PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 181


__ADS_3

Keesokan harinya Loly kembali datang ke tempat kerja Fadly. Loly benar benar merasa Fadly mulai berubah sekarang. Apa lagi semalaman Fadly juga sama sekali tidak menghubunginya. Fadly bahkan sama sekali tidak membalas pesan yang Loly kirim untuknya.


“Apa? Fadly keluar kota hari ini?”


Loly benar benar sangat terkejut. Fadly sama sekali tidak memberitahunya jika pagi ini dia pergi keluar kota. Bahkan kemarin saat Loly datang dan menuntut penjelasan Fadly malah menyuruhnya untuk pergi dengan alasan dirinya yang sedang sibuk dengan pekerjaan-nya.


“Ya bu..” Jawab wanita yang tidak lain adalah bawahan Fadly.


Loly menghela napas kasar. Fadly benar benar sangat keterlaluan kali ini.


“Memangnya kemana dia pergi?” Tanya Loly dengan menahan emosinya.


“Ke bandung bu..”


Sekali lagi Loly menghela napas. Entah apa maksud Fadly pergi tanpa mengatakan apapun padanya. Padahal selama ini Loly selalu terbuka pada Fadly. Loly juga selalu menyempatkan waktunya untuk Fadly. Loly bahkan sampai rela mengabaikan tanggung jawabnya sebagai pemimpin diperusahaan yang dibangun dari nol oleh kedua orang tuanya demi bisa selalu bersama dengan Fadly.


“Apa apaan ini? Kenapa Fadly tiba tiba berubah..” Batin Loly merasa kesal pada Fadly yang memang dari awal hanya mempermainkan-nya saja.


“Boleh saya tau alamat Fadly dibandung?” Tanya Loly lagi pada bawahan Fadly.


“Maaf bu untuk masalah itu saya tidak berani memberitahu. Saya takut pak Fadly marah.”


Loly berdecak mendengarnya. Dengan menahan emosi yang membuat darah dalam tubuhnya terasa mendidih, Loly pun berlalu dari hadapan wanita itu.


“Apa apaan ini? Kenapa sepertinya Fadly hanya memberi harapan palsu padaku?”


Loly melangkah lebar menuju mobilnya. Ketika hendak membuka pintu mobil miliknya, ponsel dalam tas jinjing kecilnya berdering. Loly segera merogoh tasnya meraih benda pipih itu dan menerima telepon yang ternyata dari Mona, sekretarisnya.


“Ya Mona.. Ada apa?” Tanya Loly begitu mengangkat telepon dari Mona.


“Nona.. Anda dimana?” Tanya balik Mona dengan nada khawatir dari seberang telepon.


“Saya ditempat kerja Fadly. Kenapa?”

__ADS_1


Helaan napas terdengar dari seberang telepon membuat Loly mengeryit bingung.


“Mona ada apa?” Tanyanya penuh rasa penasaran pada Mona.


“Nona maaf, sebenarnya pak Fadly datang pada saya dan mengatakan hari ini akan pergi ke bandung. Maaf semalam saya tidak langsung mengatakan pada Nona.”


Rahang Loly mengatup keras. Loly benar benar tidak tau apa maksud Fadly mengatakan akan kepergian-nya pada Mona namun sama sekali tidak mengatakan apapun padanya. Loly kesal, marah, juga merasa sakit dengan apa yang Fadly lakukan. Fadly seperti tidak menganggapnya ada.


Loly langsung menutup sambungan telepon begitu saja. Hatinya terasa sangat sakit dan perih seperti tersayat belati berkarat. Fadly sangat keterlaluan kali ini.


Dengan penuh rasa sesak didada Loly pun mencoba menghubungi Fadly untuk menanyakan apa maksudnya mendatangi Mona semalam. Rasanya Fadly seperti pamit pada Mona namun tidak perduli dan tidak memikirkan perasaan Loly yang jelas selalu menunggu kepastian-nya.


Berkali kali mengubungi Fadly namun tidak kunjung mendapat jawaban. Nomor Fadly bahkan langsung tidak aktif yang sepertinya memang sengaja Fadly nonaktifkan agar Loly tidak bisa menghubunginya lagi.


“Ya Tuhan...”


Tidak tahan dengan apa yang sedang diderita hatinya, Loly pun menangis. Loly tidak menyangka Fadly bisa berbuat sedemikian kejam padanya. Fadly tidak memperjelas status kedekatan mereka. Dan sekarang Fadly pergi tanpa mengatakan apapun padanya. Fadly memang pergi untuk urusan pekerjaan. Tapi caranya benar benar sangat menyakiti hati Loly.


“Kenapa Fadly? Kenapa kamu lakukan ini sama aku..” Lirih Loly dengan suara bergetar.


 ----------


Sementara itu dibandara Fadly beberapa kali menghela napas. Fadly terus mencoba meyakinkan hatinya bahwa apa yang dilakukan-nya sudah benar. Niatnya dari awal mendekati Loly memang hanya untuk memberi pelajaran pada Loly yang sudah mengusik hidup kakaknya juga menghilangkan kepercayaan Sinta padanya.


Fadly memejamkan kedua matanya. Entah kenapa tiba tiba pikiran dan hatinya menjadi tidak searah. Tiba tiba saja muncul perasaan tidak tega pada Loly. Rasa yang memang beberapa kali pernah singgah namun selalu bisa Fadly tepis dengan tameng kebencian-nya pada Loly.


Fadly menghela napas lagi kemudian meraih kopernya. Ketika hendak menariknya, tiba tiba panggilan Faza membuat Fadly menoleh.


“Kak...” Lirih Fadly menatap Faza yang sudah berdiri tidak jauh dari tempatnya.


Faza menatap Fadly dengan ekspresi yang tidak dapat Fadly tau apa artinya. Perlahan Faza melangkah mendekat pada Fadly dan berdiri tepat disampingnya.


“Kenapa nggak bilang sama kakak kalau kamu mau pergi keluar kota?” Tanya Faza menatap Fadly serius.

__ADS_1


Sebenarnya pagi ini Faza memang sengaja datang kerumah kedua orang tuanya untuk bertemu dengan Fadly dan menanyakan tentang hubungan Fadly dengan Loly. Karna sejak Sinta mengutarakan ketidak setujuan-nya dengan kedekatan Fadly dan Loly, Faza merasa sedikit tidak tenang. Faza merasa perlu bicara dengan Fadly berdua saja.


“Ya.. Ini pekerjaan mendadak kak. Aku bahkan tidak sempat pamit sama papah.” Senyum Fadly menjawab.


Faza mengangguk mengerti. Fadly memang selalu sibuk dengan berbagai pekerjaan-nya diluar kota. Tidak seperti dirinya yang selalu bisa stay bersama keluarga dari dulu.


“Mana Loly? Kenapa dia tidak mengantar kamu?” Tanya Faza yang kemudian menyadari tidak ada Loly disamping adik satu satunya itu.


Fadly tersenyum tipis.


“Kenapa jadi menanyakan Loly?”


Faza mengeryit mendengar pertanyaan balik adiknya itu. Rasanya sangat aneh mengingat Fadly yang sedang dekat dengan Loly akhir akhir ini.


“Apa kalian sedang ada masalah?” Tanya Faza penasaran.


Fadly tertawa.


“Sudahlah kak.. Untuk apa membahas sesuatu yang tidak penting.”


Faza benar benar tidak mengerti. Bagaimana mungkin Loly tidak penting bagi Fadly. Sedangkan mereka saja sedang sangat dekat.


“Fadly.. Kakak serius. Kenapa Loly tidak mengantar kamu? atau sebenarnya dia mengantar tapi sudah pulang?” Tanya Faza lagi.


Fadly melengos. Ternyata kakaknya juga mengartikan lain dengan maksudnya.


“Kak.. Aku tidak ada hubungan apa apa dengan Loly. Jadi tolong kakak jangan berpikir terlalu panjang.”


Faza menggeleng semakin tidak paham dengan apa yang Fadly katakan. Faza pikir selama ini kedekatan mereka adalah kedekatan yang akan terjalin kejenjang yang lebih serius lagi.


Suara pengumuman tentang keberangkatan pesawat yang akan ditumpangi Fadly membuat obrolan itu terputus. Fadly pamit pada Faza dan menyaliminya.


“Titip mamah ya kak.. Aku pergi dulu..” Senyum Fadly kemudian berlalu kedalam bandara.

__ADS_1


Sedang Faza, pria itu hanya diam saja. Faza mulai menyadari ada yang tidak sesuai dengan kenyataan yang selama ini Faza dan yang lain-nya lihat.


“Ada apa ini sebenarnya?”


__ADS_2