PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 160


__ADS_3

Nadia terkejut saat mendapati Zahra yang menuruni tangga dengan Faza yang menuntun-nya. Mereka saling menatap merasa bingung karna sebelumnya Zahra sama sekali tidak mengatakan Faza akan pulang hari itu.


“Loh Faza.. Kamu kok..” Nadia tidak jadi melanjutkan ucapan-nya karna Zahra yang tertawa pelan.


Nadia tadinya hendak membangunkan Zahra yang sampai siang belum juga bangun dari tidurnya. Nadia sangat khawatir mengingat Zahra yang mengatakan dirinya tidak bisa tidur hampir empat malam. Maka dari itu Nadia membiarkan Zahra bangun siang hari.


“Aku juga kaget banget semalam kak. Mas Faza tiba tiba ada didepan aku.. Rasanya kaya mimpi yang tiba tiba jadi kenyataan.”


Faza tertawa mendengarnya. Rasa bersalah semakin menggerogoti hatinya sekarang. Zahra jelas sangat merindukan dirinya selama dirinya berada di Amerika. Tapi Faza justru diam diam mengagumi sosok wanita lain yang tidak lain adalah Siska, sekretarisnya sendiri.


“Lupakan Siska Faza. Hidup dan cintamu hanya untuk Zahra dan anak kalian. Ingat bagaimana kamu membohongi mamah papah hanya untuk bisa menikahi Zahra dan hidup bersamanya.” Batin Faza menekan keras perasaan dihatinya.


“Iya deh... Yang jauh sebentar aja udah mimpi tiap malem..” Senyum Nadia menggoda.


Zahra hanya meringis. Berjarak dengan Faza adalah sesuatu yang tidak pernah sedikitpun Zahra bayangkan sebelumnya. Dan begitu Zahra merasakan-nya, hatinya benar benar tidak bisa menerimanya. Zahra ingin selalu berada didekat Faza, suami tercintanya.


“Ya udah nanti lagi ceritanya. Mendingan sekarang kamu sarapan ya Ra.. Kamu juga Faza. Kakak udah buatkan sarapan khusus untuk kamu Zahra...”


Zahra mengangguk pelan. Selama menemaninya tinggal dirumahnya, Nadia memang tidak pernah telat memperhatikan-nya. Beruntungnya Sinta tidak lagi datang sejak berdebat dengan Aries sehingga Zahra tidak perlu merasa tidak enak hati pada kakak iparnya itu.


“Makasih banget ya kak..”


“Iya sama sama.. Ayo ayo kalian sarapan dulu..”


Faza dan Zahra kemudian sarapan berdua dimeja makan. Faza sesekali menyuapi Zahra yang tentu saja menerimanya dengan senang hati.


Selesai sarapan, Faza mengajak Zahra dan Nadia untuk membongkar koper dan barang barang bawaan-nya termasuk oleh oleh yang sengaja Faza beli untuk orang orang dirumahnya termasuk mbak Lasmi dan pak satpam diruang keluarga.


“Ini beneran buat Arka?” Tanya Nadia sambil memegang salah satu barang berharga mahal ditangan-nya.

__ADS_1


Ya, memang membelikan banyak mainan untuk Arka. Keponakan-nya dan Zahra satu satunya.


“Iya kak.. Itu aku beli khusus banget buat Arka.” Senyum Faza menhawab.


“Tapi ini harganya...”


“Nggak usah bahas harga kak.. Aku cuma pengin aja bisa beliin mainan buat Arka.. Aku harap Arka suka dengan mainan mainan yang aku belikan untuknya.”


“Tentu saja. Arka pasti sangat menyukainya. Terimakasih ya Faza...”


“Iya kak...” Angguk Faza dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


Setelah selesai membongkar semua yang dibeli Faza, Zahra kembali diserang oleh rasa kantuk. Faza yang tau semalam Zahra sangat kewalahan melayaninya pun dengan sangat penuh perhatian mengajak dan menemani Zahra untuk beristirahat dikamar mereka.


Setelah memastikan Zahra benar benar terlelap siang itu, Faza pun keluar dari kamarnya. Namun ketika hendak melangkah suara Nadia yang memanggilnya berhasil membuat Faza menoleh padanya.


“Kakak panggil aku?” Tanya Faza menunjuk dirinya sendiri.


Faza tertawa pelan. Bodoh sekali dirinya sekarang.


“Ada yang pengin kakak bicarain sama kamu Faza. Ini tentang mamah kamu dan Zahra.”


Senyuman dibibir Faza mendadak sirna. Jika sudah menyangkut tentang mamah dan istrinya Faza yakin Nadia pasti akan membahas sesuatu yang tidak mengenakkan hatinya.


“Jangan disini deh.. Takut Zahra dengar. Kita bicara ditaman belakang saja.” Ujar Nadia.


“Ya kak..” Balas Faza mengangguk pelan. Faza tidak ingin menebak nebak lebih dulu tentang apa yang ingin Nadia katakan padanya. Tapi Faza juga tidak bisa tenang apa lagi Faza juga tau bagaimana sikap mamahnya pada Zahra.


“Ayoo..” Ajak Nadia kemudian melangkah lebih dulu dari Faza yang mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


Begitu sampai ditaman belakang rumah, Nadia mengajak Faza untuk duduk berdua diatas kursi panjang bercat putih diantara bunga bunga yang sangat terawat.


“Apa mamahku membuat ulah kak?”


Nadia melirik Faza yang duduk disampingnya. Nadia berpikir, mungkinkah Faza juga sudah tau bagaimana perlakuan Sinta terhadap Zahra.


“Apa memang cara bersikap mamah kamu sama Zahra seperti itu?” Tanya balik Nadia dengan pelan.


Faza menghela napas. Dugaan-nya benar.


“Faza.. Kalau sampai mas Aries tau bagaimana sikap mamah kamu pada Zahra, dia pasti tidak akan segan membawa Zahra pergi dari sini. Zahra itu sangat penting untuk mas Aries juga untuk aku.. Kami berdua sangat menyayanginya Faza..”


Faza menelan ludahnya. Faza sendiri tidak tau bagaimana pemikiran mamahnya sehingga terus saja menekan Zahra. Mamahnya bahkan selalu mencari cari alasan untuk menyalahkan Zahra.


“Aku mencintai Zahra kak..”


“Kami juga sangat mencintainya. Zahra bagian penting dari hidupku dan juga mas Aries. Kami tidak mau Zahra terluka.” Balas Nadia cepat.


Faza menghela napas pelan.


“Ya kak...”


“Ya apa Faza? kalau kamu terus membiarkan sikap mamah kamu seperti itu pada Zahra itu akan sangat tidak baik. Pikiran dan jiwa Zahra akan sangat terguncang.”


Lagi, rasa bersalah itu kembali muncul dihati Faza. Zahra sudah mendapat perlakuan buruk dari Sinta, mamahnya. Zahra pasti sangat tertekan. Dan sekarang Zahra juga harus menerima kenyataan bahwa suaminya adalah pria brengsek yang bahkan menjaga pandangan pada wanita lain saja tidak bisa.


“Aku dan Zahra sama sama perempuan Faza.. Aku bisa merasakan apa yang Zahra rasakan. Meskipun memang kamu sangat mencintai Zahra, kamu selalu memanjakan Zahra. Tapi apapun alasan-nya, sikap mamah kamu itu perlu ditindak lanjuti. Kamu harus bisa tegas sama mamah kamu. Asal apa yang kamu tegaskan itu benar. Aku tidak sedang menyuruh kamu untuk menjadi anak durhaka Faza. Tapi seorang suami itu harus bisa menjaga istrinya dengan baik.”


Faza tidak tau harus membalas apa ucapan panjang lebar Nadia. Pada Sinta Faza sudah berulang kali menegaskan bahkan sejak mereka masih pacaran dulu bahwa hanya Zahra yang Faza cintai. Tapi karna Sinta yang begitu sangat keras kepala sehingga membuatnya tidak pernah perduli dengan apa yang Faza katakan.

__ADS_1


“Jujur kak.. Sejak aku dan dan Zahra masih berpacaran, aku berulang kali meyakinkan mamah. Aku bahkan sampai kabur dari rumah hingga akhirnya nekat menikahi Zahra dan membohongi kalian. Semua itu aku lakukan tentu saja karna mamah. Aku sudah melakukan segala upaya. Termasuk Zahra yang pernah mau ditawari tinggal bersama dirumah mamah sama papah. Tapi semua itu tidak membuahkan hasil. Aku mencintai Zahra kak, sangat. Tapi aku juga mencintai mamahku sebagai perempuan yang telah melahirkan dan membesarkan aku didunia ini.”


__ADS_2