
Pagi pertama mereka diparis tampak begitu cerah. Zahra menyingkap tirai tembok kaca setelah selesai membersihkan dirinya.
Zahra memang bangun sedikit telat karna terlalu lelap setelah pergumulan panasnya bersama Faza semalam.
Zahra tersenyum melihat Faza yang mulai terganggu dengan silaunya cahaya mentari pagi. Masih enggan untuk bangun, Faza justru membalikan tubuh berbalut selimutnya menghindari silaunya cahaya mentari itu agar bisa kembali memejamkan kedua matanya.
Zahra menggelengkan kepalanya dengan senyuman yang masih terukir dibibirnya. Waktu istirahat malam mereka memang terasa sangat singkat. Zahra juga menyadari hal itu. Bagaimana tidak? Jika Faza saja tidak memberinya kesempatan untuk bernapas dengan benar. Faza terus menguasainya sehingga Zahra hanya bisa pasrah dibawah kendalinya.
Zahra melangkah mendekat ke ranjang dan duduk tepat disamping Faza yang mengubah posisi menjadi memunggunginya.
“Mas bangun.. Aku laper banget...”
“Hhmm..” Saut Faza masih anteng dengan posisinya. Kedua matanya juga terus terpejam enggan membukanya. Pria itu seperti tidak ingat sedang berada dimana sekarang dirinya dan Zahra.
“Iiihh.. Mas bilang katanya hari ini kita mau jalan jalan.. Mau berburu makanan yang enak.. Kok nggak bangun bangun sih.” Zahra mulai kesal.
Namun nada bicara Zahra sepertinya tidak benar benar bisa ditangkap oleh pendengaran Faza sehingga pria itu tetap saja anteng memejamkan kedua matanya.
Semakin merasa kesal karna Faza yang tidak kunjung bangun, Zahra pun menggigit daun telinga Faza. Dan caranya itu berhasil membuat Faza memekik dan langsung membuka kedua matanya lebar lebar. Bahkan rasa kantuk yang sedari tadi terus menguasainya sirna seketika.
“Zahra kamu apa apaan sih? Sakit tau.”
Faza langsung terduduk dengan tangan mengusap usap daun telinganya yang memerah akibat gigitan dari Zahra.
“Mas tuh yang apa apaan. Bilangnya semalam apa? Mau ajak aku lihat menara Eiffel dari dekat. Terus cari makanan yang enak enak. Tapi aku bangunin nggak bangun bangun juga. Mas tau nggak sih, aku udah laper banget sekarang.”
Faza meringis mendengar istrinya merepet marah marah. Zahra benar benar sangat bawel jika sudah marah.
“Oke oke aku minta maaf. Aku bakal bersih bersih sekarang terus kita cari sarapan. Udah jangan marah yah...”
Tidak mau membuat istrinya semakin marah, Faza pun segera bangkit dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi tanpa sedikitpun memperdulikan tubuh polosnya. Faza bahkan begitu percaya diri polos didepan istrinya.
“Iihhh.. Maaas..!!” Pekik Zahra menutupi wajahnya menggunakan kedua tangan-nya.
__ADS_1
Namun bukan-nya merasa malu, Faza justru tertawa tawa melihat respon istrinya. Faza sebenarnya tidak sengaja namun respon malu malu Zahra membuat Faza menyadari sesuatu. Zahra tergoda dengan tubuh bagusnya.
Selesai membersihkan dirinya, Faza segera bersiap. Pria itu mengenakan kaos hitam lengan panjang berkerah tinggi dengan jaket kulit warna coklat serta jins hitam yang membuat kakinya terlihat sangat tinggi.
Tidak jauh berbeda dengan Zahra yang mengenakan dress selutut hitam dipadu dengan jaket warna senada dengan yang dikenakan oleh suaminya. Untuk alas kaki mereka lebih memilih mengenakan sepatu. Zahra yang menggunakan sepatu boot hitam sedang Faza mengenakan snackers hitam.
“Udah siap?” Tanya Faza pada Zahra.
Zahra tersenyum dengan menganggukan kepalanya. Amarahnya sudah surut begitu Faza keluar dari kamar mandi.
“Ya udah yuk...”
Ketika Faza menggandeng dan mengajaknya melangkah, tiba tiba Zahra mengeryit. Zahra bahkan tetap anteng berdiri ditempatnya membuat Faza mengeryit kebingungan.
“Apa yang kurang sayang?” Tanya Faza pelan.
Zahra menggelengkan kepalanya.
“Perut aku sakit mas...” Rengeknya.
“Kok bisa sih? Apa kamu punya riwayat mag sayang?”
Lagi, Zahra menggelengkan kepalanya. Zahra selalu makan dengan teratur dan tidak pernah divonis dengan berbagai penyakit termasuk mag.
“Kayanya aku mau mens deh mas..”
Faza terdiam sesaat. Kecewa sebenarnya mendengar apa yang dikatakan istrinya. Lucu sekali rasanya jika Zahra benar benar akan kedatangan tamu bulanan-nya sedangkan mereka saja sedang bulan madu.
“Begitu ya? Ya udah deh kamu istirahat aja.. Biar aku yang cari sarapan.”
Faza mengukir senyuman dibibirnya menutupi kekecewaan yang sedang dirasakan-nya. Karna Faza sadar mencurahkan kecewa itu dengan marah juga tidak akan berpengaruh apapun. Mendapat tamu bulanan adalah kodrat seorang wanita.
“Tapi aku pengin jalan jalan mas...” Rengek Zahra. Zahra tidak ingin melewatkan sehari saja untuk mengelilingi kota impian-nya itu. Apa lagi sekarang dirinya berada disana dengan pria yang sangat dicintainya.
__ADS_1
Faza menghela napas. Wajah istrinya mendadak terlihat pucat dengan keringat yang membasahi keningnya. Faza tidak mungkin mengajak Zahra jalan jalan sedang Zahra saja sedang tidak baik baik saja. Bukan Faza takut direpotkan. Tapi Faza takut keadaan istrinya akan semakin buruk jika tetap memaksa untuk jalan jalan.
“Sayang.. Kalaupun hari ini kita nggak bisa jalan jalan kan masih ada besok.. Aku nggak mau perut kamu semakin sakit kalau kita paksain buat jalan jalan..” Faza berusaha memberi pengertian pada istrinya. Namun ucapan lembut dan pelan-nya itu justru mengundang tangis Zahra.
“Loh loh.. Kok..”
“Mas aku itu dari dulu pengin banget kesini.. Aku pengin bisa mencicipi semua kuliner disini.. Aku juga pengin lihat Eiffel dari dekat..” Zahra tersedu sedu dengan wajah berurai air mata.
Faza yang kebingungan hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. Faza tau dan paham dengan apa yang dirasakan istrinya sekarang.
“Eemm.. Ya udah gini aja sayang. Kamu istirahat aja dulu.. Aku cari sarapan. Nanti kalau perut kamu udah nggak sakit lagi baru deh kita keluar jalan jalan. Oke?”
Zahra menganggukan kepalanya. Zahra kemudian menyeka air matanya sendiri.
“Kamu janji kan?” Tanya Zahra menyodorkan jari kelingkingnya pada Faza.
Sesaat Faza terdiam namun tidak lama kemudian Faza menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Zahra. Faza tidak akan merubah niatnya meskipun Zahra mendapat tamu bulanan-nya nanti. Niatnya mengajak Zahra ke Paris bukan hanya untuk bulan madu, tapi juga untuk membuat istri tercintanya itu bahagia.
“Iya.. Aku janji..” Senyum Faza menjawab.
Zahra tersenyum mendengarnya. Zahra kemudian memeluk Faza yang langsung membalasnya dengan lembut serta mencium lama puncak kepala Zahra.
“Udah.. Sekarang kamu istirahat yah.. Aku akan kembali dengan sarapan yang enak enak buat kamu..”
Zahra melepaskan pelukan-nya kemudian mengangguk lagi. Dengan dibantu Faza yang menuntun-nya Zahra melangkah menuju ranjang kemudian naik dan berbaring disana.
“Jangan lama lama ya mas.. Aku takut sendirian disini.”
Faza mengeryit. Aneh sekali mendengar Zahra mengatakan takut. Tapi Faza kemudian maklum mengingat mungkin Zahra tidak tau jalan kemanapun di kota itu.
“Iya sayang.. Aku tidak akan lama.” Angguk Faza.
Faza mencium kening Zahra sebelum melangkah keluar dari kamar mereka. Begitu berada diluar kamar Faza menghela napas.
__ADS_1
“Sudahlah.. Masih banyak waktu untuk itu..” Gumam Faza kemudian berlalu.