
Faza membuktikan ucapan-nya pulang sebelum hari gelap. Bahkan Faza pulang lebih awal dari biasanya.
“Mbak, Zahra mana?” Tanya Faza pada mbak Lasmi yang sedang mengelap pernak pernik diruang tamu.
Mbak Lasmi yang mendengar suara Faza langsung berbalik dan menghentikan sejenak pekerjaan-nya.
“Eh Tuan.. Sudah pulang.. Nyonya ada diatas tuan. Mungkin masih tidur.”
Faza mengeryit. Tidak biasanya Zahra tidur saat siang hari.
“Tidur? Sejak kapan?” Tanya Faza penasaran.
“Kira kira satu jam yang lalu tuan. Mungkin nyonya kelelahan setelah bermain dengan anak dari tuan Aries ditaman tadi.”
Faza menganggukan kepalanya. Arka memang sangat aktif dan tidak mau diam jika sudah diajak bermain.
“Ya sudah kalau begitu.”
Faza kemudian berlalu. Sedang mbak Lasmi, dia kembali mengerjakan apa yang sempat tertunda karna Faza tadi.
Faza menaiki satu persatu anak tangga dirumahnya dengan pelan. Pulang kerumahnya sendiri dengan pulang kerumah orang tuanya ataupun pulang kerumah peninggalan kedua orang tua Zahra rasanya benar benar sangat berbeda. Meskipun pada kenyataan-nya rumah yang sekarang menjadi tempat tinggalnya dan Zahra bukanlah hasil jerih payah dirinya sendiri. Tapi Faza benar benar merasakan perbedaan-nya.
Begitu sampai didepan kamarnya dan Zahra, Faza membuka pelan pintunya yang tidak dikunci.
Seulas senyum terukir dibibir Faza begitu mendapati istrinya yang terlelap dengan posisi miring memunggunginya menghadap tembok kaca.
Faza masuk dan menutup kembali pintu kamarnya. Pelan pelan Faza melangkah mendekat pada Zahra yang berada diatas ranjang.
Berulang kali Sinta menggertaknya, melarangnya untuk terus bersama Zahra. Namun itu tidak mampu mengikis sedikitpun rasa cinta yang Faza miliki untuk Zahra. Sebaliknya, Faza justru semakin mencintai Zahra dan semakin yakin bahwa mereka berdua tetap akan bisa bersama apapun rintangan-nya.
Faza menaruh jas dan tas kerjanya diatas tempat tidur kemudian semakin mendekat pada Zahra dan duduk tepat disamping tubuh Zahra ditepi ranjang.
__ADS_1
Faza membelai lembut pipi Zahra. Wanita yang jauh lebih cantik lebih pintar dari Zahra memang banyak. Tapi wanita yang dari dulu berhasil mencuri perhatian Faza hanya Zahra. Zahra mampu membuat Faza sangat mencintainya dengan segala kekurangan yang dia miliki. Zahra wanita yang apa adanya.
Zahra melenguh saat merasakan sentuhan tangan Faza di pipinya. Wanita itu menggeliat dan mengganti posisinya menjadi terlentang.
Faza terkikik geli. Ekspresi Zahra saat sedang menggeliat sangat lucu menurutnya. Mendadak rasa lelah yang Faza rasakan pun sirna begitu saja.
Faza kemudian kembali menyentuh pipi mulus Zahra. Faza sendiri tidak mengerti dan tidak punya alasan mengapa dirinya bisa sangat tergila gila pada Zahra. Tapi satu yang Faza tau, Cintanya dari dulu sampai selamanya hanya akan untuk Zahra.
Faza perlahan membungkukkan tubuhnya mendekatkan wajah pada wajah damai Zahra. Saat itu tiba tiba kedua tangan bergerak Zahra dan mengalung di lehernya menekan-nya sehingga bibir mereka saling menempel.
Faza terdiam sesaat. Istrinya memang sangat aktif saat sedang terlelap. Zahra bahkan pernah beberapa kali menendangnya sampai Faza jatuh kelantai dari atas tempat tidur.
Faza mengangkat pelan kepalanya. Ketika Faza berusaha untuk melepaskan tautan kedua tangan Zahra ditengkuknya, Tautan itu justru semakin kencang bahkan Zahra kembali menekan-nya sehingga bibir mereka menyatu lagi.
Faza tersenyum penuh arti. Faza tau istrinya tidak sengaja melakukan itu. Tapi Faza tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Faza tidak bisa menahan gairahnya yang mulai memuncak.
“Baiklah sayang.. Kamu yang memulainya lebih dulu.” Gumam Faza.
Sejenak Faza berhenti. Pria itu menatap tubuh istrinya. Kancing piyama yang dikenakan-nya sudah terbuka hampir semuanya dan itu tentu saja karna ulah Faza.
Faza kembali melanjutkan dan mulai fokus pada bagian dada Zahra. Lagi lagi Zahra melenguh seolah sedang menikmati sentuhan Faza namun kedua matanya tetap terpejam rapat. Zahra sama sekali tidak terbangun dengan aktivitas yang Faza lakukan pada tubuhnya.
Karna sentuhan yang tiada henti akhirnya Zahra pun perlahan membuka kedua matanya. Lenguhan nikmat kembali kedua dari bibirnya begitu Zahra menatap langit langit kamarnya.
“Mas...” Lirih Zahra.
Faza berhenti sejenak lagi. Zahra terkejut namun tetap bisa menguasai dirinya melihat suaminya sudah bertelanjang dada diatasnya. Pria itu bahkan sudah tidak lagi mengenakan apapun selain selimut yang menutupi separuh tubuh mereka begitu juga dengan Zahra yang sudah polos dibawahnya.
“Aku mencintaimu sayang. Sangat mencintaimu.” Ungkap Faza kemudian memagut mesra bibir Zahra.
Sesaat Zahra diam. Wanita itu berusaha mengumpulkan seluruh kesadaran-nya.
__ADS_1
Setelah kesadaran-nya terkumpul, Zahra pun mulai merespon sentuhan Faza. Zahra tidak perduli apapun yang akan Faza katakan nanti padanya. Sentuhan Faza membuatnya terbakar oleh gairah sehingga membuatnya sedikit brutal diatas ranjang.
Cukup lama mereka melakukan aktivitas tersebut. Bahkan keduanya juga kembali melakukanya didalam bak mandi dikamar mandi yang di iringi dengan ******* serta lenguhan yang keluar dari bibir Zahra.
Selesai melakukan-nya, mereka berdua segera membersihkan diri. Tanpa mereka sadari mereka melakukan-nya begitu lama sampai hari mulai gelap.
“Sayang...” Faza memeluk Zahra yang baru selesai mengenakan dress rumahan warna pink lembut selutut nya.
Faza menciumi tengkuk Zahra membuat si empunya memejamkan kedua mata merasakan panasnya bibir Faza yang menempel di permukaan kulitinya.
“Mas kita sudah melakukan-nya begitu lama..”
Faza segera menghentikan aktivitasnya kemudian memutar pelan tubuh Zahra agar menatapnya.
Faza membelai penuh cinta pipi Zahra. Tatapan-nya begitu dalam pada Zahra yang juga sedang menatapnya.
“Jujur sayang.. Mungkin melakukan-nya sepanjang hari juga aku tidak akan merasa bosan. Kamu benar benar membuatku merasa hebat disana..”
Zahra tersipu dan langsung menundukan kepalanya menghindari tatapan lembut suaminya. Pipinya terasa panas mengingat apa yang Zahra lakukan tadi. Ini kali pertama Zahra bisa mengimbangi permainan suaminya. Awalnya Zahra tidak perduli. Tapi setelah selesai, Zahra benar benar merasa malu.
Faza meraih dagu Zahra dan mendongakkan-nya lembut.
“Lihat aku sayang..” Lirih Faza.
Zahra menurut. Zahra menatap tepat pada kedua mata Faza.
“Apapun alasan-nya aku ingin hanya kamu yang menjadi pendamping hidupku satu satunya dan untuk selamanya. Kamu harus tau itu. Aku hanya mencintai kamu. Dan cintaku tanpa syarat apapun. Cukup dengan kamu selalu ada disampingku. Itu saja.”
Zahra tertegun mendengar apa yang Faza katakan. Zahra tidak tau harus berkata apa. Zahra benar benar tidak tau harus bagaimana.
“Zahra, Di dunia ini hanya ada dua perempuan yang sangat aku cintai. Yaitu mamah dan kamu. Jadi apapun yang mamah katakan aku mohon kamu jangan pernah menyerah. Aku tidak bisa memilih salah satu diantara kalian. Aku ingin kalian berdua saling menyayangi dan mengasihi.”
__ADS_1
Perlahan Zahra tersenyum. Banyak orang mengatakan seorang pria yang sangat mencintai ibunya pasti juga akan sangat mencintai pasangan-nya. Dan Zahra berharap Faza juga bisa seperti itu.