
Fadly tidak berani keluar dari kamarnya pagi ini setelah pertanyaan yang di lontarkan Sinta padanya tentang kedekatan-nya dengan Loly semalam.
“Duhhh.. Mana udah jam segini lagi..”
Fadly gusar sendiri didepan pintu kamar yang masih dia kunci. Sempat terbesit di pikiran Fadly untuk turun melalui balkon kamarnya. Tapi itu sangat tidak mungkin mengingat kunci mobilnya yang ada di lantai satu. Apa lagi ponselnya juga ketinggalan didapur saat subuh tadi Fadly mengendap endap sarapan lebih dulu.
“Ck, Loly.. Kamu selalu saja membuat aku dalam masalah.” Geram Fadly pada Loly yang sebenarnya tidak tau apa apa.
Fadly mengigit bibir bawahnya mencoba memutar otaknya. Fadly benar benar tidak tau harus menjawab apa jika Sinta kembali menanyakan tentang kedekatan-nya dengan Loly yang sebenarnya hanya sebatas sandiwara yang Fadly ciptakan tanpa sepengetahuan orang orang disekitarnya. Semalam saja Fadly terselamatkan oleh papahnya yang tiba tiba nongol dan memanggil mamahnya.
Fadly menghela napas. Jika saja ponselnya ada ditangan-nya sekarang mungkin Fadly tidak akan bingung. Fadly bisa saja turun dari balkon kamarnya kemudian memesan ojek online untuk berangkat ke kantor tanpa sepengetahuan mamahnya.
Fadly terus mondar mandir didepan pintu hingga suara ketukan pintu mengagetkan-nya. Napas Fadly memburu dengan detak jantung yang begitu sangat cepat. Fadly tidak menyangka menghindari pertanyaan mamahnya seputar Loly sampai sebegitu susahnya.
“Fadly.. Kamu sudah bangun belum nak?”
Itu suara Sinta. Sudah dua kali Sinta mengetuk pintu dan menanyakan Fadly yang belum kunjung keluar dari kamarnya pagi ini. Tapi Fadly tetap tidak berani membuka pintu kamarnya. Fadly benar benar tidak ingin berbohong perihal rencananya pada Loly dulu. Tapi Fadly juga takut untuk jujur pada mamahnya mengingat Sinta yang begitu perduli dan sangat menyayangi Loly. Apa lagi sinyal restu juga sudah terlihat jelas saat Sinta menanyakan dengan nada sangat lembut tentang kedekatan Fadly dengan Loly.
“Mati aku...” Gumam Fadly menelan ludah.
Fadly tidak berani membayangkan akan seperti apa Sinta marahnya jika sampai Sinta tau bahwa Fadly mendekati Loly dengan niat tidak baik.
“Fadly.. Kamu belum bangun yah?”
Setelah mengetuk pintu Sinta berusaha memutar handle pintu kamar Fadly yang langsung membuat kedua mata Fadly membulat dengan sempurna.
“Sebegitu ingin taunya mamah tentang kedekatan aku dengan Loly?” Fadly bertanya tanya dengan kengerian yang dia bayangkan sendiri.
Fadly tau mamahnya menyayangi Loly. Dan itu tidak menutup kemungkinan Fadly akan mendapat amukan dari Sinta jika Fadly jujur tentang segalanya.
Merasa tidak ada lagi jalan lain, Fadly pun perlahan melangkah mundur. Setelah berada diambang pintu penghubung balkon, pria dengan setelan jas abu abu itu mulai melangkah dibalkon kamarnya.
Fadly menatap kebawah kemudian mengangguk yakin. Fadly menghela napas sebelum benar benar berusaha dengan sangat hati hati menuruni balkon kamarnya.
__ADS_1
Fadly merasa seperti tersangka yang berusaha kabur dari tahanan sekarang. Rasanya sangat menegangkan juga mendebarkan.
Setelah berhasil menapak kan kedua kakinya di lantai carport halaman samping rumah, Fadly pun menghela napas lega. Fadly yakin kedua orang tuanya tidak mengetahui apa yang dia lakukan pagi ini.
“Den..”
Suara pak Umar membuat Fadly terkejut kaget. Fadly mengelus dadanya kemudian menoleh pada pak Umar.
“Apaan sih pak? Ngagetin aja.” Gerutu Fadly kesal.
“Maaf atuh den.. Tapi aden ngapain susah susah turun dari kamar lewat balkon?” Tanya pak Umar penasaran.
Fadly meringis bingung. Tidak mungkin jika Fadly menjawab dengan jujur. Sedang jika dirinya bohong otomatis Fadly juga pasti akan semakin berbohong untuk menutupi kebohongan lain-nya.
“Eemm.. Enggak papa kok pak. Iseng aja. Oh iya pak, saya boleh pinjem handphone pak Umar sebentar tidak? Saya mau pesan ojek online..”
Pak Umar semakin bingung. Fadly yang mengerti tatapan bingung pak Umar pun berusaha mencari alasan yang logis.
“Eemm.. Handphone saya ketinggalan dikantor.” Katanya beralasan.
Fadly tersenyum merasa senang karna pak Umar mulai merogoh saku celana hitamnya untuk mengambil ponsel miliknya.
“Ini den.. Tapi saya lagi nggak punya kuota den.. Maklum belum waktunya gajian.” Ujar pak Umar dengan senyum lebarnya sambil menyodorkan ponsel miliknya pada Fadly.
Senyuman dibibir Fadly seketika pudar. Bagaimana mungkin dirinya bisa memesan ojek online jika pak Umar saja tidak punya kuota.
“Ya ampun pak.. Gimana caranya saya pesan ojek online kalau pak Umar saja nggak punya kuota..”
Pak umar hanya tertawa saja. Pak Umar memang sering kehabisan kuota sebelum waktu gajian.
“Ya udahlah pak saya nggak jadi pinjem handphone pak Umar. Tolong bukain gerbang aja.” Ujar Fadly berusaha menahan rasa kesalnya.
“Oh siap den..”
__ADS_1
Pak Umar kemudian kembali mengantongi ponsel android miliknya. Setelah itu pak Umar berlari kecil menuju gerbang untuk membukakan-nya agar Fadly bisa keluar dengan mobilnya.
Namun setelah membukakan gerbang pak Umar kembali kebingungan karna Fadly malah berjalan kaki mendekat padanya.
“Saya pergi ya pak..” Katanya.
“Loh loh den.. Kenapa nggak bawa mobil?” Tanya pak Umar.
Fadly menghela napas. Malas sebenarnya untuk menjawab pertanyaan itu. Tapi Fadly juga tidak mau membuat orang lain jengkel karna pertanyaan-nya di abaikan.
“Lagi malas nyetir pak.” Jawab Fadly sekenanya kemudian berlalu dari hadapan pak Umar dengan berjalan kaki.
Pak Umar benar benar tidak mengerti. Padahal baik Fadly maupun Faza tidak pernah sekalipun jalan kaki saat keluar dari rumahnya. Apa lagi mereka mempunyai kendaraan yang bisa mereka berdua ganti kapan saja mereka mau.
Pak Umar menggelengkan pelan kepalanya. Pria tua itu kemudian kembali menutup pintu gerbang setelah posisi Fadly sudah lumayan jauh.
“Sialan. Gara gara Loly aku jadi apes begini. Lagian ngapain juga sih mamah tiba tiba pengin tau hubungan aku sama Loly.. Padahal waktu itu nentang banget.”
Fadly terus mengomel sambil melangkahkan kakinya menyusuri jalanan kompleks perumahan tempat keluarganya bermukim.
Pria itu tidak henti hentinya menyalahkan Loly. Padahal jika dipikir lagi Loly jelas tidak salah apa apa.
Fadly mengangkat pergelangan tangan kirinya menilik waktu. Fadly ingin sekali menangis. Jarak dari rumah ke perusahaan sangatlah jauh. Bahkan saat Fadly menempuhnya menggunakan mobil saja bisa memakan waktu sampai satu jam. Sedangkan sekarang jangan kan kendaraan. Ponsel saja Fadly tidak membawanya.
“Mana ada meeting pagi lagi.. Hufft..”
Fadly berhenti melangkahkan kakinya. Pria itu menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri hingga kedua matanya menyipit melihat mobil sport merah yang tidak asing dimata Fadly.
“Itu kan mobilnya Loly..” Gumam Fadly.
Tidak mau malu karna ketahuan mendapat sial pagi ini oleh Loly Fadly pun langsung menyembunyikan dirinya dibalik pohon besar.
Fadly terus bersembunyi sampai mobil Loly lewat dan benar benar berlalu jauh dari tempat Fadly sembunyi.
__ADS_1
“Untung aja nggak ketahuan..” Hela napas Fadly merasa lega.