PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 259


__ADS_3

Faza menghentikan mobilnya tepat didepan sebuah butik yang sangat mewah. Faza kemudian menoleh pada Zahra yang sedang menyusui putranya. Ya, sore ini Faza sengaja pulang lebih cepat agar bisa mengajak Zahra dan Fahri ke butik mencari baju untuk menghadiri acara pesta pernikahan Reyhan dan Tina yang akan diselenggarakan besok sore di kediaman mewah tuan Renaldi.


“Yuk turun.” Ajak Faza dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya.


“Ya mas..” Angguk Zahra kemudian segera menutupi bagian dadanya dengan kain karena Fahri yang masih asih menyusu padanya.


Mereka berdua turun dari mobil dan masuk kedalam butik dengan Faza yang merangkul bahu Zahra.


Kedatangan mereka disambut hangat oleh petugas juga pemilik butik yang kebetulan sedang ada disana sore ini.


“Selamat datang dan selamat sore nyonya dan tuan Akbar..” Sapa si pemilik butik dengan sangat ramah.


“Ya selamat sore..” Balas Faza tersenyum tipis.


“Ada yang bisa saya bantu tuan?” Tanya wanita cantik yang mungkin sebaya dengan Sinta.


“Emm.. Ya, saya mencari gaun untuk istri saya juga baju untuk putra saya.” Jawab Faza.


“Baik, mari nyonya saya bantu carikan.”


“Ya..” Senyum Zahra kemudian mengikuti si pemilik butik yang akan menunjukan koleksi gaun yang dimilikinya didalam butik tersebut.


Bukan hanya Zahra, Faza juga ikut serta. Pria itu khawatir jika tiba tiba putranya menangis saat Zahra sedang memilih gaun.


Tidak butuh waktu lama, Zahra langsung menentukan pilihan-nya pada gaun berwarna salem yang panjangnya sampai mata kaki. Gaun itu juga tertutup dibagian dadanya meski terbuka dibagian lengan.


Sedang untuk Faza dan Fahri, keduanya kompak dengan setelan jas warna hitam lengkap dengan dasinya.


Setelah mendapatkan apa yang dicari, Faza pun segera mengajak Zahra dan Fahri untuk berlalu dari butik tersebut.


“Mas...” Panggil Zahra pelan.


“Ya sayang..” Saut Faza sambil menghidupkan mesin mobilnya.


Zahra menghela napas pelan sebelum kembali mengatakan apa yang saat ini sedang mengganjal dihati juga pikiran-nya.


“Kita belum membahas tentang ini sebelumnya. Menurut kamu apa aku harus menggunakan alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan?”


Faza mendesis. Faza benar benar melupakan tentang hal itu.

__ADS_1


“Tunggu sampai kamu mendapat tamu bulanan kamu bulan ini ya sayang.. Setelah itu kita ke dokter Cindy.. Maaf aku melupakan tentang ini.” Ujar Faza merasa bersalah.


Zahra tersenyum.


“Aku juga baru mengingatnya mas.”


Zahra bukan tidak ingin hamil lagi. Tapi menurutnya Zahra membutuhkan waktu setidaknya untuk mencurahkan perhatian dan kasih sayang sepenuhnya pada Fahri sebelum bayi tampan itu mempunyai adik.


“Kita langsung pulang atau mau mampir dulu?” Tanya Faza kemudian.


“Eemm.. aku tiba tiba pengin burger mas. Kita beli dulu yah.. Sekalian beli juga buat orang dirumah..”


“Oke...” Angguk Faza setuju.


Faza kemudian mengajak Zahra untuk membeli apa yang sedang istrinya itu inginkan. Mereka membeli banyak karena dirumah bukan hanya ada mereka berdua, tapi juga ada mbak Lasmi dan pak satpam yang sudah mereka berdua anggap sebagai keluarga.


Selesai membeli apa yang Zahra inginkan, mereka pun pulang.


Sesampainya dirumah Zahra langsung memberikan apa yang dibelinya untuk Zahra juga pak satpam. Setelah itu Zahra mengajak suami juga putranya untuk bersantai diruang tengah tentunya setelah mereka membersihkan diri dan mengganti bajunya.


Faza menghela napas menatap Zahra yang sedang menikmati burger dan sesekali mengajak putra mereka berbicara. Zahra yang memang sengaja diletakan di sofa ditengah antara dirinya dan Faza.


Faza sebenarnya ingin memberitahu tentang kepergian papahnya ke Amerika. Tapi Faza juga tidak ingin Zahra sampai tau jika pertengkaran kedua orang tuanya tidak lain adalah karena masalah restu yang sampai sekarang memang belum Sinta berikan pada Zahra.


Faza menoleh pada Zahra kemudian tersenyum.


“Aku masih kenyang sayang..”


Zahra mengeryit. Entah kenapa Zahra merasa Faza seperti sedang kebingungan. Zahra menghela napas dan menelan sisa makanan didalam mulutnya. Setelah itu Zahra meletakan setengah burger yang belum Zahra habiskan. Zahra meraih segelas air putih dan meminumnya sedikit.


“Sayang.. Kayanya papah lagi pusing..” Ujar Zahra dengan suara dibuat buat sambil meraih tubuh Fahri dan memangkunya.


Faza tertawa mendengarnya. Pria itu kemudian menggeser tubuhnya mendekat pada Zahra yang sedang memangku Fahri. Faza tau Zahra pasti bisa membaca ekspresi kebingungan-nya.


“Jagoan papah.. Pinter banget.” Senyum Faza sambil mengusap kening Fahri.


“Iya dong papah.. Papahnya pinter anaknya juga harus pinter..”


Faza kembali tertawa. Setelah itu Faza kembali menghela napas.

__ADS_1


“Jadi?” Tanya Zahra pada Faza.


Faza tersenyum tipis. Faza bingung harus bagaimana menceritakan-nya pada Zahra. Zahra pasti akan merasa bersalah jika tau Akbar dan Sinta bertengkar karena dirinya.


“Bagaimana kalau lusa kita liburan ke Amerika sayang?”


Zahra mengeryit. Kata liburan sebenarnya sangat kurang tepat dan sedikit membuat Zahra bingung. Apa lagi Faza mengajaknya sedang Faza sendiri sedang dalam masa pekerjaan yang padat mengingat Reyhan yang pasti akan cuti setelah menikah dalam waktu yang tidak sebentar.


“Liburan? Bukan-nya pekerjaan kamu sedang sangat padat mas?”


Faza bingung sekarang. Pekerjaan-nya memang sedang sangat menumpuk. Dan meninggalkan-nya tanpa ada yang menghandle bukanlah pilihan yang baik. Apa lagi tanggung jawabnya sebagai pemimpin diperusahaan itu tidak bisa begitu saja Faza tinggalkan.


“Ya.. Tapi aku rasa kita butuh liburan..”


Zahra tersenyum. Zahra tau ajakan suaminya tidak mungkin tanpa sebab.


“Mas.. Semuanya baik baik saja kan?” Tanya Zahra lembut.


Faza menelan ludah menatap wajah cantik Zahra. Insting wanita memang sangat kuat dan Faza mengakui itu.


“Papah.. Papah pergi ke amerika.” Jawab Faza memutuskan untuk jujur pada Zahra. Faza berharap dengan menceritakan masalah kedua orang tuanya pada Zahra dirinya bisa mendapat solusi yang tepat.


“Lalu apa mas berniat menyusulnya?” Tanya yang memang sangat tepat dengan kenyataan.


“Ya sayang.. Ada sedikit masalah. Dan aku pikir aku dan Fadly perlu ikut andil dalam masalah mamah sama papah..”


Zahra tersenyum. Zahra tau Faza dan Fadly memang anak yang berbakti pada kedua orang tuanya. Mereka berdua sangat menyayangi kedua orang tuanya.


“Jujur aku tidak ingin kamu tau. Tapi aku juga tidak ingin berbohong sama kamu sayang..”


“Ya mas.. Aku mengerti dan aku paham. Aku tidak akan menyalahkan diriku sendiri. Pilihan kita untuk bersama tidak salah. Aku yakin itu. Buktinya Tuhan begitu baik. Tuhan mengelilingi kita orang orang baik yang tidak sungkan membantu kita.” Senyum Zahra tidak ingin membuat pikiran suaminya semakin terbebani.


“Mas.. Jangan pernah berpikir apa yang kita lakukan ini salah. Yang kita harus lakukan adalah terus berjuang meyakinkan mamah bahwa hubungan kita ini patut untuk terus dipertahankan. Aku yakin suatu saat mamah akan mengerti dan mau menerima aku.” Lanjut Zahra.


Faza tersenyum dan menganggukan kepalanya setuju.


“Pergilah, susul papah. Biarkan aku disini. Aku tidak mau papah malu dengan kehadiran aku disana.”


“Tapi...”

__ADS_1


“Asal kamu tidak terlalu lama di Amerika aku dan Fahri bisa menahan rasa kangen itu.” Sela Zahra membuat Faza tertawa pelan.


“Baiklah.. Aku tidak akan lama disana sayangku..”


__ADS_2