
Faza baru saja membersihkan dirinya saat ponsel diatas nakas disamping tempat tidurnya berdering. Dengan hanya mengenakan handuk yang melilit dipinggangnya Faza mendekat kearah nakas. Faza meraih benda pipih itu dan mengeryit ketika mendapati nama Aries tertera dilayar ponsel miliknya.
“Kak Aries.. Tumben dia telepon.” Gumam Faza bertanya tanya.
Ketika hendak mengangkat telepon dari Aries, suara ketukan pintu membuat Faza mengalihkan perhatian-nya.
Faza menghela napas pelan. Itu pasti adalah Siska.
Enggan membuka pintu karna dirinya yang hanya mengenakan handuk, Faza pun memilih mengangkat telepon dari Aries.
“Halo kak...”
“Faza.. Kapan kamu pulang ke indonesia?”
Aries langsung menyerangnya dengan pertanyaan membuat Faza langsung terdiam.
“Eemm.. Niatnya sore ini kak aku pulang.” Jawab Faza pelan.
“Baguslah kalau begitu. Cepat pulang. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kamu.” Ujar Aries kemudian langsung menutup sambungan telepon-nya.
Faza menghela napas dan segera menurunkan ponsel yang menempel ditelinganya. Sekali lagi Faza menghela napas. Faza yakin sesuatu pasti telah terjadi dan itu karna mamahnya yang berulah.
Faza kemudian segera menghubungi mamahnya. Tidak membutuhkan waktu lama telepon-nya langsung diangkat oleh Sinta, mamahnya.
“Halo mah...”
“Faza.. Ada apa nak?”
Faza mengeryit. Nada bicara mamahnya terdengar tidak biasa.
“Mamah baik baik aja kan?” Tanya Faza merasa khawatir.
“Sebenarnya tidak. Banyak hal yang membuat mamah pusing beberapa hari ini.” Jawab Sinta dengan sangat tidak semangat.
“Tentang apa mah?”
“Sudahlah, kamu tidak akan mengerti maksud mamah. Oya Za, ini sudah lebih dari sepuluh hari kamu di Amerika. Kapan kamu berniat pulang?”
__ADS_1
Pertanyaan itu sama seperti pertanyaan yang dilontarkan Aries tadi.
“Faza akan pulang secepatnya mah..” Ujar Faza pelan.
“Baguslah. Mamah benar benar sangat tidak setuju dengan keberadaan Aries dan istrinya disana. Mereka seperti ingin menguasai segalanya sayang...”
Faza berdecak pelan. Dugaan-nya tidak meleset. Ada masalah yang terjadi selama dirinya berada di Amerika.
Seperti biasanya, Zahra tidak mengatakan atau mengadukan apapun padanya. Hal itu membuat Faza dangat yakin bahwa istrinya pasti sangat tertekan karna sifat mamahnya. Apa lagi disana ada Aries dan Nadia yang pasti akan membuat mereka beradu mulut tidak ada habisnya.
“Mamah jangan begitu ngomongnya.. Kak Aries dan kak Nadia orang yang baik.. Mereka disana karna aku yang meminta mah..” Faza mencoba memberi pengertian pada sang mamah dengan pelan. Faza tidak mau mamahnya terus berprasangka buruk pada keluarga Zahra, istrinya.
“Sudahlah.. Ngomong sama kamu juga nggak ada gunanya. Kamu lebih percaya mereka dari pada mamah.”
“Mah maksud aku...”
“Kamu cepatlah pulang. Mamah sudah kangen sama kamu...” Potong Sinta enggan mendengarkan apa yang Faza katakan.
“Hhh.. Baiklah mah..” Balas Faza menghela napas berat.
“Ya sudah, mamah tutup ya.. Jangan lupa belikan mamah sesuatu disana.”
Telepon ditutup begitu saja oleh Sinta.
Faza berdecak. Entah sampai kapan mamahnya akan terus memusuhi istrinya. Padahal Zahra adalah tipe wanita yang santai, baik, bahkan tidak suka mengadu padanya meski sering mendapat perlakuan tidak baik dari Sinta. Zahra tetap tenang dan yakin bahwa dirinya bisa menghadapi Sinta.
Faza menatap layar ponselnya dimana photo cantik Zahra dia gunakan sebagai wallpaper. Faza tersenyum lembut. Ibu jarinya mengusap layar ponselnya tepat pada wajah cantik Zahra diphoto itu.
“Aku salah sayang.. Aku sudah mengkhianati cinta kita..” Gumam Faza dengan kedua mata berkaca kaca.
Faza menyesal karna telah menodai kesetiaan-nya sendiri. Padahal belum lama Faza melihat papahnya bersama Bella mengkhianati mamahnya. Dan Faza merasa sangat sakit hati. Namun Faza sendiri juga melakukan hal yang sama meskipun hanya mengagumi sosok Siska secara diam diam.
“Aku memang egois. Aku hanya memikirkan diriku sendiri.. Maafin aku sayang.. Maaf..”
Faza benar benar takut Zahra akan mengetahui perasaan-nya pada Siska. Apa lagi Siska juga sudah punya pasangan yang jelas jelas Faza ketahui sejak pertama kali Mahendra menjadikan Siska sebagai sekretarisnya. Faza yakin Siska pasti juga akan menjauh bahkan merasa ilfil jika tau tentang perasaan terpendamnya. Siska mungkin juga akan langsung keluar dari pekerjaan-nya.
Tok tok tok
__ADS_1
Suara ketukan pintu itu kembali terdengar. Faza memejamkan kedua matanya. Bagaimana mungkin dirinya bisa menghilangkan perasaan itu pada Siska sementara Siska saja begitu selalu mengurusinya.
Faza meletakan ponselnya kembali ditempat semula kemudian melangkah menuju pintu. Faza tidak perduli dengan penampilan-nya yang hanya mengenakan handuk itu. Faza membuka pintu. Dan benar saja, Siska sudah berdiri didepan pintu kamar hotelnya dengan penampilan yang sederhana namun menarik menurut Faza.
“Ya Tuhan.. Pak.”
Siska langsung menutup wajahnya saat melihat penampilan Faza.
“Ada apa?” Tanya Faza dengan wajah datar.
“Eh enggak papa pak. Cuma mau tanya apa pak Faza mau keluar untuk membeli sesuatu? Saya mau ikut soalnya.”
Faza diam. Jika dirinya mengatakan akan keluar Siska pasti akan ikut. Dan itu pasti akan membuatnya harus bersama dengan Siska. Dan itu akan terkesan seperti dirinya sedang jalan berdua dengan Siska.
Faza berpikir keras. Faza ingin sekali mengatakan iya. Namun pikiran-nya masih berjalan dengan baik. Keluar berdua bersama Siska bukan hal yang baik. Itu akan menimbulkan fitnah dan tentu akan sangat menyakiti Zahra jika Zahra tau.
“Kamu keluar sendiri saja. Saya ada urusan lain.” Kata Faza menolak dengan keras.
“Tapi pak saya...”
“Siska, tolong mulai sekarang kamu jangan terlalu mengurusi semua tentang saya. Cukup dalam urusan pekerjaan saja. Yang lain jangan.” Tegas Faza membuat Siska terkejut.
Siska memang sering mengurusi Faza seperti menyiapkan makan siang bahkan membelikan-nya minuman jika Faza sedang sibuk. Siska juga perhatian pada Faza karna merasa Faza adalah bosnya. Faza juga adalah seorang yang dia tuakan dan dia hormati meski sebenarnya memang ada sesuatu yang berbeda dalam hati Siska untuk Faza.
Setelah berkata demikian Faza kembali menutup pintu kamarnya. Faza bahkan menutupnya dengan keras membuat Siska terlonjak karena kaget.
Pelan pelan Siska menurunkan kedua tangan yang dia gunakan untuk menutupi matanya. Mendengar apa yang Faza katakan entah kenapa Siska merasakan sesak didadanya.
Siska melakukan semua itu bukan tanpa alasan. Bukan hanya karna Faza atasan-nya. Bukan juga karna Faza dia tuakan. Namun sebenarnya ada sesuatu yang Siska rasakan pada seorang Faza Akbar. Rasa itu sangat sensitif dan dapat tepat mengenai hatinya.
Ya, Siska juga mempunyai rasa tidak biasa pada Faza. Rasa yang sangat salah yang seharusnya tidak boleh Siska rasakan pada Faza. Perasaan yang pasti akan membuat Faza marah padanya.
“Ya Tuhan...”
Siska menyentuh dadanya sendiri. Rasanya sangat sesak.
Siska dari awal sudah tau Faza sudah tidak lagi single. Faza sudah punya istri dan sebentar lagi akan memiliki anak. Tapi Siska tidak mampu menolak pesona Faza.
__ADS_1
Pelan pelan Siska memutar tubuhnya kemudian melangkah berlalu dari depan pintu kamar Faza menuju kamarnya sendiri.
Siska semakin menyadari bahwa menyimpan rasa pada Faza adalah salah. Kekasihnya pasti akan kecewa begitu juga dengan Zahra yang pasti sangat marah padanya.