PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 113


__ADS_3

Fadly membawa Loly kerumahnya. Fadly tidak takut dengan respon Sinta jika melihatnya. Fadly bahkan akan mengatakan dengan jujur apa yang baru saja hendak dia lakukan pada Loly jika Sinta bertanya.


“Fadly.. Kenapa kerumah kamu?”


Loly bertanya saat Fadly membuka pintu mobil untuknya. Namun bukan-nya menjawab, Fadly malah meraih tubuh Loly dan kembali menggendongnya membawanya melangkah dengan tenang masuk kedalam kediaman kedua orang tuanya.


“Fadly kenapa kamu bawa aku kesini? Kenapa tidak antar aku langsung pulang kerumah?”


Fadly berhenti melangkah ketika sampai didepan tangga. Pria itu menelan ludahnya melihat Sinta yang berada tidak jauh darinya.


“Ya Tuhan.. Loly.. Fadly..” Gumam Sinta tidak percaya.


Sesaat suasana hening menyelimuti mereka. Fadly dan Loly menatap pada Sinta yang juga sedang menatapnya tidak percaya.


“Apa yang terjadi? Kenapa dengan Loly?” Tanya Sinta bingung juga khawatir.


“Fadly bisa jelasin mah..” Fadly berkata pelan. Fadly akan berbicara dengan jujur tentang apa hampir saja dia lakukan pada Loly digubug kumuh tadi. Fadly tidak perduli meskipun nanti mamahnya akan sangat murka dan marah. Fadly hanya tidak ingin membohongi mamahnya.


Sinta melangkah turun dengan cepat mendekat pada Fadly yang tidak mengenakan baju. Pikiran wanita itu mulai buruk pada anaknya sendiri mengingat apa yang Loly adukan dua bulan lalu.


“Kamu apakan Loly Fadly?” Tanya Sinta penuh penekanan.


Fadly membuka mulutnya hendak menjawab namun sudah lebih dulu disela oleh Loly.


“Fadly udah nolongin aku tante.” Jawab Loly pelan. Wanita itu begitu anteng digendongan Fadly tanpa berniat memberontak sedikitpun.


“Memangnya apa yang terjadi Loly?”


“Ceritanya panjang tante. Nanti aku ceritain. Sekarang aku pengin bersih bersih dulu. Boleh?”


“Tentu saja sayang..” Jawab Sinta lembut.


“Fadly, bawa Loly kekamar mamah.” Perintah Sinta.

__ADS_1


Fadly hanya diam saja namun tetap menuruti perintah Sinta dengan membawa Loly kelantai dua rumah kedua orang tuanya. Fadly menurunkan Loly tepat diatas ranjang kedua orang tuanya tepatnya ditepinya.


“Fadly..” Panggil Loly pelan.


Fadly yang hendak berlalu menoleh dan menatap Loly dengan tatapan yang tidak bisa dibaca oleh Loly.


“Sekarang kamu bisa mengadukan semuanya pada mamahku. Kamu tidak perlu menambah nambah cerita. Cukup katakan apa yang baru saja hampir aku lakukan sama kamu.” Ujar Fadly kemudian berlalu meninggalkan Loly sendiri didalam kamar Sinta dan Akbar.


Tidak lama setelah Fadly keluar, Sinta masuk dengan membawa segelas air putih. Wanita melangkah cepat menghampiri Loly yang duduk ditepi ranjang.


“Minum dulu sayang..” Ujar Sinta sambil menyodorkan segelas air putih yang dibawanya pada Loly.


Loly tersenyum dan menerimanya. Loly benar benar sangat bingung sekarang. Fadly mengurungkan niat melecehkan-nya secara tiba tiba kemudian membawanya pulang dalam diam. Kendati demikian Fadly tetap memperlakukan-nya dengan lembut. Fadly menggendongnya sampai ke kamar Sinta.


“Apa yang terjadi sebenarnya Loly? Kenapa kamu berantakan dan kotor seperti ini? Dan Fadly, kenapa dia tidak memakai baju?”


Loly menatap pada Sinta. Tidak ada sedikitpun keniatan Loly untuk mengadukan apa yang Fadly lakukan padanya pada siapapun. Pada Sinta maupun kedua orang tuanya. Selain karna malu, Loly juga tidak mau kebohongan-nya tentang Fadly yang melecehkan-nya terungkap karna pengakuan-nya sendiri kali ini.


“Ceritanya panjang tante. Intinya aku sangat berterimakasih sama Fadly karna Fadly udah mau anterin aku sampai kesini dengan selamat.” Senyum Loly.


“Eemm.. Tante, aku pinjam kamar mandinya sebentar yah..”


“Oh iya sayang..” Angguk Sinta.


Sinta kemudian bangkit membantu Loly melangkah menuju kamar mandi. Dalam hati Sinta terus bertanya tanya dengan apa yang sebenarnya terjadi. Apa lagi jika melihat luka di kaki Loly yang seperti sayatan kecil.


Setelah membantu Loly masuk kedalam mandi, Sinta langsung menuju kamar Fadly untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun sayang, begitu sampai di kamar Fadly Sinta tidak menemukan Fadly dimana mana.


“Kemana lagi anak itu..” Gumamnya menahan rasa kesal.


Sinta benar benar tidak bisa percaya jika tidak ada sesuatu yang terjadi. Pasalnya baik Loly maupun Fadly, mereka sama sama terlihat berantakan dan kotor. Apa lagi Fadly yang sampai bertelanjang dada dengan memar seperti bekas gigitan dibahunya.


“Loly baru pulang dari luar negeri dan tiba tiba sudah bersama Fadly dengan penampilan seperti itu.. Benar benar membuat penasaran.” Sinta terus berpikir keras. Namun Sinta tidak bisa menerka nerka apapun pada keduanya.

__ADS_1


“Sudahlah.. Nanti aku tanyakan sama Loly saja detailnya.”


Sinta kemudian berlalu dari kamar Fadly. Sinta kembali masuk kedalam kamarnya menyiapkan baju ganti untuk Loly sembari menunggu Loly selesai membersihkan dirinya untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


-----------


Pukul setengah 10 malam Faza baru pulang dari kantor. Pria itu tampak sangat kelelahan dengan penampilan-nya yang sedikit berantakan.


Jas hitamnya sudah tersampir dilengan-nya dengan ikatan dasi yang sudah tidak lagi rapi serta kemeja yang tidak dimasukan kedalam celana seperti biasanya.


Faza menghela napas. Suasana hening langsung terasa begitu dirinya masuk kedalam rumahnya. Faza yakin Zahra pasti sudah tidur sekarang.


“Malam tuan...” Sapa mbak Lasmi saat melihat Faza yang hendak melangkah menuju tangga.


Faza menoleh dan tersenyum tipis pada asisten rumah tangganya itu.


“Malam mbak. Oh iya mbak, Zahra mana?”


“Nyonya sudah tidur sejak satu jam yang lalu tuan. Setelah memakan bubur sum sum yang dikirim pak Umar kesini nyonya mengeluh mengantuk kemudian naik keatas dan tidak turun lagi sampai sekarang.” Jawab mbak Lasmi.


“Oohh.. Begitu. Ya sudah kalau begitu.”


“Tuan sudah makan? Mau saya masakan sesuatu?”


Faza tersenyum lagi dengan menggelengkan kepalanya.


“Saya mau langsung istirahat saja mbak. Saya juga sudah makan tadi.” Jawabnya menolak dengan halus.


Setelah menolak dengan halus tawaran mbak Lasmi, Faza pun menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya dan Zahra. Hari ini Faza benar benar merasakan lelah yang sangat hebat. Cutinya batal karna pekerjaan mendadak yang bahkan tidak bisa Siska handle.


Faza membuka pelan pintu kamarnya. Senyumnya mengembang melihat Zahra yang berbaring miring memunggungi pintu kamar mereka.


Pelan pelan Faza melangkah mendekat. Faza mendudukan dirinya tepat disamping tubuh Zahra. Faza merasa sangat bersalah karna sudah mengabaikan istrinya karna urusan pekerjaan mendadaknya hari ini. Faza bahkan begitu buru buru berangkat sampai tidak menunggu Zahra keluar dari kamar mandi siang tadi.

__ADS_1


Faza menghela napas pelan. Pria itu meletakan jas yang berada dilengan-nya dinakas kemudian mengusap lembut kepala Zahra dan menciumnya lama.


Setelah mencium kepala Zahra, Faza bangkit dari duduknya dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


__ADS_2