PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 139


__ADS_3

Berbeda dengan Zahra dan Faza yang begitu mesra dan bahagia, Loly justru merasa sangat galau malam ini. Loly terus berdiri dibalkon kamarnya menatap bintang yang bertabur dilangit dengan begitu indahnya. Namun keindahan langit penuh bintang itu nyatanya tidak mampu membuat Loly merasa bahagia. Sebaliknya, Loly justru semakin merasa kesepian dalam kegalauan-nya.


Loly menghela napas. Dua hari tidak ada kabar dari Fadly membuatnya uring uringan. Ingin bertanya tapi tidak tahu pada siapa. Pada Sinta, itu sangat tidak mungkin.


Loly melirik ponsel miliknya yang ada diatas meja kecil disamping pintu penghubung balkon dengan kamarnya.


Loly sudah berkali kali mencoba menghubungi Fadly namun Fadly sama sekali tidak merespon. Loly juga sudah mengirim beberapa pesan singkat namun lagi lagi Fadly tidak membalas. Fadly bahkan sama sekali tidak membukanya.


“Masa sih aku kurang cantik..”


Loly terus berpikir dengan kekurangan yang ada pada dirinya yang menjadi penyebab Fadly tidak mau padanya.


“Apa aku harus melakukan sesuatu dulu untuk mas Faza dan Zahra supaya Fadly yakin bahwa aku sudah tidak mau lagi dengan mas Faza?”


Loly menghela napas pelan. Loly bingung sebenarnya bagaimana caranya menjelaskan pada Sinta bahwa dirinya sudah tidak lagi mempunyai rasa pada Faza.


Ketika sedang mencoba memutar otak memikirkan cara menjelaskan pada Sinta, tiba tiba ponsel miliknya yang berada diatas meja berdering. Loly tersentak terkejut.


“Ck, pasti Mona.” Gumam Loly sebal.


Loly kemudian melangkah menuju meja kecil yang ada disamping pintu. Dengan bibir mengerucut sebal Loly meraih ponselnya. Namun begitu melihat Fadly yang menelepon-nya mulut Loly langsung terbuka. Loly benar benar tidak menyangka. Saking senangnya Loly bahkan sampai tidak mengangkat telepon dari Fadly karna sibuk dengan keterkejutan bercampur kebahagiaan-nya yang sedang dirasakan-nya.


“Ya ampun ya ampun.. Aku nggak mimpi kan? Fadly nelepon aku? Ya Tuhan...”


Loly jingkrak jingkrak sambil mengipasi tubuhnya dengan tangan.


“Loh loh.. Kok... Ya Tuhan...”


Loly merengut kembali saat ponselnya berhenti berdering.


“Iisshhh.. Bodoh banget sih aku.. Kenapa nggak langsung aku angkat aja tadi.. Hh.. Jadi mati kan?”


Loly kesal pada dirinya sendiri karna tidak langsung mengangkat telepon dari Fadly. Tapi Loly juga tidak bisa memungkiri karna dirinya terlalu bahagia sehingga tidak langsung mengangkat telepon dari Fadly.


“Ayo dong telepon lagi Fadly... Memangnya kamu nggak kangen apa sama aku...”

__ADS_1


Loly berkata dengan penuh harap. Meskipun Loly tidak tau apa tujuan Fadly tiba tiba menelepon-nya namun Loly tidak mempermasalahkan-nya. Fadly sudah mau menelepon-nya saja Loly sudah sangat bahagia.


“Apa aku telepon balik aja?”


“Tapi... Pasti dia nggak mau ngangkat deh..”


Loly benar benar merana sekarang. Dan itu karna Fadly. Padahal saat mengincar Faza dulu Loly tidak sampai seperti itu. Tapi sekarang hanya karna seorang Fadly, Loly sampai uring uringan sendiri.


“Fadly.. Ayo dong telepon lagi..”


Loly terus menatap ponselnya berharap benda pipih itu kembali berdering. Benar saja, ponsel Loly kembali berdering namun nama yang tertera dilayar ponsel Loly bukan nama Fadly, tapi Sinta.


“Yah.. Kirain Fadly lagi yang menelepon.”


Loly merasa kecewa karna Fadly tidak lagi menelepon-nya. Enggan mengangkat telepon dari Sinta yang pasti akan membahas tentang Faza, Loly pun kembali menaruh ponselnya diatas meja membiarkan-nya terus berdering sampai beberapa kali.


Loly menarik napas panjang kemudian menghembuskan-nya perlahan. Loly kembali memusatkan perhatian-nya ke arah langit bertabur bintang. Loly perlahan tersenyum ketika tiba tiba bayangan Fadly tersenyum padanya muncul dilangit.


“Fadly.. Aku nggak tau kenapa aku bisa segila ini hanya karena kamu..” Gumam Loly dengan senyuman yang terus terukir dibibirnya.


Ditempat lain Fadly juga sedang diam di balkon kamar hotel tempatnya menginap. Fadly tampak sedang memikirkan sesuatu dengan pandangan terarah pada langit mendung malam ini.


Fadly tidak tau kenapa tiba tiba dirinya ingin menghubungi Loly. Fadly merasa hari harinya sangat sepi selama dua hari ini. Fadly bahkan tidak bisa memungkiri dirinya merasa kosong tanpa Loly yang memang selalu mengganggunya hampir setiap hari.


“Hhh.. Enggak enggak.. Ini salah. Loly bukan perempuan yang baik. Dia mendekatiku pasti karna sesuatu. Yah.. Loly sedang menyusun rencana untuk memisahkan kak Faza dengan Zahra.. Dan pasti itu lewat aku...”


Fadly menggelengkan pelan kepalanya. Fadly tidak ingin jika dirinya sampai masuk kedalam perangkap Loly. Fadly bahkan terus saja meyakini bahwa Loly mempunyai tujuan tertentu mendekatinya. Dan tujuan utama Loly pasti adalah untuk memisahkan Faza dan Zahra.


Fadly menghela napas. Meyakini apa yang dipikirkan-nya tentang Loly membuat hatinya berdenyut ngilu. Hatinya seperti tidak bisa menerima kenyataan bahwa Loly seperti sedang memanfaatkan-nya demi kepentingan Loly sendiri.


“Dasar perempuan egois. Tidak tau malu, tidak tau diri. Perempuan gila.” Umpat Fadly yang tiba tiba merasa kesal sendiri.


Fadly menggenggam erat ponsel ditangan-nya. Entah kenapa tiba tiba Fadly ingin sekali mendengar suara Loly. Secara tidak langsung tanpa sadar Fadly merindukan Loly, perempuan yang Fadly anggap gila karna selalu mementingkan perasaan-nya sendiri tanpa memperdulikan perasaan orang orang disekitarnya.


Deringan ponsel yang digenggamnya membuat Fadly buru buru mengangkat telepon tersebut tanpa melihat lebih dulu siapa yang menelepon-nya.

__ADS_1


“Ada apa kamu meneleponku Loly?”


“Loly?”


Kedua mata Fadly membulat dengan sempurna. Itu suara papahnya, bukan suara Loly. Pria itu kemudian menjauhkan ponselnya dari telinga. Fadly meringis mendapati nama kontak sang papah yang tertera dilayar ponselnya.


“Ya Tuhan...” Lirih Fadly merasa sangat bodoh.


“Fadly.. Halo..”


Fadly kembali menempelkan benda pipih itu ditelinganya.


“Eemm.. Ya pah.. Maaf tadi aku pikir..”


“Kamu pikir papah Loly hem?” Sela Akbar meledek putranya.


“Emm.. Enggak pah.. eh emm.. maksudnya begini..” Fadly diam. Fadly tidak tau harus menjelaskan bagaimana agar sang papah tidak salah paham padanya.


“Begini bagaimana Fadly?” Tanya Akbar menuntut penjelasan.


“Eemm.. Jadi.. Ah sudahlah. Enggak penting juga pah bahas perempuan gila seperti Loly. Papah lagi apa?”


“Hem.. Perempuan gila atau perempuan yang berhasil membuat kamu tergila gila?” Ledek Akbar.


“Ayolah pah.. Jangan bercanda.”


“Oke oke.. baik baik.. Papah tidak akan bercanda. Papah akan serius.”


Fadly berdecak kesal. Akbar dan Faza sama saja menurutnya. Papah dan kakaknya suka sekali meledeknya jika sudah menyangkut Loly.


“Kamu sedang apa nak? Sudah makan?” Tanya Akbar dengan lembut.


“Aku baru saja ketemu client pah.. Aku sudah makan kok. Papah sendiri sedang apa? Mamah juga.”


Obrolan mereka mulai serius namun tetap hangat. Akbar memang selalu menelepon Fadly selama Fadly berada diluar kota meskipun hanya untuk menanyakan sedang apa dan sudah makan atau belum putra bungsunya itu.

__ADS_1


__ADS_2