
Tina menghentikan mobilnya tepat didepan kedai ice cream tempatnya biasa mampir bersama Zahra dulu saat pulang bekerja sebelum Zahra menikah dengan Faza.
“Aku bantu...” Ujar Tina membukakan pintu mobil untuk Zahra. Tina juga menggandeng tangan Zahra membantu Zahra turun dari mobilnya.
“Makasih ya Tin..” Senyum Zahra.
“Iya sama sama.. Kamu mah kaya sama siapa aja.”
Zahra tertawa pelan. Tina memang sahabat terbaiknya. Tina selalu ringan tangan membantunya jika Zahra sedang dalam kesusahan.
Zahra dan Tina memasuki kedai ice cream dan memilih tempat duduk yang ada dipojok ruangan. Mereka juga tidak lupa memesan ice cream kesukaan mereka masing masing.
“Jadi gimana?” Tanya Zahra pada Tina.
Zahra benar benar penasaran dengan apa yang ingin diceritakan Tina tentang mantan bosnya dulu, Santoso.
Tina menghela napas pelan. Meskipun Tina sendiri tau bahwa Zahra dan Santoso sama sekali tidak memiliki hubungan spesial, namun jika mengingat apa yang mantan istri Santoso katakan padanya Tina merasa harus memberitahu pada Zahra. Tidak tidak ingin kalau tiba tiba Zahra tidak sengaja bertemu dengan mantan istri Santoso kemudian terkejut karna wanita itu menyalahkan-nya.
“Jadi pak Santo itu udah cerai Ra sama istrinya.” Ujar Tina mulai bercerita.
“Hah?! Kok bisa?”
Zahra terkejut mendengarnya. Setau Zahra, Santoso dan istrinya selalu terlihat harmonis dan saling mencintai.
“Yah.. Mereka bercerai karna istrinya pak Santoso menemukan photo perempuan lain didompet pak Santoso. Mereka ribut dan akhirnya memilih untuk bercerai setelah pak Santoso mengakui bahwa dia mencintai perempuan dalam photo itu.”
“Ya Tuhan...” Zahra menutup mulutnya tidak menyangka dengan apa yang menimpa rumah tangga mantan bosnya itu.
“Ya Ra.. Dan sampai sekarang mantan istrinya itu terus menyalahkan perempuan dalam photo yang pernah dia temukan didompet pak Santo. Dia mengira perempuan itu menggoda pak Santo.”
“Jadi istrinya eh maksudnya mantan istrinya pak Santo tau siapa perempuan itu?” Tanya Zahra menatap Tina serius.
Tina menganggukan kepalanya pelan. Zahra mungkin akan sangat terkejut mendengar bahwa perempuan yang dimaksud adalah dirinya.
__ADS_1
“Kok bisa begitu ya.. Memangnya siapa sih perempuan itu? Kok nggak punya hati banget. Kan kasihan anaknya pak Santo harus menjadi korban.” Zahra menggeleng pelan dan menghela napas tidak tega membayangkan anak Santoso yang dulu biasa dititipkan padanya dulu.
“Perempuan itu..”
Tina menggantungkan ucapan-nya menatap sendu pada Zahra. Tina tau bagaimana Zahra. Tina juga tau bagaimana hubungan Santoso dan Zahra yang memang hanya sebatas bos dan karyawan saja.
“Perempuan itu kamu Ra..” Lanjut Tina.
Kedua mata Zahra membulat dengan sempurna. Kali Zahra lebih dari terkejut mendengar apa yang Tina katakan.
“Kok..”
“Ya.. Pak Santoso memang diam diam mempunyai rasa sama kamu Ra. Itu sebabnya dia menjadi sangat mudah marah setelah kamu menikah dengan mas Faza. Bahkan pak Santoso juga hanya memberi kamu cuti sebentar setelah menikahkan? Dan lagi saat kamu memecahkan gelas secara tidak sengaja, dia begitu marah sama kamu. Itu sebenarnya hanya cara pak Santoso meluapkan emosinya dan kebetulan kamu tidak sengaja membuat kesalahan saat itu. Aku yakin kamu juga merasakan perubahan pak Santo setelah kamu menikahkan?”
Zahra terdiam. Semua yang Tina katakan memang benar. Faza dan Zahra bahkan berdebat saat Zahra harus kembali masuk kerja padahal mereka baru menikah tiga hari.
“Kamu masih ingatkan saat kamu minta izin pulang cepat untuk menghadiri pesta pertunangan kakak ku dan kak Anita? Pak Santo juga melarang kamu kan?”
Zahra menggeleng pelan. Zahra benar benar tidak pernah menyadari hal itu.
Tina meraih tangan Zahra dan menggenggamnya lembut.
Zahra menelan ludahnya menatap Tina dengan tatapan bingung. Zahra tidak tau harus menjelaskan apa pada mantan istri Santoso jika suatu saat bertemu secara tidak sengaja.
“Aku cerita ini sama kamu bukan bermaksud buat kamu kepikiran Ra.. Aku cerita ini supaya kamu tidak terkejut saat bertemu dengan mantan istri pak Santo yang pasti akan menyalahkan kamu..”
Zahra memejamkan kedua matanya sesaat. Zahra bukan takut pada mantan istri bosnya itu. Tapi Zahra lebih merasa tidak tega pada anak Santoso yang masih sangat kecil itu.
“Aku sebenarnya sudah merasa aneh sejak dulu pada pak Santo Ra... Soalnya dia itu sepertinya memang sengaja mendekatkan anaknya sama kamu. Pak Santo selalu menolak jika ada karyawan lain yang mendekati anaknya. Dan satu satunya orang yang dipercaya menjaga anaknya adalah kamu Ra.. Dari situ aku semakin merasa yakin kalau pak Santo memang punya rasa sama kamu..”
“Kenapa kamu nggak bilang dari dulu Tin tentang ini...” Lirih Zahra kembali menatap Tina dengan wajah sendunya.
“Aku cuma nggak mau kamu tiba tiba mengundurkan diri dari pekerjaan begitu tau pak Santo menyimpan rasa sama kamu Ra...”
__ADS_1
Zahra menarik napas dalam dalam. Mungkin maksud Tina tidak mengatakan tentang kecurigaan-nya pada Santoso juga demi kebaikan-nya.
“Ya sudahlah enggak papa.. Toh aku nggak ganggu hubungan mereka dulu kan? Aku juga nggak begitu deket sama pak Santo dulu..”
Tina tersenyum mendengarnya.
“Ya.. Kamu nggak perlu takut karna kamu nggak salah. Aku mengatakan ini supaya begitu kamu bertemu dengan mantan istrinya pak Santo kamu nggak kaget saja.”
“Yah... Makasih yah kamu udah kasih tau aku..” Angguk Zahra mengerti dengan maksud Tina.
“Makasih mulu kamu mah. Udah ah nggak usah dipikirin. Toh ini hanya kesalah pahaman. Kalaupun pak Santo mencintai kamu itu kan kesalahan dia sendiri. Karna pada dasarnya kamu enggak tau apa apa.”
Zahra hanya tersenyum. Zahra hanya sedang membayangkan bagaimana nasib anak Santo yang masih kecil dan masih sangat membutuhkan perhatian kedua orang tuanya.
“Lebih baik sekarang kita nikmati ice cream ini. Kamu mau nyobain punya aku nggak?” Tawar Tina pada Zahra.
“Oh ya.. Boleh deh...”
Zahra menyendok sedikit ice cream milik Tina dan mencicipinya.
“Enak nggak?” Tanya Tina.
“Eemm.. Lumayan sih. Tapi menurut aku tetap enak yang green tea. Hehee...”
“Ye elah.. Itu mah karena kamu sukanya yang green tea. Aku kan sukanya yang strawberry jadi menurut aku enak yang ini lah..”
“Hahaha.. Oke oke..”
Keduanya kemudian mengalihkan obrolan lain dan melupakan masalah tentang perceraian Santoso dan mantan istrinya. Mereka berdua bercanda dan tertawa bersama selama menikmati ice cream dikedai tersebut.
“Kita mau kemana lagi Ra?” Tanya Tina saat mereka berdua selesai menikmati ice cream.
“Eemm.. Bagaimana kalau kita keliling mall dulu. Abis itu baru kita makan siang direstoran. Mas Faza soalnya bilang katanya dia mau nyusul.” Jawab Zahra.
__ADS_1
“Oh yaudah oke..” Angguk Tina mengerti.