
Fadly masuk kedalam kamarnya dalam diam. Kebahagiaan setelah kebersamaan-nya dengan Loly lenyap begitu saja setelah mendengar apa yang papahnya katakan tadi. Fadly sangat tidak menyangka mamahnya yang selalu menganggap dirinya selalu benar ternyata memiliki masa lalu yang cukup kelam. Lebih parahnya lagi Sinta bahkan dikatakan pernah selingkuh dibelakang Akbar saat Akbar sedang sibuk dengan pekerjaan-nya diluar rumah. Meskipun memang Akbar juga mengakui dirinya pun sama sama melakukan perbuatan tidak pantas itu.
Fadly menghela napas. Selama ini yang Fadly tau kedua orang tuanya adalah orang paling baik sedunia nya. Itu sebabnya meskipun Sinta egois tapi Fadly tidak pernah berani menentang dulu. Bahkan bukan hanya Fadly saja, Faza juga sangat penurut pada Sinta yang memang seperti menggenggam semua keputusan dan aturan dirumah mereka.
Baru saja Fadly mendudukan dirinya ditepi ranjang pintu kamarnya sudah kembali terbuka. Fadly langsung mengarahkan pandangan-nya kearah pintu dimana Sinta berdiri disana.
Fadly menatap mamahnya dengan tatapan yang Fadly sendiri tidak tau harus bagaimana.
“Boleh mamah masuk?” Tanya Sinta dengan suara seratnya.
Fadly menghela napas pelan kemudian menganggukkan kepalanya.
“Ya mah...” Jawabnya.
Sinta kemudian masuk kedalam kamar Fadly dan menutup kembali pintu kamar putranya itu. Sinta tidak menyangka Akbar akan membuka semua masa lalunya didepan Faza dan Fadly.
Sinta yakin kedua putranya pasti sangat terkejut. Bahkan mungkin mereka berdua juga tidak bisa menerima kenyataan bahwa Sinta mempunyai sisi kelam dimasa lalunya.
“Mamah bisa jelasin nak...” Lirih Sinta setelah mendudukan dirinya disamping Fadly.
Fadly tersenyum dan menggeleng pelan. Semuanya menurutnya sudah jelas. Penjelasan panjang lebar Akbar bisa dengan mudah Fadly cerna.
“Fadly paham kok mah.. Didunia ini enggak ada manusia yang sempurna termasuk mamah dan mungkin juga papah.” Ujar Fadly pelan.
Sinta hanya bisa menundukkan kepalanya. Selama ini baik dirinya maupun Akbar memang tidak pernah sedikitpun mengungkit tentang masa lalu. Dan sore ini tiba tiba Akbar membuka semuanya didepan kedua putra mereka.
“Tapi mah.. Setelah mendengar semua yang papah katakan tadi Fadly jadi berpikir, ternyata Fadly tidak lahir dari perempuan yang sempurna seperti yang Fadly yakini selama ini. Ternyata mamah sama seperti perempuan pada umumnya.”
Sinta tetap diam mendengarkan apa yang ingin putranya sampaikan padanya.
__ADS_1
“Fadly bukan tidak menerima kekurangan mamah. Cuma Fadly heran aja kenapa mamah nggak pernah bisa memahami dan memaklumi kekurangan orang lain. Padahal mamah sendiri juga punya banyak kekurangan.”
Sinta langsung menatap Fadly. Kedua matanya membulat tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
“Fadly kamu...”
“Mah.. Fadly enggak mau mamah menyesal. Kak Faza terlihat sangat kecewa tadi. Fadly yakin mamah tau apa maksud Fadly...” Sela Fadly pelan.
“Ooh.. Jadi kamu mau mamah minta maaf sama Zahra begitu?”
Fadly tertawa dan menggeleng tidak menyangka mendengar nada pertanyaan mamahnya.
“Mamah masih aja ya musuhin Zahra begitu. Padahal papah jelas jelas sudah mengatakan semuanya tadi didepan Fadly sama kak Faza.. Memangnya mamah nggak malu? Mamah mencela orang lain sedang mamah sendiri jauh dari kata sempurna. Mamah punya banyak kekurangan.”
“Fadly jangan sama samain mamah dengan Zahra. Mamah nggak suka.” Tegas Sinta.
Fadly menghela napas kemudian bangkit dari duduknya.
“Ya Tuhan...”
Sinta menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Putranya mendukung jika Akbar berniat meninggalkan-nya.
Sedang Fadly, setelah mengucapkan kata yang berhasil mencubit hati sang mamah dia pergi lagi dengan mengendarai mobilnya.
Ucapan papahnya yang mengungkapkan segala tentang masa lalu sang mamah membuat tekad Fadly untuk menghadap kedua orang tua Loly semakin bulat. Fadly tidak perduli meskipun nanti kedua orang tua Loly akan menghinanya habis habisan.
Fadly mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Pikiran-nya benar benar kacau sekarang. Tapi kekacauan itu justru membuat Fadly semakin merasa yakin untuk segera memiliki Loly. Tidak perduli apa kata mamahnya nanti.
Dalam waktu singkat Fadly sampai dikediaman kedua orang tua Loly. Pria itu benar benar langsung menghadap kedua orang tua Loly ditengah kekacauan hatinya.
__ADS_1
Fadly bahkan berpikir jika kedua orang tua Loly terus saja menghina dan memandangnya sebelah mata mungkin itu adalah balasan dari Tuhan untuk Sinta karena Sinta yang sampai sekarang terus saja menghina Zahra.
“Berani sekali kamu datang dan melamar anak saya kesini?!”
Suara Ricard meninggi setelah mendengar maksud kedatangan Fadly yang dari awal memang sudah dia tolak. Mereka bahkan berbicara didepan gerbang karena Fadly yang dilarang masuk kedalam kediaman mewah Erika dan Ricard.
“Om.. Saya sangat mencintai anak om. Saya tau saya salah om.. Dan saya sangat menyesal. Maka dari itu izinkan saya untuk menebus semua kesalahan saya dengan menjaga Loly seumur hidup saya. Saya janji om, saya tidak akan mengulangi lagi kesalahan saya. Saya akan menjaga dan melindungi Loly dengan sepenuh hati saya.” Ujar Fadly menatap Ricard yang berdiri didepan-nya.
Ricard diam dan terus menatap Fadly dengan tatapan tajamnya.
“Setelah aku pikir pikir mungkin kita akan sangat keterlaluan jika terus menentang hubungan Loly dan Fadly. Mungkin kita bisa memberi kesempatan pada Fadly. Semua ini demi Loly. Aku tau Loly juga sangat mencintai Fadly.”
Tiba tiba ucapan Erika tempo hari terngiang kembali ditelinga Ricard. Ricard memejamkan kedua matanya sebentar. Banyak yang berubah dari Loly termasuk fisiknya sejak dirinya dan Erika menentang dengan keras hubungan Loly dengan Fadly. Erika dan Ricard bahkan beberapa kali mengurung Loly dikamar namun Loly tetap tidak pernah kapok dan tetap pergi diam diam dengan Fadly tanpa sepengetahuan-nya.
“Apa kamu yakin akan melakukan apapun demi bisa bersama Loly?” Tanya Ricard dengan senyuman miringnya.
Fadly tersenyum mendengar pertanyaan itu. Dengan mantap Fadly langsung menganggukkan kepalanya.
“Tentu om, saya akan melakukan apa saja demi bisa bersama dengan Loly.” Jawab Fadly.
Ricard mengangguk anggukan kepalanya beberapa kali dengan pelan dan senyuman miring yang terus menghiasi bibirnya.
“Bagaimana kalau saya mau kamu tinggalkan profesi kamu sebagai arsitek? Apa kamu sanggup Fadly?”
Senyuman dibibir Fadly seketika langsung pudar. Menjadi arsitek adalah cita citanya sejak kecil. Dan tidak gampang bagi Fadly mencapai cita citanya itu sampai se sukses sekarang.
“Maksud om?” Tanya Fadly pelan.
Ricard tertawa dan menatap dari atas sampai bawah penampilan Fadly.
__ADS_1
“Saya tidak punya waktu untuk mengulang pertanyaan saya tadi. Kamu hanya tinggal jawab sanggup atau tidak sanggup Fadly.”
Fadly menelan ludahnya. Dapat mencapai cita citanya adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi Fadly. Tapi Fadly juga tidak mungkin menyia nyiakan kesempatan mendapat restu dari kedua orang tua Loly sekarang. Bisa bersama Loly adalah keinginan terbesarnya saat ini.