingnya memberi kode agar Sinta mendekat dan duduk disampingnya.
“Papah mau ngomong apa sih? Serius banget kayanya.” Ujar Sinta setelah duduk disamping suaminya.
Akbar menghela napas pelan kemudian meraih dan menggenggam lembut tangan Sinta.
“Ini tentang anak anak kita...” Katanya.
Sinta mengeryit menatap bingung pada Akbar, suaminya.
“Memangnya kenapa dengan Faza dan Fadly?” Tanya Sinta bingung.
Sesaat Akbar terdiam. Akbar tau memberitahu sesuatu yang benar pada istrinya memang tidak mudah. Tentu saja karna Sinta yang selalu mau menang sendiri dan menganggapnya segala sesuatu yang diputuskan-nya adalah sesuatu yang selalu benar.
“Papah pikir mamah sudah seharusnya tidak lagi menjodoh jodohkan Faza dengan Loly mah. Faza sudah mau punya anak.”
__ADS_1
Sinta langsung melepaskan genggaman tangan Akbar begitu Akbar berkata. Sinta kemudian bangkit dari duduknya.
“Mamah lakukan itu karna itu memang yang terbaik buat Faza pah..” Balasnya kemudian berlalu masuk kedalam kamar mandi tanpa mau mendengar apapun yang akan dikatakan suaminya.