
“Tuh jadiin contoh supaya kamu nggak ngelawan mamah kaya kakak kamu.”
Fadly hanya bisa menghela napas mendengar omelan mamahnya. Hanya karna Zahra menelpon menanyakan Faza tensi mamahnya langsung naik.
“Jadi istri nggak becus. Suami sampai malam begini belum pulang pasti karna malas dan memilih mencari hiburan diluar.”
“Mamah kok ngomongnya begitu sih. Kak Faza nggak begitu kok mah.. Mungkin sekarang memang kak Faza sedang lembur jadi belum pulang.”
“Mamah lebih tau bagaimana Faza. Dia itu kalau lembur pasti ngomong.”
Fadly bingung kenapa mamahnya bisa begitu sangat tidak suka pada Zahra. Padahal Zahra adalah wanita yang baik dan sopan.
“Ya udah sih mah.. Semoga aja kak Faza memang masih kerja. Kan nggak bagus juga kalau sampai dia jajan diluar mah..”
“Biarin saja. Lebih bagus begitu biar mereka pisah sekalian.”
“Mah..”
“Kamu berani ngelawan mamah?!”
Fadly berdecak pelan. Fadly tau bagaimana Faza yang begitu sangat menjaga hati dan cintanya untuk Zahra. Fadly yakin Faza tidak akan macam macam diluar sana.
“Kakak kamu itu pasti bosan dirumah wanita itu sehingga memilih pergi. Dia nggak bahagia dengan pernikahan-nya.”
Fadly hanya diam saja. Mendebat mamahnya juga tidak ada untungnya baginya. Yang ada dirinya yang malah akan disalahkan oleh sang mamah.
“Pokonya mamah minta sama kamu buat selalu nurut sama mamah sama papah. Ingat Fadly, Tuhan merestui setiap langkah anak yang patuh pada kedua orang tuanya.”
“Ya mah..” Jawab Fadly pelan.
“Ya sudah mamah tidur dulu. Nanti kalau papah pulang tolong bukain pintu. Mamah sudah kunci pintunya tadi.” Ujar Sinta sebelum berlalu meninggalkan Fadly diruang keluarga.
Fadly memijit keningnya pelan. Sampai saat ini Fadly masih tidak paham dengan cara aturan kedua orang tuanya. Mereka berdua selalu menganggap pilihan mereka adalah yang terbaik untuk kedua anaknya. Sedang Fadly sendiri merasa semua aturan mamahnya tidak semuanya yang terbaik untuknya. Salah satunya dalam memilih pasangan hidup.
----------
__ADS_1
Dihari minggu pagi Zahra izin tidak masuk kerja karna Faza yang meminta pada Zahra dengan alasan Faza ingin bersama dengan Zahra seharian dihari libur kerjanya.
“Mas ayo bangun..!! Udah siang..!!”
Teriakan membahana Zahra dari dapur membuat Faza berdecak sebal. Bukanya bangun dari tidurnya pria itu justru menutup kepalanya menggunakan bantal. Faza sedang ingin bangun siang hari ini menikmati waktu libur kerjanya dengan mengistirahatkan tubuhnya sepanjang hari.
Zahra yang sedang menuang nasi goreng dari wajan ke mangkuk besarnya mengumpat kesal. Faza sangat susah dibangunkan. Padahal Zahra sudah membangunkan-nya sejak subuh namun Faza hanya menggeliat saja. Parahnya lagi Faza bahkan malah menarik selimut dan mengubah posisi memunggunginya.
“Maunya apa sih? Aku udah bela belain nggak kerja tapi malah gini.”
Dengan perasaan dongkol Zahra melangkah menuju meja makan. Zahra meletakan semangkuk nasi goreng buatan-nya diatas meja makan kemudian melangkah lebar menuju kamarnya.
Zahra menyipitkan kedua matanya kesal melihat Faza yang malah menutup kepalanya dengan bantal agar tidak mendengar teriakan-nya.
“Ya Tuhan... Masih belum bangun juga..”
Zahra berdecak. Dengan kesal disingkapnya selimut yang menutupi tubuh kekar Zahra. Namun sepertinya tidur Faza sudah kembali nyenyak karna Faza sama sekali tidak bergerak. Pria yang hanya mengenakan celana boxer itu benar benar berhasil membuat mood Zahra turun pagi ini.
“Mas bangun kenapa sih? Dari subuh loh aku bangunin kamu..”
“Mas..”
Zahra menarik bantal yang digunakan Faza untuk menutupi kepalanya.
“Ya ampun.. Bisa diem nggak sih kamu ra.. Aku masih ngantuk banget..”
Kedua mata Zahra membulat. Hari sudah hampir siang dan Faza masih beralasan ngantuk.
“Mas aku udah bela belain nggak kerja loh demi kamu.”
Faza berdecak. Zahra sangat bawel dan mengganggu waktu istirahat dihari liburnya.
“Kamu minta aku buat izin nggak kerja aku turuti. Masa cuma buat bangun aja kamu nggak mau. Ini tuh udah hampir siang.”
Faza mendesis kemudian bangkit dari berbaringnya.
__ADS_1
“Bawel banget sih kamu.”
“Apa? Aku bawel? kamu tuh yang susah dibangunin.”
Enggan berdebat Faza pun segera bangkit dari dan turun dari ranjang. Pria itu meraih handuk yang tersampir dibelakang pintu kemudian keluar dari kamar untuk mandi.
“Nggak seneng banget kayanya liat suami istirahat dihari libur..” Dumel Faza.
“Aku denger mas..” Pekik kesal Zahra dari dalam kamar.
Faza berdecak dan mempercepat langkahnya menuju kamar mandi. Dulu saat masih pacaran padahal Zahra sangat manis dan lembut. Tapi setelah menikah perlahan sikap bawel dan menyebalkan-nya semakin menjadi jadi.
“Istirahat dirumah mamah ajalah nanti.” Gumam Faza berencana.
Faza masuk kedalam kamar mandi dan segera membersihkan dirinya. Meski Zahra terus ngoceh marah marah namun Faza tidak perduli. Zahra memang tidak bisa diam jika sudah marah. Bahkan Zahra sering mengungkit kesalahan Faza jika sedikit saja Faza membuat salah.
Selesai mandi Faza langsung sarapan karna Zahra yang sudah menunggunya dimeja makan.
“Abis sarapan anterin aku ke pasar ya mas. Semua bahan bahan makanan abis di kulkas. Rumah juga kayanya harus dibersihin full.”
Faza berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya mendengar ucapan Zahra. Seketika Faza menyesal meminta Zahra untuk izin tidak masuk kerja. Padahal Faza pikir dengan adanya Zahra dirumah dirinya justru akan dimanja dan dipijat. Tapi ternyata bukanya memanfaatkan waktu libur untuk istirahat malah harus ekstra sibuk dengan pekerjaan rumah.
“Kenapa? Nggak mau?” Tanya Zahra menatap Faza dengan raut wajah kesal.
Faza berdecak.
“Zahra ini kan waktu libur aku, waktunya aku istirahat dari berbagai pekerjaan dan aktivitas baik didalam maupun diluar rumah. Bukanya malah harus sibuk ini itu. Dulu juga sebelum menikah aku menghabiskan waktu liburku untuk tidur dan diam dirumah. Mamah nggak pernah nyuruh aku ini itu saat aku libur kerja.”
Zahra menyipitkan kedua matanya tidak sependapat dengan apa yang dikatakan suaminya.
“Dulu sama sekarang itu beda mas. Dulu mas masih sendiri. Apa lagi dirumah orang tua mas juga ada asisten rumah tangga yang mengerjakan semuanya. Ya pantas saja mamah kamu nggak nyuruh kamu ini itu. Tapi kalau sekarang kan mas udah nikah sama aku dan disini nggak ada asisten rumah tangga. Nggak ada salahnya kan mas bantuin aku?”
Faza menarik napas kemudian menghembuskan-nya kasar.
“Ya udah aku bakal bantuin tapi nggak sekarang. Hari ini aku mau full istirahat.”
__ADS_1
Mulut Zahra terbuka tidak menyangka dengan sikap tidak perduli Faza. Padahal selama ini Faza selalu mengerti dirinya. Faza tidak pernah menolak apapun keinginan-nya. Dan Zahra merasa Faza sangat berbeda sekarang.