PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 247


__ADS_3

Fadly turun dari mobilnya dengan wajah lesu. Siang ini dirinya enggan melanjutkan lagi pekerjaan-nya. Apa yang baru saja terjadi antara dirinya dan Loly benar benar memadamkan semangat kerjanya. Apa lagi Loly juga menamparnya didepan banyak orang tadi. Loly juga tidak mau menerima bunga yang dia sodorkan.


Fadly menghela napas pelan. Ketika hendak melangkahkan kakinya, pandangan Fadly menangkap sesuatu yang tidak asing baginya. Yaitu mobil Akbar yang terparkir di garasi rumah.


“Loh, papah udah pulang?” Gumam Fadly bertanya tanya sendiri.


Fadly mengeryit. Tidak biasanya papahnya sudah dirumah setelah waktu makan siang selesai. Fadly tau bagaimana sibuknya sang papah di perusahaan-nya.


“Apa mungkin papah kerja dari rumah?” Fadly kembali bertanya tanya.


“Atau papah nggak bawa mobil?”


Merasa penasaran, Fadly pun masuk kedalam rumah dengan membawa buket bunga yang tidak diterima Loly tadi.


Saat sampai dimeja makan, Fadly mendapati sang mamah yang sedang menghias kue buatan-nya sendiri.


Fadly tersenyum kemudian segera mendekati sang mamah.


“Mamah lagi buat apa?” Tanya Fadly yang berhasil menarik perhatian Sinta.


Sinta tersenyum menatap Fadly yang mendekat dengan membawa sebuket bunga ditangan-nya. Wanita itu menaruh peralatan menghias kue yang sedang dipegangnya dan menerima uluran tangan Fadly yang hendak menyaliminya.


“Tumben jam segini sudah pulang sayang?” Tanya Sinta penuh perhatian.


“Hem ya mah.. Fadly sedikit malas kerja hari ini. Ah ya mah.. Fadly punya bunga buat mamah.”


Sinta mengeryit namun tetap menerima bunga tersebut. Tidak biasanya Fadly bersikap begitu manis dengan memberinya bunga.


“Oke.. Makasih sayang.. Kamu mau cobain kue buatan mamah?” Tanya Sinta menawarkan.


Fadly diam sesaat menatap kue yang begitu cantik diatas meja.


“Emm.. Nanti aja deh mah. Oh ya mah, papah ke kantor nggak bawa mobil yah?”

__ADS_1


Sinta tersenyum kemudian menggeleng pelan.


“Papah hari ini nggak ke kantor nak. Mungkin sekarang sedang diruangan-nya.” Jawab Sinta.


Kali ini Sinta benar benar tidak ingin Faza maupun Fadly tau permasalahan yang sedang dihadapinya dengan Akbar. Dan sebisa mungkin Sinta harus bisa menutupinya.


“Oh begitu.. Pantes aja mobil papah ada di garasi. Ya udah kalau gitu Fadly ke kamar ya mah.. Capek banget pengin istirahat.”


“Ya sayang.. Istirahat yah..” Sinta membelai lembut pipi putranya. Sinta berharap Fadly tidak mengikuti jejak Faza yang tidak patuh dan tidak mau menuruti apa yang Sinta mau.


“Ya mah..” Angguk Fadly tersenyum manis.


Fadly kemudian berlalu menuju tangga. Pria itu menaiki satu persatu anak tangga dengan sedikit berlari menuju lantai dua dimana kamarnya berada. Fadly ingin cepat cepat membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur sekarang.


 ------------


Loly kembali ke perusahaan dengan make up berantakan sehingga wajah cantiknya terlihat lucu karena sedikit cemong.


Para karyawan dan karyawati yang melihatnya bahkan sampai menahan tawa saat menyapanya. Namun tidak dengan Mona yang langsung mengikuti Loly menuju ruangan-nya.


Loly berdecak kesal. Dengan kasar Loly menghempaskan tubuhnya dikursi kerjanya kemudian meraih tisu dan membersihkan wajahnya yang cemong oleh make up nya yang luntur akibat dari menangisi Fadly tadi didepan restoran.


“Dasar laki laki tidak tau malu. Brengsek !!” Umpat Loly.


Mona mengeryit bingung. Setahunya Loly baru saja bertemu dengan rekan bisnisnya. Awalnya Mona hendak ikut serta namun karena banyaknya pekerjaan yang harus Mona selesaikan sehingga Mona tidak bisa meninggalkan-nya begitu saja.


Tapi sekarang. Loly kembali dengan make up berantakan serta kedua matanya yang sembab seperti baru saja menangis. Rasanya tidak mungkin jika rekan bisnisnya membuat Loly menangis.


Loly melempar tisu yang sudah digunakan-nya ke tong sampah. Setelah itu Loly kembali bangkit dari duduknya dan masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya.


Mona semakin penasaran dibuatnya. Loly terlihat sangat kesal sekarang.


Sekitar 10 menit menunggu, akhirnya Loly keluar dari kamar mandi dengan mengelap wajahnya yang sudah bersih tanpa make up menggunakan handuk kecil warna putih bersih.

__ADS_1


“Aku heran sama laki laki itu. Apa coba maksudnya tiba tiba berlari ketengah jalan. Dia bahkan berdiri disana seperti ingin mengakhiri hidupnya Mona. Bodohnya lagi aku menangis meraung seperti orang gila. Harusnya aku tertawakan saja tadi lalu aku suruh supir truk itu untuk menggilas nya sampai mati.” Cerocos Loly dengan amarah menggebu gebu.


Mona tersenyum. Cerita Loly terdengar cukup lucu meskipun Mona belum tau siapa pria yang sedang dimaksud itu.


“Dia sepertinya memang sengaja membuatku malu didepan orang banyak.” Lanjut Loly masih dikuasai amarahnya.


Loly kembali melangkah menuju meja kerjanya. Loly mendudukkan dirinya dikursi dan meraih tas make-up nya setelah menaruh handuk putih itu di senderan kursinya.


“Maaf sebelumnya nona. Kalau boleh saya tau memangnya siapa laki laki yang nona maksud? Apa dia pak Tody?” Tanya Mona pelan. Tody adalah rekan bisnis yang baru saja ditemui oleh Loly direstoran tadi.


Tangan Loly yang hendak meraih alat make up didalam tasnya langsung berhenti. Loly menoleh menatap pada Mona dengan wajah sebal.


“Siapa lagi kalau bukan si brengsek Fadly.” Sungutnya.


Mona tersenyum tipis. Belakangan Fadly memang sering terlihat sering lewat didepan perusahaan Loly. Fadly juga sering memarkirkan kendaraan-nya ditepi jalan dan membuka kaca mobilnya sembari terus mengawasi perusahaan Loly seperti sedang menunggu sesuatu. Mona sering melihatnya secara langsung. Tapi Mona tidak memberitahu pada Loly. Mona tau atasan-nya itu sedang berusaha mengikis perasaan-nya pada pria yang hampir saja meluluh lantahkan segalanya.


“Saya sering melihat pak Fadly memarkirkan mobilnya diseberang jalan nona. Sepertinya beliau sedang menunggu seseorang.”


Loly mengeryit. Mona tidak pernah memberitahu tentang itu sebelumnya.


“Oh ya? Kenapa kamu tidak memberitahuku?” Tanya Loly mengangkat satu alisnya menatap Mona.


“Bukankah anda pernah bilang pada saya untuk tidak ingin tau lagi segala sesuatu tentang pak Fadly? Itu yang membuat saya berpikir keberadaan pak Fadly sudah tidak lagi penting untuk anda nona.” Jawab Mona.


Loly berdecak pelan. Bodoh sekali dirinya sampai lupa apa yang keluar dari mulutnya sendiri pada Mona.


“Begitu ya?” Gumam Loly bak orang linglung.


“Ya nona..” Angguk Mona pelan.


“Ya sudah kamu boleh kembali bekerja lagi.”


“Baik, permisi nona..”

__ADS_1


Loly menganggukkan kepalanya pelan. Setelah Mona benar benar keluar dari ruangan-nya, Loly menghela napas. Tidak gampang memang melupakan Fadly. Tapi Loly tetap mengusahakan-nya. Namun ditengah usaha kerasnya melupakan Fadly, entah kenapa Fadly tiba tiba selalu berada disekitarnya. Fadly bahkan berbalik mengejarnya dengan begitu posesif.


Semua itu membuat Loly mulai bimbang. Loly bahkan sempat berpikir untuk kembali menerima pria itu. Namun Loly merasa takut. Takut jika ternyata Fadly hanya ingin kembali mempermainkan hati dan perasaan-nya.


__ADS_2