
Sejak melihat Loly bersama pria lain siang itu, Fadly menjadi tidak tenang setiap harinya. Fadly selalu saja memikirkan Loly dengan pria tersebut.
Fadly bahkan beberapa kali memimpikan Loly dan pria tersebut bercumbu mesra didepan-nya. Hal itu semakin membuat Fadly merasa panas.
Fadly menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan-nya perlahan. Mimpi itu menciptakan ketakutan juga kesakitan dihati Fadly. Fadly bahkan sampai berangan angan jika Loly dan pria yang tidak dia kenal itu bersanding diatas pelaminan.
Fadly mengusap dadanya sendiri. Ada rasa ngilu disana.
“Perasaan apa ini? tidak mungkin aku mempunyai rasa pada Loly..” Gumam Fadly sembari menatap langit penuh bintang malam ini.
Selama ini Fadly selalu merasa membenci Loly. Setiap apapun yang berhubungan dengan Loly Fadly selalu berusaha untuk menghindarinya. Tentu saja karena Fadly tidak ingin lagi ada Loly dalam kehidupan-nya.
“Apa sebenarnya aku juga mencintai dia?” Fadly kembali bergumam.
Bukan tanpa alasan Fadly sampai berpikir demikian. Pasalnya Fadly bahkan selalu saja memikirkan Loly sejak melihat kebersamaan Loly dengan pria bersetelan jas warna abu abu itu.
“Enggak enggak.. Ini pasti salah. Aku membenci Loly.. Aku nggak mencintai Loly..”
Kali ini Fadly berusaha menghindari perasaan-nya sendiri. Perasaan yang tumbuh dari hatinya dan tidak ada seorang pun yang tau.
“Kamu belum tidur Fadly?”
Lamunan Fadly tentang Loly seketika buyar saat mendengar suara mamahnya. Fadly berdecak sebal. Jika mamahnya sudah menghampirinya sudah pasti mamahnya itu akan menyinggung soal Loly lagi.
Fadly menoleh dan tersenyum tipis.
“Belum ngantuk mah..” Jawabnya.
Fadly mengeryit melihat mamahnya yang begitu rapi dengan dress selutut warna peach yang dikenakan-nya.
“Mamah mau kemana?” Tanya Fadly kemudian.
Sinta tersenyum kemudian mendekat dan berdiri tepat disamping Fadly.
“Bukan mau kemana, lebih tepatnya darimana.” Katanya dengan wajah lesu.
Ekspresi Sinta mengundang rasa penasaran dibenak Fadly. Pria itu mendadak merasa ingin tau dan merasa apa yang akan dikatakan mamahnya pasti tidak jauh jauh dari Loly. Dan Fadly sangat ingin tau itu.
“Mamah tadi abis dari luar sama papah. Ada yang pengin mamah beli.. Tapi nggak jadi..”
“Kenapa?” Fadly semakin merasa penasaran sekarang.
Sinta menatap Fadly sebentar kemudian menghela napas kasar.
__ADS_1
“Mamah tadi liat Loly sama laki laki. Laki laki itu sangat gagah. Dia tinggi, berkarisma dan mamah rasa dia mempunyai rasa pada Loly. Semua itu bisa mamah lihat jelas dari cara pria itu menatap dan perhatian pada Loly.” Ujar Sinta bercerita.
“Apa laki laki itu berjambul mah?” Tanya Fadly memastikan bahwa pria yang dimaksud oleh mamahnya juga sama dengan pria yang dia lihat tempo hari saat dirinya sedang makan siang waktu itu.
“Kamu mengenalnya?” Tanya balik Sinta menatap Fadly dengan keryitan dikeningnya.
“Tidak. Tapi aku pernah melihat Loly dengan laki laki itu.” Jawab Fadly disertai helaan napas.
Sinta mengangguk pelan.
“Padahal mamah sudah mulai mengerti bahwa mungkin Loly adalah jodoh kamu nak.. Tapi ya sudahlah. Kalau memang laki laki itu adalah jodoh terbaik untuk Loly mamah nggak bisa apa apa. Yang penting kan Loly bahagia. Ya kan?”
Fadly menggelengkan kepalanya. Fadly merasa tidak bisa menerima semua itu.
Fadly melengos kemudian mendongakkan kepalanya menengadah ke langit. Disana bayangan Loly sedang bercumbu mesra dengan pria itu membuat Fadly semakin merasa mendidih.
“Nggak bisa.. Aku nggak bisa biarin itu terjadi. Loly nggak boleh dengan bahagia dengan laki laki manapun.” Batin Fadly.
Merasa panas dengan ucapan Sinta juga pemikiran-nya sendiri, Fadly pun berlalu begitu saja dari balkon kamarnya meninggalkan Sinta yang dibuat bingung oleh gerakan cepat putranya itu.
Namun karena Sinta sendiri sedang merasa galau, wanita itu hanya menghela napas saja tanpa bertanya pada Fadly yang buru buru keluar kamar dengan menyambar kasar kunci mobil serta jaket kulitnya.
“Kamu mau kemana Ly?”
Dengan kecepatan diatas rata rata Fadly mengendarai mobilnya. Pria itu bahkan beberapa kali membunyikan klakson saat satpam kompleks menaruh sembarangan sepeda motornya ditepi jalan.
Dalam waktu singkat Fadly sampai tepat didekat rumah Loly. Fadly menghentikan mobilnya dan mengeryit menatap sebuah mobil yang sedang masuk kedalam pekarangan luas kediaman keluarga Loly. Fadly berpikir mungkin itu adalah mobil pria yang sedang bersama Loly. Karena jelas mobil tersebut bukan salah satu mobil koleksi seorang Loly. Fadly sangat tau itu.
Fadly melajukan pelan mobilnya dan mengikuti mobil itu masuk kedalam pekarangan rumah Loly. Begitu berada dihalaman depan rumah Loly, Fadly langsung turun.
Loly dan pria yang tidak Fadly tau siapa itu pun mengeryit bingung melihat Fadly yang melangkah lebar menghampirinya.
“Fadly..” Gumam Loly bingung.
“Kamu kenal dia?” Tanya laki laki itu menoleh pada Loly yang berdiri disampingnya.
“Ya.. Aku mengenalnya.” Jawab Loly jujur.
Fadly yang merasa tidak tahan dengan kebersamaan keduanya segera meraih tangan Loly dan menariknya dengan kasar.
“Apa apaan ini? Hey bisa tidak anda tidak kasar dengan perempuan?!” Marah pria itu pada Fadly.
“Diam. Anda membawa pergi kekasih saya seenaknya apa salah kalau saya marah?”
__ADS_1
Kedua mata Loly membulat dengan sempurna. Loly menoleh tidak percaya dengan apa yang Fadly katakan.
“Kekasih?” Gumam Loly sangat pelan.
Pria itu diam. Dia memang tidak tau karena tidak bertanya apakah Loly mempunyai kekasih atau tidak. Tapi kemauan Loly jalan bersamanya membuat pria itu yakin bahwa Loly memang masih sendiri. Tapi sekarang tiba tiba Fadly datang dan mengaku sebagai kekasih Loly. Benar benar sangat membuat pria itu terkejut.
“Apa anda pikir karena anda memiliki segalanya anda bisa memacari pacar orang lain?” Cecar Fadly pada pria itu dengan penuh amarah serta tatapan tajam.
“Eemm.. Maaf tuan. Saya tidak tau kalau ternyata nona Loly sudah memiliki kekasih. Saya minta maaf dan tolong jangan marah pada nona Loly. Kalau begitu saya permisi. Nona, saya pulang. Sekali lagi saya minta maaf..”
Setelah berkata demikian, Pria itu pun langsung masuk kembali kedalam mobilnya dan berlalu dengan kecepatan sedang meninggalkan Fadly yang terus saja mencekal pergelangan tangan Loly erat.
Loly yang terkejut dan tidak percaya dengan apa yang Fadly katakan terus saja diam. Loly tidak menyangka Fadly datang begitu tiba tiba dan mengakui bahwa Loly adalah kekasihnya.
Setelah mobil pria itu tidak lagi terlihat, Fadly pun melepaskan cekalan tangan-nya. Pria itu kemudian menoleh dan menatap tajam pada Loly.
“Awas kamu kalau sampai berani keluar lagi dengan laki laki lain.” Ancamnya kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Loly yang semakin tidak mengerti dengan maksud Fadly.
“Apa apaan ini?” Gumam Loly pelan.
------------
Waktu yang ditunggu tunggu oleh Reyhan akhirnya tiba. Jantungnya tidak bisa bekerja dengan normal karena rasa gugup yang menguasainya. Reyhan bahkan beberapa kali menghela napas saat menatap bayangan dirinya sendiri dicermin.
“Kamu bisa Reyhan.. Oke.. Jangan gugup. Kamu harus tenang..” Gumam Reyhan pelan.
Saat ini Reyhan masih ada di apartemen-nya dan sedang menunggu telepon dari Faza yang sudah berjanji akan memberi kabar padanya jika sudah dalam perjalanan menuju apartemen Reyhan.
Sekilas bayangan saat Reyhan pertama kali bertemu dengan Tina kembali membayangi Reyhan. Pria itu sampai tertawa sendiri. Reyhan tidak menyangka jika orang yang menabraknya itu adalah Tina yang kemudian langsung menarik perhatian Reyhan hingga Reyhan tidak bisa tenang menjalani hari harinya karena tidak kunjung bertemu kembali dengan Tina.
Tapi Tuhan begitu baik. Reyhan kembali dipertemukan dengan Tina saat sedang mengemban tugas dari Faza.
Deringan ponsel membuat Reyhan tersentak. Buru buru Reyhan meraih ponsel miliknya yang ada diatas meja disamping cermin besar.
Reyhan tersenyum. Itu adalah telepon dari Faza.
“Halo pak..”
“Reyhan, saya sudah ada didepan apartemen kamu.” Ujar Faza dari seberang telepon.
“Oohh ya pak.. Saya akan turun sekarang.”
Reyhan buru buru menyudahi telepon-nya. Tidak ingin membuat Faza menunggu lama, Reyhan pun buru buru keluar dari apartemen-nya menemui Faza untuk kemudian sama sama pergi menemui orang tua Tina, yaitu tuan Renaldi.
__ADS_1