PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 281


__ADS_3

Sampai Sore Fadly terus merenung di kamarnya. Fadly benar benar bingung sekarang. Hubungan baik mamahnya dengan mommy Loly rusak karena dirinya.


“Kenapa aku tidak berpikir panjang saat itu..” Hela napas Fadly merasa frustasi sendiri.


Tok tok tok


Suara pintu yang diketuk dari luar membuat Fadly menoleh. Fadly menatap pintu bercat coklat itu sebentar kemudian bangkit dari duduknya ditepi ranjang.


Fadly melangkah menuju pintu kamar dan membukanya.


Fadly menelan ludah begitu mendapati Sinta dan Akbar yang berdiri didepan-nya.


“Ada yang mau mamah tanyakan sama kamu Fadly..” Ujar Sinta dengan wajah datar.


“Mah sudahlah.. Kalau memang Erika sudah tidak mau lagi berteman sama mamah itu bukan masalah besar.. Toh teman mamah yang lain juga masih banyak kan?”


Akbar mencoba mencegah Sinta. Pria itu tidak mau kalau sampai Fadly disalahkan hanya karena hubungan Sinta dan Erika yang berakhir.


Sinta menoleh pada Akbar yang berdiri disampingnya.


“Ini tentang harga diri pah.. Mamah malu sama Erika.. Apa lagi Erika juga sampai menghina profesi Fadly. Profesi yang sangat kita berdua banggakan. Mamah nggak mau ada siapapun orang yang menghina keluarga kita.”


“Ya mah.. Tapi tolong kalau memang Fadly salah jangan kamu perpanjang.”


Sinta hanya menelan ludah kemudian kembali menatap pada Fadly yang hanya diam saja.


“Apa yang sudah kamu lakukan sebenarnya pada Loly Fadly? Kenapa tante Erika bahkan sampai begitu marah dan memutuskan hubungan dengan mamah secara sepihak?” Tanya Sinta dengan wajah serius menatap Fadly.


Fadly diam. Mamahnya pasti akan sangat marah jika tau apa yang dilakukan-nya. Bahkan bukan hanya mamahnya saja, papahnya juga pasti akan sangat marah padanya karena Fadly sudah bertindak seperti pria brengsek.


“Jangan diam Fadly. Jawab dengan jujur pertanyaan mamah.” Tekan Sinta dengan kedua tangan mengepal.


Fadly menundukan kepalanya. Pria itu melihat sendiri kepalan kedua tangan mamahnya begitu erat. Itu menandakan bahwa emosi sedang menguasai hati dan pikiran mamahnya.


“Ayo jawab pertanyaan mamah Fadly !” Tuntut Sinta tidak sabar.


“Sabar mah.. Kita bisa bicarakan ini baik baik. Tidak perlu emosi..”

__ADS_1


Fadly memejamkan kedua matanya sebentar kemudian kembali menegakkan kepalanya menatap bergantian pada kedua orang tuanya.


“Aku... Aku menyakiti Loly mah.. Aku mendekatinya tanpa memberinya kepastian beberapa bulan lalu. Aku bahkan hampir membuat perusahaan yang Loly pimpin hancur. Aku juga hampir membuat Loly mengakhiri hidupnya.” Jawab Fadly dengan tenang.


BUG !!


Satu bogeman mentah mendarat dengan keras disudut bibir tipis Fadly sampai membuat tubuh Fadly terpental kebelakang kemudian tersungkur dilantai. Pukulan itu sangat keras sehingga Fadly bahkan tidak mampu mengimbangi tubuhnya sendiri.


“Papah !!” Jerit Sinta terkejut.


Ya, yang memukul Fadly bukan Sinta melainkan Akbar yang langsung kalap begitu mendengar jawaban tenang putranya yang dengan entengnya mengaku telah mempermainkan perasaan bahkan hidup Loly.


“Itu pantas dia dapatkan mah. Fadly sudah sangat keterlaluan. Dia bertingkah seperti laki laki brengsek !”


Akbar menatap marah pada Fadly yang hanya diam terduduk dilantai sambil memegangi bekas pukulan keras sang papah yang menimbulkan luka sampai berdarah.


“Papah bilang mamah harus tenang dan tidak memperpanjang masalah. Kenapa malah papah yang pukul Fadly?!”


Sinta marah juga menangis tidak terima karena Akbar memukul Fadly. Wanita itu kemudian menubruk Fadly yang terduduk dilantai.


Setelah berkata dengan emosi yang menggebu gebu, Akbar langsung berlalu. Akbar tidak menyangka putranya yang selalu dia anggap baik dan juga selalu dia banggakan berani melakukan perbuatan yang bahkan tidak pernah sedikitpun Akbar bayangkan.


Mempermainkan hati seorang wanita hingga wanita itu hampir mengakhiri hidupnya adalah perbuatan pria brengsek yang tidak akan bisa dimaklumi oleh siapapun. Bahkan oleh sesama pria sekalipun.


“Ayo bangun..”


Sinta membantu Fadly bangkit dari duduknya di lantai kemudian menuntun-nya dan membantunya duduk ditepi ranjang.


“Sebentar mamah ambil kotak P3K dulu.” Ujar Sinta dengan air mata yang terus membasahi kedua pipinya kemudian melangkah hendak keluar dari kamar Fadly.


Sinta benar benar tidak tega jika harus melihat putranya disakiti.


“Mah..” Panggil Fadly pelan.


Sinta yang sudah sampai diambang pintu kamar Fadly berhenti dan menoleh.


“Fadly minta maaf.. Fadly mengaku salah..” Ujar Fadly dengan sangat menyesal.

__ADS_1


Fadly tidak marah meskipun papahnya memukulnya karena Fadly sendiri sadar dirinya memang salah.


“Kita bahas itu nanti. Sekarang yang terpenting adalah mengobati luka kamu dulu.” Balas Sinta kemudian berlalu melanjutkan niatnya untuk mengambil kotak P3K.


Fadly hanya bisa menghela napas. Papahnya sangat marah padanya. Dan mamahnya juga pasti sangat kecewa karena apa yang sudah Fadly perbuat pada Loly.


Beberapa menit kemudian Sinta kembali datang dengan membawa kotak P3K ditangan-nya. Sinta langsung membersihkan darah yang keluar akibat bibir Fadly yang pecah karena hantaman keras tinju Akbar. Setelah itu Sinta pun mengobatinya.


“Sudah.. Ini akan sembuh dengan cepat.” Ujar Sinta sambil membereskan kembali isi dari kotak P3K yanga baru saja dia gunakan untuk mengobati luka disudut bibir Fadly.


“Aku minta maaf mah.. Aku nggak berpikir panjang saat itu. Aku marah karena Loly memfitnah aku dan menuduh aku melakukan sesuatu yang bahkan tidak sama sekali aku lakukan. Aku marah dan merasa dendam karena Loly membuat mamah menampar aku bahkan tidak lagi percaya sama aku.. Aku akui aku memang sangat bersalah. Tapi aku janji mah.. Aku akan memperbaiki semuanya mah.. Aku akan berusaha membuat tante Erika kembali bersikap baik dan mau berteman lagi dengan mamah..”


Sinta menghela napas pelan menatap kotak P3K yanga sudah dia rapikan kembali di pangkuan-nya.


Sinta kemudian menatap Fadly dan tersenyum miring.


“Sudahlah.. Tidak perlu ada yang diperbaiki. Tante Erika sudah menghina kamu itu benar benar tidak bisa mamah terima.”


Fadly menggeleng. Fadly merasa dirinya pantas mendapatkan hinaan itu. Tentu saja itu adalah akibat dari perbuatan-nya pada Loly.


“Papah benar mah.. Mungkin om Ricard sekarang sangat membenciku. Mungkin juga jika dia tidak menahan diri om Ricard akan melakukan apa saja untuk bisa membalas semua yang sudah aku lakukan sama Loly.”


“Sudah cukup Fadly.”


“Enggak mah. Aku mencintai Loly. Aku sangat mencintai Loly. Aku akan tetap berusaha memperbaiki segalanya bagaimanapun caranya.”


Sinta menatap Fadly tidak percaya. Sinta memang sangat menginginkan Loly menjadi menantunya. Tapi jika Erika dan suaminya saja sudah sangat membenci keluarganya itu adalah hal yang sangat mustahil menurutnya.


“Lupakan Loly. Jangan membuat harga diri kamu di injak injak oleh mereka. Masih banyak perempuan diluar sana selain Loly.”


“Enggak mah. Aku hanya mencintai Loly. Aku tidak perduli meskipun tante dan om membenciku. Aku akan tunjukan pada mereka bahwa aku serius dan benar benar mencintai Loly.”


“Jangan gila kamu Fadly. Kamu bisa dihina sama mereka.”


Fadly tersenyum tipis.


“Fadly akan menganggap hinaan itu adalah balasan atas apa yang sudah Fadly lakukan sama Loly mah. Fadly akan berusaha sampai om dan tante merestui hubungan Fadly sama Loly.” Ujar Fadly yakin.

__ADS_1


__ADS_2