PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 102


__ADS_3

“Kamu mau makan yang mana Zahra? Biar mamah yang ambilkan.”


Zahra, Faza, Fadly, juga Akbar hanya bisa diam menatap perubahan tiba tiba Sinta. Apa lagi sekarang Sinta begitu sibuk menawarkan semua hidangan yang ada didepan-nya pada Zahra. Mereka ber empat menatap bingung pada Sinta yang sepertinya tidak menyadari tatapan ke empat orang yang ada dihadapan-nya.


Faza melirik pada Fadly dan Akbar. Entah kenapa Faza merasa khawatir dengan perubahan mendadak mamahnya.


“Eemm.. Mamah, aku mau yang itu dong. Kayanya sop buntutnya enak.” Ujar Faza.


Sinta menatap Faza sesaat kemudian tersenyum.


“Sebentar sayang.. Mamah ambilkan. Zahra juga kalau kamu merasa sungkan mamah yang mengambilkan, kamu bisa mengambil sendiri.” Kata Sinta sambil meraih piring yang disodorkan Faza padanya.


“Eem.. Iya mah..” Angguk Zahra tersenyum tipis.


Perubahan sikap Sinta dari judes dan jutek menjadi baik adalah keinginan terbesar Zahra. Tapi setelah melihat bagaimana baiknya Sinta sekarang itu justru terlihat aneh dan membingungkan bagi Zahra. Mungkin itu yang dinamakan angan tidak sesuai dengan realita.


“Aku coba ya mah..” Senyum Faza setelah diambilkan sop buntut oleh Sinta.


“Ya sayang..” Angguk Sinta menjawab dengan senyuman.


Faza sengaja mencobanya lebih dulu memastikan bahwa dalam makanan itu tidak terkandung zat yang berbahaya untuk Zahra. Faza bahkan menunggu beberapa menit dulu yang tentunya juga mendapat tatapan penuh tanda tanya dari papah dan adiknya.


“Bagaimana rasanya Faza?” Tanya Sinta tidak sabar menunggu tanggapan putra pertamanya itu.


“Eemm.. Ini sangat enak mah.” Jawabnya.


Sinta tertawa. Wanita itu kemudian ikut mengambil untuknya sendiri dan langsung melahapnya seperti sedang meyakinkan mereka semua bahwa dalam makanan yang dibuatnya tidak terkandung zat berbahaya apapun.


“Kalau begitu biar papah coba dadar telurnya.” Ujar Akbar tersenyum sambil mengambil irisan dadar telor buatan istrinya kemudian melahapnya. Akbar tersenyum. Makanan itu aman.

__ADS_1


Akbar melirik Fadly dan memberi kode dengan tatapan matanya menyuruh agar Fadly mengambil acak buah buahan didepan-nya dan mencobanya.


Fadly yang mengerti pun menganggukan kepalanya. Kali ini Akbar, Faza, juga Fadly bekerja sama untuk melindungi Zahra dan janin dalam kandungan-nya yang tidak lain adalah calon keluarga baru mereka.


“Eemm.. Biar aku yang kupaskan buahnya untuk Zahra.” Senyum Fadly mengambil acak buah apel kemudian segera mengupasnya dengan pisau.


Fadly bersenandung kecil sambil mengupas buah apel ditangan-nya. Hal itu membuat Faza tersenyum. Faza bersyukur karna Fadly dan papahnya begitu kompak untuk memastikan keamanan makanan yang dibawa oleh Sinta.


Faza sangat berterimakasih dalam hati. Karna adik dan papahnya ternyata juga menyayangi Zahra dan tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Zahra dan janin dalam kandungan-nya.


“Oke, semuanya sudah mencoba. Dan semua makanan ini aman.”


Ujar Sinta menatap satu persatu semua yang ada dimeja makan bersamanya.


“Zahra, mau menunggu berapa menit lagi? Atau kamu tidak mau mencicipi apa yang mamah bawakan?”


Zahra mengerjapkan kedua matanya beberapa kali kemudian menggeleng.


“Bagus kalau begitu. Apa perlu mamah ambilkan?” Tanya Sinta terus menatap Zahra.


“Tidak perlu mah.. Zahra ambil sendiri saja.” Senyum Zahra.


Zahra segera mengambil sendok sayur dan mengambil sedikit sop iga serta sambal yang dibawa Sinta. Saat Zahra hendak menyendok lagi sambal untuk yang kedua kalinya, Sinta langsung mencegahnya dengan memukul sedikit keras punggung tangan Zahra.


Hal itu membuat Faza, Akbar, juga Fadly melotot.


“Usia kehamilan kamu masih sangat muda Zahra. Kurangi makanan pedas.” Katanya tajam.


Zahra menelan ludahnya. Pukulan Sinta dipunggung tangan-nya lumayan keras sehingga membuat Zahra langsung menarik kembali tangan-nya yang mengakibatkan sendok yang dipegangnya terlepas dan jatuh.

__ADS_1


Akbar yang mendengar itu tersenyum begitu juga dengan Fadly. Mereka pikir Sinta hendak mengatakan ucapan yang tidak pantas. Tapi ternyata Sinta hanya sedang mengingatkan Zahra.


“Fadly.. Berikan buah yang tadi kamu kupas.” Perintah Sinta yang tentu langsung dilaksanakan oleh Fadly.


Fadly bangkit dari duduknya dan mendekat pada Zahra dengan satu buah apel yang selesai dia kupas juga dipotong. Tidak lupa Fadly juga mencicipinya beberapa potong untuk memastikan buah tersebut aman Zahra konsumsi.


“Pokonya mamah nggak mau tau. Cucu pertama mamah harus lahir dengan sehat dan selamat. Faza, kamu harus menjaga Zahra dengan baik. Dan itu juga berlaku untuk papah dan kamu Fadly. Bantu Faza untuk melindungi Zahra dan memastikan semua yang terbaik untuk dia.” Tegas Sinta.


Faza menghela napas merasa sangat lega juga bahagia. Do'a yang hampir setiap waktu dia panjatkan akhirnya terkabul juga. Sinta berubah menjadi baik dan perhatian pada Zahra.


“Terimakasih Tuhan.. Terimakasih untuk do'a hamba yang engkau kabulkan.”


Sarapan pagi dikediaman Zahra berlangsung hangat pagi itu. Dan itu adalah kali pertama Sinta baik pada Zahra. Meskipun memang beberapa kali Sinta melontarkan kata pedas namun semuanya bisa memaklumi mengingat bagaimana sikap Sinta biasanya pada Zahra.


Selesai sarapan, Sinta, Fadly, juga Akbar berpamitan untuk pulang. Selain karna Fadly dan Akbar yang harus bekerja, Sinta juga terus mengajak mereka untuk segera pulang.


“Faza, ingat. Kamu nggak boleh pulang terlalu larut meskipun sekarang kamu itu direktur. Jangan membuat Zahra menunggu yang pasti akan membuat Zahra masuk angin. Itu tidak baik untuk calon cucu mamah.” Begitu kira kira Sinta mewanti wanti Faza sebelum masuk kedalam mobil Akbar.


Sinta juga tidak lupa memberikan selamat atas pencapaian putra pertamanya itu dengan memberikan pelukan hangat serta kecupan penuh kasih sayang dikening Faza.


“Ini benar benar seperti mimpi mas..” Ujar Zahra pelan sembari menatap mobil Akbar dan Fadly yang perlahan mulai berlalu dan keluar dari pekarangan rumahnya.


Faza tertawa mendengarnya. Perubahan Sinta memang sangat mendadak. Tapi itu bukan masalah baginya. Karna bahkan sekarang Sinta begitu perhatian pada Zahra sampai membawakan makanan sehat untuk Zahra sarapan.


“Apapun itu aku sangat bahagia sayang.. Kehamilan kamu benar benar membawa semua yang terbaik buat kita berdua. Mulai dari aku yang naik jabatan, Mamah yang berubah baik sama kamu. Entah kebaikan apa lagi yang akan datang nanti. Ini semua adalah kado terindah yang pernah aku dapatkan selama aku hidup didunia ini.” Ujar Faza menatap Zahra lembut.


Zahra menganggukan kepalanya. Mungkin itu yang dinamakan rezeki anak. Semuanya begitu indah setelah janin itu tumbuh dirahimnya.


“Ya sudah kalau begitu aku juga berangkat ya sayang.. Kamu nggak usah ngerjain apa apa lagi mulai hari ini. Cukup kamu santai, duduk, makan terus tidur yang cukup. Serahkan semua pekerjaan rumah pada mbak Lasmi.” Kata Faza menangkup lembut kedua pipi Zahra.

__ADS_1


“Iya masku sayang..” Balas Zahra mendongakkan kepalanya membalas tatapan lembut Faza padanya.


Satu kecupan lembut Faza daratkan di kening Zahra sebelum benar benar berangkat untuk bekerja pagi itu dengan status barunya sebagai direktur diperusahaan tempatnya bekerja.


__ADS_2