PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 276


__ADS_3

“Kamu kenapa sayang?” Tanya Faza merasa penasaran melihat istrinya yang terus saja diam disampingnya.


Zahra tersenyum kemudian menoleh menatap suaminya yang sedang fokus dengan kemudinya meskipun sesekali menoleh padanya.


Zahra menghela napas. Zahra yakin Faza pasti juga belum tau apapun perihal tentang mamahnya dan kedua orang tua Loly.


“Mas, boleh aku tau sesuatu nggak?”


Faza mengeryit. Faza merasa tidak menyembunyikan apapun dari Zahra sekarang. Faza sudah berusaha terbuka dan selalu jujur pada istri tercintanya.


“Tentang apa sayang?”


Zahra tersenyum tipis.


“Tentang mamah dan kedua orang tua Loly.”


Faza mengeryit lagi. Pertanyaan itu benar benar tidak sedikitpun terbesit dibenak Faza. Padahal Faza kira ini tentang mereka berdua.


“Mamah sama kedua orang tua Loly? Memangnya kamu ingin tau apa tentang mereka?”


Sesaat Zahra terdiam. Zahra tau ini bukan masalah yang harus dia urusi. Tapi Zahra merasa ingin tau. Dan itu karena Zahra merasa perduli pada Loly.


“Dulu kan kamu mau dijodohin sama Loly mas. Aku pengin tau apakah mamah sama orang tuanya Loly itu begitu dekat? Sampai Loly juga bisa seakrab itu sama mamah.”


Faza tampak berpikir sejenak. Tentang kedua orang tua Loly, Faza juga hanya beberapa kali bertemu. Tapi penilaian Faza mereka adalah orang yang baik. Mereka sangat tegas. Dan tentang hubungan mamahnya dengan kedua orang tua Loly tentu saja Faza tau.


“Yang aku tau mereka itu teman dekat sayang.. Jadi dulu mamah sama tante Erika itu sahabat. Tapi ya karena tante Erika yang sibuk dengan suaminya diluar negeri akhirnya mereka jarang bisa bertemu. Tapi hubungan mereka sangat dekat.”


“Namanya tante Erika?” Tanya Zahra lagi.


“Ya... Tapi aku dulu panggil dia mommy nya Loly doang.” Senyum Faza menjawab.


Zahra menahan napas sejenak kemudian menghelanya pelan.

__ADS_1


“Mas tau kan Fadly sekarang sedang sangat gencar mengejar Loly?”


“Ya.. Fadly sedang sangat gila karena cinta sekarang.” Tawa Faza merasa lucu dengan sikap Fadly sekarang.


“Jadi tadi pagi itu tepatnya setelah mas berangkat Loly datang. Dia bawain mainan juga buat Fahri. Dan Loly juga cerita tentang dia dan Fadly..”


Faza hanya diam mendengarkan meskipun sebenarnya Faza ingin sekali bertanya tentang apa yang dimaksud oleh Loly tentangnya dan Fadly.


“Loly bilang sama aku perasaan-nya ke Fadly itu sangat berbeda dengan perasaan-nya sama kamu dulu mas. Aku mengartikan perasaan dia lebih kuat bahkan jauh lebih besar ke Fadly dari pada ke kamu. Perasaan itu membuat Loly tidak bisa melupakan Fadly setelah apa yang Fadly lakukan. Dan ternyata setelah Fadly berbalik mengejar dan mengatakan mencintainya rintangan itu datang dari kedua orang tua Loly sendiri. Mereka melarang Loly berhubungan lagi dengan keluarga besar mamah sama papah. Mereka bahkan menentang jika Loly akan tetap bersama dengan Fadly. Loly juga mengatakan bahwa mommy nya sudah memutuskan hubungan pertemanan dengan mamah secara sepihak bahkan tanpa mamah tau sampai sekarang mas.”


Faza sangat terkejut tapi tetap berusaha untuk tenang dalam diamnya. Setau Faza dulu hubungan mamahnya dan mommy Loly sangatlah erat. Bahkan mommy Loly juga selalu memberikan barang barang berharga dengan harga yang tidak murah. Mendengar mommy Loly memutuskan hubungan pertemanan erat itu Faza sendiri sangat tidak menyangka. Tapi jika dipikir lagi apa yang Fadly lakukan memang sudah sangat keterlaluan. Faza yakin jika dirinya berada di posisi kedua orang tua Loly pun pasti tidak akan terima jika anak kesayangan-nya disakiti oleh orang lain.


“Ya sudah lah sayang, nggak usah dipikirin. Toh itu bukan urusan kita. Yang penting kan kita selalu bersama. Adapun kita mau membantu itu juga kalau kita mampu kan?”


Faza tersenyum menatap sebentar pada istrinya. Pria itu tidak ingin kehilangan fokus mengendarai mobilnya dijalanan yang sangat padat siang itu.


“Iya sih.. Tapi aku kasihan sama Loly juga Fadly. Mereka saling mencintai tapi terancam nggak bisa bersama..” Hela napas Zahra pelan.


“Semuanya tergantung pada mereka berdua sayang.. Kalau mereka mau berusaha Tuhan pasti akan memberikan jalan yang terbaik.” Ujar Faza bijak.


Zahra hanya menganggukan kepalanya setuju. Sejujurnya Zahra tidak ingin ada orang lain apa lagi jika harus orang terdekatnya yang merasakan apa yang Zahra rasakan. Bagi Zahra cukup dirinya saja yang merasakan bagaimana sakitnya tidak mendapat restu dari mamah mertuanya.


Tidak lama kemudian mobil Faza sampai tepat didepan gerbang. Faza segera membunyikan klakson membuat pak Umar langsung dengan sigap membuka pintu gerbang untuknya.


Begitu pintu gerbang dibuka, Faza pun langsung menurunkan kaca mobilnya.


“Makasih ya pak..” Katanya dengan senyuman tipis dibibirnya.


“Oh ya den, sama sama..” Angguk pak Umar membalas senyuman Faza.


Faza menghentikan mobilnya tepat dihalaman rumah. Sesaat Faza terdiam. Mendadak Faza khawatir pada istrinya, Zahra. Faza takut Sinta akan bersikap tidak baik lagi pada Zahra.


“Mas? Kenapa?” .

__ADS_1


Zahra menatap tidak mengerti pada Faza yang tiba tiba terlihat seperti orang yang sedang kebingungan.


“Oh enggak. Enggak papa kok sayang. Ya udah yuk turun..”


Rasanya tidak mungkin jika Faza mengatakan dengan jujur tentang ke khawatiran-nya akan sikap Sinta pada Zahra nanti.


“Oke..” Angguk Zahra membalas.


Faza turun dari mobil lebih dulu kemudian membuka pintu mobil untuk Zahra. Faza menggiring istri tercintanya dengan sangat lembut untuk masuk kedalam kediaman kedua orang tuanya yang tampak sangat sepi. Tentu saja, Fadly juga Akbar sang papah pasti sedang tidak ada dirumah.


Faza menatap ragu kediaman kedua orang tuanya. Sinta hanya menyuruh Faza datang bersama Fahri, bukan dengan Zahra juga. Tapi Fahri tidak bisa dibawa tanpa Zahra. Faza juga tidak mau datang membawa Fahri jika tidak dengan Zahra yang ikut serta.


Melihat kediaman suaminya, Zahra tersenyum tipis. Zahra bisa menebak dengan apa yang sedang dipikirkan oleh suaminya.


“Mas...” Panggil Zahra pelan.


Faza tidak menyaut. Zahra yakin Faza juga pasti tidak mendengar panggilan-nya. Tentu saja karena Faza yang sedang fokus dengan pemikiran-nya sendiri.


Karena Faza yang tidak kunjung menoleh padanya, Zahra pun menyentuh lembut tangan besar suaminya. Dan berhasil. Cara itu berhasil membuat Faza menoleh padanya.


“Sayang...” Senyum Faza tipis.


Zahra ikut mengukir senyuman dibibirnya saat Faza menoleh menatapnya.


“Apa ada sesuatu yang tertinggal didalam mobil?”


Itu hanya pertanyaan basa basi. Tentu saja, Zahra sendiri tau apa yang sedang mengganggu pikiran suaminya. Zahra pun sebenarnya ragu karena Sinta pasti akan sangat sinis padanya.


Faza menggeleng dengan senyuman manis dibibirnya menjawab pertanyaan Zahra.


Faza kemudian menggenggam tangan Zahra dengan lembut seolah mengatakan “Aku akan selalu ada sayang”.


“Ayo kita masuk sayang...”

__ADS_1


__ADS_2